Catatan singkat ttg buku Serdadu Belanda di Indonesia 1945 – 1950

 

Catatan singkat ttg buku Serdadu Belanda di Indonesia

1945 – 1950

karya

Gert Oostindie

bekerja sama dengan

Ireen Hoogenboom

dan Jonathan Verwey

Kesaksian perang pada sisi sejarah yang salah

 

What is history, but a fable agreed upon, Napoleon Bonaparte.

Setiap kali akan membaca tulisan sejarah terutama yang sarat dengan konflik antara dua kelompok, saya seperti dipaksa untuk bersikap netral agar supaya bisa menikmati alur tulisan.  Sebaliknya ibaratnya seperti membaca pengumuman atau rangkaian pernyataan2 / statement sehingga segala sesuatunya jadi hambar.

   Kepada Sejarawan Prof  Taufik Abdullah, lulusan Cornell University, sambil ngopi di acara bedah buku Serdadu Belanda tgl 13 September 2016 di Erasmus Huis  – perang saudara di AS dari buku sejarah sekolah kita pahami sebatas mereka yang pro perbudakan dan yang anti perbudakan tetapi setelah membaca buku The Civil War karya Harry Hansen pemahaman saya berubah total tentang perang saudara di AS antara tahun 1861 – 1865.

Harry Hansen Phd ( 1884 – 1977 ) sebagai editor Chicago Daily News ikut meliput ketika WW ke 1 meletus tahun 1918  juga WW ke 2. Buku

Hasil gambar untuk Harry Hansen : The Civil Wardengan jumlah halaman 662 memotret para tokoh dari kedua belah pihak, menulis politik peperangan serta mendiskusikan sejumlah isu ekonomi dan sosial yang mencemplungkan negara yang baru merdeka kedalam perang saudara.  Perang saudara ini melibatkan 2,8 juta serdadu dari pihak Federal dan dari pihak Confederate 1 juta orang. Yang tewas dari pihak Utara ( Federal ) tidak kurang dari 300 ribu orang dan dari pihak Selatan yang berhasil dikumpulkan 133 ribu orang.

Banyak dari  para tokoh dari kedua belah pihak yang bertikai memiliki semangat untuk tetap bersatu termasuk President Lincoln, jendral Sherman di pihak Utara dan jendral Lee dari pihak Selatan. Meskipun begitu butuh 50 tahun sehingga tercapai kondisi rukun.

Sebelumnya saya juga menghadiri bedah buku Arungi Samudra yg memilih tempat di Lemhanas. Saya menemukan suatu change sikap dari generasi yang lebih muda, di Arungi Samudra ketemu dengan sdr Philips Jusaro Vormante PhD dari CSIS yang juga menjadi salah satu panelis, tentang suatu peristiwa sejarah. Dia mengatakan bahwa betul RRC memiliki cadangan devisa berlimpah, yang menjadi pertanyaan apakah mampu membiayai ambisinya menguasai laut dan daratan?

Dr Abdul Wahid  yang juga menjadi Panelis bedah buku Serdadu Belanda….mensikapi dengan sangat kritis, akademis seperti tertulis dalam kata pengantar….

Meskipun Belanda ‘berbagi’ sejarah kolonial yang panjang dengan Indonesia, namun periode 1945-1949 menjadi episode sejarah yang paling ‘panas dan emosional’ di Belanda (juga di Indonesia) dan hingga saat ini masih menjadi perdebatan akademik maupun politis di sana. Pokok perdebatan terpusat pada pertanyaan apakah memang telah terjadi kekerasan yang berlebihan atau kejahatan perang yang dilakukan oleh tentara Belanda terhadap penduduk Indonesia – utamanya penduduk sipil, selama berlangsungnya operasi militer pada periode tersebut.

Selain itu, pertanyaan tersebut juga menjadi sangat politis karena terkait gugatan akan keabsahan perang tersebut yang secara langsung terkait posisi politik dan pengakuan Belanda terhadap kemerdekaan Indonesia, dan hubungan bilateral Belanda dan Indonesia kemudian hari. Pertanyaan tersebut, kiranya belakangan menjadi semakin kencang diajukan oleh publik Belanda setelah menguatnya kesadaran mereka akan Hak Asasi Manusia (HAM), dan keinginan Belanda untuk mencitrakan dirinya sebagai negara pelopor HAM di dunia.

Sumber utama dari buku Serdadu Belanda ini adalah kesaksian para serdadu Belanda, 1.362 orang yang terlibat dalam perang Kemedekaan ( menurut versi Bangsa Indonesia ) suatu jumlah yang kecil dibandingkan 220 000 serdadu yang dikerahkan untuk menumpas pejuang rakyat Indonesia. Saya mencoba mencari adakah tulisan tentang pertempuran yang dikenal terbesar ke 2 setelah Pertempuran 10 Nopember 1945 yaitu petempuran di Mojokerto? Adakah pertempuran besar di wilayah Lamongan/ Gresik dsk pimpinan mayor Utojo Utomo   suatu usaha bonek merebut Surabaya? Adakah cerita tewasnya  satu tentara Belanda   dan 3 terluka  ketika mengawasi membangun Pos Jaga  di desa Kepet, Tuban? Adakah tulisan bombardemen dari Laut Glondong oleh tentara Belanda mengakibatkan tewasnya puluhan penduduk sipil yang akan mengungsi keluar kota Tuban?

Kesaksian para serdadu Belanda ini dikumpulkan dengan rapi dan digunakan dokumen ego milik mereka seperti buku harian, surat, kesaksian dan memoar. Terungkap tentang kejahatan perang yang mengejutkan. Sikap mengerti dan tidak mengerti orang Indonesia, frustasi terhadap pimpinan militer dan politik, rasa dendam dan malu, kebosanan dan seks. Kurang dihargai sepulang mereka ke rumah……

Buku Serdadu Belanda ini bagi Prof Anhar Gonggong dan Dr Abdul Wahid adalah bukti tertulis pengakuan terjadinya kejahatan perang selama periode 1945 – 1949 yang sebelumnya ditutup tutupi pihak Pemerintah Belanda. Bahwa menurut pihak Belanda kekejaman terhadap rakyat sipil dan pejuang sebagai suatu akses seperti tercantum dalam  Excessennota  suatu Ontsporing van geweld (Kekerasan di luar jalur). Sejak Proklamasi 17 Agustus 1945 bangsa Indonesia sudah mengatakan kemerdekaannya artinya secara de fakto dan de jure sudah merdeka sehingga aksi serdadu Belanda adalah aksi militer bukan aksi polisionil. Setiap kejahatan perang dalam realita selalu muncul kekejaman terhadap penduduk sipil.

Dr Abdul Wahid yg memimpin diskusi di Gama  berjudul Genosida Intelektual Memberangus Ideologi dan Kaum Kiri di Kampus Pasca 1965 bergelar master dari University of Leiden dan pengajar di Gama menantang para sejarawan Indonesia untuk menulis sejarah selengkap karya2 orang2 Barat.

Kang Wahid, bukan hanya sejarah tetapi semua bidang.

Catatan tambahan : Pemerintah Belanda melalui Menlunya Benerd Bot mengakui kemerdekaan RI pada tgl 17 Agustus 1945 pada 16 Agustus 2008.

Gandatmadi

Email: gandatmadi46@yahoo.com

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.