How will Indonesia fare in PISA 2018?

Asean Post tgl 15 Desember 2019  memuat artikel tulisan Sheith Khidhir tgl 23 Agustus 2018 dengan judul diatas.

Background

Perkenankan terlebih dulu menyinggung sepintas tentang PISA adalah Program Penilaian Pelajar Internasional (Program for International Student Assessment) adalah penilaian tingkat dunia yang diselenggarakan tiga-tahunan, untuk menguji performa akademis anak-anak sekolah yang berusia 15 tahun, dan penyelenggaraannya dilaksanakan oleh Organisasi untuk Kerjasama dan Pengembangan Ekonomi (OECD). Tujuan dari studi PISA adalah untuk menguji dan membandingkan prestasi anak-anak sekolah di seluruh dunia, dengan maksud untuk meningkatkan metode-metode pendidikan dan hasil-hasilnya.

 PISA secara spesifik mengukur kinerja skolastik  para murid dibidang membaca, matematika, dan literasi sains setiap tiga tahun. … PISA juga mencakup ukuran kompetensi umum atau lintas-kurikuler, seperti pemecahan masalah kolaboratif.

PISA 2018 menilai sains, membaca, dan literasi matematika siswa di sekitar 80 negara dan sistem pendidikan. Pertanyaan tes tidak mengukur menghafal fakta, tetapi menuntut murid untuk menggunakan pengetahuan dan keterampilan memecahkan masalah dunia nyata.Tes PISA diberikan kepada anak berusia 15 tahun di 65 negara, tanpa memandang tingkat, prestasi, dan status sosial ekonomi.

American schools were unquestionably the best in the world—that is, until data showed otherwise in recent years. Research from the Organisation for Economic Cooperation and Development (OECD) reveal that American student achievement is stagnant, while Asian countries are on the rise.

Asia Society yg berkantor pusat di NY USA merilis hasil survei sbb:

1.2019 International Summit on the Teaching Profession, which focused on the future of teaching and learning.

2.2018 International Summit on the Teaching Profession, which focused on new challenges and opportunities for educators in public education.

3.2017 International Summit on the Teaching Profession focused on sustainable excellence and equity in learning.

4.The 2016 International Summit on the Teaching Profession looked to answer this question.

How will Indonesia fare in PISA 2018?
(Bagaimana Indonesia menyikapi hasil  PISA 2018)

Oleh Sheith Khidhir tgl 23 Agustus 2018

Program untuk Penilaian Siswa Internasional (PISA) akan meluncurkan hasilnya untuk 2018 sekitar tahun depan. Ketika itu terjadi, salah satu negara dari Perhimpunan Bangsa Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) yang akan menjadi fokus adalah Indonesia.

Hasil PISA untuk 2015, Indonesia bernasib buruk dalam matematika, membaca, dan sains dibandingkan dengan semua negara anggota ASEAN lainnya yang terlibat dalam penelitian ini. Untuk matematika, Indonesia berhasil mencetak 386 poin, untuk membaca, negara itu mencetak 397 poin, dan untuk sains, Indonesia hanya mencetak 403 poin.

Dari 70 negara yang diulas pada tahun 2015, Indonesia berada di peringkat ke-62. Namun, ini masih merupakan peningkatan dibandingkan dengan peringkatnya dari 63 dari 65 negara dalam hasil PISA 2012. Dibandingkan dengan beberapa negara ASEAN lainnya, Singapura berada di peringkat 1 pada 2015 dan 2 di 2012. Thailand berada di peringkat ke-55 pada 2015 dan ke-48 pada 2012.

Jadi mengapa Indonesia tertinggal? Sebuah laporan baru-baru ini yang berjudul, Beyond access: Making Indonesia’s education system work dari Lowy Institute yang berbasis di Sydney menemukan bahwa salah satu problem  utama dengan sistem pendidikan Indonesia bersumber dari “politik dan kekuasaan”.

The report claims that there is little incentive for old elites to drastically overhaul the education system, arguing that they would rather exploit it to “accumulate resources, distribute patronage, mobilise political support, and exercise political control.”

(Laporan tersebut mengklaim bahwa ada sedikit insentif bagi elit lama untuk merombak sistem pendidikan secara drastis, dengan alasan bahwa mereka lebih suka mengeksploitasinya untuk “mengakumulasi sumber daya, mendistribusikan perlindungan, memobilisasi dukungan politik, dan menggunakan kontrol politik.”)

The United Nations Children’s Fund (UNICEF) Indonesia mengatakan bahwa di daerah pedesaan dan terpencil di Indonesia, layanan pengembangan anak usia dini tidak ada, tidak dapat diakses atau tidak terjangkau oleh sebagian besar anak, yang berarti mereka kehilangan kesempatan belajar awal yang berharga dan peluang pengembangan yang diterima oleh rekan-rekan kota mereka .

Seolah ini bukan masalah yang cukup besar, UNICEF Indonesia juga menunjukkan bahwa negara ini terletak di salah satu hotspot bencana paling aktif di dunia dengan bencana mulai dari tsunami, gempa bumi dan letusan gunung berapi hingga tanah longsor, banjir, kekeringan dan kebakaran hutan.

UNICEF Indonesia melaporkan, “Dari 34 provinsi di Indonesia, 30 di antaranya berisiko tinggi dan empat di zona berisiko sedang. Sebagian besar bencana memengaruhi sekolah. Selama periode 2014-2016, bencana besar mempengaruhi lebih dari 31.000 sekolah di Indonesia.

