Mengatasi Konflik

Sejumlah artikel  menulis bahwa untuk mengatasi konflik mesti dicari The root of Conflicts. Susan Elizabeth Rice (lahir 17 November 1964), yg di tunjuk President Obama sebagai Dubes AS untuk PBB (2013 – 2014), menulis artikel: Root causes of violent conflict in developing countries

Penelitian akademis baru-baru ini juga menunjukkan bahwa negara-negara dengan pendapatan per kapita rendah berisiko lebih tinggi mengalami konflik sipil. Menurut OECD, pada tahun 2002 “lebih dari dua pertiga negara termiskin di dunia [berada] dalam konflik.” Konflik ini pada gilirannya dapat menjadi sink holes yang mengguncang seluruh kawasan, seperti yang terjadi di Liberia dan Kongo pada 1990-an, dan seperti yang mengancam krisis di Darfur saat ini.

Zona konflik ini telah dieksploitasi oleh teroris untuk memikat prajurit dan melatih kader baru – seperti di Bosnia, Filipina, dan Asia Tengah. Di Sudan dan Afghanistan yang dilanda konflik, Al-Qaeda pertama kali mendirikan kamp pelatihan, membiakkan sekitar 20.000 militan yang sekarang beroperasi di Asia Selatan dan Tenggara, Afrika, Eropa, dan Western Hemisphere.

Sementara itu terdapat artikel di US National Library of Medicine  National Institutes of Health thn 2002  dengan  judul Root causes of violent conflict in developing countries al menulis:

Banyak kelompok orang yang berkelahi menganggap diri mereka sebagai bagian dari budaya yang sama (etnis atau agama), dan sebagian dari alasan mereka berperang mungkin untuk mempertahankan otonomi budaya mereka. Karena alasan ini, ada kecenderungan untuk mengaitkan perang dengan hasrat etnis “primordial” (primordial” ethnic passions), yang membuatnya tampak sulit diatasi. Namun, pandangan ini tidak benar, dan mengalihkan perhatian dari faktor penting mengenai ekonomi dan politik  yang mendasarinya.

Meskipun budaya seseorang sebagian hasil warisan, ia juga dibangun dan dipilih (constructed and chosen, dan banyak orang memiliki multiple  identitas. Banyak identitas etnis di Afrika yang saat ini tampak begitu kuat “diciptakan” oleh kekuatan kolonial untuk tujuan administratif dan hanya dimiliki asal-usul yang lemah di Afrika prakolonial. Batas-batas mereka umumnya tidak tetap, dan dengan tepat digambarkan sebagai “kumpulan kabur” (fuzzy sets).

Dalam perang, para pemimpin politik mungkin dengan sengaja “mengolah kembali ingatan sejarah” untuk memunculkan atau memperkuat identitas ini dalam persaingan untuk mendapatkan kekuasaan dan sumber daya. Misalnya, dalam konflik di Matebeland pasca kemerdekaan Zimbabwe, identitas Ndebele digunakan untuk memajukan tujuan politik. Contoh terkenal lainnya termasuk Nazi di Jerman, Hutu di Rwanda dan hari ini , penekanan pada kesadaran Muslim oleh Taliban dan lainnya.

Open Space Principles

Terdapat metode lain untuk mengatasi konflik yg disebut Open Space Principles. Syaratnya

  • A real issue of concern. (problem riil dan nyata)
  • Diversity of players.(Beraneka ragam yg berkonflik)
  • Complexity of elements. (Masalah yg kompleks)
  • Presence of passion (including conflict) (Adanya nafsu untuk konflik)
  • A need for a quick decision.(Kebutuhan untuk mengatasi secepatnya).

Note: Apakah kita menghadapi konflik dengan kriteria diatas ???

Dari sejumlah nara sumber informasi dan diposting oleh gandatmadi46@yahoo.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.