Human Capital Is In Critical Condition

Mengutip tulisan Faisal Basri dan Gatot Arya Putra untuk Friedrich-Ebert-Stiftung Indonesia dengan subjudul diatas ……

Menurut Eichengreen, Park, dan Shin (2013) kunci untuk melepaskan diri dari perangkap Middle Income adalah: adaptasi teknologi tinggi untuk memproduksi produk2 untuk ekspor dengan teknologi produk2 impor. Produk2 untuk ekspor  mempunyai high local content yang berteknologi tinggi. Dengan demikian tidak memiliki arti yg cukup jika produk2 ekspor kita sudah berteknologi tinggi tetapi memiliki sedikit kandungan lokalnya.

 Untuk menuju kelevel tersebut a.l. dibutuhkan highly skilled workers, sebagai konsekwensinya mensyaratkan tersedianya balai2 latihan plus guru dan fasilitasnya. Namun persyaratan yang paling mendasar adalah pendidikan di sekolah – dari tingkat SD, SMP, SMK/SMA dan Universitas. Masalahnya seperti tertulis berikut ini:

The lack of competitive human capital in Indonesia is obvious. Based on elementary students’ performance in mathematics, reading, and science, it is clear that cognitive skills and school duration are not yet able to support the high economic growth necessary to be coming a technology frontier country. Based on the World Development Indicator 2012, the school enrollment ratio for secondary education in Indonesia, in 2011, was 74,8 percent, while South Korea was 95,6 percent. In tertiary education, in 2011, Indonesia achieved 27,2 percent but  South Korea achieved 100 percent.

Meskipun demikian, angka2 diatas adalah rata2 nasional dan Indonesia masih mengalami ketimpangan wilayah dalam banyak hal termasuk pendidikan. Di DKI dan disejumlah kota2 besar misalnya pelajaran matematika dan sainnya diatas rata2 nasional. Pabrikan mudah sekali merekrut untuk dididik menjadi karyawan yang bagus.

Pada tahun 1970an, awal Orba PT Union Carbide Indonesia merekrut anak2 muda yang tinggal di sekitar pabrik. Mereka lulusan SMP dan SMA/STM menjadi operator pabrik sedangkan dinegara lain minimal lulusan SMA atau Politeknik. Performance Eveready Cimanggis masuk 10 terbaik di dunia antar pabrik2 Eveready.

Berikut adalah salah satu materi latihan yaitu Lean Manufacturing yang diterapkan dengan baik sehingga Eveready Indonesia mengalahkan Eveready Mexico, Malaysia dan Singapore. Kita kalah dengan RRC dalam penjualan karena faktor infra structure.

Lean Manufacturing

Lean manufacturing or lean production atau lean, adalah metode sistematis untuk meminimalkan limbah, waste minimmization dalam sistem manufaktur tanpa mengorbankan produktivitas. Lean juga memperhitungkan waste  yang dibuat melalui overburden dan waste  yang tercipta melalui ketidakrataan beban kerja. Bekerja dari perspektif klien yang mengkonsumsi produk atau layanan, “nilai” adalah tindakan atau proses apa pun yang akan dibayar oleh pelanggan.

Manufaktur Lean membuat jelas apa yang menambah nilai, dengan mengurangi segala sesuatu yang lain (yang tidak menambahkan nilai). Filosofi manajemen ini sebagian besar berasal dari Toyota Production System (TPS) dan diidentifikasi sebagai “lean” hanya pada tahun 1990an. TPS terkenal karena fokusnya pada pengurangan tujuh limbah asli Toyota. untuk meningkatkan nilai pelanggan secara keseluruhan, namun ada berbagai perspektif tentang bagaimana hal ini paling baik dicapai. Pertumbuhan yang mantap dari Toyota, dari sebuah perusahaan kecil ke produsen mobil terbesar di dunia, telah memusatkan perhatian pada bagaimana untuk mencapai kesuksesan ini.

Pengetrapan

Dimuat di kumpulanstudi-aspirasi.com tgl 17Agustus 2016 dalam artikel Upaya Peningkatan Produktivitas Kerja kepada IKM Tegal sbb:

Penelitian World Bank seputar tahun 2006 berjudul Knowledge  Diffusion in The Tegal Metalworking Industri  menemukan sejumlah informasi yg mengejutkan……….

Though well-intentioned, government training has produced minimal measurable results to date and many firms complain that it does not target their needs. The local government’s training has had a limited positive impact in the sense that it provides assistance to firms that would otherwise not receive any help at all and that it covers areas not addressed by private sector enterprises such as management. Efforts to lower information costs and promote marketing linkages have achieved limited tangible results to date, though some metal workshops have received subcontracting orders due to government assistance. Government efforts to develop supporting institutions, including a laboratory and a polytechnic, have had some promising results though it is too early to draw conclusions regarding the success of this approach.

Industri Utama di Tegal termasuk  Industri makanan dan minuman olahan ( Tah dan Tahu ), Textile dan Sulaman, Furniture dari kayu dan rotan. Sektor Industri menyumbang 22,09 % terhadap Pendapatan Daerah per tahun, perdagangan 24,24 %, pertanian 24,62 % dan sisanya 29,05 % untuk beberapa sektor diantaranya service 10 %, Jasa Keuangan 7 %, konstruksi 4 %, transportasi 4 %, tambang 2 %, listrik dan air 1 %.