Baru-baru ini, Otoritas Nasional Penanggulangan Bencana Indonesia mengatakan lebih dari 600 fasilitas pendidikan telah rusak di Lombok sebagai akibat dari serangkaian gempa antara 29 Juli dan 9 Agustus. Kementerian Pendidikan Indonesia mengatakan angka ini termasuk 341 sekolah dasar dan 124 prasekolah. Lombok adalah rumah bagi lebih dari 3,3 juta orang termasuk ribuan anak yang bersekolah.

Upaya di bidang pendidikan

Ada upaya yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia untuk memerangi tantangan pendidikan di negara ini. Pada tanggal 23 Juli, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia Profesor Muhadjir Effendy mengadakan pertemuan bilateral dengan Menteri Pendidikan Vietnam dan Training Professor Phung Xuan Nha di Hanoi.

Pertemuan bilateral menegaskan kembali komitmen kedua negara untuk melanjutkan implementasi nota kesepahaman (MoU) tentang kerja sama pendidikan yang ditandatangani pada 23 Agustus 2017. Harapannya adalah bahwa dari pertemuan ini, kerja sama antara kedua negara dalam hal pendidikan akan diperkuat, terutama dalam pelatihan kejuruan dan peningkatan kapasitas guru.

Baru-baru ini, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Indonesia berlangganan basis data jurnal elektronik ilmiah yang dapat diakses oleh para peneliti, dosen universitas, mahasiswa, dan lembaga pemerintah non-kementerian secara gratis. Berlangganan dengan biaya 14,8 miliar rupiah (US $ 1 juta) untuk tahun ini saja, semoga akan membantu akademisi Indonesia menghasilkan penelitian dan jurnal ilmiah asli.

Apakah upaya pemerintah Indonesia untuk meningkatkan kondisi pendidikan di negara ini akan membuahkan hasil atau belum, tetapi harapan tinggi saat penghitungan dimulai untuk survei PISA 2018. Sangat mungkin bahwa banyak orang Indonesia berharap bahwa negara mereka akan dapat menaikkan peringkatnya setidaknya dengan beberapa tingkat

Hasil PISA 2018

Pemaparan hasil PISA 2018 untuk Indonesia disampaikan Yuri Belfali (Head of Early Childhood and Schools OECD) dan Totok Suprayitno (Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kemendikbud) di Jakarta, Selasa (3/12/2019). Totok menjelaskan, pengukuran PISA yang dilakukan OECD melibatkan 12.098 peserta didik dari 399 sekolah di beberapa wilayah Indonesia yang dianggap mewakili. Tes PISA 2018 mulai beralih dari penilaian berbasis kertas menjadi berbasis komputer. “Domain yang diukur adalah membaca, selain itu dilakukan juga penilaian matematika, sains, literasi keuangan, kompetensi global.

  1. Kemampuan baca siswa rendah Yuri Belfali (Head of Early Childhood and Schools OECD) dalam paparan awalnya menyampaikan, kemampuan baca siswa Indonesia berada dalam kelompok kurang bersama dengan negara-negara seperti Saudi Arabia, Maroko, Kosovo, Republik Dominika, atau Kazakhstan dan Filipina.
  2. Skor matematika dan sains di bawah rata-rata. Rerata skor PISA negara anggota OECD untuk matematika dan sains 489. Pada tahun 2018 skor PISA Indonesia untuk matematika berkisar di angka 379 dan sains di skor 396. Sebagai pembanding, China dan Singapura menempati peringkat tinggi untuk skor matematika dengan skor 591 dan 569.
  3. Alami tren penurunan kemampuan. Untuk kemampuan baca, skor Indonesia di awal mengikuti tes PISA 371 dan mengalami peningkatan 382 (tahun 2003), 393 (tahun 2006), dan 402 (tahun 2009), kemudian terus mengalami penurunan 396 (tahun 2012), 397 (tahun 2015), dan titik terendah 371 (tahun 2018).Demikian pula dengan capaian kemampuan matematika yang jika tidak berhati-hati akan mengalami penurunan. Tahun 2003, capaian skor PISA matematika di angka 360, naik menjadi skor 371, serta 375 tahun 2009 dan 2012. Setelah puncak tahun 2015 di tahun dengan skor 386, skor PISA matematika Indonesia kembali turun di angka 379.Capaian kemampuan sains PISA siswa Indonesia yang sempat berada di angka 393 (tahun 2006), turun di angka 383 (tahun 2009) dan 382 (tahun 2012), kemudian naik lagi tahun 2015 dengan skor 403. Sayangnya, skor kemampuan sains kita kembali mengalami penurunan di laporan terakhir PISA tahun 2018 di angka 396.
  4. Hanya 30 persen siswa Indonesia yang memenuhi kompetensi kemampuan baca minimal. Demikian pula dengan komprtensi matematika, di mana masih 71 persen berada di bawah kompetensi minimal. Sedangkan untuk sains, sebanyak 40 persen siswa Indonesia masih berada di bawah kemampuan minimal yang diharapkan.
  5. Lagi, soal pemerataan mutu – Hasil PISA 2018 menunjukkan, capaian siswa di Jakarta dan Yogyakarta berada di mendekati nilai rata-rata OECD dan dapat disejajarkan dengan Malaysia dan Brunei untuk seluruh bahan uji PISA literasi baca, matematika, dan sains. DKI dan Yogyakarta meraih skor 410 dan 411 untuk baca, 416 dan 422 untuk matematika, serta 424 dan 434 untuk sains. Dengan total hasil seluruh wilayah Indonesia yang rendah, hal ini menunjukkan masih tingginya gap/jarak mutu pendidikan antarwilayah di Indonesi.


    dari sejumlah sumber informasi

    gandatmadi46@yahoo.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.