Suku Bunga Acuan Bank Sentral di seluruh dunia Turun

Hampir serentak Bank Sentral diseluruh dunia menurunkan suku bunga acuan. Program ini dibarengi dengan usaha menggelontorkan volume uang di Pasar atau yang dikenal sebagai Pembelian obligasi oleh Bank Sentral, tujuannya menggelontorkan volume uang ke Pasar – quantitative easing/QE meskipun tidak semua negara melakukan program QE.  Bahkan BI sebagai contoh belum melakukan perubahan Giro Wajib Minimum atau populer kebijakan supply uang.

Mengatasi Problem Ekonomi Global

Kita tidak boleh menggunakan unilateralisme dan proteksionisme. Mengejar konfrontasi atas dialog hanya akan memperburuk risiko, mengikis kepercayaan dan melemahkan prospek pemulihan ekonomi global. Kompromi adalah kunci untuk mencapai hasil win-win, serta kepercayaan bahwa orang lain berpegang teguh pada aturan yang disepakati – Josh Frydenberg, Heng Swee Keat, Sri Mulyani Indrawati and Bill Morneau.

Selanjutnya mereka berpendapat bahwa  Sistem multilateral menyediakan keamanan ekonomi dan politik untuk memungkinkan negara besar dan kecil memenuhi potensi luar biasa mereka.

Bank2 Sentral dan sekilas kebijakan masing2:

BI

Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia ( BI) pada tgl 18 dan 19 September 2019 memutuskan:

1.menurunkan suku bunga acuan BI 7 Days Reverse Repo Rate (BI7DRRR) sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,25 persen. Sebelumnya pada bulan Agustus BI juga menurunkan suku bunga sebesar 25 bps menjadi 5,5 persen.

2.BI juga menurunkan suku bunga Deposit Facility sebesar 25 bps menjadi 4,5%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 25 bps menjadi 6%.

3.Bank Indonesia (BI) kembali merelaksasi aturan loan to value (LTV) naik 5-10% untuk kredit properti seperti KPR

The FED

Sementara itu Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau the Federal Reserve (the Fed) memangkas suku bunga sebesar 0,25 prsen ke kisaran antara 1,75 persen dan 2 persen pada Rabu waktu setempat. Tujuh dari 10 pejabat Fed memberikan suara mendukung penurunan suku bunga dana federal ke kisaran antara 1,75 persen dan 2 persen, dengan dua pejabat bank sentral lebih suka mempertahankan suku bunga stabil dan satu mendukung pemotongan setengah poin yang lebih besar.

Mantan Ketua Federal Reserve (The Fed) Alan Greenspan mengatakan fenomena suku bunga negatif (negative spread) akan melanda Amerika Serikat (AS). Menurutnya itu akan terjadi tidak lama lagi. “Anda melihatnya cukup banyak di seluruh dunia. Ini hanya masalah waktu sebelum lebih di Amerika Serikat,” kata Greenspan dikutip dari CNBC, Kamis (5/9/2019).

Komentar Greenspan muncul setelah Presiden The Fed New York John Williams menyebut inflasi rendah sebagai masalah di era saat ini dalam pidatonya. Greenspan menjelaskan, investor harus memperhatikan hasil Treasury tenor 30 tahun. Kurs 30 tahun AS diperdagangkan pada 1,95% Rabu tengah hari, merupakan capaian level terendah sepanjang sejarah pada minggu lalu.

Reserve Bank of India (RBI)

Bank sentral India, Reserve Bank of India (RBI), menurunkan suku bunga acuannya 25 basis poin (bps), Kamis (6/6/2019), sembari mengubah stance kebijakan moneternya menjadi akomodatif.  Kini, suku bunga repo India ada di 5,75% atau sesuai perkiraan analis sementara reverse repo rate ada di 5,5%.

Penurunan kegiatan investasi yang tajam disertai dengan terus melunaknya pertumbuhan konsumsi rumah tangga adalah sesuatu yang menjadi perhatian kami,” menurut komite kebijakan bank sentral (MPC) dalam sebuah pernyataan, dilansir dari Reuters.  Ini adalah keputusan pemangkasan suku bunga acuan ketiga sejak Februari 2019. GNP tumbuh 5,8%.

Bank Sentral Eropa (ECB)

Sesuai proyeksi, Bank Sentral Eropa (ECB) pada 12 September 2019 akhirnya memangkas suku bunga deposito sebesar 10 basis poin menjadi -0,5%. Ini merupakan rekor suku bunga deposito terendah. Selain itu, ECB akan kembali melakukan pembelian obligasi sebesar 20 miliar euro per bulan mulai November nanti. Upaya itu dilakukan dengan tujuan untuk merangsang ekonomi zona euro yang sedang lemah. Selain itu, inflasi yang terus-menerus rendah dan perang dagang antara Amerika Serikat (AS)-China, juga telah memaksa bank sentral untuk menyuntikkan stimulus.

