Proyek2 Besar bidang Migas

Blok Abadi Masela
Katadata tgl 19/2/2020 – Pemerintah akan mempercepat pembangunan proyek Blok Masela dari sebelumnya 2022 menjadi tahun depan. Ini agar blok tersebut dapat memulai produksinya pada 2026, lebih cepat dari rencana awalnya yakni 2027. Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Dwi Soetjipto mengatakan Inpex Corporation selaku operator Blok Masela telah berkomitmen mempercepat proyek ini.
Pemerintah dalam hal ini akan melaksanakan kegiatan amdal sekaligus membebaskan lahan. Sedangkan Inpex tengah membuka tender untuk pengerjaan desain detail atau Front End Engineering Design (FEED) untuk proyek tersebut.
Nantinya, FEED dan Engineering-Procurement-Construction (EPC) akan dikerjakan sekaligus dengan kontraktor pemenang tender. “Mana yang terbaik kami lanjutkan. Kami harap waktunya lebih cepat dan efisien,” ujarnya. Inpex dan SKK Migas juga telah mendapatkan konsumen yang bakal berkomitmen menyerap gas dari Blok Masela.

Berdasarkan data SKK Migas, total produksi gas kumulatif Blok Masela dari 2027 hingga tahun 2055 mencapai 16,38 TSCF dengan total gas yang dijual sebesar 12,95 TSCF. Selain itu, Blok Masela menghasilkan kondensat dengan kumulatif produksi sebesar 255,28 MMSTB. Di thn 2026 ditargetkan memiliki kapasitas sebesar 9,5 MTPA dan gas pipa sebesar 150 MMscfd.

PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) telah berkomitmen untuk menyerap sekitar 2-3 juta ton gas per tahun dari Masela guna menyuplai pembangkit listriknya. Pupuk Indonesia memesan 150 mmscfd gas pipa untuk kilang produksi.

Pasar Global LNG jenuh

Beberapa proyek LNG yang akan berproduksi dengan kapasitas sebesar 100 juta ton per tahun seperti Tortue Ahmeyin FLNG di lepas pantai Mauritania dan Senegal, North Field di Qatas, Area 1 Mozamnik, Arctic LNG2 di Rusia, Papua LNG di PNG dan Calcasieu Pass LNG di Amerika. “Dengan jenuhnya pasar, maka potensi harga LNG mengalami penurunan sangat besar. Dampaknya break even poin akan lama dicapai.

Blok Rokan

Peralihan Blok Rokan ke Pertamina terus berproses. Bahkan, pemerintah menargetkan ladang minyak ini akan lepas dari tangan PT Chevron Pacific Indonesia (CPI) pada Agustus 2021.

“Untuk proses transisi, kami belajar dari kasus Mahakam. Di mana Pertamina ambil alih produksi (justru) turun drastis,” ujar Deputi Bidang Koordinasi Kedaulatan Maritim dan Energi Kementerian Koordinasi Kemaritiman dan Investasi Purbaya Yudhi Sadewa, dalam video conference, Selasa (9/6/2020).

Selain itu, proses transisi Blok Rokan akan memakan cukup waktu karena dilakukan secara cermat oleh pemerintah. Hal ini diakibatkan kontrak investasi Chevron yang masih berlaku dan baru usai pada Agustus 2021. Untuk itu, dalam satu bulan terakhir pemerintah tengah gencar untuk melakukan diskusi bersama SKK Migas dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) selaku kementerian terkait. Terlebih, Pertamina sudah melakukan survei untuk pengeboran sumur baru selain dengan memaksimalkan kinerja sumber daya yang sudah ada.

“Hampir diputuskan ini (peralihan). Seharusnya Kamis nanti (11/6) diadakan rapat tingkat menteri untuk ambil keputusan agar Chevron bisa lagi driling dan akan di-cover oleh cost recovery-nya,” imbuh dia.

Demi menghindari adanya penurunan produksi migas Blok Rokan . Pemerintah berjanji akan mengcover biaya investasi yang dilakukan oleh Chevron Pacifik Indonesia (PCI) sampai Agustus 2021.  Oleh karena itu, Chevron diminta untuk tetap mempertahankan investasinya di Blok Rokan sampai masa kontraknya berakhir pada Agustus 2021 mendatang.

“Dalam artian Chevron bisa melanjutkan drilling. Dan Costnya dicover pemerintah dalam bentuk cost recovery. Yang penting kita harus menjaga level produksinya jangan sampai turun lagi,” terangnya

Blok Lain

Rencana kegiatan  tahun 2020 dapat  berjalan tepat waktu. Untuk Kuartal 3 2020, SKK Migas menargetkan 5 proyek migas akan onstream yaitu Lapangan MSTB Fase-1 WK Malacca Strait, Lapangan Cantik WK Belida, Kompresor Betung dan SKG-19 Musi Timur WK Indonesia Pt. Pertamina EP, Lapangan Meliwis WK Madura Offshore, dan Lapangan Peciko 8A WK Mahakam.

“Kami optimis dengan adanya tambahan produksi dari proyek-proyek ini dapat membantu tercapainya target lifting akhir tahun”, kata Dwi.  Sejauh ini, dari 5 proyek yang sudah on stream di 2020, SKK Migas mencatat adanya potensi penambahan produksi migas hingga 3.182 bopd untuk minyak dan 109,5 MMscfd untuk gas.

Dwi juga menambahkan saat ini tidak ada lapangan yang dimatikan, namun tingkat produksinya

Proyek IDD (Proyek Ultra Laut Dalam atau Indonesia Deepwater Development).

24 July 2019 – PT Chevron Pacific Indonesia (CPI) menyampaikan bahwa perseroa belum mencapai kesepakatan dengan pemerintah terkait pembahasan Proyek IDD. Baik CPI maupun pemerintah masih berkutat pada masalah keekonomian yang menyebabkan proposal rencana pengembangan tersebut tak kunjung disetujui.

Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto mengatakan pihaknya akan memberikan penjelasan lebih lanjut pada akhir Juni ini. Megaproyek senilai US$ 5 miliar atau Rp 70 triliun (kurs Rp 14.000/dolar AS) tersebut dikabarkan akan berganti operator.

diposting oleh gandatmadi46@yahoo.com

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.