KARAKTER TAK TERLUPAKAN: SOEKARNO PEMIMPI, PENGGAGAS DAN PELAKSANA (4)

oleh:

Bambang Hidayat

Observatorium Bosscha ITB dan Jurusan Astronomi ITB

Bandung.

Di akhir tahun 1945 di lapangan Kewedanaan Salatiga penulis sebagai anak kecil (11 tahun) ingat Soekarno menggalang semangat rakyat di tengah hujan lebat dengan pertanyaan”Takutkah engkau kepada Divisi 7 Desember   ” (Belanda), yang akan didaratkan untuk menghancurkan Republik”? Rakyat serempak, seperti yang diharapkan menjawab “Tidak”. Kalau begitu Belanda kau “kekejero koyo manuk branjangan, kopat kapito koyo menjangan mati” kami orang Indonesia tidak takut. Itulah saat “tatap-muka” pertama penulis dengan pemimpin Republik. Dan suara itu mengiang terus di telinga. Analisis kejiwaan Soekarno yang haus bacaan dan cerita wayang, sebagai layaknya orang Jawa, sering mencampuradukkan mitos pewayangan. Dan karena itu, pada usia lanjut-nya Soekarno sering tidak sadar melihat kedudukan raja yang dikelilingi dayang cantik dalam fantasi menjadi kebenaran. Lepas dari itu, sebaiknya penulis serahkan kepada ahli kejiwaan untuk menganalisisnya, Soekarno adalah orator yang hebat, visioner yang diperkaya oleh pandangan kenegaraan, dan rangkaian kalimat hidup, merakyat, selalu mengikat. Karya Guntur Soekarno Putra (1986), “Soekarno ayah, kawan dan guruku” merupakan catatan pribadi yang merekam kejadian sesaat menggambarkan hubungan alami antara anak dan bapak. Biasanya buku semacam itu mempunyai kredibilitas tinggi dan merupakan dokumen ego yang baik.

medan lagaIr. Soetoto (TH angkatan 1923) pernah pada tahun 1970 atas pertanyaan penulis ini men-ceritakan kesannya tentang Soekarno semasa sama-sama belajar di TH. Soekarno adalah pesolek, selalu tampil rapih, walaupun masih berstatus mahasiswa. Merupakan satu-satunya dari 12-15 mahasiswa bangsa Indonesia yang memakai jas “gabardine wol” (ini sudah top quality di jamannya), yang mempunyai vulpen (ball point belum ada) dan menaiki sepeda Fongers berpersneling. Bandung di kala itu masih dingin, sehingga menggenjot sepeda menaiki jalan Dago (sekarang Ir. Juanda) ke TH (sekarang ITB) bukan merupakan masalah. Selain itu, demikian Ir. Soetoto, dia mengagumi kecepatan dan banyaknya buku perpustakaan TH yang sering dipinjam Soekarno. Dengan keinginan tahu kolegialitet Sutoto, yang kala itu tentu saja masih sama-sama mahasiswa, mencoba mengetahui buku yang dipinjam Soekarno. Bukan buku Mekanika, bukan tentang Struktur atau tentang Jembatan, tetapi tentang sastra, politik dan humaniora. Garis pinggir dan coretan pada buku (perpustakaan) itu memperlihatkan Soekarno the man of letter.

Karena itu pasase, frasa, yang indah dan bermakna literer tidak luput dari coretan Soekarno. Sutoto secara pribadi menyajikan memori fotografik Soekarno bekerja ketika duduk bersamanya, di suatu pagi di tahun 1925 melihat Soekarno menulis naskah, atas permintaan wartawan AID Preanger Bode. Redaksi itu menunggui-nya, Soekarno menulis tentang implikasi kemenangan Jepang atas Rusia terhadap pertumbuhan kebangsaan Asia. Dari semenjak meneteskan tinta untuk titel sampai titik terakhir di halaman terakhir Soekarno tidak berhenti menulis, bahkan tidak melihat literatur. Tulisan berbahasa Belanda itu sudah “persklaar“, siap cetak tanpa koreksi atau coretan sedikitpun. Hal yang sama dilihat juga oleh assisten Residen di Bengkulu L.G.M Jaquet (“Aflossing van de wacht, Besturlijke en politieke ervaringen in de nadagen van Ned. Indie“, 1972).

