The End of Accounting

Investors are poorly served by arcane accounting methods, a new book argues. New ways are needed to measure companies’ performance.

Adapted from “The End of Accounting and the Path Forward for Investors and Managers,” by Baruch Lev (New York University Stern School of Business) and Feng Gu (State University of New York at Buffalo), to be published by Wiley Finance on June 27 2016.

Ketika pengumuman laba triwulanan Netflix pada bulan April jatuh di bawah perkiraan konsensus dari para analis, harga sahamnya secara mengejutkan naik hampir 18% pada pengumuman tersebut. An investor blackout?Tidak. Investor dibenarkan mengabaikan informasi akuntansi berwawasan ke belakang, bereaksi dengan antusias terhadap kenaikan tajam dalam indikator pelanggan baru berwawasan ke depan: 4,9 juta vs yang diharapkan 4 juta.Selain itu, investor yang cerdik memperhatikan bahwa alasan utama untuk kekurangan pendapatan adalah investasi besar Netflix dalam pertumbuhan di masa depan — pengembangan teknologi;9% dari sales — yang mana beban akuntan dalam laporan laba rugi.

Kasus Netflix bukan anomali. Problem dengan laba yang dilaporkan, dan laporan keuangan secara umum, bahwa laporan keuangan tidak lagi mencerminkan realitas bisnis. Sebaliknya, mereka mengikuti seperangkat aturan dan peraturan akuntansi yang misterius. Sebuah realitas alternatif yang gagal menjelaskan faktor-faktor penting yang membuat perusahaan naik atau turun, di mana, misalnya:

Investasi yang paling penting, yang menciptakan nilai paten, merek, TI, dan barang2 intangibles lainnya dianggap sebagai pengeluaran rutin, seperti gaji atau sewa, tanpa manfaat di masa depan.

Penghasilan (earnings) yang dilaporkan adalah long-term items (menunjukkan pertumbuhan berkelanjutan) dan satu kali, keuntungan / kerugian sementara (biaya restrukturisasi, misalnya), memiliki efek yang dapat diabaikan pada nilai perusahaan. (Contoh kasus: Netflix’s one-time foreign-exchange loss had a major role in its earnings shortfall)

-Aset / liabilitas yang tidak diperdagangkan, seperti obligasi yang ditempatkan secara pribadi, yang tidak memiliki nilai pasar tetap harus dicantumkan sebagai marked to market  dalam laporan keuangan. Ini, tentu saja sebuah oxymoron.

Jika itu tidak cukup buruk, penghasilan akuntansi didasarkan pada beberapa estimasi dan proyeksi manajerial subyektif (depresiasi, biaya opsi saham, penghapusan aset, prospektif  kredit macet, kewajiban pensiun masa depan, dll.), Rentan terhadap kesalahan dan manipulasi. Semua ini menghasilkan laporan akuntansi yang tampak terbelakang yang tidak banyak berbicara tentang pertumbuhan masa depan perusahaan dan kemampuan untuk bersaing. Ambil Amazon, misalnya: Penghasilannya kurang dari estimasi pendapatan konsensus analis dalam 8  dari 16 kuartal 2012-2015, mengkhawatirkan beberapa investor, namun mengaburkan pertumbuhannya yang fenomenal dan competitive prowess..

Tidak mengherankan bahwa penelitian menunjukkan gap yang meningkat antara laba yang dilaporkan dan harga saham, terutama untuk teknologi ekonomi baru dan perusahaan berbasis sains, dan bahwa pendapatan telah kehilangan kemampuan mereka untuk memprediksi kinerja perusahaan di masa depan — penggunaan utama oleh para investor.

Sebagian besar pertanyaan analis dan investor institusional dalam suatu  konferensi dengan manajer perusahaan dan dalam investors’ days adalah tentang metrik yang hilang dari laporan keuangan justru karena standar akuntansi tidak mengharuskannya. Ini adalah metrik seperti pertumbuhan pelanggan dan churn rate, hasil pengujian produk dalam pengembangan, pembaruan kebijakan dan tingkat pembatalan perusahaan asuransi, atau pemanfaatan kapasitas perusahaan transportasi, yang mencerminkan strategi bisnis dan pelaksanaannya, daripada melaporkan aset, kewajiban, atau laba.

