Civilizing the City by Peter F. Drucker

Civilizing the city atau membudayakan kota bakal menjadi prioritas di semua negara, terutama di negara2 maju seperti USA,UK dan Jepang,  Namun tidak ada pemerintahan juga kalangan bisnis mampu memberikan komunitas baru seperti yang diinginkan kota2 besar didunia.  Hal ini menjadi tugas dari nongovernmental, nonbusiness, nonprofit organization.

Ketika saya lahir, beberapa tahun sebelum pecah WWI, kurang dari 5 % populasi atau 1 dari 20 manusia hidup dan bekerja di perkotaan. Kota tetap sebagai perkecualian, oasis kecil di dunia pedesaan. Meskipun di negara2 industri maju dan negara2 sangat urban (highly urbanized countries ) seperti Inggris dan Belgia, penduduk pedesaan tetap lebih mendekati mayoritas.

Lima puluh tahun yang lalu, akhir dari WW II, seperempat populasi AS tetap di rural dan di Jepang, penduduk yg tinggal di pedesaan tetap 3 per 5 dari total penduduk.  Kini kedua negara tersebut serta di setiap negara maju penduduk rural menciut kurang dari 5 % dan masih terus mengkerut. Hal yang sama di negara2 berkembang, kota2 nya yang tumbuh. Walaupun China dan India,  kedua negara yang masih didominasi rural, kota2nya tumbuh sementara populasi rural bisa bertahan. Di semua negara2 berkembang hidup di pedesaan tidak bisa menahan untuk tidak pindak ke kota, meskipun tidak tersedia lapangan kerja untuk mereka, serta tidak ada perumahan.

Reality of Rural Life

N komunitas sosial rural  diberikan kepada individu. Komunitas adalah suatu fakta, apakah keluarga atau keagamaan, klas sosial atau kasta.  Terdapat mobilitas yg terbatas di masyarakat pedesaan,  apa yang ada adalah penurunan.

Masyarakat pedesaan telah diromantisir ribuan tahun,  khususnya di Barat dimana komunitas rural biasanya di potret idialistik. Namun, komunitas di masyarakat rural sebenarnya keduanya diwajibkan dan dipaksa ( compulsory and coercive ). Satu contoh, keluarga saya dan saya hidup di pedesaan Vermont hanya 50 tahun yg lalu pada akhir1940an. Pada waktu itu yang terpopuler sebagai karakter dari negara adalah tilpun lokal yg diiklankan Bell Telephone Company.  Ia, iklannya bercerita kepada kita setiap hari, mengikat komunitasnya, melayani  dan selalu siap untuk menolong.

Kenyataannya agak berbeda. Di rural Vermont, kita masih memakai pertukaran dengan tilun manual. Jika anda mengangkat tilpun anda tidak mendengar suara panggilan. Tetapi paling sedikit, anda harapkan anda mendapat sesuatu yang menakjubkan, operator yg melayani komunitas. Tetapi pada akhirnya sekitar taun 1947 atau 1948,  tilpun dial masuk ke rural Vermont, berlangsung pesta universal. Betul, operator tilpun selalu ada disana. Namun ketika anda menyambung  untuk berbicara dengan Dr Wilson, dokter anak karena salah satu anak anda demam, operator akan berkata bahwa anda tidak bisa berbicara dengan beiau karena sedang dengan pacarnya. Atau anda tidak perlu dengan Dr Wilson, baya anda tidak terlalu sakit. Menunggu sampai keesokan harinya apakah bayi anak masih tinggi temperaturnya. Komunitas tidak hanya memaksa tetapi membosankan.

Hal ini menjelaskan mengapa, ribuan tahun mimpi masyarakat rural untuk melarikan ke kota. Stadtluft Macht Frei ( udara kota membebaskan ) kata kuno bijak Jerman pada abad ke 11 dan 12. Kaum budak yang melarikan ke kota dianggap sebagai orang bebas. Dia menjadi warga. Demikian pula kita, memiliki gambaran indah dari kota dan hal itu tidak realistik sebagai gambaran indah dari kehidupan desa.

Apa yg menyebabkan kota menarik sekaligus anargi, anonymity absen didalam suatu  komunitas yang memaksa. Kota terbukti menjadi pusat kebudayaan. Tempat dimana kalangan seniman dan pendidik bekerja dan berkembang. Persisnya karena tidak ada komunitas, menawarkan kenaikan mobilitas. Namun dibawahnya terdapat lapisan tipis para profesional, seniman dan scholar, dibawah kemakmuran para pedagang dan seniman berkemampuan tinggi yg berhasil menciptakan uang, terdapat moral dan sosial anonim ( a lack of the usual social or ethical standards in an individual or group ). Terdapat prostitusi, bandit dan  lawlessness. Jga kehidupan kota berarti munculnya penyakit dan epidemi. Sampai akhir 100 tahun, tidak ada satu kota di dunia menjaga populasi, semua tergantung pada perpindahan orang dari negara. Hal itu sampai abad ke 19, dengan supply air bersih yg moderen,  pembuangan limbah moderen, vaksinasi dan karantina, tingkat harapan hidup di kota mulai mendekati harapan hidup negara.

