Escaping the National Middle-Income Trap

Pembicaraan mengenai Middle Income Trap ( MI Trap ) tetap berlangsung secara intens. September 2016 Noah Smith, columunist Bloomberg serta asistant professor of finance pada Story Book University menulis pendek dengan judul Escaping the National Middle Income Trap. Tulisan Noah Smith bisa mewakili sejumlah tulisan para pakar lainnya.  Smith mengutip data World Bank tahun 2014 katagori National Income sbb :

  1. National Low Income : Negara dengan Income per Capita dibawah $ 1,046
  2. National Middle Income : Negara dengan Income per capita antara $ 1,046 – $ 12,745 Malaysia, Indonesia, India, RRC masuk katagori ini.
  3. National High Income : Negara2 yg meloncat ke katagori ini adalah Ireland, Israel, South Korea dan Spain

Sri Mulyani dalam pidatonya di Ultah Media Indonesia pada 19 Januari 2017 menekankan bahwa jumlah penduduk miskin  negara kita di angka seputar 30 juta orang ( menurut BPS ) dan itu sudah berlangsung tahunan, persentasi orang miskin mengecil karena PDB kita kini pada $ 1.100 Billion dan Income per capita pada $ 3 000 – $ 5 000  sedangkan pada tahun 2006 pada $ 1.590  Billion per capita. Sehingga untuk mengentaskan orang melarat 30 juta orang kita perlu keluar dari MI Trap.  Beberapa cara bisa dilakukan diantaranya dengan program Kartu Pintar plus dan Kartu Sehat.

Cara lain yg menurut saya juga efektif adalah memindahkan hunian penduduk miskin di kota2 besar dari wilayah kumuh ke perumahan layak huni. Dengan demikian hasil karya mereka mempunya akses dengan penduduk yg lebih makmur. Anak2 mereka bisa bersekolah dengan anak2 yg lebih mampu.  Anak2 mereka bisa memperoleh fasilitas yg memadai. Terbukti proyek Kartu Sehat dan Kartu Pintar menciptakan lapangan kerja dengan banyaknya proyek2 membangun  Rumah Sakit dan Sekolah.

Secara ekonomi untuk menaikkan growth ada faktor penting yaitu produktivitas kerja dan lowongan kerja. Perlu dihindari produktivitas kerja naik misalnya karena teknologi mengakibatkan bertambahnya pengangguran. Perlu dicatat growth PDB sebesar 5 % tidak cukup untuk menambah lapangan kerja, minimal pada angka 7 %.

Rumus pertama yg wajib untuk growth adalah Optimisme

Hampir semua teori dan metode studi pembangunan ekonomi medepankan faktor optimisme tanpa itu segala macam metode dan teori sia2. Produsen akan menambah produksinya jika optimis produknya dibeli konsumen. Karyawan tidak mengurangi belanja bulanan karena optimis bulan depan tetap bekerja. Rekanan Industri tetap produktif karena optimis mitra bisnisnya akan menyerap produk dan jasa mereka. Kegiatan R&D akan bekerja karena ada optimisme.

Faktor optimisme masyarakat penting karena konsumsi sebesar 55 % dari PDB sehingga kalau masyarakat mendadak mengurangi konsumsi yg terpengaruh adalah PDB.  Faktor penting lainnya adalah Investasi oleh sebab itu dibutuhkan kepastian usaha terutama untuk investor asing. Pihak kita apakah Pemerintah, BUMN, swasta nasional serta pihak asing wajib mematuhi perjanjian yg dibuat. Spirit dari agreement adalah sukses yg menguntungkan masing2 pihak terkait. Kita harus berani melakukan koreksi bahwa kontrak masa lalu yg tidak menguntungkan karena kesalahan kita.

onths of the year 2014, China invested $6.3 billion into higher value-added technology companies, with more than four-fifths going to the U.S.,

Rumus kedua untuk growth adalah meningkatkan Produktivitas

Perlu usaha menghapus sad stories, kita kaya akan hutan tetapi kini hutan sudah pada gundul permesinan untuk industri hutan masih impor. Kita negara agraris alat2 pertanian masih banyak impor. Kita negara maritim kaya akan ikan tetapi peralatan untuk menangkap ikan masih banyak yg impor.

