Did the Business Roundtable just sound the death knell for shareholder primacy

Oleh Judith Samuelson, founder dan executive director of the Aspen Institute Business and Society Program, 19 Agustus 2019

Nitin Nohria, when he was appointed dean of Harvard Business School in 2010, said it best: “None of the major problems confronting the globe today—sustainability, health care, poverty, financial-system repair—can be solved unless business plays a significant role.”

Milton Friedman beserta pendukungnya memulai kampanye pada awal 1970-an, sebagai usaha menempatkan pemegang saham di sentral  pengambilan keputusan bisnis. Business Roundtable menunggu hingga 1997 untuk menyusun ulang pernyataan misinya sendiri selaras dengan gagasan itu.

Tetapi hari ini pendulum telah kembali ke pandangan yang lebih seimbang. Pendirian Business Roundtable 1997  sekarang telah dianggap tidak sesuai dengan pandangan kontemporer. Pergeseran ini memiliki banyak pemakarsa  — terutama kepemimpinan perusahaan-perusahaan besar AS seperti Costco, Southwest Airlines, dan Panera Bread, yang strategi dan rekam jejaknya konsisten dengan pemikiran sentris karyawan.

Tetapi pekerjaan terus berlanjut. Sementara aturan telah berubah, tujuan perusahaan akan terus dipahami dengan baik melalui tindakan dan operasi lebih dari sekedar  kata-kata. Data tentang berapa banyak pemotongan pajak baru-baru ini dibayarkan kepada pemegang saham, versus berapa banyak yang diinvestasikan kepada karyawan atau infrastruktur, menunjukkan bahwa harga saham masih mendominasi fokus ruang dewan dan suite eksekutif. Dan pada akhirnya, paket pembayaran yang diisi dengan stok mengirimkan sinyal yang lebih kuat kepada manajer daripada pernyataan misi apa pun.

Roosevelt Institute melaporkan bahwa “selama satu setengah dekade terakhir, perusahaan telah mengirim 94% keuntungan perusahaan kepada pemegang saham, dalam bentuk pembelian kembali, serta dividen, membuat perusahaan berpendapat bahwa ada sedikit yang tersedia untuk kompensasi atau investasi karyawan (Lazonick 2014). ”Masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Tetapi pernyataan baru dari Business Roundtable ini memberi sinyal kemajuan —  menempatkan poin nyata di papan skor bagi kita yang telah lama berdebat tentang reformasi mengenai cara perusahaan memikirkan tujuan dan tanggung jawab mereka kepada masyarakat.

Dua bagian dari pesan itu mencuat bagi saya. Salah satunya adalah pernyataan terkemuka yang menegaskan nilai kapitalisme dan perusahaan. “Kami percaya sistem pasar bebas adalah cara terbaik untuk menghasilkan pekerjaan yang baik, ekonomi yang kuat dan berkelanjutan, inovasi, lingkungan yang sehat dan peluang ekonomi untuk semua,”  pernyataan tersebut tercantum  dalam paragraf pembukaannya. “Bisnis memainkan peran penting dalam perekonomian dengan menciptakan lapangan kerja, mendorong inovasi dan menyediakan barang dan jasa penting.”

Nitin Nohria, ketika ia diangkat menjadi dekan Harvard Business School pada tahun 2010, mengatakan seperti ditulis di awal tulisan ini : “Tidak ada masalah besar yang dihadapi dunia saat ini — sustainability, health care, poverty, financial-system repair—can be solved unless business plays a significant role.”

Ke dua, pernyataan Business Roundtable menjelaskan bahwa minat alami eksekutif dalam manajemen dapat menegaskan kembali dominasinya atas pasar keuangan. Sekarang ruang kelas keuangan perlu mengejar ketinggalan, untuk mengakui seberapa banyak pemikiran kita tentang tujuan korporasi yang telah berubah pada dekade ini.

Pernyataan Business Roundtable menegaskan manajemen akal sehat: tentu saja bisnis perlu membayar lebih dari sekedar upah kemiskinan untuk memperoleh  rasa hormat dan kesetiaan dan produktivitas; tentu saja  pandangan  mengenai supply chain  perlu menjadi pertimbangkan, seperti halnya yg dilakukan Google, kondisi kerja dan upah pekerja kontrak yang bekerja atas nama Anda, jika tidak pada daftar gaji Anda.

 Your employees, and the shareholders who have had your back for decades—rather than days, or hours—agree !!!

Note:

The Business Roundtable (BRT) is a non-profit association based in Washington, D.C. whose members are chief executive officers of major U.S. companies. Unlike the U.S. Chamber of Commerce, whose members are entire businesses, BRT members are exclusively CEOs. BRT promotes public policy favorable to business interests such as NAFTA, while also promoting broader public policy initiatives such as No Child Left Behind and opposing others such as the Trump administration’s family separation policy. In 2019, BRT redefined its definition of the purpose of a corporation, putting the interests of employees, customers, suppliers and communities on par with shareholders. BRT members include Jeffrey Bezos of Amazon, Tim Cook of Apple, and Mary Barra of General Motors.

terjemahan bebas gandatmadi46@yahoo.com

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.