Teori pengambilan keputusan bidang ekonomi

Johan van Overveldt dalam bukunya Bernanke’s Test mengutip penulisan Ekonom Charles Kindleberger dan rekannya Robert Aliber bahwa dalam 15 tahun terakhir abad ke 20 terjadi 4 gelembung harga aset yg dampaknya sangat besar: Pertama terjadi di Jepang pada pertengahan tahun 1980 dan yg kedua dalam waktu berdekatan terjadi di negara Skandinavia. Yang ketiga di negara2 Asean yaitu Indonesia, Malaysia, Thailand dan Hongkong. Yang keempat di pasar saham AS pada pertengahan tahun 1990.
Pada tahun 2007 tepatnya bulan Agustus meletus gelombang pasar perumahan di AS yg populer di kenal sebagai krisis Subprime Mortgage. Menurut guru besar keuangan dari Yale, Robert Shiller peristiwa tersebut sebagai sejarah titik balik perekonomian dan kebudayaan. AS memasuki masa resesi yang dahsyat kemudian dengan cepat menjadi krisis Global. Bernanke, sebagai Ketua The FED menjadi tokoh sentral didalam menangani peristiwa tersebut.

Tools apa yg dipergunakan The Fed dibawah kepimpinan Bernanke untuk menentukan kebijakan atau tindakan intervensi menghadapi krisis tersebut? Apakah memilih pendekatan Rule Based atau metode freestyle. Tentunya di interen The FED terjadi perdebatan sengit didalam membuat pilihan, mereka harus menghitung secara cermat scale and scope dari intervensi.
Salah satu metode Rule Based adalah Taylor Rule yg kerap dipergunakan The FED, diprakarsai oleh John Taylor ex Ketua The FED pada tahun 1928. Taylor wafat sebelum The Great Deppression meletup tahun 1929. Taylor Rule ketetapan oleh The FED untuk merubah nominal interest rate merespon inflasi, Bank Sentral akan menaikkan suku bunga lebih dari 1 % jika inflasi naik 1 %. Tujuan dari Taylor Rule adalah terciptanya price stability, full employment serta meminimalkan uncertainty sehingga meningkat kan kredibilitas dari Bank Sentral dan Pemerintah didalam pengambilan keputusan dimasa mendatang.
Pengalaman sejarah menghasilkan sejumlah kritikan terhadap pengetrapan Taylor Rule …. In 2015, financial manager Bill Gross said the Taylor rule “must now be discarded into the trash bin of history”, in light of tepid GDP growth in the years after 2009.[ Gross believed low interest rates were not the cure for decreased growth, but the source of the problem.
Mayoritas Ekonom berpendapat bahwa Taylor Rule cocok jika perekonomian berjalan seperti biasa. Bagaimana jika situasi ekonomi tidak biasa? Alan Greenspan yg berhasil menjadi Ketua The FED selama 19 tahun sering dicap memilih discretionary policy atau the ad hoc judgment of policymakers. Tuduhan yang paling tajam terhadap Greenspan adalah easy-money policies, yang melahirkan krisis subprime mortgage tahun 2007 atau setahun setelah lengser sebagai Ketua The FED.
Pertanyaan adalah apakah Rules Based bekerja dimasa krisis?  Apakah dengan menjalankan secara ketat dapat mencegah timbulnya krisis keuangan? Atau berpaling ke discretion approach ketika harus melakukan intervensi? Holly A Bell dari University of Alaska Anchorage, Palmer Alaska membuat model discriptive  “ theoretical approach to economic decision-making that goes beyond the mechanical-mathematical models based “.  Model ini mencakup fakta2, nilai2, keterkaitan, kooperasi,  learning dan faktor lainnya dalam pengambilan keputusan serta pengetrapannya terhadap mikro dan makro ekonomi. Memuat  potensi memprediksi berupa menu untuk meraih alternative outcome atau opportunity sets. Model ini di meninggalkan konsep economic decision dari  pertengahan abad ke 19 menuju konsep yg kompleks sebagai the new science.
Sudah lama timbul pertanyaan mendasar apakah para pelaku ekonomi ( individu, pebisnis, bankers, pedagang valas )  berperilaku secara rasional ketika membuat suatu keputusan ? Apakah seseorang mendifinisikan rasional sama dengan orang lain?  Umumnya terlihat bahwa orang tidak selalu berperilaku dan bersikap rasional. Sebab banyak faktor yang mempengaruhi sepert stres, emosi, nilai moral dan etika dalam membuat analisa untuk melakukaneconomic decision-making.  Tahun 1998 terjadi kepanikan ketika publik memborong barang2 kebutuhan se hari2.
