FREEPORT INDONESIA

Di balik bayangan pegunungan kapur yang tegak berdiri setinggi lebih dari seribu meter di atas hutan tropis Irian Jaya, tersembunyi kekayaan mineral yang kelak ternyata berharga lebih dari 77 miliar dollar Amerika Serikat (Grasberg, George A Mealey)

Awalnya adalah kekaguman petualang Belanda, Jan Carstenszoon, yang berlayar di selatan Pulau Papua pada 1623, akan kilauan warna putih di puncak pegunungan tropis dekat khatulistiwa. Kilauan warna putih yang belakangan merupakan salju abadi itu menutup puncak pegunungan. Carstensz menamai puncak gunung bersalju itu sesuai namanya.

Tak banyak yang percaya laporan Carstensz akan gunung bersalju di daerah tropis dekat khatulistiwa pada abad ke-17 tersebut. Namun, laporan Carstenz pula yang akhirnya memicu banyak ekspedisi serta penjelajahan dari para petualang dan ilmuwan Eropa berabad-abad kemudian.

Namun, ekspedisi yang kemudian mengubah lanskap nasib pegunungan tinggi di pedalaman Papua ini baru terjadi tahun 1936 saat kepala perusahaan minyak Belanda, Antonie Hendrikus Colijn, dan geolog yang menjadi stafnya, Jean Jacques Dozy, menemukan mineral berkadar tembaga tinggi dalam singkapan batu besar yang menjulang di selatan Puncak Carstensz. Dozy menamai batu besar yang menjulang tinggi itu Ertsberg atau Gunung Bijih.

Colijn dan Dozy, dibantu sejumlah orang dari suku Dayak Kalimantan sebagai pembawa barang yang cekatan, awalnya memang hanya berniat menaklukkan Puncak Carstensz. Temuan akan Gunung Bijih ini ditulis dalam laporan Dozy. Termasuk dalam laporannya adalah temuan akan sebuah gunung di sebelah utara perkemahannya, yang hanya ditumbuhi rumput yang kontras dengan daerah sekitarnya. Dalam peta yang dia buat, Dozy menamai gunung tersebut Grasberg atau Gunung Rumput.

Hampir tiga dekade kemudian, laporan ekspedisi Colijn-Dozy itu ternyata menarik perhatian seorang geolog yang bekerja untuk perusahaan tambang Amerika Serikat, Freeport, Forbes Wilson. Tahun 1960, Wilson bersama geolog rekannya, Del Flint, akhirnya menemukan batuan tinggi menjulang Ertsberg seperti yang digambarkan Dozy. Tak hanya itu, Wilson dan Del Flint juga akhirnya menemukan kandungan mineral tembaga Ertsberg pada tahun itu.

Salah seorang yang berjasa mengantar Wilson menemukan Ertsberg adalah putra asli suku Amungme bernama Mozes Kilangin. Ia menjadi penghubung dan juru bahasa bagi Wilson. Nama Mozes Kilangin kini diabadikan menjadi Bandara Internasional Timika.

Tujuh tahun setelah ekspedisi Wilson, Freeport akhirnya berhasil mengajak Pemerintah Indonesia yang baru saja berganti rezim menandatangani kontrak karya untuk jangka waktu tujuh tahun. Kontrak karya tahun 1967 ini mengawali kerja pertambangan Freeport di Papua.

Sebuah pekerjaan yang tak mudah. Bahkan George A Mealey, geolog pekerja Freeport yang menulis buku Grasberg, Penambangan Tembaga dan Emas di Pegunungan Irian Jaya pada Endapan Paling Terpencil di Dunia, awalnya sempat ragu, menambang mineral di lokasi dengan ketinggian dan sulit dijangkau tersebut, bakal menguntungkan. Mealey dalam prolog bukunya menulis, ”Menurut pendapat saya pada waktu itu, membuka proyek pertambangan yang demikian kecil dan dengan biaya yang demikian besar serta berlokasi pada daerah yang demikian terpencil adalah suatu kegilaan belaka. Meskipun kadar bijihnya sedikit lebih tinggi daripada di tambang-tambang Amerika Selatan yang selama ini saya ketahui, saya tetap tidak percaya bahwa ada orang yang mau menangani proyek seperti itu.”

