Film Spartacus

Pembuatan film Spartacus diparkasai oleh aktor legendaris Kirk Douglas, yang gagal berperan dalam film Ben Hur karena rekan kerjanya William Wyler memilih Charlton Heston. Adalah Edward Lewis yang meminta Kirk Douglas untuk membaca novel Spartacus karya Howard Fast. Ternyata Douglas terkesan dan kemudian membeli naskah tersebut dari uangnya sendiri. Terkesan karena bercerita tentang seseoang menantang kejayaan  Emperium Roma. Akhirnya Universal Studio setuju untuk mendanai film tersebut.

Pada saat yang sama aktor legendaris lain Yul Brynner juga merencanakan membuat film Spartacus versinya sendiri tetapi kalah setelah Kirk Douglas dan Universal Studios memenangkan lomba tersebut oleh karena Dalton Trumbo menyelesaikan naskah skenario dalam waktu 2 minggu.

Heboh

Ketika Kirk Douglas menunjuk Dalton Trumbo sebagai pembuat skenario muncul protes dari banyak kalangan. Heboh karena Dalton anggota partai Komunis1, sehingga berstatus blacklisted.  Trumbo sempat dipenjaran karena menghina Kongres AS pada tahun 1950. Selanjutnya Trumbo menulis dengan memakai nama  pseudonym ( samaran ).

Langkah Kirk Douglas mendapat apresiasi banyak kalangan sebagai langkah berani. Dari Writers Guild of America meraih “ a singular act of courage “. Penghargaan makin banyak setelah diterbitkan bukunya. Oleh Turner Classic Movies ditempatkan sebagai the book of the month.  Didepan studio audience untuk 5 kali tayangan dari  HBO’s Realtime memberikan standing ovation kepada Kirk Douglas serta mengatakan kepadanya the creator of “movies that changed our culture,” ditambahkan , “You were the one who broke the blacklist.

Blacklist sendiri praktis berakhir ketika President JF Kennedy yang menolak secara terbuka tuntutan demostran yang disponsori American Legion agar tidak menonton film Spartacus. JFK tetap nonton.

Tindakan tegas yg dilakukan Kirk Douglas dalam pembuatan film ini juga dilakukan ketika  memecat Anthony Mann yg ditunjuk sebagai Direktur seminggu setelah dimulai shooting, alasan Douglas menganggap Mann kuatir dengan scope gambar dari film tersebut. Dipilih Stanley Kubrick, 30 tahun dan pilihan itu mengundang protes dikalangan intern.

Spartacus mendapat budget $ 12 juta atau setara dengan $ 97 410 959 jika dihitung harga sekarang, dengan melibatkan pemain sebanyak 10 500 orang termasuk 8000 perajurit terlatih dari Spanyol sebagai perajurit Roma. Memilih dua lokasi  filming yaitu untuk  the intimate scenes in Hollywood, dan the battle scenes,  di  Spanyol atas permintaan Kubrick. Memakai 35 mm Super 70 Technirama yg kemudian dibesarkan menjadi 70 mm film. Menciptakan ilusi yg melibatkan banyak orang dipakai 3 channel sound equipment yang me record 76 000 spectators dari Michigan State – Notre Dame college football berteriak Hail Grassus dan I am Spartacus.

Note : 1 Era perang dingin sedang pada titik kulminasi.

 

           

                                                                                                                       

                                                                                                                                          Spartakus

                                                                                                                                ( Latar Belakang )

 

Spartakus (bahasa Yunani: Σπάρτακος, Spártakos; bahasa Latin: Spartacus) (sekitar tahun 109-71 SM) adalah seorang pemimpin budak terkemuka dalam Perang Budak Ketiga, sebuah pemberontakan budak besar melawan Republik Romawi. Sedikit yang diketahui tentang Spartakus di luar peristiwa perang, dan catatan sejarah hidupnya kadang-kadang kontradiktif dan mungkin tidak selalu dapat dipercaya.

Perjuangan Spartakus sering dilihat sebagai perjuangan orang-orang tertindas yang berjuang untuk kebebasan mereka terhadap aristokrasi pemilik budak, telah menemukan arti baru bagi para penulis modern sejak abad ke-19. Pemberontakan Spartakus telah terbukti menginspirasi banyak penulis sastra dan politik modern, menjadikannya sebagai pahlawan rakyat, baik di antara budaya kuno maupun modern.

