Too Big to fail

Too Big to fail

Marc Labonte, spesialisasi kebijakan ekonomi makro  menulis  tertanggal 4 Januari 2017 dengan tema  ‘ Systemically Important or Too Big ti Fail. ‘ dalam  Congressional Service – informing the legeslative debate since 1914. Too Big to Fail ( TBTF ) telah menjadi isu besar terkait dengan intervensi Pemerintah US ( juga dilakukan banyak negara ) untuk mencegah perusahaan besar bidang keuangan kolaps pada tahun 2008.  Keputusan untuk menyelamatkan perusahaan TBTF karena berdasarkan suatu pertimbangan tepatnya judgment – jika tidak ditolong akan pailit meninggalkan sejumlah masalah, akan ribuan bahkan ratusan ribu nasabah, mitra bisnis, kreditor yg terdampak dan yang paling mengkuatirkan berpotensi menghancurkan sistem keuangan, nasional maupun global.

Namun keputusan menyelamatkan TBTF  tersebut menurut teori ekonomi menciptakan morral hazard. Alasannya sederhana; para Kreditor yang menyimpan uangnya di TBTF percaya TBTF akan selalu diselamatkan Pemerintah sehingga praktis tidak akan pailit dengan demikian para TBTF mendapat kemudahan mencari kapital dibanding perusahaan2 non TBTF..

Paska krisis keuangan yg pertama muncul di US dan kemudian menyebar ke seluruh dunia maka  para Pimpinan Pemerintahan membuat kebijakan agar supaya dikemudian hari tidak muncul kasus TBTF. Sejumlah policy dan tindakan diambil; seperti  menyediakan asistensi oleh Pemerintah ( pihak otoritas moneter  ) agar tidak bangkrut atau mencegah resiko yg sistemik menyebar; mengekang para mitra bisnis berani mengambil resiko ( business risk )  secara berlebihan; memperketat pengetrapan standard prudential dalam management perusahaan2 TBTF dibandingkan dengan perusahaan finansial lainnya;  memperketat size dan scope perusahaan TBTF untuk mencegah terlalu mudah melakukan merger atau melakukan divestasi atas aset mereka; membuat limitasi untuk melakukan exposure untuk meminimalkan spillover effects;  membuat Institusi baru dengan tugas khusus (instituting a special resolution regime ) mencegah perusahaan TBTF jatuh secara sistemik. Kebijakan yg komprehensif nampak dibutuhkan lebih dari satu kebijakan, diperlukan beberapa pendekatan lainnya yg bertujuan selain mencegah agar tidak pailit juga bagaimana jika terjadi pailit..

Beberapa bagian dari Wall Street Reform and Consumer Protection Act (Dodd-Frank Act; P.L. 111-203) mengamanatkan kebijakan tersebut diatas . Sebagai contoh,  menciptakan penguatan prudential regulatory yg dikelola oleh The FED untuk non bank finansial institusi  dengan status systemically important yg dikeluarkan Financial Stability Oversight Council (FSOC) dan untuk Bank2 yg memiliki aset lebih dari  $ 50 milyar. Lebih dari $ 30 milyar perusahaan holding perbankan serta kepada banyak Bank2 Asing yg memiliki aset lebih dari $ 50 milyar. FSOG mendesign tiga perusahaan asuransi AIG, MetLife, Prudential Financial) dan  GE Capital  masuk dalam systemically important. MetLife akhirnya dibatalkan oleh FSOC. Sejumlah Bank terbesar menerima tambahan kapital,  kebutuhan likwiditas dari hasil perjanjian international, Basel III.

Dodd-Frank Act menciptakan “orderly liquidation authority” (OLA), resolusi khusus yg dikelola the Federal Deposit Insurance Corporation (FDIC) untuk melakukan pengawasan kurator  terhadap perusahaan ygjatuh yg berpotensi merusak stabilitas keuangan. Mereka sampai hari ini belum pernah dipakai dan ada beberapa kemiripan  bagaimana FDIC menyelesaikan Bank gagal. Otoritas hukum dipergunakan untuk mencegah perusahaan finansiil jatuh selama krisis, sudah kadaluwarsa atau dipersempit oleh Dodd-Frank Act.  Faktanya muncul sejumlah kritikan apakah kebanyakan perusahaan2 besar telah tumbuh, dalam hitungan dollar sejak diberlakukan Dodd-Frank Act berarti persoalan TBTF telah diatasi. Fannie Mae and Freddie Mac remain in government conservatorship and have not been   addressed by legislation date ).

