Wabah Virus Corona, Mengapa Sejumlah Virus Berbahaya Muncul dari China?

Kompas.com – 24/01/2020

virus koronaPenulis Nur Fitriatus Shalihah | Editor Sari Hardiyanto

KOMPAS.com – Wabah virus corona pertama kali muncul di China. Dalam perkembangannya, virus jenis baru tersebut mulai menyebar luas. Setidaknya empat negara di Asia Tenggara telah mengumumkan kasus positif virus corona. Di Vietnam, dua orang asal “Negeri Panda” mendapat perawatan di rumah sakit setelah hasil tes menunjukkan mereka mengidap virus itu.

Sebelum ramai ditemukannya virus corona ini, China pernah digegerkan oleh SARS pada 2003-2004. Saat itu epidemi SARS disebabkan oleh kebiasaan orang China memakan musang. Kasus pertama SARS di dunia tercatat di Guangdong pada November 2002. Hal itu sebagaimana diberitakan Harian Kompas, 3 Januari 2004. Dilansir dari Organisasi Kesehatan Dunia, Centers for Disease Control and Prevention (CDC), SARS membunuh hampir 800 orang di dunia. Tidak hanya itu saja, virus H5N1, flu burung juga muncul di China pada 1997.Pertama kali terdeteksi pada angsa di Cina dan bermutasi ke manusia dari unggas yang terinfeksi.

Pola hidup

Menurut catatan CDC, flu burung menewaskan sekitar 455 orang dari seluruh dunia.

Lantas mengapa sejumlah virus berbahaya muncul di China? Konsultan infeksi RS Dr. Soetomo, Dr. dr. Dominicus Husada SpA.K. menjelaskan berbagai virus mematikan bisa muncul di China antara lain karena sejumlah hal.

Pertama mulai dari luasnya wilayah China, populasi China yang sangat besar, hingga pola hidup dan pola makannya tidak umum. “Pola hidup dan pola makan makanan eksotik itu populer di China,” ujarnya saat dihubungi Kompas.com, Jumat (24/01/2020).

Dominicus juga membenarkan bahwa beberapa virus yang mewabah berawal dari kebiasaan makan makanan yang tidak lazim. “Tepat. Itu yang dilakukan di Wuhan. Sempat menurun sejenak, lalu naik lagi (kasusnya),” kata dia. Dugaan sementara coronavirus di Wuhan berasal dari kelelawar. “Selama ini salah satu sumber utama penular virus-virus tak dikenal termasuk coronavirus adalah kelelawar,” imbuhnya.

Wabah virus

Dilansir dari South China Morning Post (22/01/2020), Pasar Makanan Laut Huanan adalah pasar yang menjadi sumber wabah virus ini. Di sana dijual 100 varietas hewan dan unggas hidup, mulai dari rubah hingga serigala, musang bertopeng, kepiting, udang, kura-kura, ular, tikus, landak, burung, dan banyak lagi.

Ada juga hewan hidup seperti katak harimau, ular, landak, dan satwa liar lainnya. Lebih lanjut, Dominicus mengatakan di China banyak yang langsung makan daging mentah. Cara makannya pun lebih brutal daripada Thailand. “Kalau (dagingnya) matang, risiko jauh lebih rendah,” katanya lagi.

Di Indonesia, lanjutnya, juga ada pasar yang menjual berbagai hewan tidak lazim untuk dikonsumsi, seperti di Tomohon, Sulawesi Utara. Namun menurutnya di sana belum pernah ada laporan kasus aneh. Di Tomohon itu juga dagingnya ada yang matang, tidak mentah seperti di Wuhan. “Saya kira kasus Wuhan ini lebih rumit karena ada penularan dari orang ke orang. Seandainya hanya dari hewan ke orang maka menutup pasar itu sangat membantu,” kata dia.

Isolasi pemerintah China

Kendati tengah ramai menjadi perhatian dunia, dirinya mengingatkan masyarakat tidak perlu terlalu takut.

Juga jangan salah fokus, karena sebenarnya masalah kesehatan di Indonesia banyak yang lebih serius daripada soal Wuhan. “Kalau bisa jangan makan yang enggak biasa dimakan,” lanjutnya. Saat disinggung terkait kemungkinan virus corona di Wuhan sampai ke Indonesia, imbuhnya sangat mungkin terjadi. Hal itu karena adanya pergerakan manusia dari satu tempat ke tempat lainnya.

Meskipun Pemerintah China sudah melakukan isolasi, terbukti sejumlah negara telah mengumumkan akan adanya kasus penyebaran virus corona tersebut. “Yang tertular tapi enggak berat gejalanya kan enggak kelihatan. Mereka tetap bisa menularkan. Tapi isolasi adalah jalan terbaik dari segi pencegahan penyebaran,” kata Dominicus.

Note:

Pada Jumat (25/1), China mengonfirmasi bertambahnya jumlah korban meninggal akibat virus corona -virus yang mirip SARS- . Korban meninggal menjadi 26 orang dan orang yang terinfeksi mencapai 830 orang. Sementara itu dari jumlah 830, berjumlah 177 di antaranya berada dalam kondisi serius. Sedangkan 34 orang lainnya diklaim sudah sembuh dan keluar dari rumah sakit.

diposting gandatmadi46@yahoo.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.