Asal usul

Sumber-sumber kuno sepakat bahwa Spartakus adalah seorang Thracia. Sejarawan  Appian mengatakan, Spartakus adalah “seseorang kelahiran Thracia yang pernah bertugas sebagai prajurit dengan Romawi, namun sejak saat itu menjadi tahanan dan dijual untuk menjadi Gladiator“. Sedangkan sejarawan Florus menggambarkannya sebagai salah seorang “tentara bayaran Thracia yang telah menjadi seorang prajurit Romawi, seorang tentara, desertir dan perampok, dan setelah itu dengan pertimbangan kekuatannya, menjadi seorang gladiator”. Beberapa penulis mengacu pada suku Thracia dari Maedi, yang mana dalam sejarah menduduki daerah di pinggiran barat daya Trakia (sekarang barat daya Bulgaria). Plutarch juga menulis bahwa istri Spartakus, seorang nabiah dari suku Maedi, ikut diperbudak bersamanya.

Perbudakan dan melarikan diri

Menurut sumber yang berbeda dan interpretasi mereka, Spartakus adalah tambahan dari legiun Romawi yang kemudian dijadikan budak, atau tawanan yang diambil oleh legiun. Spartacus dilatih di sekolah gladiator (Ludus) di dekat Capua milik Lentulus Batiatus. Pada tahun 73 SM, Spartacus merupakan salah satu di antara sekelompok gladiator yang merencanakan pelarian. Meski ada yang membocorkan rencana tersebut, sekitar 70 orang berhasil menyita perkakas dapur, berjuang untuk membebaskan diri dari sekolah serta menyita beberapa gerobak senjata gladiator dan baju besi. Para budak yang lolos berhasil mengalahkan pasukan kecil yang dikirim untuk mereka, menjarah wilayah di sekitar Capua, merekrut banyak budak lainnya ke dalam barisan mereka, dan akhirnya beristirahat di Gunung Vesuvius.

Perang Budak Ketiga

Respon dari Romawi terhambat karena tidak adanya legiun Romawi, yang sudah terlibat dalam pertempuran Quintus Sertorius di Spanyol dan Perang Mithridatic Ketiga. Selanjutnya, Romawi menganggap pemberontakan lebih merupakan masalah keamanan daripada sebuah perang. Romawi mengirim milisi di bawah komando praetor Gaius Claudius Glaber yang mengepung para budak di gunung, berharap bahwa kelaparan akan memaksa para budak untuk menyerah. Mereka terkejut ketika Spartakus memiliki tali yang terbuat dari tanaman merambat, menuruni sisi tebing gunung berapi bersama anak buahnya, menyerang kamp Romawi yang sedang lengang dari belakang dan membunuh sebagian besar dari mereka. Para budak juga mengalahkan ekspedisi kedua, hampir menangkap komandan praetor, membunuh letnan dan merebut peralatan militer. Dengan keberhasilan ini, lebih banyak budak yang berbondong-bondong ke pasukan Spartakus seperti halnya “gembala” dari wilayah tersebut, menjadikan barisan mereka berjumlah 70.000 orang.

Spartakus ingin membuktikan untuk menjadi taktisi unggul dan menunjukkan bahwa ia telah memiliki pengalaman militer sebelumnya. Meskipun budak tidak memiliki pelatihan militer, mereka menunjukkan penggunaan material lokal yang tersedia dengan terampil dan taktik yang tidak biasa ketika menghadapi tentara Romawi yang terlatih. Mereka menghabiskan musim dingin tahun 73-72 SM untuk pelatihan,mempersetajai dan memperlengkapi anggota baru mereka, dan memperluas wilayah rampok mereka termasuk kota-kota dari Nola, Nuceria, Thurii dan Metapontum. Jarak antara lokasi tersebut dengan peristiwa-peristiwa berikutnya menunjukkan bahwa para budak beroperasi dalam dua kelompok yang dikomandoi oleh Spartakus dan Crixus.

Pada musim semi tahun 72 SM, para budak meninggalkan perkemahan musim dingin mereka dan mulai bergerak ke utara. Pada saat yang sama, Senat Romawi, merasa khawatir dengan kekalahan pasukan Praetorian, mengirimkan sepasang legiun konsuler di bawah komando Lucius Gellius Publicola dan Gnaeus Cornelius Lentulus Clodianus. Dua legiun tersebut pada awalnya berhasil mengalahkan 30.000 budak yang dipimpin oleh Crixus di dekat Gunung Garganus – namun kemudian dua legiun itu dikalahkan oleh Spartakus. Kekalahan ini digambarkan dengan cara yang berbeda oleh dua sejarah yang paling komprehensif (yang masih ada) dari perang tersebut oleh Appian dan Plutarch.

