Noble Prize 2016 Contract Theory

Noble Prize 2016

                                                                                                                                                     Contract Theory

                                                                                                                 Contracts are essential to the functioning of modern societies.

Masih tertinggalnya kegiatan penelitian Indonesia disebabkan masih rendahnya minat peneliti, minimnya dana penelitian, dan belum adanya komitmen kalangan industri untuk menggunakan teknologi hasil temuan dalam negeri. Ketergantungan terhadap teknologi dari luar negeri masih sangat tinggi.

Dengan mempelajari teori kontrak yang mengantar Oliver Hart dan Bengt Holstrom memenangkan Nobel Prize bidang ekonomi tahun 2016, diharapkan kasus telur ayam  seputar kegiatan penelitian di Indonesia dapat terurai.  Kita mencoba menghitung  imbalan yang diperoleh seorang peneliti dari LIPI misalnya. Gaji plus sejumlah fasilitas telah diterima dari negara sehingga kegiatan penelitian menjadi tugas profesi untuk itu diberi dana dari APBN. Muncul pertanyaan apakah hasil peneltiannya bisa langsung diaplikasikan katakan untuk bisnis?  Dalam realita output penelitian memiliki sejumlah katagori yang untuk singkatnya dibagi dalam beberapa katagori. Langsung dipergunakan, Butuh proses penyesuaian untuk skala industri, Butuh izin dari institusi terkait sebelum diproduksi….dst.

Bagaimana kalau penelitian oleh Korporasi?  Berapa besar imbalan yang layak diterima peneliti yang juga karyawan perusahaan?  Apakah peneliti  yg hasil penelitiannya sukses memperoleh insentif, berapa besarnya insentif dari gaji dan fasilitas lainnya yang dia terima?  Bagaimana kalau Korporasi memilih penelitian dari perusahaan atai institusi lain? ……..

Hasil penelitian  Oliver Hart dan Bengt Holstrom berhasil menjawab sejumlah pertanyaan 2 sehingga The Swedish Riksbank menganugrahi Nobel Prize bidang ekonomi tahun 2016 kepada Oliver Hart, British economist untuk Harvard University, and Bengt Holmstrom, a Finnish economist untuk  MIT terhadap karya mereka yang berhasil meningkatkan pemahaman kita bagaimana dan mengapa bekerjanya suatu kontrak dan kapan bisa dibuat lebih baik.

Berikut adalah terjemahan ringkasan seputar Teori Kontrak karya Oliver Hart dan Bengt Holstrom yang berhasil mengantar mereka meraih hadiah Nobel bidang ekonomi tahun 2016 sbb :

GG 14.10.16

Noble Prize 2016

to

Oliver Hart’s and Bengt Holmström’s

                                                                                                                                                                                  Contract Theory

                                                                                                                                            Contracts are essential to the functioning of modern societies.

Kontrak membantu kita supaya kooperatif dan dipercaya sebaliknya akan dianggap tidak pantas ( disobliging )  dan tidak bisa dipercaya. Sebagai penghutang punya kotrak kredit. Jika terjadi musibah yang memiliki aset berharga memiliki kontrak asuransi. Isi kontrak bisa kurang dari satu halaman sementara ada yang diatas 100 halaman.

Mengapa diperlukan kontrak, oleh karena diperlukan aturan  mengeai langkah2  jika terjadi sesuatu, kontrak kerja mendorong penghargaan kepada mereka yang perform bagus juga  dalam kondisi pemutusan kerja, tetapi perlu dicatat bahwa kontrak punya tujuan lain diantaranya  menanggung resiko diantara yang menandatangani kontrak.

Secara teori kontrak memberikan pengertian dan pemahaman mengenai design contract. Salah satu tujuannya  menjelaskan mengapa kontrak memiliki beberapa variasi dan design. Tujuan yang lain adalah membantu kita bagaimana membuat kontrak yang baik, dengan demikian menghadirkan suatu institusi yang lebih baik dalam masyarakat. Apakah penyedia public services seperti sekolah, rumah sakit, penjara milik publik atau privat? Apakah guru, pekerja medis, penjaga penjara digaji tetap ( fixed salary ) atau digaji menurut kinerja?  Sejauh mana para manager itu diberi bonus atau penawaran berupa saham?

