The Nobel Prize in Economic Sciences 2008

This year’s Laureate is awarded the Prize to Paul Krugman

for his  research on international trade and economic geography.

By having shown the effects of economies of scale on trade patterns

and on the location of economic activity, his ideas have given rise to an extensive reorientation of

the research on these issues.

International Trade and Economic Geography

Bagaimana kita terpengaruh oleh globalisasi? Apa efek dari perdagangan bebas? Mengapa semakin banyak orang berduyun-duyun ke kota-kota besar, sementara daerah pedesaan jumlah penduduknya berkurang?

Pertanyaan-pertanyaan ini tidak bisa dijawab tanpa landasan teoritis. Untuk waktu yang lama, analisis perdagangan luar negeri didasarkan pada teori mapan ( well-established theory  ) yang menjelaskan mengapa beberapa negara mengekspor barang tertentu dan mengimpor yang lain. Setelah Perang Dunia II, bagaimanapun, menjadi semakin jelas bahwa pola perdagangan yang penting tidak sesuai dengan teori tersebut. Pada tahun 1979, ekonom AS Paul Krugman mengajukan sebuah model baru yang memberikan penjelasan yang lebih baik untuk pola yang diamati.

Dalam penelitian selanjutnya, Krugman telah menunjukkan bahwa model yang awalnya dikembangkan untuk perdagangan internasional juga dapat digunakan untuk mengklarifikasi isu-isu kunci dalam geografi ekonomi. Dalam konteks perdagangan luar negeri dan geografi ekonomi, tujuannya adalah untuk menjelaskan barang apa saja yang diproduksi di mana. Teori geografi ekonomi juga mencoba untuk menentukan kekuatan dimana tenaga kerja dan modal berada di tempat-tempat tertentu dan bukan di tempat lain.

Traditional Foreign Trade

Pada awal 1800-an, ekonom Inggris David Ricardo meluncurkan teori tentang apa yg disebut keunggulan komparatif untuk menjelaskan jangkauan dan komposisi perdagangan internasional. Teori ini, yang telah diperluas selama tahun 1920 dan 1930 oleh ekonom Swedia Eli Heckscher dan Bertil Ohlin, menyiratkan bahwa perdagangan luar negeri didasarkan pada sejumlah perbedaan antar negara. Ricardo mempelajari negara-negara yang berbeda dalam hal teknologi. Heckscher-Ohlin mengkaji negara-negara yang berbeda dalam hal akses terhadap faktor produksi; Beberapa negara memiliki pasokan tenaga kerja yang relatif melimpah tapi kelangkaan modal, padahal sebaliknya berlaku di negara lain. Hasilnya adalah beberapa negara harus mengkhususkan diri dalam export, misalnya, produk industri dan produk pertanian impor – dan sebaliknya.

Sejak awal, teori ini nampaknya mampu menjelaskan sebagian besar perdagangan internasional. Selama setengah abad terakhir, bagaimanapun, para peneliti mengamati penyimpangan yang semakin besar dari pola perdagangan yang diprediksi oleh Ricardo dan Heckscher-Ohlin. Perdagangan intra-industri yang disebut telah berkembang, khususnya di antara negara-negara kaya. Perdagangan semacam itu menyiratkan bahwa sebuah negara mengekspor dan mengimpor barang kurang lebih sama. Sebuah negara seperti Swedia, misalnya, ekspor dan impor mobil. Ini tidak sesuai dengan teori keunggulan komparatif kecuali produksi mobil Volvo memerlukan teknologi yang sama sekali unik, atau suatu kombinasi yg sama sekali berbeda tentang  tenaga kerja dan modal dibandingkan , misalnya, produksi mobil BMW. Tapi hal ini nampak sangat tidak mungkin.

Hampir 30 tahun yang lalu, Krugman memperkenalkan teori perdagangan internasional yang sama sekali baru. Ini dimaksudkan untuk menjelaskan munculnya perdagangan intra-industri dan didasarkan pada basis skala ekonomi ( economic of scale ) dimana produksi massal mengurangi biaya per unit yang dihasilkan. Gagasan dasarnya agak jelas, namun langkah mulai dari spekulasi hingga teori yang ketat dan kohesif menjadi sangat penting – dan inilah langkah yang dilakukan Krugman dalam artikel singkat 10 halaman di Journal of International Economics pada tahun 1979.

