Lembaga Pengelola Investasi (INA), beroperasi dengan nama Indonesia Investment Authority atau INA, adalah dana kekayaan negara (SWF) milik Indonesia. Lembaga ini bertanggung jawab langsung kepada Presiden Indonesia.
Tidak seperti SWF di negara lain yang mengelola kelebihan pendapatan dari eksploitasi minyak bumi atau cadangan valuta asing, lembaga ini mencari pendanaan dari luar negeri untuk mendanai pengembangan ekonomi di Indonesia.
Lembaga ini dibentuk oleh pemerintah Indonesia pada akhir tahun 2020 seiring dengan mulai berlakunya Undang-Undang Cipta Kerja. Lembaga ini ditujukan untuk memperkuat ekonomi nasional dengan berekspansi ke kelas aset baru. Pada bulan Februari 2021, lembaga ini resmi diluncurkan dengan target untuk mengelola aset sebesar US$24,5 miliar. Sebelum diluncurkan pun, lembaga ini telah mendapat komitmen pendanaan hingga US$10 miliar dari sejumlah perusahaan dan lembaga global seperti DFC dan JBIC, serta sejumlah dana pensiun asing. Uni Emirat Arab juga telah mengumumkan rencananya untuk berinvestasi sebesar US$10 miliar di lembaga ini.
Note: DFC (U.S. International Development Finance Corporation) dan JBIC (Japan Bank for International Cooperation) adalah dua lembaga keuangan pembangunan dari AS dan Jepang yang sering bekerja sama membiayai proyek infrastruktur dan ekonomi strategis di negara berkembang, seperti di Asia Tenggara (termasuk Indonesia) dan India, untuk mendorong pertumbuhan berkelanjutan, keamanan energi, dan ketahanan rantai pasokan, seringkali melalui kemitraan dengan sektor swasta.
Pada akhir tahun 2021, melalui anak usahanya, lembaga ini menjadi salah satu investor strategis dalam penawaran umum perdana dari Mitratel. Pada akhir tahun 2021 juga, pemerintah mengalihkan 8% saham Bank Mandiri dan 3,63% saham Bank Rakyat Indonesia ke lembaga ini. Pada bulan Agustus 2022, lembaga ini meneken perjanjian kerja sama dengan DP World dan Pelindo untuk mengembangkan Belawan New Container Terminal di Medan dengan investasi sebesar Rp 111 triliun. Pada bulan September 2022, melalui anak usahanya, lembaga ini mengakuisisi Jalan Tol Kanci–Pejagan dan Jalan Tol Pejagan–Pemalang dari Waskita Toll Road dengan harga Rp 5,8 triliun. Pada bulan September 2022 juga, bersama BlackRock dan sejumlah investor lain, lembaga ini menyalurkan pinjaman sebesar US$ 300 juta ke Traveloka.
Mitratel (PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk) adalah anak perusahaan PT Telkom Indonesia yang bergerak di bidang infrastruktur telekomunikasi, khususnya penyediaan menara telekomunikasi dan jaringan fiber optik untuk operator seluler di seluruh Indonesia. Perusahaan ini mengelola puluhan ribu menara dan jaringan fiber, mendukung bisnis telekomunikasi seperti 4G/5G dan memperluas layanan IndiHome, serta terus mengembangkan layanan digital seperti edge computing. Mitratel juga dikenal sebagai perusahaan terbuka dengan kode saham MTEL di bursa efek.
Anggota Dewan Pengawas INA, yang terdiri atas lima orang, sebelumnya telah dilantik dan diambil sumpahnya oleh Presiden pada 27 Januari 2021 lalu. Kelimanya yang kali ini diperkenalkan Presiden ialah:
- Menteri Keuangan Sri Mulyani, sebagai ketua merangkap anggota;
- Menteri Badan Usaha Milik Negara Erick Thohir, sebagai anggota;
- Haryanto Sahari, sebagai anggota;
- Yozua Makes, sebagai anggota; dan
- Darwin Cyril Noerhadi, sebagai anggota.
