Female athletes with naturally high testosterone levels face hurdles under new IAAF rules

Sebelum membuat ringkasan tulisan Allyson Chiu dari The Washington Post tgl 27April 2018 dengan judul diatas perlu penjelasan ringkas  mengenai testosteron:

Penghasil utama testosteron adalah testis pada jantan dan indung telur (ovari) pada betina Hormon ini merupakan hormon seks jantan utama dan merupakan steroid anabolik. Baik pada jantan maupun betina, testoren memegang peranan penting bagi kesehatan. Fungsinya antara lain adalah meningkatkan libido, energi, fungsi imun, dan perlindungan ada terhadap osteoporosis. Secara rata-rata, jantan dewasa menghasilkan testosteron sekitar dua puluh kali lebih banyak daripada betina dewasa. Hormon ini juga berperan dalam bertambahnya hormon adrenalin yang menyebabkan ketertarikan atau kekaguman terhadap lawan jenis.

Ringkasan

Atlit atletik wanita dan atlet lapangan, yang secara alami menghasilkan jumlah testosteron di atas normal, menerima berita yang mengecewakan pada hari Kamis. Agar memenuhi syarat untuk berlomba dalam kompetisi internasional di masa depan, mereka dapat dipaksa untuk minum obat untuk menurunkan kadar testosteron mereka atau, jika mereka tidak ingin mengubah kimia tubuh mereka, bersaing dengan pria.

Asosiasi Federasi Atletik Internasional (IAAF) mengumumkan peraturan baru yang dapat mencegah atlet wanita yang memiliki kondisi yang disebut hiperandrogenisme untuk berkompetisi dalam acara mulai dari 400 meter hingga satu mil kecuali jika mereka mengurangi tingkat testosteron darah mereka dengan menggunakan kontrasepsi hormonal, seperti kontrol kelahiran . Atlet tidak akan diharuskan untuk menjalani jenis operasi apa pun untuk memenuhi persyaratan kelayakan..

Banyak penggemar olahraga dan atlet lain marah dengan pengumuman tersebut, dengan alasan peraturan itu diskriminatif, seperti Caster Semenya Afrika Selatan, peraih medali emas Olimpiade dua kali dalam 800 meter. Semenya, yang memiliki hiperandrogenisme dan spesialisasi perlombaan yang termasuk dibatasi, mungkin bakal  terpengaruh dengan  ketentuan IAAF.

Aturan, yang diharapkan mulai berlaku 1 November 2018, mengharuskan atlet untuk menurunkan dan mempertahankan kadar testosteron mereka hingga tidak lebih dari 5 nanomol per liter darah, kata IAAF. Itu setengah dari jumlah yang sebelumnya diizinkan.

Alternatif untuk atlet wanita yang memilih untuk tidak menurunkan kadar testosteron mereka dikatagorikan bersaing melawan pria, dan dibatasi ke lomba  nasional, atau beralih ke jarak yang lebih pendek atau lebih jauh, atau balap dalam acara untuk atlet interseks (asalkan kategori tersedia), kata pernyataan itu.

Presiden IAAF Sebastian Coe mengatakan dalam pernyataannya bahwa peraturan itu dimaksudkan untuk “memastikan persaingan yang adil dan bermakna dalam olahraga atletik di mana kesuksesan ditentukan oleh bakat, dedikasi, dan kerja keras daripada faktor-faktor pendukung lainnya.”

“Bukti dan data kami menunjukkan bahwa testosteron, baik yang diproduksi secara alami atau secara buatan dimasukkan ke dalam tubuh, memberikan keuntungan kinerja yang signifikan pada atlet wanita,” kata Coe.

Kebanyakan wanita, termasuk atlet wanita elit, biasanya memiliki kadar testosteron mulai dari 0,12 dan 1,79 nanomol per liter darah, kata dokumen. Pada pria, kadar normal bisa sebanyak 29,4 nanomol per liter. Atlet wanita dengan hiperandrogenisme dapat memiliki jumlah yang mirip dengan pria, 20 atau 25 nanomol per liter, menurut sebuah tweet dari IAAF.

Wanita dengan kadar testosteron yang meningkat, jumlah antara lima dan 10 nanomol per liter, diyakini memiliki keunggulan kompetitif, karena penelitian menunjukkan mereka memiliki peningkatan massa otot 4,4 persen, peningkatan kekuatan otot 12 hingga 26 persen, dan peningkatan kekuatan otot 7,8 persen peningkatan hemoglobin, yang mengangkut oksigen ke sel darah merah, menurut dokumen IAAF.

Sementara Chand dan Semenya mungkin nama pertama yang muncul di benak ketika memikirkan atlet wanita dengan hiperandrogenisme, Stephane Bermon, kepala departemen kesehatan dan sains IAAF, mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa banyak orang lain yang memiliki kondisi tersebut.

“We have seen in a decade and more of research that 7.1 in every 1000 elite female athletes in our sport have elevated testosterone levels, the majority are in the restricted events covered by these regulations,” Bermon said. “This is around 140 times what you will find in the general female population which demonstrates to us in statistical terms a recruitment bias.”

terjemahan bebas oleh gandatmadi46@yahoo.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.