(Pembelan obligasi oleh Bank Sentral tujuannya menggelontorkan volume uang ke Pasar – (quantitative easing/QE), yang dilakukan oleh Pemerintah AS ketika terjadi krisis tahun 2007/2008).

Dewan Pemerintahan mengharapkan (pembelian obligasi) berjalan selama diperlukan untuk memperkuat dampak akomodatif dari kebijakan suku bunga, dan untuk mengakhiri sesaat sebelum mulai menaikkan suku bunga ECB,” kata ECB dalam pernyataan tertulis, Kamis (12/9), seperti dikutip Reuters.

Bukan cuma itu, ECB juga meringankan persyaratan pinjaman jangka panjang kepada bank dan menerapkan suku bunga deposito berjenjang untuk membantu perbankan senilai 3,4 miliar euro atau US$3,8 miliar

Presiden ECB Mario Draghi mengatakan bahwa perlambatan saat ini mencerminkan kelemahan perdagangan internasional di lingkungan ketidakpastian global yang berkepanjangan.Dia menambahkan bahwa manufaktur Eropa sangat terpukul. Bank sentral memangkas perkiraan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) untuk tahun ini menjadi 1,1% dari 1,2%. Sementara ekspektasi untuk tahun 2020 turun menjadi 1,2% dari 1,4%.

Bank of Japan (BOJ)

Bank sentral Jepang, Bank of Japan (BOJ) pada Kamis memutuskan untuk mempertahankan kebijakan moneter ultra-longgarnya tidak berubah, meskipun sejumlah bank sentral global memangkas suku bunga untuk mendukung ekonomi mereka di tengah ketidakpastian tentang stabilitas dan pertumbuhan global.

Pada akhir pertemuan penetapan kebijakan dua hari bank sentral, Dewan Kebijakan BOJ memilih untuk tidak mengubah suku bunga jangka pendek pada minus 0,1 persen dan mempertahankan suku bunga jangka panjang mendekati nol. Dewan bank sentral pada akhir pertemuan juga memilih untuk tidak mengubah program pembelian aset besar-besaran.

Bank sentral Korea Selatan (BOK)

Bank sentral Korea Selatan secara tak terduga menurunkan kebijakan suku bunganya pada Kamis (18/7). Keputusan ini dilakukan di tengah meningkatnya kekhawatiran tentang pertikaian perdagangan dengan Jepang.

Gubernur Bank of Korea (BOK) Lee Ju yeol dan enam anggota dewan kebijakan moneter lainnya memangkas suku bunga acuan pembelian kembali tujuh hari (seven day repurchase rate) sebesar 25 basis poin menjadi 1,50 persen. Langkah itu tidak sesuai dengan harapan pasar. Menurut survei Asosiasi Investasi Keuangan Korea (KFIA) terhadap 200 ahli pendapatan tetap (fixed-income), 70 persen memperkirakan suku bunga akan bertahan.

People’s Bank of China (PBOC)

Bank sentral China mengumumkan reformasi suku bunga untuk membantu mendorong pertumbuhan ekonomi yang terdampak perang dagang dengan AS.

People’s Bank of China (PBOC) mengatakan akan memperbaiki mekanisme yang digunakan untuk menetapkan Loan Prime Rate (LPR) sejak bulan ini. Kebijakan tersebut menjadi bagian dari upaya terus menurunkan suku bunga acuan bagi korporasi.

Menurut pusat pendanaan antar bank nasional PBOC yang dikutip dari Reuters, Loan Prime Rate (LPR) satu tahun ditetapkan pada level 4,25 persen, turun 6 basispoin (bps) dari sebelumnya 4,31 persen. Angka itu juga 10 bps lebih rendah dari acuan bunga pinjaman satu tahun PBOC. Sementara itu, suku bunga LPR lima tahun ditetapkan pada level 4,85 persen. Angka itu berada di bawah bunga acuan pinjaman lima tahun sebesar 4,90 persen.

Sebagai informasi, LPR merupakan suku bunga yang dibebankan bank komersial kepada klien. Tujuannya, untuk lebih mencerminkan permintaan pasar atas dana daripada tolok ukur yang ditetapkan PBOC. LPR pertama kali diperkenalkan oleh PBOC pada Oktober 2013.

Kendati demikian, rendahnya penurunan tingkat LPR mencerminkan keengganan pemberi utang untuk menurunkan suku bunga pinjaman.

Dia menambahkan PBOC perlu mengambil langkah-langkah lain, termasuk memangkas tingkat likuiditas jangka menengah. Hal itu perlu dilakukan jika ingin terus mengurangi LPR guna menurunkan biaya utang bank.

diposting oleh gandatmadi46@yahoo.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.