Tensi antara Asuransi dengan Insentif

Jika anda ikut asuransi kendaraan jarang akan menerima penuh. Apa motif dari deductibles and co-pay?  Jika terjadi kecelakaan  disebabkan  Pure Risk , supaya dipastikan mengasuransikan  katagori pool risk sehingga terhindar dari kerugian ( losses ) akibat suatu kecelakaan.  Tetapi  asuransi penuh ( full insurance ) mengundang moral hazard, berakibat kita teledor ( care less ).

Note :

  Bentuk – bentuk Risiko

  1. Risiko Murni (Pure Risk), adalah : Bentuk risiko yang kalau terjadi akan menimbulkan Kerugian (Loss) atau tidak menimbulkan kerugian (No Loss/Breakeven). Contoh : Risiko Kebakaran, Risiko Kecelakaan.
  2. Risiko Spekulatif (Speculative Risk), adalah : Risiko kalau terjadi dapat menimbulkan.  Kerugian (Loss), menimbulkan kerugian (No Loss) atau mendatangkan keuntungan (Gain). Contoh : Risiko Produksi, Risiko Moneter (Kurs Valuta Asing).
  3. Risiko Fundamental (mendasar),adalah : Risiko yang kalau terjadi dampak  kerugiannya bisa sangat luas atau bersifat catastrophic. Contoh : Risiko Perang, Gempa Bumi dan Polusi Udara.
  4. Risiko Khusus (Particular), adalah :  Risiko yag kalau terjadi, dampak kerugiannya Bersifat  lokal tidak menyeluruh atau non catastrophic. Contoh : Risiko Kebakaran, Risiko Kecelakaan, Pencurian.

Dari ke empat bentuk risiko tersebut, Risiko murni (Pure Risk) dan Risiko khusus (Particular) yang akan melengkapi 8 (delapan) syarat atau 8 (delapan)  elemen agar risiko dapat diasuransikan (Insurable Risk) atau dapat dialihkan kepada perusahaan Asuransi.

PHYSICAL HAZARDS adalah  Risiko yang berkaitan dengan keadaan fisik misalnya objek yang diasuransikan berupa rumah atau pabrik dengan konstruksi kelas I, kelas II, atau kelas III, tidak terawat atau cukup terawat, keadaannya  bagus atau kurang bagus. Risikonya dari segi fisik tinggi atau rendah.

MORAL HAZARDS adalah Risiko yang menyangkut sifat atau karakter manusia, misalnya sifat tertanggung pemarah, pemabuk, mempunyai hutang, pelit dan sebagainya. Risikonya dari segi moral yang bersangkutan cukup tinggi atau rendah.

Tensi antara asuransi dengan insentif disebabkan dua faktor kombinasi.  Pertama conflict of interest – tidak setiap orang malaikat. Jika kita semua hati2 ( careful ), terlepas apakah kita menanggung seluruh konsekwensi dari perbuatan kita, maka full insurance bukan masalah. Kedua, faktor ukuran, tidak semua aktivitas dapat dipantau secara cermat. Jika kita selalu hati2 maka kontrak asuransi cukup mengcover seluruh resiko akibat suatu kecelakaan, bukan disebabkan faktor biasa  teledor ( reckless behaviour ).

Tensi sejenis mungkin bisa muncul  seperti hubungan pekerja. Pemberi kerja pada umumnya mampu menanggung resiko dibandingkan para pekerja. Jika para pekerja selalu bertindak demi kepentingan kedua belah pihak maka tidak diperlukan insentif sebaliknya dibutuhkan. Tensi antara asuransi dan insentif dapat dibicarakan, sehingga kepada pekerja dapat diberikan asuransi  dalam bentuk fix salary.  Namun jika masing2 interest bertentangan  antara pemberi kerja dengan pekerja sulit untuk di observasi, maka kontrak dibutuhkan mengenai  kaitan  antara gaji dengan kinerja.

