Deindustrialisasi prematur di negara2 berkembang

Demikian judul artikel karya  Prof Dani Rodrik pada tahun 2015 yg sebenarnya mengingatkan kita khususnya negara2 berkembang agar waspada.

Deindustrialisasi

Apa yang maksud deindustrialisasi? Deindustrialisasi adalah proses perubahan sosial dan ekonomi yang disebabkan oleh pemindahan atau pengurangan kapasitas atau aktivitas industri di suatu negara atau wilayah, terutama industri berat atau industri manufaktur. Ini adalah kebalikan dari industrialisasi.

Cairncross (1982) dan Lever (1991) menyebut ada 4 difinisi tentang deindustrialisasi:

  1. Penurunan jangka panjang yang cepat dalam output barang manufaktur atau lapangan kerja di sektor manufaktur.
  2. Pergeseran dari manufaktur ke sektor jasa, sehingga manufaktur memiliki bagian yang lebih rendah dari total lapangan kerja. Pergeseran seperti itu bisa terjadi meskipun jika lapangan kerja manufaktur tumbuh secara absolut.
  3. Barang manufaktur tersebut meliputi penurunan perdagangan luar negeri, sehingga terjadi kegagalan progresif untuk mencapai surplus ekspor yang cukup melebihi impor untuk menjaga external balance.
  4. Kondisi defisit perdagangan yang berlanjut (seperti yang dijelaskan dalam definisi ketiga di atas) yang mengakumulasi negara atau wilayah sehingga tidak dapat membayar impor yang diperlukan untuk mempertahankan produksi barang lebih lanjut, sehingga memulai downward spiral of economic decline.

Rowthorn dan Wells (1987) membedakan antara penjelasan deindustrialisasi yang melihatnya sebagai proses positif, misalnya, kematangan ekonomi, dan hubungan deindustrialisasi dengan faktor negatif seperti kinerja ekonomi yang buruk.Teori mereka berdua berpendapat bahwa inovasi teknologi memungkinkan alat produksi yang lebih efisien, sehingga menghasilkan peningkatan produktivitas fisik, yaitu output yang lebih besar dari nilai penggunaan per unit modal yang diinvestasikan.

Namun secara paralel, inovasi teknologi menggantikan orang dengan mesin, dan kesimbangan komposisi modal meningkat. Dengan asumsi hanya tenaga kerja yang bisa menghasilkan baru  new additional value, output fisik yang lebih besar ini mewujudkan nilai dan nilai surplus yang lebih kecil. Tingkat rata-rata keuntungan industri karenanya menurun dalam jangka panjang.

Pitelis dan Antonakis (2003) mengemukakan, sejauh perusahaan manufaktur berhemat, misalnya, outsourcing, kontrak keluar, dan lain-lain, hal ini betul akan mengurangi pangsa ( share ) manufaktur tetapi tanpa mempengaruhi ekonomi secara negatif. Hal itu berpotensi menimbulkan efek positif, asalkan tindakan tersebut meningkatkan produktivitas dan kinerja perusahaan.

George Reisman (2002) mengidentifikasi inflasi sebagai kontributor deindustrialisasi. Dalam analisisnya, proses inflasi mendistorsi perhitungan ekonomi yang diperlukan untuk mengoperasikan perusahaan manufaktur padat modal, dan membuat investasi yang diperlukan untuk mempertahankan operasi perusahaan semacam itu tidak menguntungkan.

Pengaturan kelembagaan juga berkontribusi terhadap deindustrialisasi seperti restrukturisasi ekonomi. Dengan terobosan dalam transportasi, komunikasi dan teknologi informasi, ekonomi global yang mendorong investasi langsung asing, mobilitas modal dan migrasi tenaga kerja, dan penekanan pada teori ekonomi baru pada faktor khusus endowment ( anugrah dari Allah SWT ) , manufaktur beralih ke wilayah dengan biaya rendah dan di sektor jasa dan keuangan terkonsentrasi di daerah perkotaan (Bluestone & Harrison 1982, Logan & Swanstrom 1990).

Istilah krisis deindustrialisasi telah digunakan untuk menggambarkan penurunan industri padat karya di sejumlah negara dan lepasnya pekerjaan meninggalkan perkotaan. Salah satu contohnya adalah manufaktur padat karya. Setelah perjanjian perdagangan bebas dilembagakan dengan negara-negara kurang berkembang pada tahun 1980an dan 1990an, produsen padat karya memindahkan fasilitas produksi ke negara-negara dunia ketiga dengan upah yang jauh lebih rendah dan standar yang lebih rendah. Selain itu, penemuan teknologi yang membutuhkan tenaga kerja manual kurang, seperti robot industri, menghilangkan banyak pekerjaan manufaktur.

Dani Rodrik, alternatif yang jelas adalah perdagangan dan globalisasi. Cerita yang masuk akal adalah sebagai berikut. Seiring berkembangnya negara-negara berkembang untuk berdagang, sektor manufaktur mereka dilanda whammy ganda ( kerugian ganda ). Mereka yang tidak memiliki keunggulan komparatif yang kuat dalam manufaktur menjadi net importir manufaktur, membalikkan proses substitusi impor yang panjang. Selain itu, negara2 berkembang mendatangkan deindustrialisasi dari negara-negara maju, karena mereka terkena tren harga relatif yang dihasilkan di negara-negara maju. Penurunan harga relatif manufaktur di negara-negara maju membuat tekanan pada manufaktur di mana-mana, termasuk negara-negara yang mungkin tidak mengalami banyak kemajuan teknologi. Perhitungan ini konsisten dengan penurunan kuat sektor ketenagakerjaan dan output di negara berkembang (terutama yang tidak mengkhususkan diri pada manufaktur).

