Ekonomi Keynesian dan Ekonomi Islam

Ekonomi Keynesian

Ekonomi Keynesian adalah gagasan bahwa pemerintah harus campur tangan dalam perekonomian . Ini berarti bahwa pemerintah harus mengeluarkan uang untuk menjaga perekonomian tetap berjalan, bahkan jika harus berutang, terutama jika terjadi resesi.

Keynes menganjurkan peningkatan pengeluaran pemerintah dan penurunan pajak untuk merangsang permintaan dan mengangkat perekonomian global keluar dari The Great Depression pada tahun 1930an . Ekonom Keynesian percaya bahwa intervensi dapat mengarah pada lapangan kerja penuh dan stabilitas harga.

Dalam bukunya “The General Theory of Employment, Interest and Money” dan karya-karya lainnya, Keynes menentang konstruksi teori klasik ini, dengan menegaskan bahwa, selama resesi , pesimisme bisnis dan karakteristik tertentu dari ekonomi pasar akan memperburuk kelemahan ekonomi dan menyebabkan permintaan agregat anjlok lebih jauh daripada yang sudah terjadi.

Kondisi bisnis yang buruk dapat menyebabkan perusahaan mengurangi investasi modal daripada memanfaatkan harga yang lebih rendah untuk berinvestasi dalam pabrik dan peralatan baru. Hal ini juga akan berdampak pada pengurangan pengeluaran dan lapangan kerja secara keseluruhan.

Keynes juga mengkritik gagasan menabung berlebihan, kecuali untuk tujuan tertentu seperti pensiun atau pendidikan. Ia melihatnya sebagai hal yang berbahaya bagi perekonomian, karena semakin banyak uang yang menganggur berarti semakin sedikit uang yang beredar dalam perekonomian untuk merangsang pertumbuhan.

Sebagai respons terhadap  Resesi Besar  dan krisis keuangan tahun 2007–2008, Kongres AS dan cabang eksekutif mengambil beberapa langkah yang didasarkan pada teori ekonomi Keynesian. Pemerintah federal menyelamatkan perusahaan-perusahaan yang terlilit utang di beberapa industri, termasuk bank, perusahaan asuransi, dan produsen mobil.

Ekonomi Islam

A.Prof Dr Ekrem Erdem, Januari 2011. Islam pada dasarnya menganjurkan kepemilikan pribadi, mekanisme pasar, dan persaingan bebas sebagai model ekonomi, tetapi hal itu benar-benar menjadi  kewajiban bagi negara untuk menyediakan kondisi tersebut  bagi warganya, yang telah melakukan yang terbaik dalam berjuang melawan kemiskinan, meskipun demikian untuk mampu bertahan hiup masih saja jatuh ke dalam cengkeraman masalah ini. Pada dasarnya, rasionalitas ekonomi yang didasarkan pada mekanisme pasar menunjukkan bahwa stabilitas ekonomi secara umum tidak dapat dilaksanakan ketika sebagian masyarakat sedang bergumul dengan masalah kemiskinan.

Menurut pemikir Islam ternama Yusuf al-Kardawi, berikut ini cara-cara yang disarankan Islam dalam memecahkan masalah kemiskinan (Al-Kardawi, 1975):  yaitu bekerja sebagai individu atau mandiri,  relatives’ protection atau gotong royong, wajib  membayar zakat, government aid (bantuan pemerintah), kewajiban sosial lain selain zakat, free zakat atau membayar zakat ekstra selain yang diwajibkan, beneficience atau kemurahan hati. Substansi esensial adalah, Orang itu tidak dapat memiliki apa-apa selain apa yang dia perjuangkan. (Ali, 1991: 1382; 53/39).

B.Sri Mulyani Bicara Kapitalisme-Komunisme: Ekonomi Islam Bisa Jadi Jalan Ketiga

Depkeu 13 Agustus 2025, Sri Mulyani Indrawati menilai ekonomi Islam memiliki potensi besar untuk menjadi alternatif sistem ekonomi dunia, di tengah kebuntuan yang dihadapi kapitalisme, komunisme, sampai sosialisme

Ia menggambarkan, situasi global sarat ketimpangan, krisis kepercayaan, dan kerusakan lingkungan akibat praktik ekonomi yang tidak berkelanjutan. Menurutnya, dua sistem ekonomi yang mendominasi dunia kapitalisme dan komunisme sama-sama menyisakan masalah struktural. “Kita melihat banyak implikasi negatif dalam berbagai bentuk ketimpangan konsentrasi dari kekuatan, baik kekuatan kapital yaitu ekonomi dan kekuatan politik pada segelintir manusia,” kata Sri Mulyani dalam Sarasehan Nasional Ekonomi Syariah, Rabu (13/8).

Ia menjelaskan, kapitalisme cenderung menimbulkan kesenjangan sosial dan eksploitasi sumber daya. Sementara komunisme dan sosialisme menimbulkan dampak negatif dalam bentuk ketiadaan motivasi untuk mencapai yang terbaik karena perasaan sama rasa sama rata. Ekonomi Islam, kata dia, mengedepankan keseimbangan antara profit dan nilai kemanusiaan, sehingga mampu memberikan solusi yang lebih etis dan inklusif.

Ekonomi Islam muncul dan seharusnya menjadi sebuah inspirasi atau juga sekaligus jalan ketiga. Dengan menawarkan sistem yang berlandaskan prinsip sebuah etika dan moral yang inklusif, berkeadilan (pada masyarakat luas).

Sri Mulyani mencontohkan bagaimana instrumen keuangan syariah seperti sukuk dan wakaf produktif dapat menjadi sarana membiayai pembangunan, tanpa meninggalkan prinsip keadilan. Instrumen ini tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi juga mengangkat martabat manusia melalui distribusi manfaat yang lebih merata,” tuturnya.

Ia menekankan, keberhasilan ekonomi Islam sebagai jalan ketiga membutuhkan tata kelola yang bersih, transparan, dan amanah. Tanpa itu, prinsip luhur yang ditawarkan hanya akan menjadi slogan. Kalau kita ingin membangun ekonomi syariah yang kuat, maka integritas, akuntabilitas, dan kecerdasan harus menjadi pondasi utama. Sri Mulyani pun mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk tidak sekadar melihat ekonomi Islam sebagai ceruk pasar. Tetapi sebagai sistem nilai yang relevan menjawab tantangan zaman.

Diposting oleh gandatmadi46@yahoo.com

Post navigation

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *