Pertamina kemana? Episode Oil Refinery

Peta lokasi kilang

Kilang, kapasitas dan Lokasi

  1. Kilang Pangkalan Brandan,Kapasitas kilang ini mencapai 5.000 barel per hari, kilang ini sudah ditutup sejak awal 2007 karena tidak cukupnya pasokan minyak mentah maupun gas. Unit pengolahan minyak Pangkalan Brandan memiliki sejarah panjang sebagai pelopor dimulainya eksplorasi minyak di Indonesia.
  1. Kilang Dumai/ Sei Pakning di Riau, Kapasitas kilang Dumai mencapai 127.000 barel per hari. Berbagai produk bahan bakar Minyak (BBM) dan Non Bahan Bakar Minyak (NBBM) telah dihasilkan dari kilang Putri Tujuh Dumai – Sungai Pakning dan telah didistribusikan ke berbagai pelosok tanah air dan manca negara.
  1. Kilang Plaju, Sumatera Selatan. Kapasitas produksi mencapai 133.000 barel per hari. Kilang ini terintegrasi dengan kilang Petrokimia, dan memproduksi produk-produk Petrokimia yaitu Purified Teraptha. lic Acid (PTA) dan Paraxylene.
  1. Kilang Cilacap. Unit.  Pengolahan IV Cilacap merupakan salah satu dari 7 jajaran unit pengolahan di tanah air, yang memiliki kapasitas produksi terbesar yakni 348.000 barrel/hari, dan terlengkap fasilitasnya. Kilang ini bernilai strategis karena memasok 34% kebutuhan BBM nasional atau 60% kebutuhan BBM di Pulau Jawa. Selain itu kilang ini merupan satu-satunya kilang di tanah air saat ini yang memproduksi aspal dan base oil untuk kebutuhan pembangunan infrastruktur.    di tanah air.
  1. Kilang Balikpapan.Kilang yang berada di Kalimantan Timur memiliki kapasitas produsi sebanyak 260.000 barel per hari.
  2.  Kilang Kasim. Kilang Kasim dibangun diatas areal seluas kurang lebih 80 HA. dan terletak di desa Malabam kecamatan Seget kabupaten Sorong Papua bersebelahan dengan Kasim Marine Terminal (KMT) Petro China, kurang lebih 90 km sebelah selatan kota Sorong. Kilang tersebut mulai beroperasi sejak Juli 1997 sampai saat ini.Kilang BBM Kasim mempunyai kapasitas 10.000 barrel / hari, dirancang untuk mengolah Crude(minyak mentah) Walio (60%) dan Salawati (40%). Produk yang dihasilkan adalah :
    – Fuel Gas : 969 Barrel / Hari
    – Premium : 1.987 Barrel / Hari (Unleaded)
    – Kerosene : 1.831 Barrel / Hari
    – Ado (Solar) : 2.439 Barrel / Hari
    – Residue : 3390 Barrel / Hari

    Dari total produksi BBM RU VII dapat memberi kontribusi sekitar 15 % dari total kebutuhan MALIRJA (MALUKU & IRIAN JAYA). Kilang BBM Kasim mengolah crude lokal produksi daerah kepala burung Papua. Lokasi Kilang BBM ini dipilih disekitar area Petro China dengan dasar pertimbangan:

    Menghemat Biaya Transportasi karena dekat dengan Sumber Bahan Baku (Crude) dan Pasar, Mengurangi Biaya Investasi dengan memanfaatkan beberapa fasilitas yang tersedia diarea Petro China antara lain Dermaga, Acces Road, Tanki Dan Lain – Lain., Tersedianya Area dengan luas yang cukup untuk Pengembangan Kilang BBM Kasim diwaktu yang akan datang, Lokasi Kilang Di Tengah Hutan (Jauh Dari Pemukiman Penduduk

  3.  Kilang Balongan. Menghemat Biaya Transportasi karena dekat dengan Sumber Bahan Baku (Crude) dan Pasar, Mengurangi Biaya Investasi dengan memanfaatkan beberapa fasilitas yang tersedia diarea Petro China antara lain Dermaga, Acces Road, Tanki Dan Lain – Lain., Tersedianya Area dengan luas yang cukup untuk Pengembangan Kilang BBM Kasim diwaktu yang akan datang, Lokasi Kilang Di Tengah Hutan (Jauh Dari Pemukiman Penduduk).Kilang ini merupakan kilang paling terakhir dibangun Pertamina dari tujuh kilang yang dimiliki Pertamina. RU VI Balongan mulai beroperasi sejak tahun 1994. Kilang ini berlokasi di Indramayu (Jawa Barat) sekitar ±200 km arah timur Jakarta, dengan wilayah operasi di Balongan, Mundu dan Salam Darma. Bahan baku yang diolah di Kilang RU VI Balongan adalah minyak mentah Duri dan Minas yang berasal dari Propinsi Riau.

