CALON TSAR RUSIA KE GARUT PADA AKIR ABAD 19

PIKIRAN RAKYAT

CALON TSAR RUSIA KE GARUT PADA AKIR ABAD 19

oleh

Bambang Hidayat

Gunung Cukuray, GarutGunung Cikuray, Garut

Pikiran Rakyat (25 April 2016, halaman 12) mengetengahkan uraian nostalgia tentang  stasiun kereta api Garut. Sajian itu bertaut dengan lingkungan Garut terhiasi tata  pegunungan indah dan hamparan persawahan makmur disekitarnya, serta kelokan jalan  raya yang artistik Jalur kereta api kala itu fungsional, berdaya guna, sebagai  penghubung kota produksi pertanian dengan metropolis Bandung Raya. Secara implisit  tergambar tata -kota Garut pendukung kemaslahatan sosial budaya kota berpenduduk  100 000-an orang. Garut masa lalu memang telah menorehkan kebanggaannya sebagai  kawasan pegunungan berudara sejuk, dibangun untuk generasi yang mencintai  ketenangan dan kerapian, sebagai kota di garis belakang pendukung Bandung yang mulai mengambangkan diri menjadi metropolis. Kemeriahannya hidup dengan padu gerak  warga yang terwarnai oleh susasana agraris dan kemenakan..

Thielly Weissenborn memberikan kesaksian melalui rekaman foto kamera pada tahun  1926. Koleksi foto bernuansa sosial berperadaban itu terkumpul rapi oleh Drissen  dengan kecintaan yang menular dalam buku-minum-kopi ”vastgelegd voor later” (Di buat untuk hari kelak) pada tahun 1983. Garut dan sekitarnya adalah bidadari yang sedang  tidur, menyajikan pesona dan rasa hawa gunun dan nuansa tenang. Sesuai dengan motto  ”tata tentrem kerta rahardjo” kota itu memperlihatkan aura kewibawaan anggun namun  menjauhkan sikap malas tidur-tiduran. Sebaliknya, dinamika hidup mewarnai detak kota  tersebut

Foto Tilly WeissenbornThielly Weissenborn memberikan kesaksian melalui rekaman foto kamera pada tahun  1926

Foto Kota Garut    Bangunan berlantai dua di Societeitstraat Garoet tempat berkantor Garoetsche Apotheek (lantai 1) dan “Foto Lux” Garoet (lantai 2), sekitar tahun 1920. (Sumber: KITLV)

Paparan PR tersebut menggambarkan suasana setelah upaya kolonialistik selesai. Ttataran Garut yang kaya dengan budaya pertanian penghasil valuta asing harus direbut  lagi oleh Belanda untuk mengencangkan ikat pinggangnya.. Banyak kawula serdadu  Belanda yang merasa meninggalkan tugas belum terselaikan itu tetapi terpaksa meninggalkannya sembari membawa oleh-oleh spiritual indah dalam hati mereka. Di  sekitar Garut terdapat aneka perkebunan penghasil valuta asing keras bagi pengusaha  Belanda yang membangun wilayah pertanian disana. Mereka mengembangkan  perkebunan teh, kopi dan nila semata karena tanah sekitar Garut menjanjikan tanaman  keras itu mengembang.

Terbantu oleh cuaca yang cocok pengusaha perkebunan itu dapat  mendudukkan dirinya sebagai penghasil dan produsen panen keras yang pada akirnya  mengalir ke pasar dunia. Sebagai imbalan gulden mengalir ke Garut menjadikan mereka  raja-raja kecil yang menikmati hasil jerih payah dan pengabdian paksa pribumi yang  rajin setia. Beberapa diantara mereka dikemudian hari muncul sebagai pencinta ke-Sunda-an dan menonjol. Holle, umpama, konon menghadiahkan kepada ”para mitra tani’  kamus Sunda-Belanda yang pertama. Dia juga berhasil meraih kepercayaan Pemerintah  Hindia Belanda dengan jabatan strukturil resmi sebagai penasihat Pemerintah untuk urusan Pribumi. Kebesarannya diabadikan dengan patung yang menghias alun2 Garut  (sebelum PD II). Ketika militer Jepang menguasai Nusantara (1942-1945) patung itu dihancurkan.Garut sebagai kota setara dengan Salatiga (Jawa Tengah), dengan Batu (Jawa Timur) yang menyediakan kenikmatan lingkungan dan cuaca. Bobot ini  menjadikannya tempat tinggal nyaman dan menjadikannya ranah tujuan liburan wisata  bagi warga kota di dataran rendah yang berdekatan