Consumers Appreciate Diversity ( keragaman )

Selain skala ekonomi dalam produksi, teori baru Krugman didasarkan pada asumsi bahwa konsumen menghargai keragaman dalam konsumsi mereka. Pada saat itu, hal ini adalah konsep yang agak baru di bidang ekonomi, namun tampaknya sesuai dengan kenyataan. Memang, sebagian besar dari kita telah menyaksikan keragaman yang lebih besar dalam penyediaan komoditas yang ada. Sebagai konsumen, kita terus-menerus tergoda oleh semakin banyaknya merek, meskipun kita mungkin merasa bahwa mobil standard, jins standar atau pasta gigi standar sudah cukup. Setelah kebutuhan dasar akan makanan dan perumahan kita terpuaskan, nampaknya kita memilih keragaman dan variasi dalam konsumsi kita.

Dua tahun sebelumnya, pada tahun 1977, Avinash Dixit dan Joseph Stiglitz telah menerbitkan sebuah model untuk menganalisis preferensi konsumen terhadap keragaman produk. Menurut model ini,setiap produsen, yang bekerja di bawah tingkat pengembalian yang meningkat, menjadi perusahaan monopoli dalam hal mereknya sendiri, meskipun ia menghadapi persaingan yang ketat dari merek lain.

Model seperti itu dapat digunakan untuk menunjukkan bahwa perdagangan luar negeri akan muncul tidak hanya antar negara yang berbeda (seperti teori tradisional), tapi juga antar negara yang identik dalam hal akses terhadap teknologi dan faktor resources atau endowments. Selain itu, dapat ditunjukkan terjadi kegiatan perdagangan intra-industri yang luas. Sebenarnya, menguntungkan bagi sebuah negara untuk mengkhususkan diri dalam pembuatan spesifikasi mobil c, untuk pasar dunia, sementara negara lain mengkhususkan diri pada merek mobil yang berbeda.

 Hal ini memungkinkan setiap negara untuk mengambil keuntungan yang efektif dari economic of scale, sehingga memberi keuntungan  kepada konsumen di seluruh dunia karena harga yang lebih rendah dan keragaman produk yang lebihbanyak, dibandingkan dengan situasi di mana masing-masing negara hanya memproduksi untuk pasar domestiknya sendiri, tanpa perdagangan internasional.

Artikel awal Krugman singkat dan lugas. Karena kesederhanaannya, komunitas riset internasional dapat dengan cepat diyakinkan karena langsung kepada mekanisme ekonomi. Dalam banyak artikel dan buku berikutnya, Krugman sendiri, dan juga peneliti lainnya, telah menyumbangkan teorinya dengan realisme yang lebih besar. Saat ini, pandangan umum  berpendapat bahwa mekanisme dasar yang ditentukan oleh Krugman merupakan pelengkap penting teori tradisional Heckscher-Ohlin. Kenyataannya, seperti dalam banyak kasus lainnya, mencakup keseluruhan teori. Hal ini telah menghasilkan penelitian empiris yang menarik yang bertujuan untuk menentukan sejauh mana perdagangan luar negeri dapat dijelaskan oleh teori-teori sebelumnya dibandingkan dengan teori baru. Secara umum, teori perdagangan internasional yang baru telah mengilhami bidang penelitian yang sangat besar, yang biasanya merupakan indikasi kualitas teoritis yang andal.

Economic Geography

Economic geography tidak hanya berurusan dengan barang-barang apa saja yang dihasilkan, tetapi juga dengan distribusi modal dan tenaga kerja di suatu negara dan kawasan regional. Pendekatan Krugman dalam teori perdagangan luar negeri – tentang asumsi dari economic of scale bidang produksi dan preferensi beragam dalam konsumsi – juga ditemukan cocok untuk menganalisis isu2 geografis. Hal ini memungkinkan Krugman untuk mengintegrasikan dua bidang yang berbeda dalam model kohesif.

