Small and Medium Enterprises in Agriculture Value Chain & Cultivation Saguling Dam

Foto Pesona Saguling-1

Pesona Keindahan Saguling

Small and Medium Enterprises in Agriculture Value Chain

Analisa berapa besar keefektifan program pembangunan yang dihadapi Small and Medium Enterprises (SMEs) di sektor pertanian di Asia dan untuk mengetahui  besarnya peranan  Social Enterprises (SEs) di sektor tersebut telah dilakukan penelitian sejumlah institusi diantaranya Oxfam.

( Oxfam is an international confederation of 17 organizations networked together in 97 countries, as part of a global movement for change, to build a future free from injustice of poverty ).

Didalam laporannya Oxfam menyebutkan,

Akses ke jenis keuangan yang tepat waktu, terjangkau dan sesuai, serta akses yg konsisten  stabil dan pasar bernilai tinggi ( high value market ) masih menjadi tantangan  yang paling mengerikan yang dihadapi SME s dibidang pertanian.  Organisasi pembangunan telah melakukan berbagai pendekatan  untuk memecahkan tantangan tersebut. Shuyog, menemukan bahwa intervensi pembangunan relevan dan efektif jika cocok  dengan greografi dan kondisi pasar yg menjadi target. 

 Pembangunan institusi keuangan untuk mendanai pembangunan SME  lebih berhasil dalam mengkatalisis pendanaan domistik di beberapa negara dan kurang sukses untuk merubah kebiasaan resiko ( risk behavior )  dari institusi keuangan di negara lain,  Hal ini mungkin disebabkan kendala kebijakan fiskal dan resource yang dihadapi institusi keuangan.

( Shujog is the non-profit sister entity of IIX. Shujog’s programs magnify the impact  that  Social  Enterprises  deliver,  scale  the  quantity  of  SEs  and broaden  the       knowledge  base  in  the  Social  Enterprise  and  Impact Investing space)

SEs bidang pertanian menghadapi tantangan yg unik, merupakan tambahan yg dialami SMEs bidang pertanian.  Mereka terintegrasi dengan penduduk miskin, termarginalisasi dan tidak beruntung sebagai supplier, pekerjaan  serta pendekatan untuk produk inovatif, melayani  permintaan yg tersembunyi ( latent demand ) atau bekerja di lapangan yang sulit, pedesaan yang terpencil. Dampak sosial yang dikerjakan SEs lebih besar dibandingkan SMEs, karena tidak cuma membantu terciptanya pekerjaan dan menaikkan pendapatan petani, juga membantu terciptanya kesehatan dan pendidikan yang meningkat, serta terciptanya  hasil lingkungan ( environmental outcomes ).

SMEs dianggap penting untuk kemajuan ekonomi di kebanyakan  negara berkembang. SMEs di negara2 berkembang di Asia memberikan kontribusi secara significant dalam hal lapangan kerja dan pertumbuhan GDP.  Pentingnya SMEs di negara2 berkembang telah terdokumentasi dan dipelajari.  Sesuai dengan relevansi SMEs khususnya di ekonomi pedesaan menjadi subjek studi para peneliti.   Penelitian menunjukkan bahwa UKM merupakan 80-90% dari semua perusahaan dan menghasilkan sekitar 50-80% dari total lapangan kerja di negara2 berkembang di  Asia.

Oleh karena SEs mempunyai tujuan untuk menghasilkan kerja sosial dan lingkungan yang terukur serta keuntungan finansiil, mereka memegang janji skalabilitas di luar pendanaan donor. SEs mempunyai potensi melakukan katalisasi memperbesar investasi sektor privat didalam ruang pembangunan.  Sebagai hasilnya, banyak negara – termasuk G8,  sejumlah foundation dan NGO internasional kini mereka fokus usaha mestimulasi secara mendalam SE ecosystem.

Kebanyakan masing2 negara memiliki difinisi tentang SME; bagaimanapun relatif memiliki kemiripan dan sering berbasis kepada difinisi World Bank,  dimana kwalifikasi suatu SME mengikuti 2 dari 3 indikator berikut :

Indikator Saguling-1Oleh karena pertanian menjadi sektor penting di negara2 Asia, Shujog membuat definisi terhadap SMEs di sektor pertanian , sebagai businesses operating dalam agriculture value chain.  Hal ini termasuk individu petani, produser selama mereka membutuhkan kapital dan dukungan pelayanan untuk tumbuh.

Agriculture value-1Illustration:  Agriculture Value Chain

Source: IFC, Scaling Up Access to Finance for Agricultural SMEs Policy Review and

Recommendations, 2011

Cultivation Saguling Dam

Waduk Saguling direncanakan hanya untuk keperluan menghasilkan tenaga listrik. Pada tahap pertama pembangkit tenaga listrik yang dipasang berkapasitas 700 MW, dapat ditingkatkan hingga mencapai 1.400 MW.

Dam Saguling-2PLTA Saguling

Selanjutnya, dengan mempertimbangkan permasalahan lingkungan di daerah itu, Saguling ditata-ulang sebagai bendungan multiguna, termasuk untuk kegunaan pengembangan lain seperti perikanan, agri-akuakultur, pariwisata, dan lain-lain. Sekarang, waduk ini juga digunakan untuk kebutuhan lokal seperti mandi, mencuci, bahkan untuk membuang kotoran

Sebagai akibatnya kualitas air waduk cenderung menunjukkan penurunan, baik sebagai akibat pencemaran oleh limbah industri, rumah tangga, maupun secara kuantitas yaitu faktor penurunan jumlah atau volume air terutama kemarau panjang yang sering terjadi di beberapa tahun terakhir.

Hasil penelitian menunjukan bahwa pencemaran badan air Citarum mencapai 260 ton limbah rumah tangga domestik dan industri tumpah ke Citarum setiap harinya, sekitar 60% disebabkan oleh limbah domestik, sementara daya dukung badan air yang ada hanya mampu menerima beban pencemaran sekitar 80 ton Biocemikal Oxigen Demaind (BOD) per hari,  diperkirakan pencemaran BOD oleh industri mencapai 100 ton per hari sedangkan oleh peduduk atau domestik mencapai 160 ton per hari. Dengan melihat kondisi tersebut maka badan air Citarum hanya mampu menampung separuh dari pencemaran yang disebabkan oleh limbah domestik dan industri tersebut

Air yang tercemar juga memicu pertumbuhan eceng gondok yang sulit dikendalikan. Saat kemarau, pengerukan gulma dan sampah di waduk mencapai areal 0,5 hektar per hari. Populasi gulma bertambah saat musim hujan menjadi 1,5 hektar per hari. Eceng Gondok yang Tanaman asal Brasil yang didatangkan Kebun Raya Bogor pada tahun 1894, dahulu merupakan tanaman hias yang digandrungi karena bunganya yang berwarna ungu sangat menarik sebagai penghias kolam seperti Teratai, namun saat ini merupakan gulma air yang sering bikin marah  para petani, karena tumbuh di sawah berebut unsur hara dengan tanaman budidaya (padi).

Pada 2011 dari kapasitas penyimpanan lumpur sebanyak 167 juta meter kubik, sudah terisi 94,1 juta meter kubik. Sisa usia Waduk Saguling di Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, diperkirakan tinggal 27 tahun apabila penanganan pencemaran air dan sedimentasi Sungai Citarum tidak dilakukan secara komprehensif. Seharusnya, usia Waduk Saguling minimal masih 31 tahun lagi. ( dihitung tahun 2013 ).

Aneka Budidaya

Budidaya Ikan SagulingSampah waduk SagulingSampah plastik setelah dibersihkan dihancurkan  berbentuk biji plastik yg laku dijual untuk bahan baku pabrik plastik

Enceng Gondok SagulingEnceng Gondok utk PupukEnceng Gondok utk Kerajinan

Kesimpulan

Small and Medium Enterprises in Agriculture Value Chain harus terwujud supaya secepatnya kita menuju negara advanced economy.

dikumpulkan dari berbagai sumber oleh gandatmadi46@yahoo.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.