Agar supaya bisa membuat analisa ekonomi secara matematis maka dibutuhkan untuk menyiapkan asumsi yang rasional dan hal ini bisa dilakukan jika para Pelaku ( Aktor )… seek to maximize utility sepanjang mengambil keputusan ( ekonomi ). Secara bersamaan dibutuhkan informasi yang cukup. George Soros secara cerdik memanfaatkan Assymetric of information yg menyebabkan Pemerintah Inggris rugi besar, di kenal sebagai The Black Wednesday.
Pada Januari 2008 Ketua The FED, Bernanke ex Guru Besar University of Princeton yg menguasai pengetahuan krisis The Great Depression tahun 1930an mengambil keputusan berani oleh karena penuh resiko. Dalam sidang interen The FED sang Ketua Bernanke berdebat dengan beberapa rekannya yang menentang ide untuk menurunkan suku bunga.  Hasil sidang akhirnya memutuskan memangkas suku bunga sebesar 75 basis point atau interest rate pada angka 3,5 %, keputusan berani tersebut menjadi berita besar diseluruh dunia. Dalam peristiwa ini jelas The FED memilih discription based atau commitment based dari hasil keputusan bersama didalam Federal Open Market Committee ( FOMC ). Seperti kita ketahui ternyata keputusan tersebut berhasil menyelamatkan ekonomi global dari krisis yang lebih besar. Bagaimana jika gagal? Apakah Bernanke bisa dituntut secara hukum?
Presiden Jokowi dengan tegas dan teges memerintahkan jajarannya agar kebijakan Pemerintah tidak bisa dikriminalkan. Namun tidak cukup sampai disitu oleh karena KPK misalnya didalam aktivitasnya yg senantiasa harus independen artinya tidak boleh ada intervensi dari Presiden sekalipun, lantas melakukan sejumlah penyelidikan terhadap Lembaga yang membuat kebijakan. Dengan demikian “Economic Decision” harus dipahami oleh semua pihak terkait seperti MA, MK, KPK. Kejaksaan, Polisi,  Lawyer, DPR, DPD serta kalangan Perguruan Tinggi, Media ( ILC-TVOne, Mata Nadjwa), LSM khususnya yg aktif di kegiatan Anti Korupsi dan Penyalahgunaan Wewenang dll.
Sebelum The FED mengambil keputusan tersebut data keuangan pada akhir 2007 dari sejumlah perusahaan besar menunjukkan kerugian sebesar US$ 200 billion ( milyar ) hal ini akibat dari krisis Subprime Mortgage yang meletus pada tahun itu. Para CEO dari perusahaan besar dipaksa lengser tetapi dengan pesangon yang fantastis. Standard & Poor’s dan Moody menurunkan secara drastis rating obligasi perumahan. Analoginya seperti bola salju memunculkan krisis Global di semua sektor perekonomian. Yang perlu dijaga adalah dampaknya tidak sampai menyentuh kehidupan ekonomi se hari2 seperti kita alami di Indonesia pada krisis tahun 1997/1998. The FED dan seluruh Bank Sentral di dunia menjaga agar tidak terjadi kekeringan uang. Di AS Kongres mensahkan bantuan senilai US$ 168 billion termasuk US$ 100 billion diskon langsung berupa cek diskon pembayaran pajak serta untuk pembebasan pajak kepada sejumlah pengusaha.
Meskipun demikian pasar tetap cemas akibat dari kerugian sejumlah perusahaan2 besar, jika mereka bangkrut dan menutup usahanya berarti muncul pengangguran seperti kita alami di tahun 1997/1998 sampai awal tahun 2000. Untuk menyelamatkan itu The FED dan sejumlah Bank Sentral di Eropa melakukan penyelamatan berupa nasionalisasi atau di kenal dengan bail out. Tetapi langkah ini mendapat kecaman oleh berbagai kalangan terutama oleh karena banyak perusahaan yang dikenal boros justru diuntungkan dengan pemberian bailout tersebut.
Sejarah mengajarkan bahwa setiap tindakan drastis hampir selalu ada pihak yang dirugikan dan ada pihak yang diuntungkan. Kasus Bank Century di negeri kita adalah langkah bail out yang menjadi tren kebijakan Bank Sentral di seluruh dunia ketika menghadapi krisis serius. Seperti diuraikan diatas bahwa ketika krisis tindakan rule based tidak memadai dan penuh resiko karena yang di ambil Bank Sentral di seluruh dunia termasuk BI adalah pendekatan discretion.
Daftar Pustaka
Kepner Tregue : Problem Solving & Decision Making Process
Johan Van Overveldt : Bernanke’s Test
Holly A Bell : Theoretical approach to economic decision-making
Prof Dr Arnold Heertje : De Kern van De Economie ( Intisari Ilmu Ekonomi )

