Krismon 1997/8 sebagai Bencana Finansial

Sebagai rujukan saya memilih  buku karya Prasetyantoko Phd (lahir 1973, kini Rektor Atmajaya meski belum Profesor) berjudul Bencana Finansial yang terbit pada tahun 2008. Buku ini dengan kata pengantar Kwik Kian Gie, memperoleh respon dari Chatib Basri Phd dari UI, sebagai buku penting untuk dibaca ber-ulang2, ditulis dengan analisa yang tajam dan mendalam disaat yang tepat. Berikut cuplikan terkait dengan  Krismon 1997/8

Jatuhnya Kurs Rupiah
 
Depresiasi nilai tukar di Indonesia pada 1997 disebabkan perusahaan pada umumnya memiliki utang yang tinggi dalam mata uang asing. Terjadi currency mismatch disertai maturity mismatch. Currency mismatch karena utang dalam bentuk mata uang asing sedangkan penghasilan dalam bentuk rupiah. Maturity mismatch karena utang berjangka menengah untuk membiayai proyek2 berjangka panjang.  
Economic Buble (gelembung)
 
Menurut A.prasetyantoko krisis ekonomi terdiri dari dua teori salah satunya adalah teori overinvestment
 
Teori “Overinvestment”, menurut kelompok teori ini adalah bahwa investasi yang selama gelombang pasang selalu memang lebih besar dari pada tabungan, dilakukan dengan menggunakan kredit dari Bank yang semakin lama semakin besar. Artinya, selama gelombang pasang, pembentukan modal sendiri tertinggal di bandingkan dengan kesempatan dan gairah investasi. Maka, investasi di lakukan dengan kadar kredit dari Bank yang semakin lama semakin membengkak. Kesediaan dan kemampuan Bank tidak akan berkelanjutan tanpa batas. Pada suatu saat, kredit Bank akan berkurang. dengan demikian, investasi akan berkurang dan krisis pun di mulai.
Meskipun ada banyak penjelasan tentang penyebab economic bubble (gelembung), belakangan ini diketahui bahwa gelembung disebabkan nilai Aset melampaui nilai intersinc. Juga dapat muncul pada situasi dimana nilai Aset berbasis kepada pandangan yang tidak konsisten (inconsistent views or implausible views).
Pengamatan nilai intrinsik sering sulit dilakukan dalam keadaan nyata di pasar, sehingga gelembung sering hanya dapat dikenali dengan pasti secara retrospektif, ketika terjadi penurunan harga secara tiba-tiba. Keadaan anjloknya harga disebut keruntuhan (crash) atau “pecahnya gelembung”.
 
Ahli ekonomi menggunakan istilah “gelembung” sebagai bentuk usaha  peningkatan harga aset secara ekstrem berdasarkan harapan kenaikan harga pada masa depan dan tanpa dukungan fundamental ekonomi, dan lazimnya diikuti kenyataan yang bertolak belakang dari harapan, dan anjloknya harga-harga.
 
Tulip mania di Belanda (1646) dan gelembung saham South Sea Company (1719-1720) adalah contoh tipikal dari gelembung spekulasi. Di Jepang, penggelembungan harga aset terjadi pada akhir 1980-an.
RI paling terpuruk
 
Menurut saya titik lemahnya karena penyelewengan BLBI dan pengawasan BI yg masih lemah. 
 
Lain2
 
Dulu juga ada isu bahwa rontoknya Rupiah karena Soros, menurut saya Soros hanya tertarik kepada mata uang papan atas seperti Poundsterling, dlm peristiwa Black Wednesday. IMF/WB dan AS merontokkan Rupiah supaya pa Harto lengser tentunya jika krisis diawali di Thailand dan Korsel juga kurang pas. Pa Harto sebaiknya lengser, sudah dahar katah kata cak Nun waktu itu dan pa Harto menuruti nasehat para tokoh termasuk dari kalangan Perguruan Tinggi
Perketat Pengawasan Keuangan  di era Presiden Jokowi

dikumpulkan oleh Gandatmadi

Leave a Reply

Your email address will not be published.