No Capital Control

Bank Indonesia tidak punya rencana untuk menerapkan capital control untuk menjaga rupiah selama periode gejolak pasar global, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan pada hari Rabu (06/06).

Background

Selama beberapa dekade terakhir, perusahaan-perusahaan Indonesia telah mengembangkan strategi yang teruji untuk mengatasi kejatuhan berkala  rupiah dengan mempertahankan kepemilikan  dolar untuk melindungi keuntungan mereka. Tetapi perilaku mereka dapat menambah tekanan jatuhnya mata uang rupiah, memperburuk masalah bagi pembuat kebijakan ekonomi terbesar di Asia Tenggara, terutama mengingat sifatnya yang relatif terbuka dibandingkan dengan negara2 tetangga dengan rezim mata uang yang lebih ketat.

Nilai tukar rupiah telah menjadi salah satu mata uang berkinerja terburuk di Asia tahun ini dan mencapai level terendah sejak akhir 2015. Bank Indonesia (BI), telah mengambil berbagai langkah untuk mencoba meningkatkan penggunaan rupiah dan sekali lagi mendorong perusahaan untuk menjual dolar, tetapi perusahaan yang disurvei oleh Reuters mempertahankan kepemilikan mata uang AS dan hanya memenuhi persyaratan minimum hedging.

Banyak perusahaan mengatakan bahwa biaya mereka kebanyakan dalam dolar dan pendapatan mereka sebagian besar dalam rupiah, mereka tidak bisa mengambil risiko tergerusnya dalam mata uang lokal. Mereka juga menunjukkan bahwa hedging fund sangat mahal.

Vidjongtius, direktur utama perusahaan farmasi terbesar Indonesia, Kalbe Farma, mengatakan bahwa setiap persentase depresiasi rupiah menaikkan biaya produksinya sebesar 0,35 persen. Memiliki “uang tunai” dolar telah menjadi strategi Kalbe sejak lama karena hedging  dengan produk perbankan relatif lebih kompleks dan terkadang sulit untuk dipantau, ditambah ada biaya untuk itu,” katanya.

Industri farmasi secara khusus terkena risiko nilai tukar karena bahan bakunya sebagian besar diimpor dan hanya mengekspor sebagian kecil dari produksinya.

Dendy Kurniawan, kepala eksekutif Indonesia AirAsia, yang mendapat sekitar setengah pendapatannya dalam rupiah dan setengah dolar, mengatakan jika, misalnya, rupiah jatuh 5 persen dan biaya hedging  6 persen tidak ada gunanya untuk melakukan hedging.

Jahja Setiaatmadja, presiden direktur Bank Central Asia Indonesia, mengatakan bank biasanya hanya mengambil 20 hingga 25 basis poin dari margin keuntungan untuk simple foreign exchange hedging product, tetapi karena itu harga dari kurs antar bank rupiah itu bisa 5,95 persen untuk kontrak satu tahun.

Perusahaan pakan ternak Charoen Pokphand Indonesia, yang terutama menjual di dalam negeri tetapi mengimpor beberapa bahan mentah, telah berusaha membatasi eksposur dolar dengan membeli jagung lokal dan membatasi utang luar negerinya, kata direktur Ong Mei Sian. Perusahaan menahan uang dolar sebagai tambahan untuk menutupi pembayaran bunga jangka pendek, meskipun tidak sepenuhnya melindungi utang pokok dan kebutuhan dolar jangka panjang, katanya.

Kebijakan BI

Jakarta Globe 6 Juni 2018. Bank sentral(BI) tidak punya rencana untuk menerapkan kontrol modal untuk mendukung rupiah selama periode gejolak pasar global, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan pada hari Rabu (06/06).

Bersamaan dengan pasar negara berkembang lainnya, Indonesia telah melihat arus keluar dana karena aset AS menjadi lebih menarik karena meningkatnya suku bunga. Perry mengatakan pasar negara berkembang dengan kebijakan ekonomi yang sehat harus memiliki opsi untuk mengelola aliran modal sebagai bagian dari kebijakan makroekonomi negara.

Dia mencatat pandangan dan bimbingan institusional oleh Dana Moneter Internasional mengenai manajemen aliran modal menjadi sumbangkan ide ketika dia menjabat di IMF tahun 2011-2013.

“Ini tidak boleh menjadi substitusi kebijakan makro tetapi manajemen aliran modal dapat dilakukan jika pasar yang muncul telah menerapkan disiplin fiskal dan kebijakan moneter yang bijaksana,” kata Perry. Langkah-langkah seperti itu, jika diambil, harus ditargetkan dan memiliki jangka waktu tertentu.

Emerging markets di seluruh dunia melihat gabungan $ 12,3 miliar arus keluar dalam bentuk obligasi dan saham bulan lalu, menurut data dari Institute of International Finance. Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan untuk kedua kalinya dalam dua minggu pada pertemuan off cycle pada 30 Mei 2018, setelah menaikkan suku bunga awal bulan itu sebagai usaha untuk menjinakkan pasar.

Pada hari Rabu tgl 6 Juni 2018, ia menegaskan kembali kemungkinan untuk  kenaikan suku bunga lebih lanjut akan dilakukan dengan cara yang terukur. Bank sentral juga melakukan  pembicaraan dengan China untuk memperpanjang perjanjian swap bilateral, yang dapat digunakan untuk mendukung rupiah, jika diperlukan, kata gubernur.

Secara total, Bank Indonesia telah menaikkan suku bunganya sebesar 50 basis poin pada bulan Mei, membawanya ke 4,75 persen.

Sumber informasi dari Jakarta Globe / Reuters

gandatmadi46@yahoo.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.