Khawatir dengan pemberontakan yang tampaknya tak terbendung, Senat menggugat Marcus Licinius Crassus, orang terkaya di Romawi dan satu-satunya relawan untuk posisi ini, untuk mengakhiri pemberontakan. Crassus menugaskan delapan legiun, sekitar 40.000-50.000 tentara Romawi yang terlatih, yang ia diperlakukan dengan keras, disiplin bahkan brutal. Spartakus dan para pengikutnya dengan alasan yang tidak jelas mundur ke selatan Italia, kembali bergerak ke utara di awal 71 SM, Crassus mengerahkan enam pasukannya di perbatasan daerah dan melepaskan legasinya, Mummius bersama dua legiun untuk memanuver di belakang Spartacus. Meskipun diperintahkan untuk tidak melibatkan budak, Mummius menyerang pada saat yang tepat namun terarah. Setelah itu, legiun Crassus memenangkan beberapa pertempuran, memaksa Spartakus menjauh ke selatan melalui Lucania. Pada akhir 71 SM, Spartakus berkemah di Rhegium (Reggio Calabria), dekat Selat Messina.

Menurut Plutarch, Spartakus membuat tawar-menawar dengan bajak laut Kilikia untuk mengangkut ia dan sekitar 2.000 anak buahnya ke Sisilia, dimana ia bermaksud untuk menghasut pemberontakan budak dan mengumpulkan bala bantuan. Namun ia dikhianati oleh para bajak laut yang mengambil pembayaran dan kemudian meninggalkan para budak pemberontak. Sumber kecil menyebutkan bahwa ada beberapa upaya rakitan dan galangan kapal oleh pemberontak sebagai sarana untuk melarikan diri, tapi Crassus mengambil tindakan untuk memastikan agar pemberontak tidak bisa menyeberang ke Sisilia, dan upaya mereka akhirnya telantar. Pasukan Spartakus kemudian mundur ke arah Rhegium. Para legiun Crassus mengikuti dan pada saat kedatangan mereka dibangun benteng di tanah genting di Rhegium, meskipun terdapat serangan dari budak pemberontak. Para pemberontak berada di bawah pengepungan dan terputus dari pasokan mereka.

Gugurnya Spartakus

Pada saat itu, legiun Pompey kembali dari Spanyol dan diperintahkan oleh Senat menuju ke selatan untuk membantu Crassus. Sementara Crassus cemas bahwa kedatangan Pompey akan mengorbankan kreditnya, Spartakus gagal mencoba mencapai kesepakatan dengan Crassus. Ketika Crassus menolak, sebagian dari pasukan Spartacus kabur ke pegunungan di barat Petelia di Bruttium dalam pengejaran oleh legiun Crassus. Ketika legiun berhasil menangkap sebagian dari pemberontak dan dipisahkan dari tentara utama,  pasukan Spartakus yang gagal sebagai kelompok kecil menyerang legiun yang mendekat.  Spartakus kini membawa balik pasukannya dan seluruh kekuatannya untuk menyerang legiun dalam perjuangan terakhir, dimana para budak diarahkan sepenuhnya, dan sebagian besar dari mereka terbunuh di medan perang.  Spartakus juga terbunuh dalam pertempuran tersebut namun jasadnya tak pernah ditemukan.  Enam ribu korban yang selamat dari pemberontakan ditangkap oleh legiun Crassus segera disalibkan, berjajar di sepanjang Jalan Appia dari Roma ke Capua.

Sejarawan klasik membagi mengenai apa sebenarnya motif Spartkcus. Sementara sejarawan Plutarch menulis bahwa Spartakus hanya ingin melarikan diri ke utara menuju Cisalpine Gaul dan membubarkan anak buahnya kembali ke rumah mereka, seperti yang digambarkan pada film tahun 1960, “Spartacus”,  Appian dan Florus menulis bahwa ia bermaksud untuk masuk dalam barisan Romawi.  Appian juga menyatakan bahwa ia kemudian meninggalkan tujuannya, yang tidak lebih dari sebuah refleksi dari ketakutan Romawi. Tidak ada tindakan Spartakus yang menunjukkan bahwa ia bertujuan untuk mereformasi masyarakat Romawi atau menghapuskan perbudakan.

Berdasarkan beberapa peristiwa di akhir 73 SM dan awal 72 SM, menunjukkan kelompok-kelompok memperkerjakan budak secara bebas dan sebuah pernyataan oleh Plutarch bahwa beberapa budak yang melarikan diri lebih mengutamakan untuk menjarah Italia, daripada melarikan diri ke atas Pegunungan Alpen,  penulis modern telah menyimpulkan perpecahan faksi antara mereka, yakni yang berada dibawah Spartakus ingin melarikan diri ke atas Pegunungan Alpen untuk kebebasan, dan mereka yang berada dibawah Crixus ingin tinggal di selatan Italia untuk terus merampok dan menjarah.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.