Krisis Kepimpinan

Nonton acara ILC tgl 30 Januari 2018, pemaparan Prof Salim Said mengingatkan kita kepada sejumlah peristiwa sejarah. Dalam peristiwa 17 Oktober 1952, KSAD AH Nasution bersama Kepala Staf Angkatan Perang TB Simatupang disertai sejumlah perwira seperti Kolonel Simbolon, Kolonel A.E. Kawilarang, Letnan Kolonel Kosasih, Letnan Kolonel S. Parman menghadap Presiden dengan tujuan agar menghentikan campur tangan sipil dalam urusan militer. Ide tersebut didukung oleh PM Wilopo dan Menhan Sri Sultan Hamengkubuwono ke IX namun ditentang oleh pihak oposisi di DPR dan mulai mengajukan wacana restrukturisasi terhadap organisasi Angkatan Perang.

BK tidak mau tunduk terhadap unjuk rasa para perwira militer tersebut, sebagai konsekwensi AH Nasution dan TB Simatupang berhenti. Pada bulan 27 Oktober 1955 pak Nas(AH Nasution) diangkat kembali menjadi KSAD. Pada tahun2 tersebut BK mewacanakan sistem Demokrasi Terpimpin. Didalam ide tersebut BK tidak hanya mengakhiri peran seremonial sebagai presiden, tetapi juga meningkatkan pengaruh dan kekuasaan militer. Dalam pengaturan ini, panglima daerah mampu mencampuri urusan sipil seperti ekonomi dan masalah administrasi. Atas perintah dari Soekarno sendiri, tentara juga mulai berpartisipasi dalam politik, mengisi posisi yang menteri kabinet hingga gubernur provinsi dan bahkan anggota DPR. Pada bulan Desember 1957, Nasution semakin meningkatkan peran tentara dengan memerintahkan para tentara untuk mengambil alih perusahaan-perusahaan Belanda yang baru dinasionalisasi. Selain meningkatkan peran tentara, langkah ini juga dirancang untuk menghentikan pengaruh PKI yang semakin kuat. Demikian cuplikan dari artikel blogweb kumpulanstudi-aspirasi.com Jendral Besar AH Nasution tertanggal 29 Oktober 2017.

Di acara ILC tersebut Prof Salim Said juga menyinggung generasi Akademi Militer merasakan kekecewaan bagaimana Jendral (purn) Soeharto sebagai Presiden memanfaatkan militer untuk melanggengkan kekuasaannya. Pemikiran seperti itu berkembang dikalangan siswa AKABRI diantaranya Agus Wirahadikusuma alm, SBY, Prabowo, Riamizard. Kemudian Menhan Wiranto memerintahkan kepada Let jen SBY dan Letjen Agus Widjojo merancang konsep mengakhiri peran sospol ABRI. Agus Widjojo sebagai ketua fraksi ABRI pada 1998 secara resmi mengundurkan diri.

Karni Ilyas dalam acara ILC semalam melakukan wawancara jarak jauh  dengan Agus Widjojo, Gubernur Lemhanas yang berada di AS, beliau di AS atas undangan USINDO  Washington DC.  Selanjutnya Prof Salim Said mengetengahan degan kocak tentang sejumlah kelucuan, disebutkan ada perwira tinggi AD menjadi Wagub kemudian bentrok dengan Gubernurnya, ada Panglima Kostrad mengajukan pensiun langsung maju dalam Pilkada di Sumut. Di sejumlah negara seperti AS disyaratkan minimum 2 tahun diperbolehkan alih profesi seperti itu.

Acara ILC semalam menguatkan asumsi saya bahwa sebagai akibat pemerintahan Orba selama 36 tahun praktis proses kaderisasi untuk memunculkan pemimpin terhenti dan sebagai akibatnya kita alami sekarang. Di era reformasi terjadi pergeseran kekuasaan politik jika dulu heavy di pihak excecutive menjadi heavy di DPR. Apa yang terjadi adalah kekuasaan para elit parpol berlebihan dengan banyak contoh.

Monggo untuk menyimak potongan video di acara ILC tgl 30Januari 2018 semalam.

Dikumpulkan oleh Gandatmadi

Leave a Reply

Your email address will not be published.