A Lot To Be Hopeful For’: Crisis Seen As Historic, Not Another Great Depression

nprMay 17, 2020

Heard on Weekend Edition Sunday

Scott Horsley

Dengan  A.S mengalami ekonomi free-fall , banyak peramal telah menggali jauh ke dalam buku-buku sejarah, mencari petunjuk tentang apa yang diharapkan. Seringkali, mereka membuka bab pada 1930an.

“Jelas orang telah membandingkan dengan the Great Depression,” kata mantan Ketua Federal Reserve Ben Bernanke. “Itu bukan perbandingan yang sangat baik,” dia mengingatkan. Bernanke, student of the Great Depression, mengatakan bahwa krisis dipicu oleh krisis keuangan dan diperburuk oleh pilihan kebijakan yang buruk, termasuk keputusan oleh para pendahulunya The Fed dengan menaikkan suku bunga.

Mungkin yang terpenting, bahwa Depresi 1929 berlarut-larut selama belasan tahun. Sementara Bernanke tidak berharap untuk pulih dari krisis (pandemi corona virus) saat ini dalam enam bulan ke depan, dia juga tidak melihatnya meluas tanpa batas. “Jika semuanya berjalan baik, dalam satu atau dua tahun kita harus berada dalam posisi yang jauh lebih baik,” kata Bernanke pada audiensi di Brookings Institution bulan lalu.

Ketua Fed Jerome Powell mengatakan pemerintah federal mungkin harus menghabiskan lebih dari triliunan yang telah dikeluarkan untuk mempertahankan bisnis dan keluarga. “Dukungan fiskal tambahan bisa mahal tetapi sepadan jika itu membantu menghindari kerusakan jangka panjang dan membuat kita dengan pemulihan yang lebih kuat,” kata Powell dalam forum online yang disponsori oleh Peterson Institute for International Economics.

Dalam hal ini Great Depression  menawarkan pelajaran yang bermanfaat. Pada tahun 1930-an, AS serta negara-negara lain berpaling terhadap aktivitas  perdagangan (turn their back on trade ), mengadopsi steep tariffs dalam upaya untuk memperkuat ekonomi mereka sendiri  yang dilanda Depresi. Hal itu menjadi bumerang.

Chad Bown of the Peterson Institute for International Economic,  acknowledges that protectionism is a natural reflex at a time like this, but he warns it’s counterproductive. The coronavirus does not have to touch off another Great Depression, but with misguided policy, it could.

the new balance

What Ended the Great Depression

Oleh Kimberly Amadeo, Updated April 22, 2020

Pada 1932, AS memilih Franklin D. Roosevelt sebagai presiden. Dia berjanji untuk menciptakan program pemerintah federal untuk mengakhiri Depresi dalam 100 hari, dia menandatangani (konsep) New Deal menjadi undang-undang, menciptakan 42 agen baru sepanjang masa hidupnya. Mereka dirancang untuk menciptakan pekerjaan, member izin terbentuknya serikat pekerja, dan menyediakan asuransi pengangguran. Banyak dari program ini masih berlaku. Mereka membantu menjaga ekonomi dan mencegah depresi  terulang kembali.

Banyak yang berpendapat bahwa yang mengakhiri depresi adalah Perang Dunia II, bukan New Deal. Namun, yang lain berpendapat bahwa jika FDR telah menghabiskan dana untuk New Deal seperti yang dilakukannya selama Perang Dunia II, itu akan mengakhiri Depresi. Dalam sembilan tahun antara peluncuran New Deal dan serangan terhadap Pearl Harbor, FDR meningkatkan utang sebesar $ 3 miliar. Pada tahun 1942, pengeluaran pertahanan $ 23 miliar dari menambah hutang. Pada tahun 1943, ia menambahkan $ 64 miliar lagi.

Sementara ini serba  mungkin saja tetapi  tidak  terjadi lagi. Bank-bank sentral di seluruh dunia, termasuk Federal Reserve, telah belajar dari masa lalu. Ada perlindungan yang lebih baik untuk melindungi dari bencana, dan perkembangan kebijakan moneter membantu mengelola ekonomi.

But monetary policy can’t offset fiscal policy. Some argue that the sizes of the U.S. national debt and the current account deficit could trigger an economic crisis. Experts also predict that climate change could cause profound losses.

terjemahan bebas oleh gandatmadi46@yahoo.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.