Paying for performance

Meski persoalan dalam pemberian insentif kepada karyawan telah diketahui sejak lama namun level analisa secara dramatis sejak akhir 1970an ketika para peneliti memiliki jawaban yang pasti terhadap pertanyaan yaitu bagaimana membuat design kontrak yg optimal. Pandangan pertama berangkat dlm konteks kontrak dengan pekerja meliputi  resiko kaitan dengan agen penyedia tenaga kerja yg sulit diobservasi oleh pihak pemberi kerja. Ternyata kemampuan pemberi kerja sebatas mengobservasi berbasis kinerja para agen tersebut.

Hasilnya telah dipublikasikan oleh Bengt Holmström and Steven Shavell in 1979, suatu kontrak secara optimal harus dikaitkan dengan pembayaran kepada hasil ( outcomes ) yang secara potensial dapat memberikan informasi tentang aksi yang telah diambil. Prinsip informasi ini, informativeness principle tidak selalu mengatakan bahwa pembayaran harus tergantung semata hasil kerja para agen.  Misalnya, jika agen menjadi manajer yang aksinya mempengaruhi harga share perusahaannya, tetapi bukan share harga2 perusahaan lain. Artinya apakah manajer dibayar harus tergantung kepada harga share perusahaan miliknya.? Jawabannya tidak. Jika harga share merefleksi faktor ekonomi lainnya – diluar kontrol manager yang bersangkutan – hubungan sederhana ttg kompensensi akan memberi penghargaan ( reward ) untuk good luck dan menghukum ( punish )  untuk bad luck. Lebih tepat untuk mengkaitkan dengan harga share perusahaannya relatif kepada perusahaan lain, sesama perusahaan seperti dalam satu industri.

Hasilnya bahwa mengobservasi usaha manajer sulit – mungkin karena beberapa faktor distorsi yang mengaburkan hubungan antara usaha dan kinerja perusahaan – berkurangnya pembayaran dari manajer mesti berbasis kinerja. Untuk industri ber resiko tinggi  pembayaran mesti relatif bias terhadap gaji tetap, sementara untuk industri yang lingkungannya stabil mesti lebih bias ( menyimpang ) terhadap besarnya ukuran kinerja ( performance measurement). Pekerjaan awal khususnya oleh Holmström’s 1979 article, segera menjadi jelas bahwa aspek penting dari realitas telah hilang ( missing ) dari model. Oleh sebab itu karya awal dari Holmström dan lainnya  memberi kontribusi terhadap penelitian terkini.

Strong incentives versus balanced incentives

Sebuah artikel yg terbit tahun 1982,  Holmström menganalisa situasi yang dinamis dimana gaji karyawan pada saat itu secara explisit tidak terkait dengan kinerja. Ternyata motivasi para pekerja untuk bekerja keras karena perihatin ( concern )  terhadap karir dan gaji mendatang. Dalam situasi kompetisi ( competative market ), suatu perusahaan mesti memberi reward berdasarkan  kinerja pada saat itu ( current performance ) terkait dengan penghasilan kedepan yang lebih tinggi (  a company must reward current performance with higher future earnings ) sebaliknya para pekerja akan pindah kerja.  Walaupun hal ini terlihat sebagai sistem yang efisien  untuk memberi reward  dan motivasi para pekerja, terdapat titik balik:  keperihatinan terhadap karir  begitu kuat untuk pekerja yang hidupnya secara berlebihan bekerja keras sementara pekerja yang sudah tua tanpa inentif cenderung  mengendur. Karya Holmström ini telah diaplikasikan dalam konteks lain seperti hubungan antra politisi dan pemeilihnya.