Tetapi rank-and-file investors masih menganggap serius laba yang dilaporkan, seperti yang ditunjukkan dengan jelas oleh penurunan harga saham setelah pengumuman laba dari perkiraan para analis (penurunan yang seringkali cepat berbalik, mengunci kerugian investor). Alih-alih menyamakan the playing field, laporan keuangan yang deficient  memperburuk perbedaan informasi dan perbedaan dalam keuntungan investasi di kalangan investor.

Beberapa investor berkantung tebal (deep-pocketed investors ) memiliki akses langsung ke manajer perusahaan dan dapat membeli tim peneliti menggunakan data real-time yang mahal (penjualan resep obat mingguan, atau pemindaian satelit dari tempat parkir pengecer), sementara sebagian besar investor masih mengandalkan laporan akuntansi yang kurang memadai.

Kerusakan keuangan yang terkait dengan relevansi tidak terbatas pada investor. Obsesi kepada pendapatan triwulanan yang mencapai target yang telah ditentukan atau mengalahkan estimasi konsensus berdampak kepada manajer yang menghabiskan waktu dan sumber daya yang berharga untuk “mengelola” laba yang dilaporkan, kadang-kadang menunda atau memotong iklan, R&D, pelatihan karyawan, atau pengeluaran pemeliharaan untuk “membuat angka.” Suatu  upaya yang sama sekali sia-sia, karena kehilangan konsensus untuk  menghasilkan rata-rata penurunan 1,5% —2,0% harga saham.

A few deep-pocketed investors have direct access to corporate managers and can afford research teams using expensive real-time data, while most investors still rely on deficient accounting reports.

Selain itu, kekurangan laba yang dilaporkan membuat sulit bagi manajer untuk menyampaikan kepada investor kinerja nyata perusahaan. Apakah Tesla sebuah operasi yang gagal, sebagaimana tercermin dari meningkatnya kerugian (masing-masing $ 888 juta dan $ 294 juta, untuk 2015 dan 2014), atau inovator dan marketer yang sangat sukses? Manajer sering menggunakan penghasilan non-GAAP untuk melaporkan kinerja lebih realistis, tetapi yang pada umumnya menimbulkan kecurigaan dan bahkan cemoohan (“penghasilan non-GAAP terbaik adalah EBE: pendapatan sebelum pengeluaran”). Harus ada cara yang lebih baik untuk melaporkan kinerja perusahaan dan prospek pertumbuhan.

Mengobati problem pendapatan perusahaan terletak pada pengungkapan informasi yang sistematis yang berfokus pada dasar-dasar bisnis, seperti biaya perolehan pelanggan, penambahan dan churn rate untuk perusahaan internet, telekomunikasi dan media; kemajuan dan resiko diversifikasi product pipeline  suatu perusahaan farmasi dan biotek; pemanfaatan kapasitas dan perubahan rute (coverage) perusahaan transportasi; atau frekuensi dan tingkat keparahan klaim untuk perusahaan asuransi.

Berbeda dengan keuangan berorientasi ke belakang, ini adalah indikator kinerja dan pertumbuhan yang berorientasi ke depan yang menyoroti strategi bisnis dan keberhasilan pelaksanaannya. Perusahaan tertentu memberikan informasi tersebut dalam konferensi atau Analisis & Pembahasan Manajemen, tetapi dengan cara yang serampangan dan tidak konsisten. Yang lain tidak menawarkannya sama sekali, sehingga mustahil untuk menganalisis dan membandingkan secara sistematis.

Potongan-potongan informasi non-akuntansi yang diungkapkan beberapa perusahaan sulit untuk dipahami dan seringkali tidak menarik perhatian investor: Exxon, pada 2 Februari 2016, melaporkan pendapatan kuartalan yang mengalahkan perkiraan analis dan “dihadiahi” oleh pangsa 2,2% penurunan harga. Sayangnya, sebagian besar investor mengabaikan berita yang jauh lebih penting, mengumumkan beberapa minggu kemudian, bahwa untuk pertama kalinya dalam dua dekade Exxon gagal untuk sepenuhnya menggantikan minyak dan gas yang dipompa selama 2015 (hanya rasio penggantian 67%) — a disturbing future growth signal.

Indikator fundamental (seperti same-store sales atau rasio book-to-bill) harus dikembangkan menjadi kerangka kerja informasi strategis khusus industri, koheren dan seragam yang berfokus pada strategi perusahaan dan keberhasilan pelaksanaan dan penciptaan nilai oleh manajer.

The time has come for firms to regularly provide information of true value to investors to supplement accounting’s serious shortcomings.

terjemahan bebas oleh gandatmadi46@yahoo.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.