Kerja Sama Multikultural untuk Persatuan dan Keadilan – lanjutan

September 19, 2019

Prof Quraish Shibab memberikan ceramah sebelum pidato pembukaan Pesiden Jokowi. Isi ceramah beliau sama dengan yg disampaikan dalam Pertemuan Persaudaraan Manusia yang digelar di Uni Emirat Arab tgl 4 Februari 2019 yang lalu. Ulama dan pakar tafsir Alquran Prof M Quraish Shihab, menjadi wakil satu-satunya tokoh agama dari Indonesia, bahkan Asia Tenggara yang hadir dalam penandatanganan Deklarasi Abu Dhabi, Senin (7/2) lalu. 

Paus dan Ulama BesarMengawali ceramahya Prof Quraisah Shihab bercerita tentang deklarasi yg disebut Dokumen Persaudaraan Manusia untuk Perdamaian Dunia dan Hidup Berdampingan. Deklarasi itu ditandatangani Imam Besar Al-Azhar, Ahmed al-Tayeb dan pemimpin tertinggi Vatikan Paus Fransiskus. Deklarasi ini merupakan hasil atas acara Pertemuan Persaudaraan Manusia yang digelar di Uni Emirat Arab. Acara ini dihadiri oleh 400 pemimpin keagamaan.

Prof Quraish Shihab dlm Forum Titik Temu

“Adil bukan sekedar memberi hak, (tapi juga) memberi hak dengan cara yang benar dan secepat mungkin. Menunda-menunda keadilan adalah kedzaliman,” kata mantan Menteri Agama ini.

Dalam ceramahnya, Quraish menyatakan memperlakukan seorang warga secara berbeda karena perbedaan agama, suku atau jenis kelamin itu merupakan bentuk ketidakadilan. Di sisi lain, ekstrimisme atau teror itu bukan merupakan keadilan.

Di antara banyak perbedaan di negeri ini, Quraish menyatakan Indonesia memiliki titik temu bernama Pancasila. “Kendati kita berbeda penafsiran tentang Ketuhanan Yang Maha Esa, kita semua menyembah Tuhan Yang Maha Esa. Kita semua menganut kemanusiaan yang adil dan beradab, dan kemanusiaan itu mendahului keberagaman dalam pandangan Islam,” kata Quraish.

diposting oleh gandatmadi46@yahoo.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.