Benar di era para Kaisar dari Roma, era Bisantium Konstantinopel,  era Florence of Medici, era Raja Lois ke XIV ( yg dipotret secara brilian dalam the Three Musketeers karya Dunna, best seller di abad ke 19 ). Namun juga benar dalam karya Dicken dari London. Dalam kota besar benar2 budaya tinggi ( high culture ).  Namun benar terdapat lapisan tipis rawa busuk. Tetapi sebelum tahun 1880an tidak ada kota membiarkan perempuan terhormat bepergian sendirian setiap waktu pada siang hari.  Juga tidak aman bagi kaum lelaki keluar rumah di malam hari.

The Need for Community

HE kota besar menarik karena secara persis menawarkan kebebasan dari  kewajiban dan  pemaksaan komunitas rural. Namun merusak karena tidak menawarkan setiap komunitas memiliki sendiri.

Manusia membutuhkan komunitas.  Jika tidak tersedia komunitas dengan tujuan konstruktif, akan muncul komunitas yg distruktif dan  kekejaman – kelompok dinasti Victorian dari Inggris atau kelomok2 yang sekarang mengancam jalinan sosial  Perkotaan AS yang luas ( serta kenaikan di setiap kota besar di dunia )

Titik pertama yg menunjukkan bahwa manusia membutuhkan komunitas  adalah sosiologi klasik terbesar, Gemeinschaft und Gesellschaft [Community and Society] karya Ferdinand Toennies yg dipublikasikan tahun 1887.  Tetapi komunitas yang diharapkan Toennies  lebih dari seabad tetap dilestarikan — the organic community of traditional rural society- telah punah, punah selamanya. Tugas pada hari adalah menciptakan komunitas urban – sesuatu yang tidak pernah ada. Alih2 sebagai sejarah tradisi komunitas kita butuh kebebasan dan secara sukarela. Namun mereka butuh menawarkan kepada individu2 di kota besar kesempatan untuk mencapai, berkontribusi tentang hal tersebut.

Sejak WW I – pastinya sejak akhir WW II – mayoritas di semua negara, apakah negara demokratis atau tirani,  percaya bahwa Pemerintah harus dan mampu mesuplai kebutuhan komunitas masyarakat sosial urban via program sosial. Kini kita tahu bahwa hal ini merupakan suatu khayalan. Program sosial lima puluh tahun terakhir, umumnya tidak sukses. Kebutuhan dipastikan ada. Juga dengan uang ( dibanyak negara dalam jumlah besar ). Tetapi hasilnya dimana mana sedikit ( meager ).

Tetapi hal itu sama jelasnya bahwa sektor swasta tidak mampu memenhui kebutuhan tersebut,  Sebenarnya saya suatu ketika berpikir bahwa hal itu bisa dan harus. Lebih dari 50 tahun yg lalu, dalam buku saya tahun 1943, The Future of Industrial Man, Saya mengusulkan apa yang saya sebut the “self-governing plant community,” Komunitas didalam sosial organisasi yang baru,  perusahaan bisnis berskala besar. Berjalan tetapi hanya di satu negara yaitu Jepang. Meskipun begitu sekarang jelas bahwa hal itu bukan jawabannya.  Dalam kesempatan pertama tidak ada bisnis mampu menjamin keamanan – the “lifetime employment” dari Jepang dengan cepat membuktikan akan menjadi mimpi yang berbahaya. Lebih dari itu bagaimanapun lifetime employment, beserta “self-governing plant community”, tidak cocok  terhadap realitas masyarakat berpengatuhan.  Terdapat peningkatan  sektor swasta yg mempunyai cara agar kehidupan jauh lebih baik. Hal itu akan dan harus memberikan sukses material dan pencapaian personal. Namun perusahaan bisnis yang menurut Toennies, 110 tahun yg lalu, disebut masyarakat dari pada komunitas.

The Only Answer

NLY sektor sosial  adalah nongovernmental, nonprofit organization,, yang mampu menciptakan apa yang sekarang kita butuhkan, komunitas untuk warga ( penduduk ) – khusus untuk kalangan pekerja yang terdidik dan berpengetahuan yang mendominasi masyarakat maju, jumlahnya meningkat. Satu alasan tentang hal ini hanya nonprofit organizations yang mampu menyediakan  keragaman komunitas yang besar yg kita butuhkan – dari gereja sampai ke asosiasi profesional, dari organisasi  yang merawat mereka yang tidak memiliki rumah sampai ke klub2 kesehatan – apabila disana terdapat kebebasan untuk memilih komunitas kepada setiap orang. Nonprofit organizations juga satu2nya yang mampu memuaskan kebutuhan ke dua ( second need ) dari kota, kebutuhan untuk suatu kewarganegaraan yg efektif (  effective citizenship ) bagi penduduknya. Hanya sektor institusi sosial mampu memberikan kesempatan sebagai sukarelawan, sehingga para individu mampu meraih arena yang mereka sendiri melakukan kontrol dan arena mereka membuat perbedaan.

Abad ke 20, kini akan segera berakhir, telah terjadi ledakkan pertumbuhan pemerintahan dan bisnis – khususnya di negara2 maju. Fajar abad ke 21 butuh kesemuanya diatas dan sama2 pertumbuhan explosif  nonprofit sektor sosial untuk membangun komunitas dimana didominasi lingkungan sosial yang baru, fari suatu kota.

Kutipan buku dari  karya Peter Drucker  ” Leader to Leader ” , deterjemahkan oleh GG ( gandatmadi46@yahoo.com )

Leave a Reply

Your email address will not be published.