De-Urbanisasi

Kontraurbanisasi, atau de-urbanisasi, adalah sebuah proses sosial dan demografi dimana orang-orang pindah dari kawasan kota ke kawasan desa.

Dalam kurun waktu 5 tahun antara 2015-2020 diprediksi tingkat urbanisasi meningkat dari 53,3% menjadi 56,7% dan diproyeksikan menjadi 66,6% pada 2035. Laju urbanisasi ini merupakan yang tertinggi di Asia. Potensi perpindahan penduduk ke daerah perkotaan ini dapat membawa dampak positif bagi perekonomian. Pada 2045, seratus tahun kemerdekaannya, sekitar 220 juta orang – atau lebih dari 70% dari populasi – akan menjadi warga kota.

Pedesaan diabaikan

Kita perhatikan artikel yg dimuat Mimbar Mahasiswa thn 2019, Mengelola Urbanisasi untuk Pertumbuhan Ekonomi

…… Dengan demikian, meningkatnya tingkat urbanisasi dapat menjadi upaya untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi di Indonesia ke depannya. Namun, jika tidak dikelola dan dimanfaatkan dengan baik, urbanisasi justru menjadi bumerang bagi negara. Urbanisasi pada dasarnya akan meningkatkan pendapatan masyarakat. Kenaikan populasi di daerah perkotaan dapat mendorong pertumbuhan PDB per kapita.

Potensi urbanisasi juga harus ditunjang dengan pembangunan infrastruktur dan fasilitas yang memadai sehingga penduduk di daerah perkotaan dapat terhindar dari masalah kemacetan, polusi, dan risiko bencana. Bertambahnya jumlah populasi di kota jika tidak diikuti dengan bertambahnya tingkat taraf hidup masyarakat justru akan menimbulkan masalah baru di perkotaan. Kenaikan jumlah angkatan kerja yang tidak diiringi dengan bertambahnya lapangan pekerja dan peningkatan mutu tenaga kerja akan meningkatkan daya saing yang tinggi serta menambah jumlah pengangguran dan kemiskinan yang pada akhirnya memicu kriminalitas.

Ketika krisis ekonomi tahun 1997/98 dan  dampak ekonomi corona virus 2020

1.Saat Krisis Ekonomi 1997/98

grafik pengangguranPada tahun  1997 – 1999, peran sektor pertanian  meningkat menjadi 19% disebabkan perpindahan tenaga kerja di sektor sekunder dan tersier diperkotaan ke wilayah pertanian akibat menurunnya lapangan kerja diperkotaan akibat krisis. Pada periode itu jumlah pengangguran DKI  melonjak 11% – 15%, Jawa Barat  7% – 10% sedangkan Jateng, DIY dan NTB pengangguran justru berkurang – grafik 3.21

2.Urban Life Cycle

grafik pekerja pertanianaktivitas pekerja3.Dampak Ekonomi Pandemi Corona Virus

Krisis ekonomi akibat corona virus yang saat ini kita alami sungguh luar biasa. Kebijakan larangan mudik oleh banyak kalangan dianggap mendua, multi tafsir, tidak tegas dst. Tetapi pulang mudik memberikan rasa tentram yang tidak semuanya bisa dihitung secara kwantitatif. Saya pernah menghitung pendapat si Man di desanya di Bulukerto Wonogiri. Dengan hasil panen jagung dan ketela dalam setahun diperoleh Rp 3 juta satu tahun, cukup untuk hidup pas2an bersama istrinya. Kini anak perempuannya didesa akibat PHK sedang mantunya mau melahirkan memilih melahirkan didesa yang mempunya fasilitas kesehatan cukup baik sementara suaminya tidak bisa pulang karena larangan mudik.

Paska Krisis Pandemi Corona Virus?

age breakdownJumlah  usia muda (15 -29) 24,7%  adalah usia yang relatif mudah untuk pindah kerja, dari pekerja bangunan di kota pulang kampung menjadi petani di desanya,  apabila imbalannya memadai. Kini saatnya untuk mengkampanyekan  pulang membangun desa sebelum keinginan tesrsebut mereda dan balik kerja di kota – seperti ditunjukkangrafik Urban Life Cycle.

gandatmadi46@yahoo.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.