Kala itu Soekarno baru saja dipindahtempatkan dari tempat pem-buangannya di Flores ke Bengkulu. Tentu saja sebagai seorang Assisten Residen dia sudah memperoleh peringatan dari PID polisi rahasia Belanda, agar hati-hati terhadap “orang merah” Soekarno. Karena itu ketika Soekarno ingin bertemu Jaquet sangat hati-hati menerimanya. Soekarno datang setelah sembahyang Maghrib dan tinggal di rumah Jaquet sampai lewat tengah malam. Seterusnya dengan dalih meminjam buku dari seorang “Indolog” terkenal itu, terbuka jalan bagi Soekarno untuk sering bertemu dan mengobrol. Dari kontak itu tumbuh dalam pengertian Jaquet terhadap nasionalisme dan penilaian tinggi terhadap Soekarno.

Gagasan-nya untuk memodernisasi kehidupan umat Islam memperoleh perhatian dari Jaquet. Dalam beberapa hal mengenai adat Soekarno jauh lebih barat pandangannya dari pada seorang Indolog yang sudah bergelar Dr. itu. Karena itu Giebels (2000) tentang Soekarno menyatakan “een Nederlandsch Onderdaan” rasanya tidak berlebihan. Namun sebenarnya kita harus kritis memandang nuansa seperti itu. Dalam diri Soekarno memang telah ber-kembang aspirasi kebangsaan yang meng-gejolak. Tetapi mungkin tanpa kaitan dan pengaruh barat pun Soekarno mempunyai pandangan yang kongruen dan suara yang konsonan dengan nurani dan pemikiran barat, karena yang dikembangkan adalah wawasan universal. Itu dapat tumbuh di mana saja asal ada tanah subur untuk berkembang.

Jauh sebelum krisis moneter Indonesia di thn 1997, Soekarno menyatakan keinginannya mendirikan citra keunggulan domestik dengan kata bersayap “berdikari”. Berdiri dengan kaki sendiri, yang intinya ingin mengajak rakyat Indonesia menggali warisan kulturalnya dan menterjemahkan kepada ketahanan hidup ber-bangsa dan bernegara. Bahkan sudah semenjak tahun 1932 Soekarno (Suluh Indonesia Muda, 1932) menggagas tentang swadesi (dari Gandi, di India) untuk aksi massa Indonesia. Dengan tepat dia mensitir pikiran salah seorang idolanya, Banerjee, … “swadeshi is gebaseerd op vaderlandsch-liefde en niet op haat voor de vreemdeling Ons doel is het gebruik van inheemse goederen algemeen te maken, de groei en ontwikkelling van inheemse kunsten en industrieen.” (terjemahan bebas: swadeshi didasarkan kepada kecintaan kepada tanah air dan tidak kepada kebencian terhadap orang asing … Tujuan kita adalah mendayagunakan sumber dalam negeri, mempertinggi pertumbuhan serta pengembangan seni dan industri anak negeri). Jelas idee itu bukan chauvinistik, dan sengaja penulis paparkan diktum itu karena tampak erat menguat dengan keadaan dewasa ini, tatkala ekonomi makro sedang menuruni lereng terjal. Sebaliknya ekonomi mikro memperlihatkan ketahanannya.

Keinginan meningkatkan sumber daya endogenik itu diulangi lagidalam pidato di depan Congres Amerika (17 Mei 1956). Soekarno di samping mengagumi pemikiran intelektual dan kemajuan teknologi serta sains Barat, tidak lupa tujuan akhir perjuangan. Hal itu ditulisnya dalam bab “disproportionate economic ratio and its effects on the growth of economy and democracy“. Di situ, dia meng-akui, bahwa harus dirawat keseimbangan antara produksi dan kebebasan menyatakan pendapat agar kemajuan Indonesia dapat diraih. Ini adalah parabel yang mencerminkan kehendak untuk memecahkan masalah dalam negeri atas dasar kekuatan dan perhitungan internal. Tidak harus didikte. Di bagian lain pidatonya, dia berbicara mengenai “the survival of the newborn states” (ingat: itu dikemukakan tahun 1956) di mana dia mengemukakan proposisi “.. democracy is the introduction of equal opportunity of human activities amongst the indigenous people themselves and, to some degrees, of opportunity for foreign competitors to ensure the best performance“. Jadi, tegurnya, demokrasi hendaknya tidak melahirkan anakronisme. Dalam kerangka melajunya ekonomi yang mendunia seperti sekarang ini, pernyataan itu tetap relevan. Soekarno meyakini dalam bukunya Howard Jones (Indonesia the Possible Dream, 1973) dan dalam buku Oltman (Soekarno mijn vriend, 1999) bahwa dia “master of choosing words” dan dia mengemban missi suci, seperti yang dia dengar ketika di pangkuan ibundanya sambil menatap terbitnya sang bagaskoro. Dia akan menjadi pemimpin, dan memimpin rakyatnya. Baik Giebels (2000) maupun van den Doel (Afscheid van Indië, 2001) melihat Soekarno mempunyai obsesi itu dan menyerahkan dirinya untuk tugas beratnya.