    Kilang ini memproduksi seperti Premium, Pertamax, Pertamax Plus, Solar, Pertamina DEX, Kerosene (Minyak Tanah), LPG, Propylene, Pertamina RU VI mempunyai kontribusi yang besar dalam menghasilkan pendapatan baik bagi PT Pertamina maupun bagi negara. Selain itu RU VI Balongan mempunyai nilai strategis dalam menjaga kestabilan pasokan BBM ke DKI Jakarta, Banten, sebagian Jawa Barat dan sekitarnya yang merupakan sentra bisnis dan pemerintahan Indonesia.

Proyek2 pembangunan Kilang

Proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan tahap pertama akan ground breaking pada 2017 dan selesai 2019. RDMP Balikpapan akan menambah kapasitas sebesar 100.000 bph, sehingga total kapasitas kilang di Indonesia menjadi 1,1 juta bph.

Proyek Grass Root Refinery (GRR) Tuban berkapasitas 300.000 bph yang dikerjakan Pertamina bersama raksasa migas asal Rusia, Rosneft, dimulai pada 2018 akan selesai di 2022 sehingga total kapasitas semua kilang menjadi 1,4 juta bph.

Proyek RDMP Refinery Unit (RU) Cilacap yang dikerjakan Pertamina bersama Saudi Aramco, total kapasitas kilang meningkat lagi menjadi 1,42 juta bph pada tahun 2022.

Proyek RDMP Dumai dan Balongan, lalu GRR Bontang yang berkapasitas 300.000 bph, maka total kapasitas kilang menjadi 2 juta bph pada 2023. Konsumsi masyarakat juga 2 juta bph

Tapi, konsumsi BBM di Indonesia akan terus meningkat hingga 2,6 juta bph pada 2030. Maka, perlu pembangunan 2 kilang baru berkapasitas 300.000 bph agar Indonesia tak impor BBM lagi.

Saat ini, Pertamina belum memutuskan lokasi untuk tambahan 2 kilang lagi. Beberapa lokasi sudah dijajaki, misalnya Arun dan Sumbawa.

Proyek2 pembangunan Kilang molor

Daftar Proyek Kilang Pertamina yang Molor (12.6.2017):

PT Pertamina (Persero) akhirnya memundurkan target penyelesaian proyek-proyek kilang minyak. Awalnya semua proyek kilang direncanakan selesai semua pada 2023. Tetapi sekarang tiap proyek mundur 1-3 tahun.

Keputusan ini diambil dengan pertimbangan kemampuan finansial. Saat ini Pertamina tengah menjalankan 4 proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) alias modifikasi kilang Cilacap, Balikpapan, Balongan, dan Dumai. Selain itu ada 2 proyek Grass Root Refinery (GRR) atau pembangunan kilang baru di Tuban dan Bontang.

Tiap proyek RDMP membutuhkan biaya investasi kurang lebih sebesar US$ 5 miliar atau Rp 65 triliun, sedangkan 1 proyek GRR nilainya sekitar US$ 12,5 miliar alias Rp 162,5 triliun. Artinya semua proyek itu memakan biaya US$ 45 miliar atau Rp 585 triliun.

Kemampuan keuangan Pertamina ternyata tak cukup kuat untuk menggenjot proyek-proyek kilang selesai di 2023, meski sudah bermitra dengan Rosneft di GRR Tuban dan Saudi Aramco di RDMP

Berikut daftar proyek kilang Pertamina yang molor, diringkas oleh detikFinance.

