Indonesia menuju menjadi negara maritim yg kuat

Hasil gambar untuk Political: Map of the One Belt One Road

Walaupun berkali-kali China mengklaim bahwa pembangunan Jalur Sutra Maritim Abad ke-21 bertujuan damain dan murni dilandasi motif ekonomi, namun tak pelak inisiatif tersebut mengundang banyak reaksi, tepatnay memantik pro dan kontra. Satu hal yang pasti adalah bahwa dengan jalur Sutra Maritim Abad ke-21, China secara konsisten terus mengembangkan beragam kemitraan ekonomi dengan negara-negara kawasan di sepanjang rute klasik tersebut. Sebagai negara besar, China berambisi memadukan kedua jalur perdagangan laut dan darat yang telah berlangsung selama ratusan tahun menjadi satu konsep jalur perdaganagn yang terinteragsi, yang dikenal dengan sebutan Satu Sabuk Satu Jalur (One Belt One Road – OBOR).

Demikian buku  Arungi Samudra bersama Sang Naga dalam kata pembuka karya bersama  Laksda TNI Untung Suropati (TA Pengkaji Bid Sismennas Lemhannas, Yohanes Sulaiman ( Pengajar di Indonesian Defence University ) dan Ian Montratama ( Indonesia Defense University ). Bertindak sebagai moderator Rene Patirajawene. Bedah buku dilakukan pada tanggal 31 Agustus 2016 bertempat di Lemhanas. Undangan yang hadir dari kalangan Akademisi, Swasta, Alumni Lemhanas dan TNI.

Teringat dengan Majen Soewarto alm, sebagai pimpinan SESKOAD mengajak para akademisi, ekonom seperti Prof Widjojo Nitisastro, Prof Sarbini menjadi pengajar di SESKOAD. Langkah ini awal dari peran Akademisi di lingkungan TNI yang kemudian berkembang di Lemhanas dan terkini yaitu pada tahun 2008 berdiri Indonesian Defence University suatu kerja sama antara Diknas dan DikTi dengan TNI, berlokasi di Salemba ( sebelah FK UI ) yang dikelola TNI.

OBOR sudah menjadi grand strategy RRC tentunya bagaimana kita mensikapi. Letjen Prrn Agus Widjojo sebagai Gubernur Lemhanas dalam kata sambutannya, arti kata SINERGI. Tentunya yang beliau maksudkan sinergi dalam arti yang angat luas. Philips Jusaro Vormante PhD dari CSIS bertindak sebagai panelis mungkin karena masih muda langsung tancap……bahwa betul RRC memiliki cadangan devisa berlimpah, yang menjadi pertanyaan apakah mampu membiayai ambisinya tersebut?

Menurut para Ekonom, meneruskan pemaparannya Philips, ke depan pertumbuhan RRC cenderung menurun. Jika dulunya 2 digit sekarang sudah 1 digit. Hal ini disebabkan RRC menghadapi ketimpangan yang tajam antar wilayah sehingga untuk meningkatkan pertumbuhan secara nasional dalam jumlah besar dibutuhkan dana yang besar dengan demikian simpanan dana akan dipakai lebih untuk kebutuhan domistik. Philips juga menyoroti tentang inovasi teknologi RRC. Teknologinya masih fokus kepada aplikasi teknologi yang diperoleh dari negara2 maju seperti AS, MEE.

Yang menarik sikap Pimpinan RRC sering overacting seperti mereka perlihatkan ketika konflik dengan Filipina di Laut China Selatan serta dengan Indonesia soal pencurian ikan. Menurut Philips publikasi pernyataan2 sebenarnya untuk konsumsi domistik dan bukan untuk dunia Internasional. Masalahnya karena teknologi tersebar ke luar negeri, sehingga setiap upaya bersinergi dengan RRC cenderung di curigai. Demikian yang kita alami dewasa ini.

Indonesia menjadi negara Maritim

Alfred Thayer Mahan, pakar naval strategis dan diplomatic affais percaya bahwa kebesaran nasional terkait erat dengan Laut terutama dalam aplikasi secara komersial baik dimana perang maupun damai. Secara spesifik Mahan menyebut 5 syarat untuk memiliki sea power:

  • Keunggulan posisi geografis. Melayani garis pantai, cukup sumber daya alam, iklim yang kondusif. Perluasan teritorial. Jumlah penduduk yg cukup untuk menjaga wilayah. Masyarakat berbakat tentang laut dan usaha2 komersial serta Pemerintahan yang berpengaruh untuk menguasai laut.

Indonesia memiliki segalanya untuk menjadi negara besar. Jika proyeksi pertumbuhan PDB sebesar 5 % maka dalam 20 tahun PDB kita akan mencapai USD 6 Trilyun dari USD 1 Trilyun saat ini.

Sekarang postur ekonomi kita dari PDB :

Pertanian    14,5 %.  Pertambangan 11,5 %. Manufaktur 25,5 %. Jasa 49,5 %

Kedepan secara presentasi bisa tetap persektor tetapi harus dijalankan proses  Industrilisasi bidang Pertanian, bidang Sumber daya laut, Pertambangan, jasa harus dilakukan. Kita butuh memiliki pabrik pembuat mesin pertanian, mesin pembuat mesin kapal ikan, mesin memproduksi mesin membuat komponen kapal…….

Dengan demikian PDB jika  hanya tumbuh 5 %  sudah  cukup menunjang menuju negara maju.

Faktor Manusia Indonesia

Menurut the theory of dependency yang berbeda dengan teori pertumbuhan yang menekankan kepada transfer of technology dan akses ke pasar global, teori dependency lebih fokus kepada pembangunan manusianya sebab dengan manusia yang unggul masalah transfer technology maupun akses ke pasar menjadi sangat ringan.

Untuk lebih memperjelas berikut video Studium Generale Gita Wiryawan di ITB pada tahun 2013.

GG

Leave a Reply

Your email address will not be published.