Quantity Theory of Money (QTM): Friedman VS Keynes
Friedman memodernisasi Quantity Theory of Money (QTM) dengan memandang permintaan uang sebagai sesuatu yang stabil tetapi dipengaruhi oleh pendapatan permanen dan berbagai aset (obligasi, saham, barang), tidak seperti Keynes yang memandang permintaan uang sangat sensitif terhadap suku bunga dan tidak stabil (preferensi likuiditas), dengan berfokus pada pergeseran output jangka pendek. Sementara Keynes menekankan kebijakan fiskal untuk output, Friedman menghubungkan pasokan uang secara langsung dengan perubahan tingkat harga, menegaskan bahwa permintaan uang dapat diprediksi, sehingga kecepatan pergerakan uang cukup stabil untuk kebijakan, sebuah pandangan yang mendapatkan dukungan setelah ketidakstabilan tahun 1970-an yang menantang model-model Keynesian murni.
Milton Friedman
*Fungsi Permintaan Uang: Lebih kompleks, mencakup pendapatan permanen, rasio kekayaan terhadap pendapatan (W), dan imbal hasil berbagai aset (obligasi, ekuitas, barang).
*Kecepatan (V): Tidak konstan, tetapi sangat dapat diprediksi dan stabil, bervariasi secara pro-siklus (naik saat ekonomi booming, turun saat resesi).
*Suku Bunga: Dampaknya kecil terhadap permintaan uang karena imbal hasil uang dan aset lainnya cenderung bergerak bersamaan.
*Fokus: Terutama pada perubahan tingkat harga jangka panjang, yang menghubungkan pasokan uang secara langsung dengan inflasi.
JM Keynes
*Fungsi Permintaan Uang: Sangat sensitif terhadap suku bunga (preferensi likuiditas), dengan imbal hasil nol atau konstan atas uang.
*Kecepatan (V): Tidak stabil dan tidak dapat diprediksi, terutama selama liquidity traps.
*Suku Bunga: Penentu utama permintaan uang; suku bunga tinggi menurunkan permintaan uang (lebih banyak obligasi), suku bunga rendah meningkatkannya (lebih banyak uang tunai).
*Fokus: Terutama pada fluktuasi jangka pendek dalam output riil dan lapangan kerja, yang seringkali membutuhkan stimulus fiskal.
Rangkuman Perbedaan Utama
*Stabilitas: Friedman: Permintaan uang stabil, kecepatan tidak stabil; Keynes: Permintaan uang tidak stabil, kecepatan (diasumsikan) stabil.
*Sensitivitas Suku Bunga: Friedman: Dampak rendah terhadap permintaan uang; Keynes: Dampak tinggi.
*Implikasi Kebijakan: Friedman: Kendalikan pasokan uang untuk stabilitas harga; Keynes: Gunakan pengeluaran/perpajakan pemerintah untuk stabilisasi output.
Quantity theory of money and Empirical evidence of the Demand for Money
(Binus University)
Irving Fisher mengemukakan bahwa dalam teori kuantitas uang, jumlah peredaran uang berbanding lurus dengan perubahan harga. Menurutnya, perubahan jumlah uang yang beredar akan memengaruhi harga barang. Selain itu, Fisher juga menjelaskan bahwa peningkatan jumlah uang dapat menyebabkan inflasi, begitu pula sebaliknya. Irving Fisher memaparkan bahwa pada hakikatnya, perubahan jumlah uang yang beredar akan menyebabkan perubahan harga barang pada umumnya.
Bank Indonesia (BI) melaporkan peredaran uang kartal pada Agustus 2022 tercatat sebesar Rp805,5 triliun atau tumbuh sebesar 7,3 persen, lebih rendah dari bulan sebelumnya yang tumbuh 8,3 persen. Tabungan Rupiah yang dapat ditarik sewaktu-waktu juga tercatat tumbuh melambat, dari pertumbuhan 11,1 persen pada bulan sebelumnya menjadi 9,9% pada Agustus 2022 atau tercatat sebesar Rp2.161,1 triliun pada posisi laporan. Giro Rupiah juga tercatat melambat dari 25,5 persen pada bulan sebelumnya menjadi 24,1 persen pada Agustus 2022.
Menjaga kestabilan nilai tukar Rupiah melalui pengaturan jumlah mata uang beredar adalah contoh dari kebijakan moneter. Kebijakan moneter yang dilakukan pemerintah Indonesia melalui Bank Indonesia sebagai bank sentral. Bila jumlah uang beredar terlalu tingi, maka nilai uang akan jatuh menjadi tidak berharga dan harga akan naik, dan menyebabkan inflasi berlebihan atau hiperinflasi. Sebaliknya bila uang beredar terlalu rendah, maka akan kesulitan melakukan transaksi, serta harga barang akan turun (deflasi) yang menyebabkan perlambatan ekonomi. Tingkat nilai rupiah yang tidak stabil akan memberatkan pelaku ekonomi, baik eksportir, importir maupun konsumen. Bila inflasi terlalu tinggi, maka pelaku usaha sulit menjual barangnya dan konsumen akan sulit mendapatkan kebutuhannya. Karena itu bank sentral harus menjaga peredaran uang ini.
Laporan BI tentang uang beredar pada 2025
BI – Pertumbuhan Uang Beredar
| Jan 2025 | Maret 2025 | Juni 2025 | Sept 2025 | Okt 2025 |
| Rp 9.232,8 triliun | Rp 9.436,4 triliun | Rp9.597,7 triliun | Rp9.771,3 triliun | Rp9.783,1 triliun |
| 5,9% (yoy), | 6,1% (yoy) | 6,5% (yoy) | 8,0% (yoy) | 7,7% (yoy) |
- M2 (Uang Beredar dalam Arti Luas):
*Oktober 2025: Tumbuh 7,7% (yoy) menjadi Rp9.783,1 triliun, melambat dari September (8,0% yoy).
*Dampak: Pertumbuhan M1 (11,0% yoy) dan uang kuasi (5,5% yoy).
*Penyebab: Aktiva luar negeri bersih (10,4% yoy), penyaluran kredit (6,9% yoy), dan tagihan bersih ke Pemerintah Pusat (5,4% yoy).
- M0 Adjusted (Uang Primer):
*Oktober 2025: Tumbuh 14,4% (yoy) menjadi Rp2.117,6 triliun, melambat dari September (18,6% yoy).
*Dampak: Pertumbuhan giro bank umum di BI adjusted (27,1% yoy) dan uang kartal (13,4% yoy).
Konteks Lebih Luas (Januari – September 2025):
*BI melaporkan pada September 2025, M2 meningkat signifikan dari 5,46% (yoy) di Januari menjadi 8,02% (yoy), didorong oleh kenaikan M1 (7,25% yoy ke 10,72% yoy) dan uang kartal di luar bank umum.
*Pertumbuhan M2 ini diiringi dengan ekspansi kebijakan fiskal pemerintah dan peningkatan kegiatan ekonomi.
MO Adjusted (Uang Primer):
*Oktober 2025: Tumbuh 14,4% (yoy) menjadi Rp2.117,6 triliun, melambat dari September (18,6% yoy).
*Dampak: Pertumbuhan giro bank umum di BI adjusted (27,1% yoy) dan uang kartal (13,4% yoy).
Diposting oleh gandatmadi46yahoo.com
