Small is beautiful

Ekonom Inggris EF Schumacher ketika dunia menghadapi krisis energi 1973 kemudian muncul globalisasi dari kumpulan essaynya  Small is beautiful , a study of economics as if people matters menempatkan materialisme pada posisi ke dua setelah justice, harmony, beaty and health.

Pa Sarwono Kusumaatmaja, dua belas tahun menjadi Menteri sejak era Presiden Soeharto bercerita mengenai seorang sohat dari Medan. Keturunan China, yang telah memiliki sekolah di Medan yang cukup terpandang. Sahabat ini cerita kalau berasal dari keluarga miskin bermukim dipemukiman orang2 miskin. Memulai dengan mendirikan sekolah, bukannya bekerja keras untuk membesarkan usahanya.

Keberhasilannya karena berkat hubungannya yang baik dengan banyak kalangan, muslim dan non muslim. Dia meminta mereka yang berpunya memberikan dana untuk  menyekolahkan anak2 miskin. Dia meminta dana kepada kalangan muslimin untuk mensantuni anak2 dari kalangan non muslim. Demikian dilakukan  sebaliknya, yang muslim  mensantuni  anak2 non muslim.

foto kerukunan-1Pa Sarwono melanjutkan ceritanya. Ketika kerusuhan Mei 1998 banyak sekali rumah2 orang China dijarah tetapi terdapat satu keluarga justru rumahnya dan penghuninya  dilindungi. Alasannya sederhana, hubungan baik dengan tetangga .  Ada seorang pendeta mengeluh kepada pa Sarwono karena merasa di kucilkan tetangga tangganya. Beliau bertanya, apakah pa pendeta tahu nama  ulama yang mengurusi mesjid di kampungnya? Tidak. Apakah kenal2 dengan beberapa orang yang sering berkumpul di mesjid? Tidak karena terlalu sibuk.

Kejadian2 kecil seperti diatas terjadi diseluruh Tanah Air hal ini membuktikan bahwa keakraban telah lama terjalin. Mereka yang merasa terkucil dari lingkungan karena tidak berusaha untuk menyatu. Konflik berbau Sara sering muncul ditingkat nasional tetapi di unit2 kecil masyarakat konflik itu tidak terjadi.  Orang menyebutnya karena diikat oleh kearifan lokal ( local Wisdom ).  Kampung2 pecinan, kampung Arab, kampung Jawa, Bugis, Ambon adalah ciptaan Belanda . Seharusnya sudah tidak ada lagi kecuali nama.

Seorang Ibu mengutarakan kekuatirannya mengenai situasi di Tanah Air…beliau tidak sependapat dengan pemikiran pa Sarwono. Menurit Ibu tadi bahwa konflik itu nyata. Seorang sahabat non Muslim menimpali bahwa sejak pindah dari Manado ke Jawa 85% gaul dengan kalangan muslimin. Saya kalau mendengar azan menikmati, sering mendengar ceramah2 agama Islam. Mengenai kondisi sekarang sama sekali tidak kuatir menurutnya.

Saya mendapat kesempatan untuk berbicara, terpaksa meski merasa tidak fasih untuk bicara dan lebih nyaman menulis.  Saya memulai dengan cerita lama yaitu tajuk koran Angkatan Bersenjata di awal Orba.  Harian AB menulis sejarah negara Sparta,  rakyatnya didril secara spartan latihan berperang oleh para tokoh negara diciptakan suasana siap untuk berperang secara berlebihan – musuh akan menyerang negeri mereka. Tetapi ketika musuh benar2 nyata dalam dua hari negara Sparta takluk nyaris tanpa perlawanan.

Harian AB ini menyampaikan kekuatirnya jika bangsa Indonesia capek karena terus2an dihadapkan kepada konflik, suatu konflik yg yang tidak berujud. Sebagai contoh mengenai riwayat bahwa para founding fathers sepakat bahwa  Pancasila khususnya tentang Piagam Jakarta yang ditanda tangani 9 tokoh tingkat nasional yaitu Soekarno, Hatta, Abikoesno, Maramis, Abd Kahar Moezakir, Agoes Salim, Achmad Soebardjo, Wahid Hasjim, Moehammad Jamin telah bersepakat kalimat .. Ketoehanan, dengan kewajiban mendjalankan sjariat Islam bagi pemeloek-pemeloeknja dihapus.

Riwayat ini sekarang banyak diulang ulang secara tidak proporsional, pihak yg satu merasa memberikan kontribusi dengan bersedia berkompromi sedang pihak yang lain meminta  peran mereka dihargai.

Pa Sarwono, mengatakan bahwa unit ikatan solid kecil2 masyarakat akan sulit dipecah belah dan   akan maju berkesinambungan jika dilakukan secara bersama sama ( gotong royong ). Meyakini tidak ada negara2 adi kuasa ( US, China, Rusia )  ingin memecah belah Indonesia misalnya menjadi 5 atau 6 negara. Bagi negara2 adikuasa tidak ada manfaatnya. Beliau benar kasus Filipina Selatan, gerakan separatis di Thailand, di Myanmar sudah merepotkan banyak negara tetangga apalagi jika cheos terjadi di Indonesia dengan 17 ribu pula berpenghuni 250 juta orang lebih.

 dikumpulkan dari berbagai sumber oleh gandatmadi46@yahoo.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.