Mina Padi

Sigit Paryono

Mina-padi (dari mina = “ikan” dan padi) adalah suatu bentuk usaha tani gabungan (combined farming) yang memanfaatkan genangan air sawah yang tengah ditanami padi sebagai kolam untuk budidaya yang memaksimalkan hasil tanah sawah. Mina padi dengan demikian meningkatkan efisiensi lahan karena satu lahan menjadi sarana untuk budidaya dua komoditas pertanian sekaligus. Padi menyediakan karbohidrat dan ikan menyediakan protein.

Sistem mina-padi, meningkatkan produksi padi sekitar 10-20%, mengurangi penggunaan pupuk 20-30%.

Sigit Paryono dari Dusun Cibluk, Margoluwih Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Dia mengaku pernah mendapatkan omset sekitar 120 juta rupiah dari satu hektar sawah dari padi dan ikan. Kalau padi biasa (keuntungan) per 1.000 (meter) itu sampai 1,5 sampai 2 juta itu sudah bagus, untuk mina padi keuntungan 4-5 juta jadi sekitar 3 kali lipat,” jelas Sigit.

Dirjen Perikanan Budidaya KKP Slamet Soebjakto mengatakan secara ekonomi, keuntungan petani dapat meningkat tergantung dari komoditasnya. Kalau dengan udang galah bisa besar lagi, bisa menghasilkan 1-2 ton per hektar dengan harga sekitar 90 ribu untuk size 40 centimeter, bisa mencapai keuntungan 80-100 jutaan,” jelas Slamet.

Selain keuntungan ganda yang didapat dari lahan mina padi, harga jual padinya pun lebih mahal dibandingkan dengan padi biasa, karena bebas pupuk kimia. Awalnya kita pakai pupuk tapi terus berkurang, sampai sekarang gak usah pake, nih liat padinya ga kalah dengan yang pake pupuk toh, besar-besar, kotoran ikan yang membantu (pertumbuhan padi),” jelas Sigit sambil menunjuk ke lahan padi yang berada di dalam genangan air kolam

Kualitas padi dari lahan mina padi, menurut Slamet, juga lebih baik setelah diuji padi dari mina padi memiliki kadar glukosa yang lebih rendah. Cocok untuk penderita diabetes, permintaan pun semakin banyak,” kata dia. Sigit menyebutkan mina padi lebih kebal hama dibandingkan sawah biasa.

“Antara lain hama wereng dan tikus tidak ada, yang ada ya berang-berang,” kata Sigit. Berang-berang biasanya menyerang ikan-ikan dan bisa merusak tanaman padi juga karena mereka berenang di sela-sela rumpun padi.

Kementerian Kelautan dan Perikanan mengatakan sejak 2015 pemerintah bekerja sama dengan Badan Pangan Dunia FAO untuk mengembangkan mina padi di Sleman dan Kabupaten Limapuluh Kota Sumatera Barat, dengan luas 25 hektar tiap lokasi. Kini, selain di provinsi DIY, mina padi juga diterapkan di sejumlah desa di Sumatera Barat, Jawa Barat antara lain Sukabumi.

Dirjen Perikanan Budidaya KKP Slamet Soebjakto mengatakan sekitar 210 hektar lahan pertanian sudah menerapkan mina padi, dan rencananya pada tahun depan akan mengembangkan 300 hektar mina padi dengan anggaran RP 9 milliar.

Bantuan yang kita berikan model percontohan bagi masyarakat, adalah model percontohan pada masyarakat itu ikannya, benih padinya itu dari mereka. Pembuaran sarennya,termasuk kita latih mereka berbudidaya, bantuan benih dan pakan kita kasih termasuk kita arahkan ke mana dijualnya untuk pasarnya,” kata Slamet.

Meski pemerintah memberikan bantuan, Slamet mengatakan masih ada petani yang menolak mengembangkan mina padi karena khawatir produksi padi turun dengan pembagian lahan sawah dan kolam ikan. Dukungan mulai meningkat  setelah melihat langsung bahwa pengurangan lahan 20% tidak menurunkan produksi,” kata Slamet.

Tak banyak peminat dan mahal

Meski mina padi lebih menguntungkan, kenyataannya tak banyak petani yang berminat beralih dari sawah konvensional. Sigit mengakui mengelola mina padi tak mudah dan cara kerjanya berbeda dengan petani biasa.

Mengelolanya kebanyakan ga bener seperti kasih pakannya (cara) buat caren dan kolam dalem itu ga sesuai, jadi malah rugi, kuncinya di perawatan dan kolamnya harus dalam, kalau petani konvensional itu kan agak sulit karena harus kehilangan lahan beberapa kan, padahal hasilnya lebih untung,” kata Sigit.

Selain itu, setiap malam Sigit juga harus mengawasi dan menyalurkan air sungai ke dalam kolam agar kedalaman kolam terjaga. Kalau petani biasa kan lihat sawah seminggu sekali, agak susah kalau ga tekun,” kata pria yang semula merupakan peternak ikan ini. Sulitnya mengelola mina padi itu membuat anggota kelompok taninya menyusut, dari jumlah 50 orang, kini hanya tersisa 10 orang. Selain di Cibluk, percontohan Mina Padi juga ada sejumlah desa di Kabupaten Sleman dan Kulon Progo.

Selain itu, setiap malam Sigit juga harus mengawasi dan menyalurkan air sungai ke dalam kolam agar kedalaman kolam terjaga. Kalau petani biasa kan lihat sawah seminggu sekali, agak susah kalau ga tekun,” kata pria yang semula merupakan peternak ikan ini. Sulitnya mengelola mina padi itu membuat anggota kelompok taninya menyusut, dari jumlah 50 orang, kini hanya tersisa 10 orang. Selain di Cibluk, percontohan Mina Padi juga ada sejumlah desa di Kabupaten Sleman dan Kulon Progo.

  1. Pemilihan Benih

a. Benih padi

  • Varietas : Ciherang sesuai dengan kebutuhan benih (25 kg/ha)
  • Umur bibit 15-21 hari
  • sistem tanam jajar Legowo

b.Benih ikan

  • Kriteria: ikan yang memiliki pertumbuhan cepat, disukai konsumen, nilai ekonominya tinggi, tahan terhadap perubahan lingkungan dan diutamakan yang tidak berwarna cerah untuk menghindari serangan hama terutama hama burung.
  • Jenis ikan : Nila (ukuran 5-8 cm) dan Bawal (ukuran 2 inchi).
  1. Persemaian
  • Persemaian seluas 5% luas lahan yang akan ditanami.
  • Tanah diolah sempurna, diratakan, bersih dari rumput
  • Dibuat bedengan-bedengan selebar 2-4 m.
  • Pemeliharaan persemaian seperti pada cara tanam padi biasa.
  • Umur persemaian 15-21 hari.

3. Persiapan Lahan

a. pembersihan lahan dari gulma dan sisa-sisa tanaman

b.pengolahan tanah

  • Tanah diolah sempurna (2 kali bajak dan 2 kali garu), dengan kedalaman olah 15-20 cm
  • Bersamaan dengan pengolahan tanah dilaksanakan perbaikan pintu pemasukan/ pengeluaran dan perbaikan pematang, jangan sampai bocor.

c.pembuatan caren

  • Caren berfungsi sebagai tempat pelindungan ikan pada saat aplikasi pupuk atau pengendalian hama penyakit.
  • Pembuatan caren palang dan melintang pada saat pengolahan tanah terakhir, lebar 1 m dengan kedalaman 30 cm.
  • Pada titik persilangan dibuat kolam pengungsian ukuran 1×1 m dengan kedalaman 30 cm.
  • Pada setiap pintu pemasukan dan pengeluaran air pada setiap petakan dipasang saringan kawat dan slat pengatur tinggi permukaan air menggunakan bambu.

4. Penanaman Padi

  • Cara tanam adalah jajar legowo 2:1. (setiap dua barisan tanam terdapat lorong selebar 40 cm, jarak antar barisan 20 cm, tetapi jarak dalam barisan lebih rapat yaitu 10 cm) Untuk mengatur jarak tanam, digunakan caplak ukuran mata 20 cm. Pada jajar legowo 2:1 dicaplak kearah memanjang saja.
  • Penanaman padi dilaksanakan pada saat bibit berumur 17 hari.
  • Setiap rumpun terdiri dari 2-3 batang.

