Suluk Wujil karya Sunan Bonang

Sunan Bonang banyak menggubah sastra berbentuk suluk atau tembang tamsil. Antara lain Suluk Wujil yang dipengaruhi kitab Al Shidiq karya Abu Sa’id Al Khayr.  Ada pula sebuah karya sastra dalam bahasa Jawa yang dahulu diperkirakan merupakan karya Sunan Bonang dan oleh ilmuwan Belanda seperti Schrieke disebut Het Boek van Bonang . Sunan Bonag juga menulis Tanbihul tentang ilmu Tasawuf setebal 234 halaman.

Karya Sunan Bonang ditulis dalam huruf latin oleh Prof Empu Purbatjaraka. “De Geheime Leer van Soenan Bonang (Soeloek Woedjil)”,  Bertram Johannes Otto “Bep” Schrieke berhasil menulis karya2 Sunan Bonang diantaranya Suluk Wujil dalam bukunya Het Boek van Bonang. Sunan Bonag juga menulis Tanbihul tentang ilmu Tasawuf setebal 234 halaman.

Sejumlah pakar membuat  karya tulis mereka mengenai karya tulis putra Sunan Ampel ini yang jumlahnya sangat banyak, diantaranya selain kedua tokoh diatas adalah Prof Drewes, Prof Snouck Hurgronje,  Husein Djajadiningrat, Soerja Soeparta, Abdul Hadi HM, B Wiwoho, Novita Angraini dll.

Husein Djajadiningrat, lahir di Serang, 8 Desember 1886  meninggal 12 November 1960 pada umur 73 tahun, sepat menjadi Mendikbud. Putra mantu Mangkunegoro ke VII ini melanjutkan studi ke Belanda atas sponsor Souck Hurgronje  dan meraih gelar doktor dari Leiden. Prof Djajadiningrat tinggal 1 tahun di Aceh untuk menyusun kamus bahasa Aceh.

Suluk Wujil -1Het Boek van Bonang tersimpan disejumlah perpustakaan di Tanah Air, Belanda dan USA.

Empu Purbatjaraka ( 1884 – 1964)  adalah seorang budayawan, ilmuwan Jawa dan terutama pakar sastra Jawa Kuno. Poerbatjaraka adalah putra seorang abdi dalem keraton Kasunanan Surakarta yang bernama Raden Tumenggung Purbadipura (ejaan modern). Purbadipura adalah abdi dalem kesayangan Sunan/Susuhunan Pakubuwana X. Poerbatjaraka, dengan nama kecilnya Lesya, bersekolah di HIS (Hollandsch-Indische School). Perkenalan pertamanya dengan sastra Jawa Kuno terjadi ketika ia menemukan buku karangan ahli Indologi termasyhur, Prof. Dr. Hendrik Kern. Buku itu hadiah kepada PB X dari seorang pejabat Belanda.

Karena Suluk Wujil ini merupakan buah karya yang ditulis pada masa peralihan Hindu – Islam, maka Suluk ini pun mencerminkan hal-hal penggambaran kehidupan budaya, intelektual dan keagamaan di Jawa Timur yang sedang berada pada masa transisi religiusitas dari kepercayaan Hindu beralih menuju kepercayaan Islam. Di ranah sastra sendiri peralihan itu tercermin dari terhentinya kegiatan menulis sastra Jawa Kuna sepeninggal penyair terakhir Majapahit, Mpu Tantular dan Mpu Tanakung, yang meninggal dunia pada pertengahan abad ke-15 tanpa penerus yang kuat. Dengan begitu pusat pendidikan pun lambat laun beralih ke pusat-pusat baru di daerah pesisir yang dekat dengan Kerajaan Demak.

Dari segi bahasa Suluk Wujil ini memperlihatkan gaya bahasa yang tidak biasa dan terkesan aneh karena menggunakan bahasa Jawa Madya yang memang pada saat itu tidak lazim digunakan dalam penulisan tembang. Tidak hanya itu, dari segi puitika pun, Sunan Bonang menggunakan gaya tembang Aswalalita dan Dandanggula yang menyimpang dari patron penyair-penyair kebanyakan di zaman Hindu. Oleh karenanya, hanya dari kedua ciri dan gaya tersebut saja kita langsung bisa merasakan semangat peralihan yang begitu kentara dalam Suluk Wujil ini.

Tapi meskipun begitu, pilihan Sunan Bonang yang tetap mempertahankan penggunaan bentuk tembang Jawa Kuno yaitu aswalalita, yang didasarkan pada puitika Sanskerta dan juga banyak menggunakan tamsil-tamsil yang tidak asing dalam kebudayaan Jawa pada masa itu seperti misalnya tamsil wayang, dalang dan lakon cerita pewayangan

Suluk Wujil

Dimulai dari kisah seorang Wujil asal Majapahit berguru kepada Sunan Bonang dan tinggal di padepokan desa Bonang, Lasem…Ingin tahu hakikat dan seluk beluk ajaran agama sampai rahasia terdalam.

Srt Wujil 1-2

Srt Wujil 3-4Sepuluh tahun nyantri kepada Sunan Bonang, Wujil merasa yang dia pelajari tidak beranjak dari tatanan lahir – tetap saja tentang bentuk luarnya kemudian mengeluh kepada gurunya.

Srt Wujil 5-6Jawaban sang Guru mengungkapkan ketulusan untuk mendidik…..andai uang yang diharapkan tak perlu menjalankan tirakat. Sejumlah tokoh menafsirkan kalimat tersebut bahwa  mengajarkan Islam tidak cukup memberikan  pengetahuan lahiriah seperti menguasai bahasa dan sastra Arab, Ilmu tafsir dll tetapi dibutuhkan laku spiritual.

Srt Wujil 7 - 8Srt Wujil 9 - 10Bagaimanapun sang Guru dengan kasih sayang membelai rambut kucir Wujil memberikan wejangan untuk membesarkan hati muridnya yang nyaris putus asa….jika kau harus masuk neraka karena kata2ku ( ajaran ) maka aku yg akan menggantikan tempatmu.

Dikumpulkan dari beberapa sumber oleh gandatmadi46@yahoo.com

Tembang Tombo Ati karya Sunan Bonang

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.