Mealey yang pernah bekerja di pertambangan tembaga El Teniente, Chile, pada akhirnya harus membantah keyakinan awalnya. Tahun 1975, Mealey akhirnya bekerja untuk Freeport dan membuktikan sendiri bahwa kekayaan yang tersimpan di pegunungan Papua itu bernilai setidaknya 77 miliar dollar AS.

Sungguh pekerjaan yang luar biasa memulai tambang di Ertsberg. Persiapan logistik melakukan pekerjaan pertambangan di ketinggian 3.800 meter di atas permukaan laut (mdpl) pada awal tahun 1960-an membutuhkan banyak perjuangan. Seluruh perlengkapan tambang, termasuk alat bor dan logistik, harus dibawa melalui udara menggunakan helikopter. Cuaca di sekitar Ertsberg yang berawan, kabut, dan hujan tak memungkinkan helikopter bebas terbang setiap saat. Bahkan hingga saat ini.

Pada awal tahun 1960-an pula Wilson dengan timnya mulai membangun banyak sarana untuk tambang awal Freeport, pelabuhan, kota tambang, jembatan, hingga jalan menuju lokasi tambang. Untuk urusan pengangkutan peralatan serta logistik dari pantai menuju Ertsberg ini, Wilson menugaskan Balfour Darnell dan pilot helikopter Le Frenier. Darnell pula yang menemukan sebuah lembah dengan dikelilingi gunung dan tebing-tebing terjal yang kelak menjadi kota tambang bernama Tembagapura.

Darnell pula yang kemudian memotret jalur punggung gunung untuk bisa dijadikan jalan darat dari pelabuhan menuju lokasi tambang di ketinggian. Jalan darat utama dari dataran rendah di Mill 5 menuju dataran tinggi di Mill 74 mengikuti punggung gunung dan melewati dua terowongan, masing-masing sepanjang 1,3 kilometer dan 950 meter, ini menjadi jalur transportasi utama pengangkutan karyawan dan logistik hingga kini.

Termasuk dalam tahap awal konstruksi ini adalah pembangunan trem kabel yang menghubungkan Ertsberg dengan lokasi penggilingan dan pemrosesan bijih. Beda tinggi antara puncak tebing tempat penghentian trem atas dan bawah adalah 700 meter. Trem ini menjadi sarana pengangkutan karyawan ataupun bijih.

Tambang Terbuka Grasberg dari Waktu ke Waktu

Pada tahun 1972, seluruh sarana dan prasarana penambangan selesai dibangun. Dibutuhkan waktu lima tahun untuk menyelesaikan seluruh konstruksinya. Pada tahun ini pula, untuk pertama kalinya, konsentrat hasil penambangan di Gunung Bijih atau Ertsberg berhasil dikapalkan. Selama kurun waktu delapan tahun sejak pertama kali dikapalkan, Ertsberg telah menghasilkan 23 juta ton ore (bijih). Dari jumlah ini, Freeport Indonesia bisa menghasilkan tembaga sebanyak 520.000 ton, 6 juta ons perak, dan 463.000 tons emas.

Sebesar apa pun Ertsberg saat itu, para petinggi Freeport yakin bahwa gunung emas pertama yang mereka temukan tersebut bakal habis ditambang. Mereka memperkirakan cadangan di Ertsberg bakal habis pada 1987.

Meski kemudian Freeport menemukan cebakan mineral baru tahun 1975 yang belakangan dikenal dengan nama Ertsberg East atau Gunung Bijih Timur (GBT). Namun, persoalannya tak sederhana karena mereka harus membuat tambang bawah tanah dengan nilai investasi besar saat harga tembaga turun. Cebakan GBT yang ditemukan mempunyai dua zona tambahan, yakni Deep Ore Zone (DOZ) dan Intermediate Ore Zone (IOZ).

Saat itu, Freeport tak punya pengalaman menambang bawah tanah. Hitungan ekonomis Freeport saat itu adalah 20 persen pengembalian modal jika mereka harus melakukan penambangan bawah tanah. Studi yang dilakukan Freeport akhirnya menyimpulkan bahwa tambang bawah tanah di GBT bisa dilakukan dengan metode block caving, yakni memotong batuan bijih dalam bentuk blok-blok besar dan membiarkannya runtuh karena beratnya. Setelah runtuh, baru batuan besar tersebut dibawa ke pabrik pengolahan.