Tulisan ini hanya akan menambahkan sisi yang belum terungkap dalam sajian PR tersebut diatas. Bahwasanya wilayah tersebut merengkuh keindahan alami sudah terdapat dalam kamus harian dan pembicaraan acara libur elite dan sosialita di negeri ini. Sudah semenjak abad 19 rakyat awampun mengetahui keberadaan hamparan plato dengan  lingkungan yang menyegarkan raga dan jiwa. Tetapi Garut masih menyembunyikan kesan historik dunia estetikanya. Wangsa  Romanov, dari Rusia mengenalnya. Salah seorang anggauta terhormatnya berkunjung ke  Garut pada minggu pertama Maret tahun 1891. Yang datang bukan sembarang anggauta  wangsa Romanov , tetapi putra mahkota kaisar Rusia Nicolaas Alexandrovich. Entah  dari siapa beliau mengetahuinya, tetapi dia tertarik kepada Garut dan sekitarnya, walau  kala itu Garut belum menjadi Ibu Kota Kabupaten (yg baru diresmikan tahun 1913)

Alexandrovich tertarik karena dataran tinggi Garut sudah terkenal di ranah semi kutub itu berkat citra pegunungan tinggi yang mengelilinginya. Dalam jarak dekat dengan pusat  hunian menjulang anggun Cikuray, Papandayan, Galunggung, Talagabodas. Bagi  wangsa elita di utara sana perhatiannya terpumpun kepada kesempatan untuk memburu  binatang buas (harimau, babi hutan) ditengah hutan tropika basah. Perburuan adalah  permainan elita. Keberhasilan merangket binatang buas langka akan menjadi simbol  status menak pria bangsawan di Eropa. Garut menyediakan kesempatan tersebut.

Kesempatan sebagai putra mahkota kerajaan besar dan berpengaruh dipergunakan oleh  Alexandrovich. Kedudukan khas putra mahkota membawanya ke Hindia Belanda  dengan kapal perang Rusia ”Nachimhoff”. Gubernur Jendral Hindia Belanda, oleh  permintaan kekaisaran Rusia, diminta menyambut kedatangan eskader pengiring putra  mahkota (lihat,umpama, catatan Emden dan Brandt, Amsterdam 1964, dalam kumpulan  essaynya mengenai kenangan indah Warga Belanda di Jawa Tua).  Kesibukan terasa dimana-mana pada tanggal 7 Maret 1891 ketika kapal perang Rusia  berlabuh di Teluk Tanjung Priok. Pembesar Sipil dan Militer Belanda dengan tunik jas  berkerah tegak menyambut kedatangan ”tamu agung’’, pemuda berusia 22 tahun  berpakaian angkatan laut sederhana. Tamu itu didampingi sepupunya, Pangeran George,

Putra Raja Yunani, dan beberapa orang sosok penting kekaisaran Rusia. Sambutan dan  pesta meriah sekali. Pribumi asli menyambut selain dengan ungkap mesra hura-hura, juga menyampaikan ”selamat datang Raja Ruslan’ ikut mengisi rongga udara Priok dan Gambir (tercatat dalam surat kabar Jakarta waktu itu, Bataviasche Handelsblad). Setasiun Priok dan setasiun kereta api Gambir (waktu itu bernama Weltevreden) bersolek sebagai  tempat upacara penyambutan. Acara protokoler telah tersusun rapi, termasuk permintaan  Putra Mahkota untuk melihat wayang wong diistana Bogor (menarik karena  menyembulkan tanda tanya kenapa ”wayang wong” dari Jawa). Semua statsiun antara  Bogor dan Bandung terarah untuk menyambut tamu dengan iringan degung dan irama  gamelan hidup

