Problem Utang Jepang dan cara mengatasinya

Oleh Lakshya Narula pada 13 Mei 2017

 Lakshya Narula hanyalah insinyur berusia 22 tahun yang beralih menjadi mahasiswa ekonomi yang mencoba membuat tekanan di komunitas ekonomi. Seorang mahasiswa ekonomi otodidak dan seorang penulis reguler di Quora yang ingin mengejar karir di bidang ekonomi.

Pemerintah pusat Jepang memiliki lebih dari 1.000.000.000.000.000 Yen  utang ($ 11 Triliun), yaitu sekitar 245% dari PDB (Produk Domestik Bruto) dan lebih dari $ 80.000 per kapita (utang Jepang per penduduk $90,345) . Terdapat sedikit peluang untuk membayar namun  dapat menjadi jauh lebih buruk jika kebijakan yang tepat pada saat yang tepat tidak diterapkan.

Kita lihat bagaimana pemerintah mengakumulasi utang sejak awal.

Setiap tahun, pemerintah menerima uang dari rumah tangga dan perusahaan dalam bentuk pajak dan pendapatan lainnya. Pendapatan Ini kemudian dipergunakan untuk membayar layanan publik dan komitmen lainnya. Jika pemerintah harus membelanjakan lebih dari yang dikumpulkan, ia harus meminjam selisihnya. Ini dilakukan dengan menerbitkan surat utang yang disebut IOU atau obligasi pemerintah.

Bond pemerintah (Treasury Bond atau T Bill) adalah selembar kertas yang mengatakan bahwa pemerintah meminjam sejumlah uang dari Anda dan akan membayar Anda suku bunga tetap, yang disebut yield  obligasi, untuk seluruh periode obligasi yg dikeluarkan tsb.

Para investor (orang yang punya uang dan meminjamkannya kepada pemerintah untuk waktu yang lama) membeli obligasi itu dan pemerintah menerima uang pembelian tsb. Sekarang pemerintah dapat membelanjakan lebih banyak untuk layanan daripada pendapatan yang dikumpulkan dan para investor dibayar suku bunganya.

Perbedaan antara jumlah yang diterima pemerintah dan jumlah yang dibayarkan untuk layanan publik (umumnya lebih besar dari yang diterimanya) disebut defisit fiskal suatu negara / negara / pemerintah.

Tetapi jika utang terlalu besar, investor mulai khawatir bahwa pemerintah tidak akan mengembalikan uang mereka (disebut jumlah pokok). Sejak investor telah memberikan pinjaman banyak uang, pada saat dia ingin meminjamkan lagi, akan meminta pemerintah untuk memberikan  suku bunga yang lebih tinggi daripada sebelumnya karena dia tahu bahwa pemerintah membutuhkan uang (permintaan tinggi) dan harga akan tinggi (suku bunga adalah harga uang pinjaman). Note:  Disini berlaku hukum supply and demand.

Dari sinilah Bank Sentral berperan. Bank Sentral menurunkan suku bunga, yang berarti mencetak uang untuk membeli obligasi  yg dipegang investor sehingga investor (pada akhirnya) tidak menikmati suku bunga. Jadi, ini adalah situasi win-win untuk keduanya; pemerintah dan para investor.

Kedengarannya bagus? Seiring waktu, terus menekan tingkat bunga dan mencetak uang akibatnya mengembangkan trap yang tak terhindarkan.

Kita lihat cara kerjanya.

Sekarang, pemerintah mendapat  ekstra atau tambahan biaya dengan meminjam uang yang setara dengan tingkat bunga (yield) setiap tahun kepada pemegang obligasi di samping membiayai  layanan publik dan proyek lain. Dengan mempertimbangkan pendapatan pemerintah tetap, beberapa bagian dari pendapatan yang dikumpulkan oleh pemerintah kemudian untuk pembayaran bunga dan jumlah yang akan dibelanjakan dalam perekonomian akan berkurang sebanyak itu.

Seiring waktu, bahkan jika suku bunga konstan, kue utang semakin besar dan semakin besar dan akan datang saatnya ketika semua pendapatan yang dihasilkan akan masuk ke pembayaran bunga (the interest payments of defaults).

Bagaimana utang Jepang sesuai dengan skenario ini?

Semuanya sama, hanya saja sekarang, para investor adalah penduduk Jepang, yang telah menginvestasikan / menyimpan uang mereka dengan pemerintah mereka. Jadi, semua utang yang dimiliki Jepang sekarang adalah utang publik.

Tingkat bunga saat ini adalah sekitar 1% dan utang adalah 24,5 kali dari pendapatan yang dikumpulkan, ini berarti 24,5% dari total pendapatan yang dikumpulkan digunakan hanya untuk membayar kembali bunga. Investor asing akan bersikeras untuk meningkatkan suku bunga karena mereka dapat melihat bahwa Jepang menghadapi kekacauan total dan dapat gagal kapan saja dalam jangka panjang, sehingga suku bunga akan naik dan akan ada saatnya ketika suku bunga akan menjadi sekitar 4,3% (keeping debt and revenue fixed), seluruh pendapatan akan digunakan untuk memberikan pembayaran bunga dan tidak akan ada pilihan bagi Jepang kemudian menuju  ke default.