Tahun 1977 dilakukan peledakan pertama untuk membuat terowongan menembus GBT. Inilah awal mula tambang bawah tanah Freeport.

Memasuki pertengahan tahun 1980-an adalah masa awal kegalauan Freeport Indonesia. Selain menghadapi cadangan di Ertsberg yang bakal habis tahun 1987, harga tembaga dunia saat itu juga rendah. Belum lagi ditemukannya serat optik serta aluminium sebagai pengganti kawat tembaga memungkinkan prospek keuntungan Freeport dari tambang di Papua menurun.

Harga tembaga yang rendah, sedikit di atas biaya penambangan dan pengolahan, yang terutama membuat petinggi Freeport pada pertengahan tahun 1980-an galau. Mealey mencatat, Freeport bahkan hendak menjual operasi tambang mereka di Papua saat itu.

Gunung emas

Namun, suasana muram itu berubah cerah saat James Robert ”Jim Bob” Moffett menjadi CEO Freeport McMoRan, induk Freeport Indonesia. Jim Bob yang kemudian memutuskan eksplorasi besar-besaran di sekitar Ertsberg berbekal dengan catatan eksplorasi sejak tahun 1960-an yang pernah dilakukan Del Flint. Dalam buku Mealey, Grasberg ketika itu hanya digambarkan sebagai gunung tinggi di utara Ertsberg yang sehari-hari jadi pemandangan karyawan Freeport.

Dave Potter, salah seorang geolog Freeport yang ketika itu juga hanya ikut menikmati Grasberg sebagai pemandangan gunung, punya firasat bahwa ada banyak kekayaan terpendam di sana. Tahun 1985, Potter, dengan dukungan anggaran yang tak terlalu banyak serta alat bor yang sudah tua, mulai mengebor Grasberg. Hasil pengeboran pertama tak terlalu meyakinkan.

Dua tahun kemudian, sebuah helikopter mendarat di puncak Grasberg mengumpulkan contoh batuan permukaan. Hasilnya luar biasa. Batuan permukaan ini mengandung emas dengan kadar sangat tinggi.

Tahun 1988, Freeport mulai yakin dengan kekayaan yang terkandung di Grasberg. Eksplorasi pun dilakukan lebih sistematis dan terencana. Mealey yang juga rekan Potter menulis di bukunya, ”Kali ini pengeboran dilakukan di lima titik, dimulai dari puncak gunung. Empat lubang pertama menunjukkan adanya kadar emas dan tembaga yang menggembirakan, tetapi tidak terdapat konsentrasi endapan emas di dekat permukaan sebagaimana diharapkan. Hasil lubang kelima membuat kami terkesima karena dari 611 meter kedalaman lubang bor, 591 meter menembus lapisan bijih yang mengandung kadar tembaga 1,69 persen dan kadar emas 1,77 gram per ton.”

Mealey sampai menyebut hasil pengeboran kelima itu paling hebat yang pernah ada dalam sejarah industri pertambangan. Inilah yang mengubah wajah Freeport selamanya. Dari hasil pengeboran tahun 1988 itu, Grasberg ”ditemukan”. Freeport bukan lagi perusahaan tambang kecil. Mereka kini memiliki cadangan emas tunggal terbesar di dunia.

Grasberg menjadi harta karun Freeport. Tahun 1996, cadangan terbukti Grasberg mengandung 1,76 miliar ton batuan bijih dengan kadar rata-rata 1,11 persen tembaga atau sama dengan 35,2 miliar pon logam tembaga murni dengan kandungan emas sebesar 49 juta troy ons. Jumlah ini sama dengan separuh jumlah seluruh emas yang diperoleh di California saat demam emas Amerika Serikat.

Temuan Grasberg dan pekerjaan tambang bawah tanah di GBT yang terus dilakukan membuat skala produksi Freeport meningkat tajam sejak 1988. Dari hanya 25.000 ton bijih pada tahun 1988, Freeport bisa memproduksi pada jumlah tertingginya, 238.000 ton per tahun 10 tahun kemudian.