       5. Penebaran Benih Ikan

  • Waktu : tanaman padi berumur 10-15 HST (setelah penyiangan pertama dan pemupukan dasar) pada sore atau pagi hari.
  • Jumlah benih ikan : 4300 ekor, terdiri dari benih Nila 2700 ekor dan Bawal 1600 ekor (Padat tebar ikan 5-10 ekor/m2 )
  1. Pengaturan air
  • Pengaturan air macak-macak dilakukan pada saat tanam sampai 3-4 HST.
  • Tinggi air cukup 3-5 cm dari permukaan tanah.
  • Pengaturan air macak-macak juga dilakukan pada saat aplikasi pupuk dasar dan susulan.  Pintu pemasukan dan pengeluaran air pada saat aplikasi pupuk supaya ditutup agar pupuk tidak hanyut terbawa air.
  • Setelah 10-15 HST (sesudah penyiangan dan pemupukan susulan pertama) air dimasukkan mengikuti pertumbuhan tanaman.
  • Pada pintu pemasukan dan pengeluaran air dipasang saringan dari kawat atau anyaman bambu untuk mencegah keluarnya ikan yang dipelihara dan mencegah ikan liar masuk ke dalam petakan.
  • Pada pintu pengeluaran air perlu dipasang pelimpasan air untuk menahan air sesuai dengan kebutuhan dan membuang air yang berlebihan pada saat terjadi hujan.
  1. Pemupukan 

a,  Pemupukan Dasar

  • Pupuk kandang/kotoran ayam : 1-2 t/ha sebagai pupuk dasar diberikan sesudah pengolahan tanah.
  • Pemupukan N (Urea) dengan bagan warna daun (BWD). Takaran pupuk : berdasarkan rekomendasi pupuk setempat.
  • Takaran pupuk P dan K : berdasarkan kadar atau status hara P dan K tanah. Untuk tanah dengan kandungan P rendah, takaran pupuk : 125 kg SP-36/ha. Untuk tanah dengan status P tinggi takaran pupuk : 50 kg/ha. Pupuk P diberikan pada saat tanam atau paling lambat pada umur 3 minggu.
  • Pupuk K hanya diperlukan pada tanah yang mengandung hara K rendah yang diberikan sekaligus pada saat tanam bersamaan dengan pemberian pupuk Urea dan SP-36 sebagai pupuk dasar atau paling lambat pada umur 40 hari atau menjelang fase primord

b, Pemupukan Susulan

* Pupuk susulan berupa 50 kg/ha Urea, diberikan 2 minggu kemudian dengan cara ditebar .

  1. Penyiangan gulma

Penyiangan dilakukan pada umur 10-15 HST dan selanjutnya tergantung keadaan gulma.

  1. Pemeliharaan ikan (pemberian pakan, pengelolaan air dan pengawasan hama)
  • Pemberian pakan : setelah 3 hari ikan di petakan sawah,
  • Jenis pakan : pakan apung dengan kadar protein 28-32%,
  • Cara pemberian pakan : ad libitum (pemberian pakan dihentikan setelah ikan berkurang nafsu makannya).
  • Periode pemberian pakan : 2 kali sehari (pagi dan sore hari)
  • Setelah ikan berumur 2-3 minggu, pupuk kandang kembali diberikan dengan cara ditebar. Dosis 0,25 kg/m2.
  • Pakan komersial yang digunakan sebanyak 500 kg

  1.  Pengendalian hama dan penyakit
  • Pengendalian hama penyakit dilakukan dengan sistem periodik.
  • Pestisida digunakan seminimal mungkin.
  • Ikan yang dipelihara merupakan predator bagi serangga hama padi, sehingga serangan hama dapat terkendali dengan baik.
  1. Panen
  • Saat panen yang paling tepat adalah ketika 90% gabah menguning.
  • Panen ikan dilakukan 10 hari sebelum panen padi dengan cara mengeringkan petakan sawah terlebih dahulu kemudian ikan ditangkap secara perlahan-lahan.

dari beberapa sumberinformasi

gandatmadi46@yahoo.com

 

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.