Problem dan solusi –

Problem utama di Jepang adalah populasinya yang menurun dan bertambahnya usia lanjut. Semakin banyak orang yang pensiun dan mereka sekarang akan meminta pemerintah untuk mengembalikan uang mereka yang telah mereka simpan bersama mereka. Ketika ini terjadi, pemerintah tidak memiliki pilihan lain selain mengeluarkan lebih banyak utang. Karena orang-orang Jepang tidak berinvestasi lagi (tidak ada pertumbuhan dan penduduk usia lanjut), Jepang harus mencari investor asing yang dapat berinvestasi pada tingkat bunga yang sama atau lebih rendah, yang tampaknya hampir tidak mungkin.

free treeDisarankan oleh analis untuk meningkatkan usia pensiun, dimulai dana pensiun setelah usia 65 tahun ke atas.

Lupakan analis, ketika saya memberi tahu ibu saya tentang hal ini (saya ingin merevisinya dan saya memberi tahu dia dalam bahasa orang awam), dia mengatakan hal yang sama, meningkatkan usia pensiun. Dia juga menyarankan agar orang-orang harus maju dan melakukan sesuatu dalam hal ini karena bagaimanapun, itu semua adalah uang mereka.

Masalah lainnya adalah meningkatnya masalah ketenagaan kerja disebabkan populasi yang lebih rendah dan profesional muda yang lebih sedikit, sehingga penurunan produksi dan PDB. Untuk ini, undang-undang imigrasi harus dilonggarkan agar lebih banyak orang dipekerjakan, sehingga lebih banyak produksi.

“Womenomics” adalah kata yang digunakan yang berarti meningkatkan tingkat pekerjaan perempuan dari 68 persen menjadi 73 persen pada 2020. Pemerintah telah mewajibkan perusahaan untuk meningkatkan penunjukan perempuan ke posisi manajemen. Pemerintah berpendapat bahwa meningkatkan upah dan status perempuan di pasar tenaga kerja juga akan meningkatkan tingkat kesuburan, menunjuk ke negara-negara seperti Swedia dan Denmark yang memiliki pekerjaan perempuan yang lebih tinggi dan kesuburan yang lebih tinggi.

Terdapat istilah yang disebut Debt to GDP ratio dalam ekonomi, yang bertujuan untuk mengukur tingkat utang dalam suatu perekonomian terhadap PDB mereka.

Bahkan jika di dunia fantasi, Jepang mampu mempertahankan tingkat utang dan mencoba meningkatkan PDB dengan menumbuhkan ekonomi, itu tidak dapat dilakukan. Ini karena banyak kebijakan yang membatasi perdagangan luar negeri (sebagian besar ekonomi Jepang bergantung pada ekspor ke negara lain), dan orang-orang semakin tua, sehingga pengeluaran berkurang. Jika mereka mencoba untuk meningkatkan pajak, maka itu juga akan mempengaruhi ekonomi dan mereka mencoba ini pada tahun 2016 ketika mereka meningkatkan pajak konsumsi hingga 8% dari 5% tetapi mereka lupa  tentang demand rule sederhana bahwa jika harga naik, orang mengurangi belanja, sehingga kebijakan itu menjadi bumerang.

Juga, dari 20 tahun terakhir, pertumbuhan Jepang hampir konstan, sehingga pembilang (utang) semakin besar dan penyebut (hampir konstan), sehingga situasinya semakin buruk.

William W. Grimes, seorang Profesor Hubungan Internasional dan Ilmu Politik di Universitas Boston, dan Rekan Riset untuk Program Riset Asia Nasional mengatakan –

Adalah tidak mungkin untuk secara simultan mengurangi tingkat hutang publik saat ini tanpa menciptakan resesi yang serius. Pemerintah pusat Jepang saat ini menjalankan defisit fiskal di sekitar 8% dari PDB-nya. Tidak mungkin untuk memotong defisit sebanyak itu dalam jangka waktu yang singkat – bahkan upaya konsolidasi fiskal Hashimoto yang membawa malapetaka pada tahun 1997 tidak sejauh itu. Bahkan jika pemerintah Jepang entah bagaimana berhasil menghentikan pertumbuhan utang (pembilang rasio utang-PDB) dengan cepat, menyusutnya PDB (penyebut) berarti rasio itu tidak akan naik.

Apa pendapat Anda tentang situasi ekonomi Jepang saat ini?

Respon

Dari Imad Ur Rahman Khan

Artikel yang cukup bagus. Saya pikir situasi ekonomi ini menarik khususnya sehubungan dengan kegagalan pembayaran pinjaman, mengkonfirmasikan bahwa rasio utang terhadap PDB Jepang jauh lebih tinggi, namun tampaknya tidak ada yang sangat khawatir tentang resesi yang terjadi di negara itu. Saya telah membaca dari sumber lain bahwa salah satu alasan untuk ini adalah karena ada rasa yang lebih besar dalam masyarakat Jepang untuk mencapai tabungan untuk merawat orang tua mereka, yang meringankan beban negara untuk menyediakan perawatan kesehatan.

Adapun solusinya adalah, saya berpikir untuk membuka perusahaan di luar negeri untuk investasi dan mencari lebih banyak FDI sambil memiliki peningkatan pajak perusahaan. Keduanya tentu saja tampak paradoksal, tetapi saya membayangkan bahwa kepercayaan dalam etika dan organisasi kerja Jepang akan membuat investor asing mau mengambil risiko itu.

diposting oleh gandatmadi46@yahoo.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.