  • RDMP Balikpapan awalnya ditargetkan selesai 2019, mundur 1 tahun menjadi 2020.
  • RDMP Cilacap awalnya direncanakan selesai 2022, mundur ke 2023 atau 2024.
  • RDMP Balongan yang target awalnya selesai 2020 berdekatan dengan RDMP Balikpapan, mundur setahun ke 2021.
  • GRR Tuban dari rencana awal selesai tahun 2021, mundur 3 tahun sampai 2024.
  • GRR Bontang sementara tetap ditargetkan selesai pada 2023. Tapi porsi kepemilikan Pertamina di GRR Bontang hanya 5% saham, sisanya dikuasai mitra strategis.

Kerja sama Internasional

Untuk melaksanakan proyek2 tersebut dibutuhkan kerja sama internasional baik soal dana dan teknis. Tiap proyek RDMP membutuhkan biaya investasi kurang lebih sebesar US$ 5 miliar atau Rp 65 triliun, sedangkan 1 proyek GRR nilainya sekitar US$ 12,5 miliar alias Rp 162,5 triliun. Artinya semua proyek itu memakan biaya US$ 45 miliar atau Rp 585 triliun.

Empat proyek RDMP yaitu, RDMP RU V Balikpapan, RDMP RU IV CIlacap, RDMP RU II Dumai, dan RDMP RU VI Balongan, serta dua proyek kilang baru, yaitu Grass Root Refinery (GRR) Tuban dan GRR Bontang

Refinery Development Master Plan (RDMP) mencakup kegiatan Feed (Front End Engineering Design), BED (Basic Engineering Design). Feed untuk revamp unit dibutuhkan mendapat lisensi pekerjaan crude distillation unit dan vacuum distillation. Sedangkan untuk proyek2 baru (grass root) dibutuhkan lisensi pekerjaan Diesel and Kerosene Hydrotreaters, Platformer, Continuous Catalytic Reformer, Gasoline Selective Hydrotreaters, Alkylation, dan juga Residual Fluid Catalytic Cracker (RFCC).

Untuk penuntasan FEED Kilang Balikpapan, Pertamina telah menetapkan untuk bekerjasama dengan Bechtel International sebagai pelaksana, baik untuk enam unit baru maupun CDU dan VDU.

Disamping membangun infrastruktur kilang, Pertamina juga melakukan pengembangan kemampuan sumber daya manusia internal perusahaan dengan mengirimkan kembali insinyur junior dan senior bekerja di kantor Bechtel. “FEED pelaksanaannya akan dilakukan di tiga lokasi Bechtel, yaitu Houston, London, dan New Delhi dan kami akan memberangkatkan kembali sekitar 80 insinyur Pertamina ke tiga lokasi tersebut untuk bekerja bersama Bechtel menyelesaikan FEED. Artinya, untuk pelaksanaan BED dan FEED RDMP RU V Balikpapan, Pertamina akan mengirimkan total insinyur sebanyak 200 orang. Ini bagian dari upaya Pertamina mengembangkan pengetahuan, kemampuan, dan kapasitas insinyur tidak hanya untuk RDMP RU V Balikpapan, tetapi juga proyek-proyek kilang lainnya

Proyek RDMP Balikpapan misalnya  membutuhkan pengosongan untuk lokasi pergudangan dan perbengkelan baru, dan pembangunan hunian baru untuk menampung pekerja yang dipindahkan dari kawasan hunian yang akan dikosongkan. Hunian yang akan dibangun sekitar 300 rumah.

Proses Penyulingan sederhana

proses penyulinganKarakteristik propertiMany types of crude oil are produced around the world. The market value of an individual crude stream reflects its quality characteristics. Two of the most important quality characteristics are density and sulfur content. Density ranges from light to heavy, while sulfur content is characterized as sweet or sour. The crude oils represented in the chart are a selection of some of the crude oils marketed in various parts of the world. There are some crude oils both below and above the API gravity range shown in the chart.

Crude oils that are light (higher degrees of API gravity, or lower density) and sweet (low sulfur content) are usually priced higher than heavy, sour crude oils. This is partly because gasoline and diesel fuel, which typically sell at a significant premium to residual fuel oil and other “bottom of the barrel” products, can usually be more easily and cheaply produced using light, sweet crude oil. The light sweet grades are desirable because they can be processed with far less sophisticated and energy-intensive processes/refineries. The figure above  shows select crude types from around the world with their corresponding sulfur content and density characteristics.

dikumpulkan dari beberapa sumber oleh gandatmadi46@yahoo.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.