8 Comments

  1. WR

    Keputusa Menkeu Sri Mulyani untuk melakukan revisi terhadap APBN menurut hemat saya sudah tepat. Dua alasan utama yang dikemukakannya cukup penting dan mendasar yaknu :
    1. Proyeksi atau ramalan penurunan (defisit) penerimaan negara di sektor.
    2. Memangkas anggaran biaya perjalanan dinas pegawai negeri sipil (pns) dan pejabat negara RI yang total keseluruhan mencapai Rp. 130 Trilyun

    Reply
    • HR

      Setuju dgn usulan SM untk memangkas perjalanan dinas,kan sdh ada alat2 Sistim informasi yg canggih dgn cara jarak jauh. Bnyk kasus PNS hrs berhubungan dgn aparat hukum krn ketahuan memfiktifkan Perjalanan Dinas.

      Pemangkasan Perjalanan dinas dan kondinyasi ini tdk akan mengganggu pendapatan PNS,krn sejak diberlakukan REFORMASI Birokrasi income PNS sudah memadai ada tunjangan kinerja yg sngt besar,shg take home pay nya sdh mendekati pegawai swasta.

      Reply
    • aspirasi

      Menko Perekonomian Darmin Nasution menegaskan, tujuan pemangkasan anggaran sejatinya memang untuk meningkatkan kembali kepercayaan pasar bahwa kas keuangan negara jauh lebih sehat dan kredibel. “Fiskal tidak boleh tidak kredibel karena itu akan merugikan kita secara nasional,” ujar Darmin saat ditemui di Istana Negara, Jakarta, Rabu malam, 3 Agustus 2016.
      Menkeu Sri Mulyani: Indikator asumsi makro ekonomi nasional lainnya akan tetap pada angka yang sebelumnya sudah disepakati bersama parlemen. Seperti pertumbuhan ekonomi nasional di angka 5,2 persen, laju inflasi berada di level empat persen. Kemudian tingkat bunga Surat Perbendaharaan Negara tiga bulan tetap di posisi 5,5 persen.

      Menkeu Sri Mulyani memutuskan untuk mengubah target defisit dari yang sebelumnya ditetapkan sebesar 2,35 persen menjadi 2,5 persen terhadap produk domestik bruto (PDB), agak meningkat dari APBN-P karena itu ada tambahan sedikit dari sisi pembiayaan, yaitu sekitar Rp17 triliun.

      Reply
    • aspirasi

      Data per Juni 2016, ada total Rp214 triliun anggaran yang tertimbun di bank-bank daerah. Jika anggaran masih saja ditimbun, Jokowi memastikan pemerintah akan semakin banyak mengeluarkan surat utang negara (SUN) untuk kota, kabupaten, dan provinsi.
      Formula sanksi yang digodok pemerintah pusat bagi pemerintah daerah yang lamban melakukan penyerapan anggaran lewat konversi cash money menjadi surat utang negara ditargetkan mulai diberlakukan mulai bulan depan

      Reply
  2. Maybelle

    I see interesting posts here. Your site can go viral easily, you need
    some initial traffic only. There is a sneaky method to get
    massive traffic from social media. Search in google for;
    Twinor’s strategy

    Reply
  3. indry

    hai kaaa, boleh saya minta paper holly a bell full dalam bahasa indonesia yang berjudul “Theory of Economic Decision Making? saya butuh untuk bahan penilitian saya. Trimakasih sebelumnya

    Reply
    • aspirasi

      Anda bisa buka kumpulanstudi-aspirasi.com tgl 5 Agustus 2016 artikel Teori Keputusan bidang ekonomi dalam bahasa Indonesia

      Salam, Gandatmadi

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published.