Pada tanggal 11 Maret 1891 acara parade di Taman Waterloo (sekarang: Lapangan  Banteng, di depan Departemen Keungan R.I.) karena langganan ajeg kota Batavia  (sekarang Jakarta) dibatalkan. Padahal Jendral van Heutz ( kelak terkenal dengan  penelikungan Aceh) akan memimpin defile artileri itu. Hujan lebat yang mengguyur  wilayah Batavia di akir abad 19 itu membuat lapangan terendam air, tidak  memungkinkan pasukan bersenjata berdefile disana. Pasase ini mungkin membuat  pembaca tersenyum dikulun karena nyatanya banjir adalah kawan lama kota Jakarta

Untuk memenuhi naluri berburu Sang Pangeran beberapa ekor harimau dari Banten di  datangkan ke Meester Cornelis (sekarang Jatinegara) agar dapat menjadi sasaran tembak “raja Ruslan”. Buaya dirawa dan danau sekitar Jatinegara juga dicadangkan menjadi  incaran olahraga tembak bangsawan itu. Catatan sejarah ini menggambarkan Jatinegara  kala itu masih berbelantara. Anno 2016 Jatinegara sudah lain karena yang ada hanya i hutan beton dan aspal tidak memungkinkan lagi menjadi persembunyian harimau maupun buaya. Tetapi Alexandrovich baru bisa menembak buaya di ”Pasar Ikan” (daerah yang pada tahun 2016 baru saja diramaikan penggusuran). Tiga ekor kepala buaya lengkap dengan kulitnya di punggah ke kapal perang ”Azova”,untuk diawetkan di Rusia.

Kunjungan tamu agung itu membuat Garut semarak selain dipenuhi aparat keamanan  juga kedatangan juru masak kepala dan 21 orang koki dari Jakarta yang bertugas  menyediakan santapan. Alexandrovich ternyata tergila-gila pada ragam flora Papandayan dan rangkaian keserasian pegunungan di sekitar Garut. Hanya dalam radius kurang dari  20 kilometer dari tempat menginap bisa disaksikan megahnya onggok gunung  berselimutkan hutan menjulang tinggi . Selain mengagumi kawah Papandayan, dimana  sekaligus pesta makan di bibir kawah diadakan. Menu antara lain terdiri dari Sandwich au caviar—roti dengan telur ikan caviar (yang barangkali diimpor dari Laut Hitam) dan  Pudding a la Imperialle (puding raja).. Selain mengagumi tarian klasik Sunda dia juga  terkesan kepada variasi isi piramida hias yang tersusun atas 250 macam buah tropika  (sayang penulis tidak berhasil mengorek nama buah2an itu). Kunjungan kenegaraan  1891 yang mengesankan dan sekaligus meletakkan Garut pada peta dunia , berkat liputan  media cetak Rusia

Sepulang dari perlawatan ke Hindia Belanda (sekarang Indonesia) Alexandrovich  beberapa kali menjadi sasaran pembunuhan. Tetapi cerita terpenting dalam kontek paparan ini ialah pada tanggal 1 Nopember 1894 dia dinobatkan menjadi Tsar Rusia. Dengan kekuasaan dan tangan besi Tsar ingin mengubah Rusia menjadi negara modern dari Laut Baltik dibarat sampai ke samudera Pasifik ditimur. Setelah 17 tahun lebih menguasai wilayah Rusia yang terentang luas dari padang steppe sampai pegunungan  Ural nasib membawanya ke keluruhan pemerintahan. Revolusi Bolsewik bulan Februari  1917 menurunkan dia dari tahta agung itu. Pada tanggal 15 Maret 1917 pasukan merah menahan ceasarevich, dan mengakiri hidupnya pada 16 Juli 1918 . Tragis, tamu Agung Garut abad 19 beserta istri dan anak2nya di kubur tentara merah dengan kejam.. Tulang-tulang keluarga Tsar yang berserakan masih menyisakan cerita menarik sampai pada abad ke 21 ini ketika ilmu pengetahuan modern yang berlandaskan identifikasi DNA dipergunakan untuk mencari keluarga dan keturunannya di beberapa bagian muka Bumi.

Bandung 26 Mei 2016

Bambang Hidayat
hidayatbambang@yahoo.com

( ide dan komentar mhn ke gandatmadi46@yahoo.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.