Dalam artikel karya Holmström thn 1979 yang orisionil,  diasumsikan agen bertanggung jawab terhadap tugas tunggal. Dalam thn 1991, Holmström dan  Paul Milgrom memperluasnya analisisnya menjadi skenario yg lebih realistis dimana pekerjaan pekerja terdiri atas berbagai tugas,  beberapa diantaranya membuat pemberi kerja untuk memonitor dan memberikan reward. Untuk mencegah pekerja konsentrasi kepada tugas2 tertentu yg mudah diukur maka cara terbaik yaitu menganjurkan agar menganggap lemah terhadap insentif secara keseluruhan.  Misal, jika gaji guru diukur menurut hasil tes siswa maka guru mungkin menghabiskan terlalu sedikit waktu mengajar sama pentingnya mengenai ketrampilan ( sulit diukur )  seperti kreativitas dan berpikir mandiri.  Fix salary, merdeka terhadap ukuran kinerja  akan membawa ke alokasi yang seimbang terhadap tugas2 yang berbeda.  Model multi – tasking ini merubah para ekonom tentang skema kompensasi optimal dan design pekerjaan ( jom design ).

Suatu team work juga suatu modifikasi dari pay-for-performance. Jika kinerja merupakan refleksi dari usaha bersama kumpulan individu, beberapa anggota mungkin cenderung melupakan,  free-riding terhadap usaha teman kerja. Holmström menjawab isu didalam artikel dari tahun 1982, menunjukkan bahwa ketika income perusahaan secara keseluruhan dibagi diantara anggota ( seperti perusahaan milik pekerja ), usaha umumnya terlalu rendah/  Pemilik eksternal suatu perusahaan dapat mendorong insentif perorangan ( individual incentive ) karena kompensesi akan lebih fleksibel: total kompensasi kepada anggota tim tidak dibutuhkan lagi untuk tambahan dari total income yang mereka hasilkan. Contoh ini menunjuk isu lain yang dapat dijelaskan dalam teori kontrak;  katakan tentang kepemilikan dan kontrol.

Incomplete contracts

Ukuran tentang kinerja yang tidak persis bukan satu2nya kendala untuk membuat kontrak yang efisien. Mereka yang terkait sering tidak mampu mengartikulasi secara realistis dalam tema dari detailed contract sebelumnya.  Problemnya kemudian, bagaimana membuat design terbaik suatu kontrak yang belum sempurna.  Hal ini menjadi domain incomplete contracts.

Terobosan utama datang pada mid 1980an, karya Oliver Hart beserta kolaboratornya. Ide utama bahwa kontrak secara eksplisit tidak dapat dibuat spesifik mengenahi apa yang harus dilakukan oleh pihak yang terkait di masa mendatang, harus secara spesifik siapa yang berhak memutuskan jika pihak2 yang terkait tidak setuju.  Pihak yang memiliki kewenangan untuk memutuskan punya hak tawar yang lebih tinggi, dan mampu untuk memperoleh keuntungan ketika output atau hasil sudah terwujut.  Sebaliknya, hal ini akan memperkuat insentif bagi pihak yang memiliki sedikit hak memutuskan. Dalam situasi kontrak yang kompleks, alokasi hak memutuskan menjadi alternatif untuk membayar kinerja.

Property rights

Sejumlah studi, Hart bersama beberapa penulis seperti  Sanford Grossman  John Moore melakukan analisa bagaimana membuat alokasi terhadap aset balam bentuk fisik ( physical Assets ) sebagai contoh  apakah mesti milik perusahaan tunggal , atau terpisah beberapa perusahaan.  Apabila suatu penemuan membutuhkan pemakaian suatu mesin dan saluran distribusi – penemu ( inventor ), operator mesin, atau distributor?  Jika inovasi menjadi aktivitas dimana menjadi paling sulit untuk men design suatu kontrak,  yang nampak realistis maka jawabannya bahwa pihak inovator mesti memiliki seluruh aset dalam satu perusahaan, meski demikian  perusahaan itu kurang memiliki pengalaman dlm produksi dan distribusi. Jika Inovator adalah pihak yang harus membuat investasi yang non contractable maka dia membutuhkan bargaining chip masa depan yang mampu merubah property right menjadi aset.