Jumlah Tenaga Kerja di sektor Metalworking Industry 30 029 orang atau 25 % dari jumlah Tenaga Kerja di Kabupaten Tegal, 118 820 orang.  Menurut Pemda jumlah perusahaan Industri metal 2 811 orang. ( sudah diusulkan untuk di update ). Rata2 per perusahaan memperkerjakan 20 orang, kebanyakan pria. Upah buruh di Kab Tegal rp 420 ribu per bulan atau lebih tinggi dari upah buruh Propinsi Jateng rp 390 ribu. Regional GDP Tegal untuk tahun 2001 sebesar rp 1 044 Trilyun atau USD 104 juta dimana rp 230 Milyar atau USD 23 juta dari sektor Metalworking.

IKM Kabupaten Tegal

Pemerintah dan Pemda menetapkan Tegal sebagai Sentra Industri Kapal. Klasifikasi IKM terdiri atas :

1). Inti jumlahnya sekitar 25 Perusahaan, memiliki workshop dengan peralatan canggih memperkerjakan karyawan 20 – 100 orang. Mendapat oder sebagai subcon dari Perusahaan berskala besar baik Nasional maupun Asing, meskipun berkeinginan untuk melayani berbagai berbagai pihak secara langsung  namun sering mensubcon kepada workshop yang lebih kecil ( Plasma ).

2). Plasma umumnya memiliki workshop didekat kediaman mereka dan dengan karyawan tergolong unskilled workers, Pemiliknya yang berperan melatih basic skill sehingga kapasitas workshop tergantung dari kapasitas teknik sang Pemilik.Plasma selain memproduksi barang2 jadi sederhana sering memperoleh order dari Inti berupa barang2 komponen. Dengan demikian relasi antara Inti dan Plasma berjalan baik.

Perusahaan berskala besar selama ini berlokasi diluar Kab Tegal. Mereka yang memberi order kepada IKM Tegal a.l PT Komatsu sebagai sub divisi dari Astra Group  PT Sanwa, PT Katshusiro, PT Hanken. PT Natra Raya, PT Sowa, PT Kubota, PT Polytron, PT Fiar Motor, PT Nefa Global Industri. Daihatsu juga subcontract di Tegal. Agar terpenuhi standar mutu yang diinginkan Perusahaan berskala besar ini juga memberikan training kepada para subcon.

Sarana Penunjang – LAB TAKARU

Sarana penunjang IKM berupa LAB Takaru yang berlokasi di LIK Tegal. LAB Ini memiliki sejumlah peralatan canggih; laboratorium dan mesin-mesin penunjang produksi. Beberapa peralatan/mesin yang sudah tersedia diantaranya mesin CNC, dapur heat treatment, hardness tester, universal testing machine, charpy impact tester, spectrometer dan coordinate measurement machine (CMM). LAB memberikan sejumlah pelayanan:

Design Centre., Kegiatan berupa pembuatan desain produk, perencanaan produksi,gambar teknik sertamodifikasi desain. Pelayanan ini menggunakanteknologi CAD/CAM yang cukup madern pada skala teknologi saat ini.

Production Centre., Melakukan pelayanan produksi baik melalui proses plate working,machining, welding, maupun forging. Proses ini meskipun konvensional,tetapi kondisi peralatan dalam kondisi baik dan terrawat

Laboratorim Uji Material, Laboratorim uji material komposisi dan mekanik spesifik untuk  beberapa sifat dan perlakuan material, kemampuan uji untuk pendampingmasuk pasar hasil produk usaha kecil dan menengah sekarang baru padatahap persiapan akreditasi, sehingga untuk sementara keluaran hasilsertifikasi uji, bekerja sama dengan dengan laboratorium uji konstruksi BPPT Serpong.

Apa yang sebenarnya dibutuhkan anggota IKM Tegal adalah Training yang Terprogram, melalui penelitian lengkap dilapangan (Training analysis atau TA ) disusun program meliputi sasaran, cara, waktu, peserta, trainer dan biaya serta dukungan dari stakeholders terutama Pemda dengan jajarannya. Secara umum dibedakan antara kebutuhan training kpd Inti dan kepada Plasma meskipun sasaran utama adalah produktivitas.

Inti, meskipun sudah memiliki sertifikat ISO 9000 secara rutin disyaratkan mempertahankan kinerja sehingga kegiatan advokasi harus berlanjut. Traing Lean Concept / 5 S dilakukan oleh JICA kepada 4 Perusahaan dan Kelompok X ( 3 ex Union Carbide Indonesia dan 1 ex Pengajar LPPM ) kepada 10 Perusahaan. Training teori telah dilakukan tetapi advokasi terkendala oleh dana yg didapat Kelompok X. Komitmen dari para Pemilik ( Owner ) secara spontan diberikan namun yang menjadi masalah serius ketika dibutuhkan penyesuaian terhadap lingkungan/sarana workshop agar sesuai dengan Lean Concept / 5 S. Dananya relatif kecil tetapi memberatkan bagi Perusahaan peserta. Inti telah memperoleh training teknik dari pemberi kontrak agar mereka dapat memenuhi mutu yang diminta.

Note: Menjadi pertanyaan mendasar mengapa penelitian lengkap masih dilakukan oleh lembaga internasional seperti JICA dan World Bank?

Video berlanjut dengan pemaparan Menkeu dan Gubernur BI.

Gandatmadi

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.