Kontrak karya

Penemuan Grasberg membuat para petinggi Freeport McMoRan berpikir cepat. Freeport pun segera mengajukan kontrak karya (KK) kedua buat Freeport ke Pemerintah Indonesia pada 1991 atau tiga tahun setelah Grasberg ditemukan. KK II relatif tak menimbulkan gejolak. Pemerintah Indonesia di bawah Presiden Soeharto sejak awal ramah kepada Freeport. KK II Freeport ini berdurasi 30 tahun atau berakhir tahun 2021.

Dalam KK II disebut juga ketentuan mengenai divestasi saham Freeport. Sepuluh tahun sejak penandatanganan KK II atau pada 2001, Freeport harus melepas 10 persen sahamnya kepada pihak Indonesia. Kemudian, 10 tahun berikutnya sejak 2001, Freeport harus melepas sahamnya 2 persen per tahun hingga pihak nasional Indonesia bisa menguasai 51 persen saham pada tahun 2011.

Indonesia mengalami reformasi politik tahun 1998 yang ditandai dengan tumbangnya Soeharto. Indonesia berubah menjadi negara demokrasi. DPR sebagai lembaga legislatif berdaya penuh. Pemerintah tak bisa lagi mengeluarkan kebijakan tanpa sepengetahuan DPR. Divestasi Freeport pun lebih banyak diwarnai isu politis. Soal kedaulatan Indonesia hingga nasionalisasi sumber daya alam.

Pasca-Reformasi, masyarakat lebih bebas menyuarakan aspirasinya, termasuk di Papua. Isu kemerdekaan Papua kembali muncul. Freeport beroperasi di tengah tuntutan kemerdekaan Papua dan kesejahteraan penduduk asli di sana. Meski dari catatan Freeport, pada tahun 1992-2017, Freeport telah memberikan 1,56 miliar dollar AS untuk pengembangan masyarakat Papua. Studi LPEM-UI tahun 2013 menyebutkan, Freeport berperan dalam 37,5 persen PDRB Papua dan 91 persen PDRB Kabupaten Mimika, tempat operasi Freeport.

Ringkasan Produksi Kontrak Karya II

Isu politis di seputar tuntutan divestasi Freeport berjalan beriring dengan isu keamanan di Papua dan persoalan ketenagakerjaan di tubuh perusahaan tersebut. Penembakan oleh kelompok bersenjata di area konsesi PT Freeport hingga demonstrasi dan ancaman mogok buruh perusahaan ini seperti tak pernah berhenti.

Sementara di Jakarta, perundingan soal divestasi kedua saham PT Freeport Indonesia berlangsung alot. Grasberg, harta karun Freeport yang telah menjadi tambang terbuka, diperkirakan bakal habis pada akhir tahun ini. Namun, cadangan baru di bawah Grasberg dengan pengelolaan tambang bawah tanah juga masih menjanjikan.

Tambang bawah tanah

Pada tahun 2019, setelah gunung emas Grasberg habis ditambang, bakal menjadi era ketika Freeport mulai beralih dari tambang terbuka dan tambang bawah tanah menjadi tambang bawah tanah sepenuhnya. Saat ini, setidaknya ada empat blok tambang bawah tanah yang tengah diproduksi Freeport, yakni Grasberg Block Cave, Big Gossan Stope, DOZ Block Cave, dan DLMZ (deep mill level zone) Block Cave. Belum lagi cadangan di Blok Kucing Liar yang baru dieksplorasi.

Jalan berliku harus dilalui pihak nasional Indonesia untuk menguasai Freeport. Meski lika-liku itu juga terkadang timbul dari regulasi yang dibuat pemerintah sendiri. Meski ketentuan divestasi memungkinkan pihak nasional Indonesia, yakni pemerintah, BUMN, BUMD, hingga swasta, bisa memiliki 51 persen saham Freeport pada 2011, kenyataannya jelas tak semudah itu.

Tahun 1994, pemerintah mengeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 1994 yang memungkinkan kepemilikan 100 persen penanaman modal asing. Freeport merasa, peraturan pemerintah ini membuat mereka tak wajib melakukan divestasi saham.