Embrio teori yang kemudian disebut  the “new economic geography”  telah muncul dalam artikel Krugman di tahun 1979. Di halaman akhir, dia bertanya apa yang akan terjadi jika perdagangan luar negeri impossible, misalnya karena biaya transportasi yang terlalu tinggi atau hambatan lainnya. Garis penalarannya adalah sebagai berikut. Jika dua negara persis sama, maka kesejahteraan akan sama di kedua negara. Tetapi jika negara-negara tersebut sama dalam semua hal kecuali salah satu dari mereka memiliki populasi yang sedikit lebih banyak, maka upah buruh riil  sebenarnya akan sedikit lebih tinggi di negara ini dengan penduduk yang lebih banyak. Alasannya adalah bahwa perusahaan di negara berpenduduk lebih bayak dapat memanfaatkan skala ekonomi dengan lebih baik, berarti harga kepada konsumen lebih rendah dan / atau keragaman yang lebih besar dalam penyediaan barang.

Hal ini, pada gilirannya, meningkatkan kesejahteraan konsumen. Akibatnya, tenaga kerja, yaitu konsumen akan cenderung pindah ke negara dengan jumlah penduduk yang lebih banyak, sehingga meningkatkan populasinya. Upah riil dan persediaan barang kemudian akan terus meningkat bahkan lebih banyak lagi di negara tersebut, sehingga menimbulkan migrasi lebih lanjut, dan seterusnya.

Dua belas tahun berlalu, bagaimanapun, sebelum Krugman mempertimbangkan kembali gagasan ini. Dalam sebuah artikel yang diterbitkan pada tahun 1991, ia mengembangkan konsep-konsep ini menjadi sebuah teori komprehensif tentang lokasi kerja dan perusahaan. Di sini, dia berasumsi bahwa meskipun perdagangan antar negara  itu terjadi, dapat terhambat karena biaya transportasi. Jika tidak, tenaga kerja bebas untuk pindah ke negara lain  atau wilayah lain yang dapat menawarkan kesejahteraan tertinggi, dalam hal upah riil dan keragaman barang. Keputusan lokasi perusahaan menyiratkan trade-off antara penggunaan skala ekonomi dan penghematan biaya transportasi.

Concentration or Decentralization?

Pertimbangan di atas berkembang menjadi apa yang disebut  core-periphery model, yang menunjukkan bahwa hubungan antara economic of scale dan biaya transportasi dapat mengakibatkan konsentrasi atau desentralisasi masyarakat. Dalam kondisi tertentu, kekuatan2  yang berkontribusi terbentuknya konsentrasi akan mendominasi.

Ketidakseimbangan regional muncul dan sebagian besar penduduknya akan terkonsentrasi di teknologi tinggi, sementara minoritas kecil akan tinggal di pinggiran dan hidup dari pertanian. Seperti yg terjadi pada hari ini di seluruh dunia, dengan kota-kota besar yang berkembang pesat dikelilingi oleh daerah pedesaan yang semakin berkurang penghuninya. Ini belum tentu satu-satunya kemungkinan. Dalam kondisi yang berbeda, kekuatan yang menyebabkan desentralisasi akan mendominasi. Ini mendorong perkembangan yang agak seimbang. Model Krugman dapat digunakan untuk memperhitungkan mekanisme yang bekerja di kedua arah. Misalnya, modelnya menunjukkan bahwa penurunan biaya transportasi dengan mudah menciptakan konsentrasi dan urbanisasi – yang tampaknya sangat penting karena biaya transportasi telah menunjukkan tren yang menurun sepanjang abad ke-20.

Aktivitas Paul Krugman

Selain penelitian ilmiahnya, Paul Krugman sangat dihargai oleh mahasiswanya sebagai dosen pedagogis dan penulis sejumlah buku teks. Di kalangan yang lebih luas, ia lebih dikenal sebagai blogger yang hidup dan kolumnis bersemangat di New York Times

Ronald Ernest Paul (born August 20, 1935) is an American author, physician, and former politician. He was the U.S. Representative for Texas’ 14th and 22nd congressional districts. On three occasions, he sought the presidency of the United States: as the Libertarian Party nominee in 1988 and as a candidate in the Republican primaries of 2008 and 2012. Paul is a critic of the federal government‘s fiscal policies, especially the existence of the Federal Reserve and the tax policy, as well as the military–industrial complex, and the War on Drugs.

Paul Robin Krugman born February 28, 1953,  is an American economist who is currently Distinguished Professor of Economics at the Graduate Center of the City University of New York, and a columnist for The New York Times. Krugman is known in academia for his work on international economics (including trade theory, economic geography, and international finance), liquidity traps, and currency crisis.

How to handle financial crisis?

 terjemahan dari

 logo

Popular Information,   oleh gandatmadi46@yahoo.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.