Penulis : Addin Anugrah Siwi
Investor.id 8 Okt 2025 Indonesia dinilai tengah berada pada “masa keemasan” dividen demografi yang krusial, tetapi peluang langka ini terancam hilang jika tidak segera diimbangi dengan arah kebijakan yang tepat. Behavioral Economist Aliansi Ekonom Indonesia, Talitha Chairunnisa, menyebut energi besar populasi produktif ini belum dimanfaatkan secara maksimal.
“Ini adalah jendela peluang emas, bonus yang hanya datang sekali dalam sejarah sebuah bangsa. Jika dikelola dengan baik, dividen demografi ini bisa menjadi bahan utama untuk mendorong produktivitas, inovasi, dan pertumbuhan jangka panjang,” ujar Talitha dalam diskusi Investor Daily Summit (IDS) 2025, Rabu (8/10/2025).
Talitha menjelaskan, saat ini lebih dari 70% penduduk Indonesia berada pada usia produktif, dengan dependency ratio (rasio ketergantungan) di bawah 45%. Struktur demografi yang sangat ideal ini seharusnya menjadi modal utama untuk mendongkrak daya saing ekonomi bangsa.
Namun, ia menggarisbawahi bahwa potensi besar ini belum sepenuhnya diwujudkan dalam kebijakan strategis. Talitha menyoroti adanya ketimpangan antara pertumbuhan ekonomi dengan kesejahteraan rakyat.
Sebagai gambaran, meskipun ekonomi tumbuh di atas 5%, upah riil hanya meningkat sekitar 1,2%. Selain itu, 80% lapangan kerja baru muncul dari sektor rumah tangga yang cenderung berupah rendah. Di sisi lain, kesenjangan antarwilayah tetap tinggi, terutama di Indonesia Timur.
“Kita tumbuh sebagai negara, tetapi belum semua tumbuh menjadi warga,” tegas Talitha, sambil menekankan bahwa produktivitas nasional masih stagnan dan koneksi antara pertumbuhan dan kesejahteraan mulai longgar.
Menurutnya, jika tidak ada intervensi kebijakan yang tepat, Indonesia berisiko kehilangan bonus demografi dan malah terjebak dalam jebakan pendapatan menengah (middle income trap). Oleh karena itu, momentum demografi ini harus diarahkan pada upaya peningkatan kualitas tenaga kerja, pemerataan infrastruktur, serta penciptaan lapangan kerja yang bermutu.
Talitha menyerukan perlunya kontrak sosial baru yang adil dan berkelanjutan, di mana setiap rupiah pajak yang dibayarkan harus kembali sebagai layanan publik yang bermutu.
“Daya saing bangsa tidak hanya ditentukan oleh kekayaan sumber daya, tetapi juga oleh seberapa besar kepercayaan rakyat terhadap negara,” tutupnya, menekankan bahwa kebijakan harus dibuat untuk masa depan bangsa, bukan sekadar masa jabatan politik.
Note: Talitha Chairunnisaraih Msc di Public Economics & Public Finance dari Universite de Rennes, Perancis. Meraih gelar Master of Public Policy dari Harvard Kennedy School pada 2018. Kandidat PhD Lee Kuan Yew School of Public Policy, National University of Singapore.
Diposting oleh gandatmadi46@yahoo.com
