Council of the Economic Advisers ( CEA )

Setiap Presiden dinegara manapun  selalu memiliki penasehat, meskipun posisinya bukan  sebagai eksekutif tetapi posisinya sangat sentral.  Demikian halnya dengan Council of Economic Advisers ( CEA ) untuk President USA,  is an agency within the Executive Office of the President ( EOP )  that advises the President of the United States on economic policy.

CEA menyiapkan the objective empirical research dan laporan tahunan dari President, dipilih oleh President dan disetujui Senat. Awalnya CEA dibentuk pada tahun 1946 dipimpin seorang  Chaiman dan anggotanya  sekitar 20 orang  dipilih mereka yg memiliki latar belakang akademis yg kuat dibidang ekonomi. Dibantu seorang Chief of staff plus 3 orang tenaga tetap ahli statistik ekonomi.  Anggota CEA harus cuti dari pekerjaan sebelumnya  untuk bisa diangkat.

Peran CEA mengalami pasang surut tergantung terutama kepada President,  tercatat CEA  sangat berperan di era President JF Kennedy yg anggotanya yg kemudian peraih hadiah Nobel seperti Robert Solow, James Tobin. Ketuanya Walter Heller dikenal sangat inovatif dengan ide Tax Cut tepatnya  mengajarkan kepada JFK aplikasi dari teori Keynes bahwa defisit bisa positif.

Terdapat sederetan nama  ekonom2 yg sangat terkenal yg pernah menjadi anggota CEA al Arthur Akun yg terkenal dengan hasil resitnya keterkaitan antaraUnemployment  dengan GDP, Arthur Burns kemudian 2 kali menjadi Chairman FED, Alan Greenspan kemudian 2 kali menjadi Chairman the FED, Ben Bernanke kemudian 2 kali menjadi Chairman the FED, JanetYessen yg kini menjadi Chaiman the FED, Joseph Stiglizt peraih hadiah Nobel bidang ekonomi…

Di era President Trump meski terlalu pagi tapi kalangan ekonom menyatakan … Over three days of intense discussions, I didn’t encounter a single economist who expressed optimism that Mr. Trump’s administration would be good for the economy.

Sendhil Mullainathan, professor of economics at Harvard menulis singkat tentang peranan CEA :

Orang luar akan  sulit membayangkan mengapa mencopot seorang ekonom dari kabinet akan berdampak besar? Lagi pula, korporasi bukankah terwakili dalam adiministrasi ( management ). Paling tidak 5 calon anggota kabinet  serta sejumlah posisi lainnya di era Trump  telah menjadi CEO excecutive.

Sendhil Mullainathan, professor of economy dari Havard menulis…don’t confuse business acumen with economic analytics. Perlu memastikan supaya tidak mencampuradukkan dua arah menjadi satu:  Akankah anda bertanya seorang ekonom perguruan tinggi tanpa memiliki pengalaman bisnis untuk menjalankan perusahaan? Akan terjadi kesalahan yg sama jika ditanya pada arah yg lain. CEA  bekerja menurut fungsinya ( penasehat ) dan menyiapkan perspektif yg tidak dilakukan kalangan bisnis.

CEA sejatinya adalah in house konsultan untuk White House, para staff memproduksi analisis ekonomi mengenai hampir semua isu yg dihadapi President.  Hal ini merupakan tanggung jawab yg luas untuk bisa kita bayangkan. Sebagai contoh mengenai pengurangan jumlah anggota militer, tentang keamanan menjadi perhatian semua orang tetapi kebijakan pengurangan akankah punya dampak ekonomi?  Bagaimana nasib mereka yg berkarir di militer? Bagaimana pengaruh ekonomi  suatu kota yg dekat dengan Army bases?

Business acumen, memiliki sedikit pandangan mengenai pertanyaan2 diatas.  Para CEO punya sedikit pandangan mengenai pengurangan jumlah anggota militer, mungkin mereka pernah menangani satu atau dua perusahaan mereka. Sebagai contoh, Wilbur Ross, calon commerce secreatary yg spesialis membeli perusahaan yg nyaris bangkrut, apakah dia memiliki perspektif yg bernilai tentang kasus mengurangi anggota militer?