Perusahaan yg memasok peralatan2 untuk sektor hutan, untuk alat2 pertanian, untuk penangkapan ikan kapasitasnya belum banyak berubah sebatas front end engineers, tenaga ahlinya masih sepenuhnya ditangan principles bahkan masih sebagai subagent perusahaan2 di Singapore.  Kita belum meloncat dari strategi substitusi import.

Kita perlu mengenal apa yang sudah di capai dan rencana RRC ke depan :

The government of the People’s Republic of China (PRC) has launched a comprehensive effort to become an innovative nation by 2020 and a global scientific power by 2050.

China’s effort will draw significantly on the resources and planning role of the state, whose national science programs have long made targeted investments in research and development (R&D) efforts in areas deemed critical to China’s economic and military needs.

The China & Globalization Center report also notes the changing focus of Chinese companies investing abroad. It says that the traditional cornerstone of energy and resource investments is shifting, as money flows to high-technology companies. During the first six months of the year 2014, China invested $6.3 billion into higher value-added technology companies, with more than four-fifths going to the U.S.,

Chinese leaders have made clear their intention of using state funds to acquire technological capabilities overseas and bring them home, and a series of purchases in recent years have highlighted that strategy.

More than $10 billion of deals involving Chinese companies are still in the pipeline, include Lenovo’s $2.9 billion acquisition of Motorola Mobility and Anbang Insurance’s purchase of the Waldorf Astoria hotel in New York for $1.95 billion

Rumus ketiga adalah Fokus

Masing2 institusi bisnis  memiliki kekhususan sehingga penanganannya juga spesifik.  Analoginya depot reparasi untuk  HP dengan Laptop berbeda, Laptop dengan CPU berbeda. Teknisi untuk memperbaiki Laptop Mac menolak kalau spesialisasinya memperbaiki Windows.  Refinery untuk Oil dan Gas berbeda untuk Fatty Alcohol ( bedanya seperti CPU dengan Laptop ).

Pada era 1979 – 1980 turnover karyawan di perusahaan2 besar swasta  di Indonesia seputar 4 tahun bekerja hanya beberapa persen yg bertahan tahunan sampai pensiun. Kini secara sepintas lebih pendek masa kerjanya. Faktor cepat berpindah karena untuk perbaikan nasib atau karir. Penyebab sesungguhnya perlu penelitian yg komplit sebab bisa misleading.

Sistem management dari USA cocok untuk perusahaan Belanda tetapi sangat tidak cocok untuk perusahaan Perancis dan Itali. Bonus diberikan karena prestasi pribadi kalau menurut sistem US namun menjadi kontra produktif kalau di terapkan di perusahaan Perancis yg bekerjanya sifatnya bersama sama atau team work. Jepang berhasil menciptakan sistem management ala Jepang sesuai dengan kultur mereka seperti jika menghadapi problem di atasi bareng2, team work.

Kerja individu atau solo tidak selalu tidak produktif demikian halnya kerja bersama sama. Solusinya yg terbaik adalah menemukan problem yg sebenarnya. Dari pengamatan sepintas para arsitek memilih bekerja sendiri kalau ada umumnya pada taraf magang setelah itu mendirikan sendiri perusahaan kecil dibantu oleh beberapa tenaga keuangan dan draftman.  Demikian halnya dengan periklanan berbeda dengan era sebelum tahun 2000, terdapat nama2 besar periklanan. Kini bertebaran perusahaan2 kecil dengan spesifikasi khusus. Perbankan misalnya memilih jasa advertising bermitra dengan perusahaan2 kecil dengan spesialisasi khusus.

Penelitian World Bank seputar tahun 2006 berjudul Knowledge  Diffusion in The Tegal Metalworking Industri  menemukan sejumlah informasi yg mengejutkan……….

Though well-intentioned, government training has produced minimal measurable results to date and many firms complain that it does not target their needs.

Government efforts to develop supporting institutions, including a laboratory and a polytechnic, have had some promising results though it is too early to draw conclusions regarding the success of this approach.

Gandatmadi46@yahoo.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.