Pendidikan yang diperoleh di TH Bandung, memberikan bobot wawasan barat dan diplomasi, serta kematangan untuk memulai pekerjaan besar sebagai “full fledged” political fighter. Kedua titelnya, yang satu “raden” dan satunya lagi “ir” dibuangnya, tinggal Bung saja, pada tahun 1926 setelah dia menamatkan pendidikan keinsinyurannya. Tetapi menjadi “master of choosing words” bukannya tanpa resiko kalau ucapannya terpelintir. Di tahun 1964 dia, dalam keadaan sulit ekonomi dan momen harus mengembangkan diversifikasi pangan, berpidato. Pendengarnya pers barat menangkap “eat less rice, more mice“. Karuan saja ungkapan ini menjadi cemoohan karena dengan senang mereka mengira (lihat Jones, hal 351) Indonesia sudah bangkrut dan Soekarno sudah bermata gelap. Ternyata teks aslinya berbunyi “eat less rice, more maize”. Berbeda tulisan, berlafal sama.

Sejarah adalah sejarah manusia dan, kadangkala, dibuat oleh manusia. Oleh karena itu dokumen resmi, statistik negara, clipping surat kabar, bahkan notulen rapat hanya akan dapat sedikit menambah pembentukan kerangka suatu proses sejarah. Untuk melapisi kerangka yang mungkin berdebu itu agar berdaging, berdarah dan berjiwa sejarah, ahli sejarah perlu memantau dan memperoleh catatan dan wawasan pribadi, memoir psikologik para pelaku utama dan anti-pelaku. Koleksi surat pribadi atau karya literer yang ditinggalkan oleh aktor intelektual juga mungkin menyimpan prima causa penting suatu peristiwa sejarah.

Kita tahu Soekarno sebagai orang Jawa yang telah terpoles dengan nilai-nilai intelektual barat dan, jangan dilupakan, juga intelektual timur melalui pendidikan teknologik formal dan informal, dapat mendekati Barat tanpa menyentuhnya. Falsafah (intelektual) kebarat-annya sangat kental sehingga sukar meletak-kan karakter Soekarno secara singuler ke dalam tata-koordinat kejawaan (atau ke-Indonesia-an sekalipun). Dia telah menjadikan dirinya “Uomo Universale” (manusia universal), yakni teknisi, teknokrat, sarjana politik, diplomat dan lain atribut moderen ketatanegaraan. Dia seorang polyglot yang menguasai bahasa Ibu, beberapa bahasa etnik nusantara dan beberapa bahasa barat untuk pergaulan internasional. Dengan bahasa Jerman yg fasih Soekarno mempesona Senat Guru Besar Universattum Karl Ruprecht di Heidelberg, benteng pengetahuan tertua di sebelah utara Alpen. Prof. Fricke kepada penulis pada tahun 1970 menyatakan terbuka-nya matahati kepada Pancasila dan “Welt-anschaung” Indonesia karena mendengar pidato Soekarno.

Bahasa pewayangan dia kuasai, demikian pula bahasa Belandanya selancar dan secermat filolog Belanda. Dia mendapat julukan pemain catur simultan, orator yang dalam keadaan kontroversial atau situasi kontradiksional sekalipun masih dapat menghasilkan simpati. Kedatangan Kurschev di Indonesia, dan urung ke Yogya untuk memperoleh gelar (1960) menjadi contoh bagaimana Soekarno memanipulasi keadaan untuk kepentingan negara (dan mungkin glorifikasi untuk diri-nya). Seorang diplomat Yugoslavia (The New York Times. 19 Januari 1964) menyatakan bahwa di negerinya orang sudah riuh bertepuk tangan kalau melihat badut sirkus mengendali-kan dua ekor kuda. Soekarno adalah negarawan hebat yang dapat mengendalikan temperamen 6 ekor kuda: Timur dan Barat, komunis dan militer di negaranya, bahkan Peking (sekarang Beijing) dengan Moskow.

Lembang 29 Mei 2001

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.