Adapun Dewan Direktur INA, juga terdiri atas lima orang yang semuanya berasal dari kalangan profesional, ialah sebagai berikut:
- Ridha Wirakusumah, sebagai Ketua Dewan Direktur;
- Arief Budiman, sebagai Wakil Ketua Dewan Direktur/Direktur Investasi;
- Stefanus Ade Hadiwidjaja, sebagai Direktur Investasi;
- Marita Alisjahbana, sebagai Direktur Risiko; dan
- Eddy Porwanto, sebagai Direktur Keuangan.
Pada bulan Desember 2022, melalui anak usahanya, lembaga ini berinvestasi sebesar Rp 1,86 triliun di Kimia Farma Apotek bersama Silk Road Fund (China Government Guidance Fund ). Pada bulan Februari 2023, lembaga ini menjadi salah satu investor strategis dalam penawaran umum perdana dari Pertamina Geothermal Energy. Pada bulan Juni 2023, lembaga ini mengumumkan kemitraan strategis dengan ESR Group dan PT MC Urban Development Indonesia untuk mengembangkan pergudangan di Greenland International Industrial Center, Kawasan Industri Terpadu Indonesia China, dan Kawasan Industri Suryacipta. Pada bulan Juli 2023, melalui anak usahanya, lembaga ini mengakuisisi Jalan Tol Medan–Binjai dan Jalan Tol Bakauheni–Terbanggi Besar dari Hutama Karya dengan harga Rp 20,5 triliun.
ESR Group adalah perusahaan manajemen investasi dan jasa real estat terkemuka di Asia-Pasifik yang berfokus pada properti “Ekonomi Baru” seperti logistik (gudang, pusat distribusi) dan pusat data, serta infrastruktur energi, menjadi salah satu manajer investasi real estat terbesar di dunia setelah mengakuisisi ARA Asset Management, dengan tujuan menyediakan solusi ruang dan investasi berkelanjutan untuk investor dan pelanggan di berbagai negara seperti Tiongkok, Jepang, Korea Selatan, India, Australia, dan Selandia Baru, termasuk kehadiran signifikan di Indonesia.
Didirikan pada April 2021, PT MC Urban Development Indonesia telah fokus pada proyek pengembangan properti di Indonesia, khususnya di wilayah Jakarta Raya, di mana populasi kelas menengah tumbuh seiring dengan pertumbuhan ekonomi. Kami akan terus memperluas bisnis kami di masa mendatang.
Hingga akhir tahun 2023, perusahaan ini memiliki 9 anak usaha, yakni:
- PT Rafflesia Investasi Indonesia
- PT INA DP World Investment
- PT Swarna Investasi Indonesia
- PT Tumbuh Investasi Indonesia
- PT Akar Investasi Indonesia
- PT Tanam Investasi Indonesia
- PT Baswara Investasi Indonesia
- PT Maleo Investasi Indonesia
- PT Arsa Investasi Indonesia
Kinerja Indonesia Investment Authority (INA)
INA menunjukkan pertumbuhan signifikan, dengan Total Asset Under Management (AUM) mencapai Rp144,3 triliun (tumbuh 92% sejak 2021) hingga 2025, laba bersih Rp5,4 triliun pada 2024, serta peringkat kredit ‘BBB’ dari Fitch Ratings, menandakan pengelolaan profesional yang menarik investor global dan fokus pada sektor strategis seperti infrastruktur, digital, dan energi hijau. INA berhasil menyalurkan investasi kumulatif besar (lebih dari Rp50 triliun), meningkatkan investasi hingga tiga digit pada 2023, dan memiliki proyek-proyek berdampak ekonomi tinggi, menegaskan perannya sebagai Sovereign Wealth Fund yang mendukung pembangunan berkelanjutan Indonesia.
INA hubungannya dengan Danantara
INA dan Danantara adalah dua lembaga investasi negara Indonesia yang berbeda namun terkait erat; Danantara dibentuk dengan mandat lebih luas untuk mengkonsolidasikan aset BUMN dan dana investasi lain di bawah satu payung, mirip gabungan fungsi INA dan Kementerian BUMN, namun beroperasi independen dengan INA fokus pada investasi strategis, sementara Danantara bertindak sebagai “super” SWF yang mengintegrasikan dan mengoptimalkan aset negara untuk pertumbuhan ekonomi nasional yang lebih besar.
Diposting oleh gandatmadi46@yahoo.com