Perusahaan2 mengeluarkan jumlah  resources yg besar untuk mengelola sistem perpajakan.  Kalangan bisnis mengetahui celah2  dan insentif perpajakan serta keringanan pajak yg menarik untuk kegiatan bisnis mereka. I know our complex tax law better than anyone yg pernah mencalonkan President dan I am the only one who can fix them, kata President Trump

Meski Mr Trump menjalankan, sebenarnya lebih banyak kebijakan perpajakan  tidak cuma menutup loopholes. Setiap diskusi tentang pajak harus memperhatikan distorsi kebiasaan dan pilihan: Sebagai contoh, perolehan pajak yg tinggi meski tanpa loopholes dapat menyebabkan beberapa orang memilih keluar dari angkatan kerja ( terhindar dari pajak ). Pembahasan juga perlu menguji siapa yg akan menanggung beban perolehan  pajak.  Pertanyaan2 ini yg menjadi fokus CEA.

Sementara anggota kabinet  menjalankan tugas negara, mereka juga punya kepentingan peribadi dan ambisi. Untuk beberapa hal itu  terutama karena politik  tetapi  bagi yang lain karena kepentingan bisnis. Sulit untuk mencegah kebijakan publik diwarnai oleh ambisi2 seperti itu.

Para akademisi yg bekerja untuk CEA punya penyimpangan2 sendiri. Mereka juga memiliki preferensi politik dan afiliasi kepada parpol. Beberapa tahun yg baru lewat muncul keperihatinan bahwa hasil resit akademis  dan advis tentang kebijakan publik terpolusi oleh ikatan bisnis atau terkait dengan imbalan ( fees ). Namun penyimpangan2 oleh para akademisi juga terjadi dimana mana. Benar para akademisi kuatir dengan apa yg menjadi pikirankolega mereka seperti halnya orang lain. Dalam hal ini bagus. Penting mempunyai seseorang dalam kabinet yg memilih menjaga integritas akademis dibandingkan untuk kepentingan bisnis atau image dari President.

Chief of Staff  dari Excecutive Office of the President ( EOP ).

Tugas pokok dari Kepala Staf Gedung Putih adalah memberikan support agar President dapat menjalankan tugasnya secara efektif. Awalnya dibentuk pada tahun 1939 olef President FD Roosevelt.

Dibawah kordinasi EOP adalah Council of Economic Advisers ( CEA ), Office of Management & Budget ( OMB ), Office of Sicience & Technology Policy, Council of Environment Quality, Executive Residence, National Security Council, Office of Administration, Office of National Drug Control Policy, Office of the Vice President, Office of the United States Trade Representative, White House Office, President’s Intelligence Advisory Board.

Bagaimana di Indonesia?

Dewan Pertimbangan Presiden (biasa disingkat Wantimpres) adalah lembaga pemerintah nonstruktural Indonesia yang bertugas memberikan nasihat dan pertimbangan kepada presiden. Wantimpres pertama kali dibentuk oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada tahun 2007. Lembaga ini merupakan kelanjutan dari Dewan Pertimbangan Agung yang dibubarkan setelah Perubahan Ke-4 UUD 1945.

Anggota Wantimpres berjumlah 9 orang, dimana salah satunya merangkap sebagai ketua. Jabatan ketua dapat dijabat secara bergantian oleh para anggota. Anggota Wantimpres diangkat paling lambat 3 bulan sejak pelantikan presiden, dan berakhir masa jabatannya bersamaan dengan masa jabatan presiden atau karena diberhentikan oleh presiden.

Di era Presiden SBY yg menjadi Ketua Wantimpres adalah Ali Alatas ( alm ) sedang yang menjadi anggota untuk bidang ekonomi Syahrir ( alm ). Di era Presiden Jokowi yg menjadi Ketua Wantimpres Prof  Sri Adiningsih ( ekonom ).

Menurut saya dewan Pertimbangan Presiden membutuhkan lebih banyak ekonom sekaliber Prof Sri Adiningsih yg bekerja penuh dan dibantu dengan sejumlah ahli seperti ekonomi statistik. Kita memiliki ekonom akademisi seperti Prof Iwan Jaya Azis, Chatib Basri phd, Mahendra Siregar… Jika perlu teknokrat berpengalaman dalam bisnis seperti Gita Wiryawan cakap masuk dalam team ini. Apakah harus dalam Wantimpres atau wadah tersendiri?

Dikumpulkan oleh gandatmadi46@yahoo.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.