Telah dibuat Proposal mengamendemen ketentuan Dodd-Frank Act termasuk membatalkan atau modifikasi proses design untuk non-bank SIFI,  ambang batas $ 50 milyar kepada Bank, Volcker Rule, the FED Section 13( 3 ) kewenangan untuk menyediakan emergency assistance kepada non-bank.  Proposal lainnya yg akan membatalkan OLA  dan mengganti dengan chapter baru dalam bankruptcy code kepada lembaga finansial. Lainnya akan mengembalikan ketentuan Glass-Steagall Act yg melarang perusahaan berusaha dalam kegiatan komersial dan investasi perbankan.

Meskipun ‘ too big to fail ‘ telah menjadi isu kebijakan yg lama, di sorot oleh krisis finansial, yaitu ketika Pemerintah intervensi untuk mencegah beberapa perusahaan finansiil besar kolaps pada tahun 2008.  Pemerintah ( policy makers )  mempertimbangkan ( judge )  jika perusahaan2 tersebut  gagal akan menyebabkan kehancuran terhadap sistem finansiil secara keseluruhan. Agar fair, teori ekonomi berpendapat bahwa ekspektasi perusahaan besar tidak boleh gagal menciptakan moral hazard – jika para kreditor yg menjadi mitra para TBTF percaya Pemerintah akan memproteksi mereka akibatnya para kreditor menjadi lengah untuk mengawasi para perusahaan TBTF. Dengan demikian TBTF dapat memperoleh kemudahan untuk mencari  kapital dibandingkan Bank2 lainnya.

Terdapat beberapa pendekatan kebijakan – beberapa komplementer, beberapa bertentangan  – untuk mengatasi TBTF, termasuk memberikan asistensi dari Pemerintah untuk mencegah perusahaan2 TBTF jatuh atau resiko sestemik menyebar; menegakkan disiplin untuk meyakinkan para investo, kreditor ,  para mitraq bisnis mengekang mengambil risiko yg berlebihan kepada TBTF;  memperketat standard prudential perusahaan TBTF dibandingkan perusahaan finansiil lainnya; memperketat size dan scope dengan mencegah melakukan merger atau menarik perusahaan2 TBTF melakukan divestasi atas aset mereka – meminimalkan  spillover effects dengan memberi limit melakukan exposure; melembagakan resolusi khusus mencegah perusahaan2 jatuh secara sistemik;  Kebijakan yg komprehensif  nampaknya dibutuhkan lebih dari satu pendekatan, beberapa pendekatan bertujuan mencegah kejatuhan dan beberapa yg lain isinya bagaimana jika kejatuhan terjadi.

Demikian summary karya tulis Marc Labonte, spesialisasi kebijakan ekonomi makro tertanggal 4 Januari 2017, tentunya  ditulis 9 tahun kemudian ketika peristiwa krisis keuangan meletus pada tahun 2008.  Yg menjadi pertanyaan mendasar mengapa mayoritas negara di dunia memilih menyelamatkan jika ada Bank yang terpuruk?  Dengan membaca buku karya Johan van Overveldt ‘ Bernanke’s Test ‘ kita akan mendapat input yg sangat berharga.  Dengan click kumpulanstudi-aspirasi.com memperoleh input yg sangat berharga mengapa Sri Mulyani dan Boediono memutuskan menyelamatkan Bank Century, Memaparkan Fakta Bailout Century.

Sebenarnya jauh hari para ekonom khususnya Peraih hadiah Nobel bidang ekonomi tahun 2003  Prof Rebert Engle melalui penelitiannya telah membuat pedoman untuk melakukan penelitian serta rumusan yg bermanfaat bagi Pemerintah, Perbankan, Akademisi dan Legeslative mencegah jangan sampai krisis finansial tahun 2008  terulang.

Dikumpulkan oleh

Gandatmadi46@yahoo.com

4 Comments

  1. aspirasi

    Mar 5, 2017
    Boy Djajanegara

    Alasan2 negara sangat dimengerti, walaupun terjadi suatu moral hazard!
    Yang harus ditarik rem tangan sekuatnya adalah “greed” atau “nafsu” atau “keserakahan” the big (financial) corporations yang jumlah keuntungannya berlimpah dan para direksi/ pemilik penghasilannya wajib dipangkas. (Sewaktu Obama baru dilantik, dia langsung mengeluarkan undang2 untuk penghasilan para pemilik “hanya” maksimal US$ 400.000,- per annum, tanpa bonus atau share privileges!Namun dalam praktek undang2 ini tidak dihiraukan- – – –
    Cheers,

    Reply
    • aspirasi

      Thanks pa Boy Djajanegara
      President Barack Obama signed the the Fraud Enforcement and Recovery Act into law on May 20,2009 along with the Helping Families Save Their Homes Act of 2009, a bill concerned with mortgage foreclosure prevention.

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published.