Financial contracts

Aplikasi penting dalam teori incomplete contract adalah mengenai kontak finansial. Seandainya sebagai contoh bahwa kinerja yang sesungguhnya  sulit untuk dipergunakan dalam kontrak karena pihak manager mampu mengalihkan keuntungan perusahaan. Solusi terbaik  untuk manager adalah menjadi enterpreneur serta pemilik dari perusahaan tersebut – seorang enterpreneur bebas menentukan bagaimana cara mengelola perusahaan, serta membuat trade-off yang tepat antara keuntungan dan langkah untuk menaikkan keuntungan pribadi.

Limitasi dari solusi tersebut, kadang2 manager tidak mampu  membeli perusahaan, sehingga eksternal investor yang membiayai pembelian tersebut.  Tetapi jika keuntungan tidak bisa dijamin, bagaimana mungkin investor yakin uangnya kembali? Satu solusinya adalah berjanji membayar secara fix  ( terlepas dari profit ) dengan kolateral: Jika pembeyaran tidak terpenuhi maka kepemilikan di transfer kepada investor, yang bisa melikwidasi aset. Hal ini yang dilakukan oleh hampir semua pinjaman dari Perbankan – dan teori menjelaskan mengapa.  Pada umumnya suatu incomplete contract theory memprediksi bahwa entrepreneur mesti memiliki hak untuk membuat keputusan didalam perusahaan selama performancenya bagus, tetapi investor memiliki hak untuk membuat keputusan ketika performance perusahaan terganggu. Hal ini tipikal riil dalam kontrak di dunia finansial, seperti kontak yang sophiscated yang ditanda tangani oleh entrepreneur dan venture capital.

Privatisation

Aplikasi dari Hart’s theory of incomplete contracts berkaitan dengan pemisahan antara sektor privat dengan sektor publik.  Apakah pengelola sektor pelayanan publik seperti sekolah, rumah sakit, penjara adalah milik pribadi atau tidak? Menurut teori akan tergantung kepada natur dari investasi non contractible.  Sekiranya seorang manajer yang mengelola fasilitas pelayanan kesejahteraan ( welfare service ) mampu 2 tipe investasi: beberapa meningkatkan kwalitas, yang lain mengurangi cost tanpa mengurangi kwalitas. Sebagai tambahan sekiranya investasi itu sulit untuk membuat spesifikasi dari kontrak. Jika Pemerintah yang memiliki fasilitas dan manajer yang menjalankan maka manajer akan menerima sedikit insentif untuk memberikan semua tipe investasi jika Pemerintah tidak mampu berjanji untuk menghargai usaha tersebut.

Jika privat kontraktor memberikan servis, maka insentif investasi untuk kwalitas dan pengurangan cost kepada privat kontraktor tersebut menjadi kuat  ( diperlukan ). Artikel 1977 dari Hart bersama Andrei Shleifer and Robert Vishny, menunjukkan bahwa insentif untuk reduksi cost terlalu besar. Keinginan melakukan privatisasi tergantung atas trade off antara pengurangan cost dan perbaikan kwalitas. Didalam artikel tersebut, Hart dan co authors secara khusus memperhatikan sektor penjara milik privat.  Pemerintah Federal  ternyata mengakhiri pemakaian penjara milik privat, dikarenakan  menurut laporan U.S. Department of Justice kondisi penjara milik privat lebih buruk dari milik publik.

Real-life understanding

Teori kontrak telah mempengaruhi banyak sektor,  dari korporasi sampai constitutional law.  Penghargaan kepada Oliver Hart and Bengt Holmström, kini kita memiliki alat untuk membuat analisis  tidak hanya mengenai term finansial juga alokasi kontrak  terhadap hak untuk mengawasi, hak property dan hak membuat keputusan antara pihak2 yang terkait. Kontribusi oleh pemenang Nobel membantu memahami banyak kontrak yang kita observasi didunia nyata. Mereka memberikan kita pola pikir baru bagaimana kontrak di design, baik untuk pasar privat dan dalam dunia public policy

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.