Kemudian, pada 2009, pemerintah mengeluarkan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Mineral dan Batubara (UU Minerba). Undang-undang ini mewajibkan perusahaan pertambangan asing melakukan divestasi lima tahun setelah mereka beroperasi.

Freeport merasa ada yang salah dengan ketentuan undang-undang itu karena ada ketentuan yang mengatur bahwa KK yang telah ada sebelum UU Minerba terbit tetap dihormati hingga masa berlakunya. Meskipun dalam aturan yang sama juga disebut ketentuan tentang KK yang harus menyesuaikan dengan UU Minerba paling lambat satu tahun sejak undang-undang itu disahkan.

Melalui serangkaian perundingan, termasuk ancaman arbitrase, akhirnya November 2018 Freeport McMoRan sepakat melepas sahamnya di PT Freeport Indonesia agar pihak nasional Indonesia bisa memiliki 51 persen saham. Pelepasan saham ini dilakukan melalui skema akuisisi 40 persen hak kelola Rio Tinto di PT Freeport Indonesia.

Hari bersejarah bagi Indonesia terjadi pada 12 Juli 2018 setelah terjadi kesepakatan dasar atau head of agreement (HoA) antara PT Inalum yang ditunjuk pemerintah untuk mengakuisisi 40 persen hak kelola Rio Tinto dan PT Freeport Indonesia. HoA ini menjadi jalan pertama kepemilikan 51 saham pihak nasional Indonesia di PT Freeport.

Bagi Freeport Indonesia, tak terlalu penting siapa yang memiliki saham atas salah satu tambang tembaga dan emas terbesar di dunia itu. Menurut Vice President Corporate Communications PT Freeport Indonesia Reza Pratama, bisnis pertambangan adalah bisnis yang penuh risiko dengan nilai investasi tinggi. Kepemilikan saham hingga 51 persen di pihak nasional Indonesia atas PT Freeport tak berarti apa-apa jika tak bersamaan dengan jaminan stabilitas regulasi serta pajak.

”Tentu kesepakatan ini tetap harus didukung stabilitas regulasi serta pajak. Kami tetap berencana berproduksi hingga 2041. Stabilitas agar kami tetap bisa beroperasi setidaknya sampai 2041 ini yang paling penting,” ujar Reza.

Artinya, bagi Freeport, kesepakatan divestasi saham ini juga seharusnya dibarengi dengan jaminan dari pemerintah agar PT Freeport Indonesia bisa beroperasi dengan tenang setidaknya sampai 2041. Tidak ada lagi gangguan berupa perubahan regulasi yang tiba-tiba jika rezim berganti. Freeport memang tak mau main-main soal stabilitas regulasi bagi jaminan keberlangsungan produksi pertambangan mereka. Kepala Teknik Tambang PT Freeport Indonesia Zulkifli Lambali menuturkan, setelah Grasberg habis pada tahun 2018, produksi PT Freeport kemungkinan akan turun 50 persen sampai 60 persen

Perbandingan Penerimaan Negara & Investor

Produksi ore PT Freeport Indonesia tahun 2017 sebesar 140.000 ton. Menurut Zulkifli, penutupan tambang terbuka Grasberg membuat produksi Freeport tersisa sekitar 50.000 ton. ”Baru setelah tahun 2020 atau 2021, saat semua operasional tambang dilakukan di bawah tanah, kita berharap produksinya kembali meningkat hingga 100.000 ton,” ujarnya.

Untuk bisa berproduksi sebesar itu, Freeport butuh investasi sedikitnya 6 miliar dollar AS. Nilai investasi sebesar ini yang, menurut Zulkifli ataupun Reza, semestinya tak terganggu dengan gejolak apa pun terkait dengan divestasi saham PT Freeport Indonesia.

Sekali lagi, Freeport Indonesia seperti berada di persimpangan jalan. Mereka yakin cadangan emas dan tembaga di bawah Grasberg setidaknya masih bisa membuat perusahaan beroperasi hingga 40 tahun lagi. Tahun 1988 saat Freeport menemukan gunung emas Grasberg, mereka bisa dengan cepat menyodorkan kontrak karya yang membuat perusahaan ini jadi salah satu perusahaan tambang emas terbesar di dunia.

