Teori Secular Stagnation

Publik belum bisa melupakan krisis keuangan yang melanda Asia pada tahun 1997/98  dan krisis keuangan tahun 2007/2008 yg dipicu oleh meledaknya krisis Subprime Mortgage di AS kemudian menjalar ke Eropa, Jepang  dan seluruh dunia.  Para Ekonom dan Banker seluruh dunia tidak henti2nya mempelajari hal itu.

Mervyn King ex Gubernur Bank of England ( Bank Sentral Inggris ) menulis buku pada 2015 – 2016, The End of Alchemy….a fearless and important book about the causes of the financial crisis, and why nothing has really been learned.

a fearlessly honest explanation of the 2007/08 financial collapse, providing disturbing insights into what sparked “the worst banking crisis the industrialised world has ever seen”.

“Without reform of the financial system, another crisis is certain… sooner rather than later,” King asserts. “It is the young of today who will suffer from the next crisis – and without reform the economic and human costs of that crisis will be bigger than last time”.

Dalam kurun waktu bersamaan Larry Summers mengangkat kembali suatu teori yg dipaparkan Alvin Hansen pada tahun 1938 atau pada era menjelang berakhirnya The Great Depression th 1930an  yang populer dengan nama  Secular stagnation theory.

Secular Stagnation Theory

Perekonomian negara2 industri menderita keseimbangan disebabkan kenaikan propensity to save ( kecenderungan untuk menabung )  bersamaan dengan turunnya propensity to invest (  tidak berminat utk investasi ). Hasilnya esksessif tabungan menghambat demand ( keingan utk belanja ), mengurangi pertumbuhan ( growth ) dan mengurangi atau menahan laju inflasi.  Imbalance antara saving dan investment menekan real interest rate ( bunga tabungan riil ).

Pertumbuhan ekonomi AS di era tahun 2003 dan 2007 yg significant karena tingkat pinjaman yang berbahaya (dangerous levels of borrowing ) yang diartikan sebagai ekses saving untuk investasi yang tidak berkelanjutan ( unsustainable ) dalam hal ini memunculkan housing bubble. Robert Gordon menyebut teori supply-side headwinds, Ben Bernanke menyebut teori saving glut. Sedangkan Paul Krugman menyebut teori liquidity trap.

Data perekonomian pada saat ini, 2016 menunjukkan hutang Pemerintah AS terhadap GDP naik tajam dari 41% di tahun 2008 menjadi 74% pada tahun ini. Di Eropa dari 47% menjadi 70% dan Jepang dari 95% menjadi 126%.

 2000   2016  2026  2036  2046
Spending  17.6%   21.1%  23.1%  25.9%  28.2%
Revenue  20.0%   18.2%  18.2%  18.8%  19.4%
Deficit -2.3%      2.9%    4.9%     7.1%    8.8%
Debt 34 %   75 %  86 %  110 %  141 %

Teori Secular Stagnation mendapat kritikan yang tajam al. Karena kurang mempartimbangkan kemajuan teknologi yang mampu meningkatkan produktifitas namun faktor aging yaitu dominasi usia lanjut mengkuatirkan karena demand untuk belanja turun  dalam jangka pendek. Jepang sudah merasakan kekurangan tenaga kerja sehingga sudah mempersiapkan program mengundang tenaga kerja asing dalam bentuk magang. Negara2 MEE sejatinya membutuhkan imigran meskipun terkendela oleh aksi teror yang menumpang para imigran. Para pekerja imigran tersebut disatu sisi menaikkan konsumsi dalam negeri di negara tsb sekaligus menambah kapital inflow bagi negara asal.

Paul Krugman memberikan rekomendasi berbasis teori Keynes klasik yaitu liquidity trap bahwa krisis itu sifatnya temporer, temporary phenomenon. Krugman sejalan dengan Bernenanke yang berbasis kepada economic cycle yg juga sifatnya tidak permanen. Menurut Krugman yg menjadi tantangan adalah bagaimana mengatasi  “the problem of building consumer demand at a time when people are less motivated to spend”.

Berbeda dengan teori secular stagnation yg pesimistis bahwa krisis ekonomi belum ada solusinya. Bernanke dan Krugman optimis krisis ekonomi dapat diatasi jika gelembung ekonomi tidak terjadi artinya demand untuk belanja property misalnya adalah demand riil bukan spekulatif. Benarkah krisis secular stagnation sudah berlalu di AS oleh karena jumlah pengangguran dibawah 5% dan growth naik bertahap? Pasar bertaruh apakah benar The FED tidak mampu memperketat kebijakan moneter mendekati yang ditargetkan, dan bagaimana jika terjadi resesi yg tiba2 muncul dalam 5 tahun kedepan ini, tentunya The FED akan menurunkan interest rate mendekati nol kembali artinya ekonomi dilonggarkan lagi. Artinya seperti pendapat Larry Summers, belum memiliki solusi yang mantap. Hal ini yang membuat perdebatan terus menerus didalam The FED mengenai interest rate.

Bagaimana dengan Republik Indonesia?

Telah berulang kali dijelaskan Menkeu Sri Mulyani bahwa pertumbuhan ekonomi di kisaran 5% ditopang oleh konsumsi 58 – 60% dari PDB, Investasi 30% dari PDB dengan demikian krisis secular stagnation tidak terjadi dalam kurun waktu 10 – 20 tahun kedepan. Kita masih menhadapi problem ekonomi yang fondamental yaitu mengatasi kemiskinan, pengangguran, menekan biaya transportasi supaya bisa bersaing dengan asing, pendidikan, kesehatan.

Kendala utama karena karena  korupsi….korupsi dan korupsi

Gandatmadi

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.