Deindustrialisasi Prematur di negara2 berkembang

Diatas diuraikan terjadinya deindustrialisasi, bisa dikatakan fase pembalikan dari proses industrialisasi. Penyebabnya banyak dan bisa berbeda beda antara negara maju dengan negara miskin, antara negara kaya natural resources dengan negara yang minim natural resources tapi maju ekonominya seperti Jepang sebagai contoh. Industrialisasi di Asia Tenggara berbeda dengan di Amerika Latin.

Rodrik menulis bahwa deindustrialisasi telah lama menjadi perhatian di negara-negara kaya, di mana dikaitkan dengan hilangnya pekerjaan yang lebih  berkwalitas  , meningkatnya ketimpangan, dan penurunan kapasitas inovasi… menjadi masalah yang jauh lebih besar bagi negara-negara berkembang.

Ada dua pengertian di mana menyusutnya manufaktur di ekonomi berpenghasilan rendah dan menengah dapat dipandang terlalu dini. Yang pertama, murni deskriptif, adalah bahwa ekonomi sedang mengalami deindustrialisasi jauh lebih awal daripada historical norm. Di negara2 ini  income tetap rendah atau masih dikisaran ketika mereka memulai industrialisasi

Pengertian kedua, adalah prematur karena deindustrialisasi memiliki dampak buruk pada pertumbuhan ekonomi ( seharusnya dampaknya dalam ekonomi tidak terlalu significant ). Ketika memulai industrialisasi awal bertumpu pada sektor manufaktur. Seperti kita ketahui manufaktur secara tradisional menyerap sejumlah besar tenaga kerja tidak terampil, sesuatu yang membedakannya dari sektor produktivitas tinggi lainnya seperti pertambangan atau keuangan.

Manufaktur adalah sektor yang dapat diperdagangkan, yang menyiratkan bahwa ia tidak menghadapi hambatan permintaan konsumen berpenghasilan rendah. Ini bisa memperluas dan menyerap pekerja meski technologically stagnant. Manufaktur secara tradisional menyerap sejumlah besar tenaga kerja tidak terampil, sesuatu yang membedakannya dari sektor produktivitas tinggi lainnya seperti pertambangan atau keuangan.

Negara negara dengan sektor manufaktur yang berperan kecil  supaya beralih dari manufaktur ke sektor  lainnya , disarankan supaya  lewat jatuhnya harga manufaktur internasional negara2 berkembang mengambil manfaat. Sebagai contoh Indonesia lebih fokus kepada sektor pariwisata ( jasa ), energi baru terbarukan, agroindustry….

Amerika Latin tampaknya merupakan wilayah yang terkena dampak paling parah. Tapi tren yang sama mengkhawatirkan juga sangat banyak seperti  di Afrika bub-Sahara, di mana beberapa negara memiliki banyak industrialisasi. Satu-satunya negara yang tampaknya telah lolos dari kutukan industrialisasi dini adalah kelompok negara-negara Asia yang relatif kecil peran sektor manufaktur  dan memproduksi produk ekspor. Negara-negara maju sendiri telah mengalami deindustrialitas yang signifikan, namun menghasilkan output dengan harga konstan telah bertahan dengan baik – sesuatu yang biasanya diabaikan karena banyak diskusi mengenai deindustrialisasi terfokus pada nilai nominal dan bukan nilai sebenarnya.

Konsekuensi politik

Prof Dani Rodrik dari Havard University menulis sbb:

Konsekuensi politik dari deindustrialisasi dini lebih halus, tapi bisa jadi lebih signifikan. Partai politik secara tradisional merupakan produk sampingan industrialisasi. Politik terlihat sangat berbeda ketika produksi perkotaan diatur sebagian besar di sekitar informalitas, serangkaian usaha kecil dan layanan kecil yang menyebar. Kepentingan umum di kalangan non-elit lebih sulit didefinisikan, organisasi politik menghadapi hambatan yang lebih besar, dan identitas personalistik atau etnis mendominasi solidaritas kelas. Elit tidak menghadapi aktor politik yang bisa mengklaim mewakili non-elite dan membuat komitmen mengikat atas nama mereka. Lagipula, elit mungkin lebih memilih – dan memiliki kemampuan – untuk membagi dan memerintah, mengejar politik populisme dan patronase, dan memainkan satu set non-elite melawan yang lain. Tanpa disiplin dan koordinasi yang diberikan oleh angkatan kerja yang terorganisir, tawar-menawar antara elite dan non elit yang dibutuhkan untuk transisi dan konsolidasi demokrasi cenderung tidak terjadi. Jadi deindustrialisasi dini bisa membuat demokratisasi lebih kecil kemungkinannya dan lebih rapuh.

Di kumpulkan dari beberapa sumber oleh gandatmadi46@yahoo.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.