Kini, apabila tambang bawah tanah sepenuhnya berproduksi, Freeport juga akan menjadi perusahaan tambang yang melakukan produksi tambang bawah tanah terbesar di dunia. Namun, rezim berganti, Freeport tak segampang ketika mereka menyodorkan kontrak karya kepada pemerintah Orde Baru. Akan selalu ada isu politik mewarnai setiap kebijakan tentang Freeport. Belum lagi persoalan keamanan di Papua yang hingga hari ini masih belum selesai.

Namun, Freeport ibarat gula dengan semut yang mengerubutinya. Sebelum semua emas dan tembaga di sana habis, tetap akan banyak yang tertarik menikmati, apa pun risikonya.

penulis: Khaerudin | fotografer: Khaerudin, B Josie Susilo Hardianto, Agus Susanto, Korano Nicolash Lms, Albert Kuhon | infografik: Parlindungan Siregar | Videografer: Khaerudin | Video Editor: Vincentzo | designer & pengembang: Rafni Amanda, Yulius Giann | penyelaras bahasa: Priskilia Sitompul | produser: Haryo Damardono, Prasetyo Eko Prihananto, Khaerudin.

Kesepakatan pihak Freeport McMoran dengan Indonesia

Pertama:Kesepakatan antara Freeport-McMoRan (melalui anak usahanya PT Freeport Indonesia/PTFI) dengan Pemerintah Indonesia pada awal 1970-an

Berikut adalah poin-poin penting terkait situasi dan kesepakatan pada periode 1972-1973:

*Pembangunan dan Investasi Awal (1970-1972): Setelah KK ditandatangani tahun 1967, Freeport membangun infrastruktur pertambangan yang monumental di dataran tinggi Papua (Ertsberg). Proyek ini menelan biaya sekitar 150 juta dolar AS (atau setara dengan Rp2,4 triliun pada masa itu).

*Peresmian dan Operasional (1973): Presiden Soeharto meresmikan operasional tambang tembaga Freeport Indonesia di Irian Jaya (sekarang Papua) pada tahun 1973.

*Ekspor Perdana (1972): PT Freeport Indonesia mulai melakukan ekspor perdana konsentrat tembaga sebanyak 9.700 ton pada tahun 1972.

*Infrastruktur yang Dibangun: Proyek ini mencakup pembangunan jalan sepanjang 100 km yang menghubungkan tambang di pegunungan dengan pelabuhan di pesisir, membuka akses baru bagi pembangunan ekonomi di wilayah tersebut.

*Konteks Kontrak Karya 1967: Kontrak 1967 yang mendasari operasional 1972 tersebut memberikan konsesi jangka panjang (30 tahun) dengan hak eksklusif untuk mengeksplorasi dan menambang mineral (terutama tembaga dan emas) di kawasan Pegunungan Sudirman. 

Kedua.Freeport dan pemerintah Indonesia mengatakan dalam sebuah konferensi pers pada hari Selasa tgl 29 Agustus 2017  bahwa perusahaan Amerika tersebut akan memindahkan 51% sahamnya ke Indonesia untuk wilayah tambang  Grasberg, tambang emas terbesar dan tambang tembaga terbesar kedua di dunia.

Pada tgl 21 Desember 2018 PT Inalum meningkatkan kepemilikannya di PTFI dari 9.36% menjadi 51% dengan membayar US$ 3.85 miliar atau Rp 55 triliun.

*Freeport juga sepakat untuk membangun smelter untuk memproses konsentrat tembaga di Indonesia, membantu menciptakan lapangan kerja dan pekerjaan pengolahan ( more valuable processing work  ) di sana.

*Sebagai imbalannya, pemerintah Indonesia setuju untuk memperpanjang izin Freeport untuk mengekspor tembaga dari tambang tersebut. Itu memberi kepastian kepada Freeport yg berencana untuk memperluas tambang dengan  mengalihkan sebagian besar pekerjaan di bawah tanah ( dari openpit ke underground.

Keuntungan PT Freeport Indonesia 2025

Laba bersih PT Freeport Indonesia (PTFI) periode Januari-September 2025 tercatat sebesar US$2,66 miliar atau sekitar Rp44,39 triliun. Angka ini mengalami penurunan 21,19% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya akibat insiden longsor lumpur di tambang Grasberg (GBC) awal September 2025. Total pendapatan sepanjang tahun 2025 diproyeksikan hanya mencapai US$8,51 miliar atau 82% dari target RKAB.

Berikut rincian kinerja keuangan dan operasional PTFI 2025:

*Penurunan Produksi: Akibat penangguhan tambang Grasberg, produksi tembaga berkurang 30% dan emas berkurang 50% dari rencana.

*Kontribusi Negara: Meskipun produksi terganggu, perusahaan tetap diproyeksikan memberikan kontribusi signifikan, dengan setoran kepada negara dan daerah tercatat Rp7,73 triliun pada kuartal I-2025.

*Pemulihan Operasi: Pemulihan tambang GBC ditargetkan mulai kuartal II-2026, namun tambang Big Gossan dan Deep Mill Level Zone (DMLZ) sudah kembali berproduksi sejak Oktober 2025.

*Proyeksi Ke Depan: Produksi tembaga dan emas tahun 2026 diperkirakan setara dengan tahun 2025, sekitar 1 miliar pon tembaga dan 0,9 juta ons emas. 

Meskipun laba bersih menurun, total aset PTFI per Juni 2025 meningkat menjadi US$27,04 miliar, didukung oleh peningkatan aset tidak lancar. 

Susunan Komisaris & Direksi PT Freeport Indonesia pada Desember 2018 .

Preskom : Richard Carl Adkerson (President of Freeport-Mcmoran Oil & Gas LLC).Wakil Komisaris Utama Amin Sunaryadi (ex SKK Migas),Komisaris Budi Gunadi Sadikin (Dirut Inalum, alumni ITB), Komisaris Letjen Purn Hinsa Siburian (ex Wakasad, lulusan terbaik Akmil 1986), Komisaris Kathleen Lynne Quirk (vice-president, CFO, and Treasurer of Freeport-McMoRan (FCX)), Komisaris Adrianto Machribie. (Member of the Board of Indonesia Mining Association, alumni The Hague Netherlands)

Dirut Tony Wenas (ex Vice Presiden Freeport, 2001 – 2010 alumni FH UI), Wakil Dirut Orias Moedak (ex Dirut PI III, Dir Keu PT Bukit Asam alumni FE Unpad). Direktur Jenpino Ngabdi (ex Dana Riksa Sekuritas),Direktur Achmad Ardianto (Ketum Ahli Pertambangan Indonesia, ex Dir SDM Antam), Direktur Robert Schroeder (Ex Dirut adinterim Freeport Indonesia). Direktur Mark Johnson (exVice President Operating Officer FPI, alumni Montana Tech Of The University Of Montana).

Jumlah Karyawan

Pada tahun 2012 PT Freeport Indonesia mempekerjakan lebih dari 11.700 karyawan langsung dan lebih dari 12.400 karyawan kontraktor. Jumlah karyawan langsung PTFI: 64,04% Non Papua, 34,63% Papua, dan 1,33% Asing. Jumlah karyawan PTFI + Perusahaan mitra dan kontraktor, termasuk Institut Pertambangan Nemangkawi (IPN): 97,8% Indonesia, 2,20% Asing.

Program Pendidikan

Pelatihan dan pengembangan dilakukan di Institut Pertambangan Nemangkawi, yaitu pusat pelatihan berbasis kompetensi yang menyediakan pengembangan masa magang, khususnya bagi peserta dari Papua.

  • 3.800 siswa magang
  • 90% siswa asli Papua
  • 10% non-Papua
  • 1.800 siswa sudah bekerja di PTFI dan kontraktornya

Graduate Development Program merekrut lulusan-lulusan terbaik Universitas. Hingga saat ini terdaftar 631 program dan 374 telah dipekerjakan. 20% diantaranya adalah putra-putri Papua.

Sampai dengan 2012, Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme & Kamoro (LPMAK) melalui dana kemitraan telah menyediakan beasiswa bagi 8.772 pelajar. Sejak dimulainya program ini, 3.697 pelajar dari SMA sampai dengan program magister telah lulus. Pada tahun 2011, LPMAK memberikan beasiswa aktif bagi pelajat sekolah dasar sampai dengan mahasiswa Universitas.

Diposting oleh gandatmadi46@yahoo.com

Post navigation

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *