Bank BUMN hutang kepada CDB untuk bangun infra struktur

Tiga Bank BUMN yaitu BNI, BRI dan Mandiri mendapat pinjaman dari China Development Bank (CDB), tujuannya untuk membangun infra struktur. Apakah utang tersebut membahayakan? Tidak sama sekali. Berikut penjelasannya, gandatmadi46@yahoo.com

Bank BUMN hutang kepada CDB untuk bangun infra struktur

Kontan 6 Februari 2018. Aset bank persero atau BUMN per akhir tahun 2017 tercatat telah menembus angka Rp 3.025,61 triliun. Jumlah tersebut mengalami peningkatan sebesar 12% secara tahunan atau year on year (yoy) dibanding periode sebelumnya Rp 2.699,38 triliun.

Berdasarkan data RUPS ke-4 Bank BUMN belum lama ini, total realisasi laba bersih sepanjang 2017 mencapai Rp 65,7 triliun, atau naik 22,83% secara tahunan (yoy). Laba bersih terbesar masih diraih oleh BRI dengan Rp 28,4 triliun, menyusul kemudian Bank Mandiri Rp 20,6 triliun, BNI Rp 13,6 triliun dan BTN Rp 3 triliun.

Selasa, 11 April 2017, Rencana Pembangunan Jangka Panjang dan Menengah (RPJM) tahun 2015–2019, kebutuhan dana infrastruktur mencapai Rp 4.796 triliun. Sebanyak 40% berasal dari APBN dan APBD, BUMN sebesar 22%, (Rp 960 triliun) dan sisanya sebesar 36,5% didanai oleh swasta.

Tiga bank BUMN yaitu BNI, BRI dan Mandiri yang mendapatkan pinjaman senilai US$ 3 miliar atau sekitar Rp 43,4 triliun dari China Development Bank (CDB). Pinjaman tersebut dibandingkan aset 0,1 %.

Pinjaman CDB  akan dipakai untuk membiayai proyek-proyek infrastruktur. Dari total US$ 3 miliar, sebesar 70% dalam US$ dan 30 persen pinjaman dalam mata uang renminbi. Jangka waktu pinjaman selama 10 tahun sesuai dengan pembiayaan infrastruktur yang membutuhkan dana-dana jangka panjang.

Aturan batasan maksimum pemberian kredit (BMPK) sebesar 20 persen . Bunganya juga rendah yakni sekitar 2,8 persen, lebih rendah ketimbang harus menerbitkan surat utang yang imbal hasilnya

sekitar 2,8 persen, lebih rendah ketimbang harus menerbitkan surat utang yang imbal hasilnya

BNI

PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI), sebagai salah satu bank BUMN, konsisten mencatatkan kenaikan aset di atas 17% dalam tiga tahun terakhir. Aset bank bersandi saham BBNI ini tercatat tembus Rp 709,33 triliun atau tumbuh 17,62% secara tahunan.

Laba bersih BNI  untuk tahun 2017 sebesar Rp 13,6 triliun

Target penyaluran kredit infrastruktur BNI tahun ini sebesar Rp 115 triliun. Porsi ini naik sekitar 20% dibandingkan tahun lalu yang senilai Rp 86,3 triliun atau tumbuh 30,4% secara tahunan. kelistrikan (30%), jalan tol (27%), transportasi (19%), infrastruktur minyak dan gas (14%), dan sisanya (11%) ke sektor telekomunikasi.

Dana pinjaman US$1 miliar dari CDB disalurkan BNI kepada 26 nasabah, di mana PT Petrokimia Gresik megambil porsi terbanyak dengan plafon pinjaman mencapai Rp3,16 triliun atau sebesar US$237,42 juta. Selain itu, PT PLN (Persero) juga tercatat menerima pinjaman dari BNI senilai Rp2,55 triliun atau setara dengan US$187,19 juta.

Pinjaman CDB yang dikonversi ke rupiah menjadi Rp13,35 triliun itu, BNI baru merealisasikan penyaluran baki debit (outstanding) sebesar Rp3,72 triliun atau sebesar 27,86 persen dari jumlah tersebut. Sementara itu, sebanyak sembilan nasabah belum menarik pinjaman kendati telah dipilih oleh BNI untuk menggunakan dana tersebut.

Ke-sembilan perusahaan tersebut adalah PT Semen Indonesia Tbk, PT PANN Pembiayaan Maritim (Persero), PT Sinar Tambang Arthalestari, Wintermare Offshore Marine, Citra Citi Pacific, PT Kartanegara Energi Perkasa, PT Rayon Utama Makmur, PT Lontar Papyrus Pulp and Paper, dan Total Prima Makmur.

Kontan 24 April 2018. Herry Sidharta, Wakil Direktur Utama BNI bilang sampai akhir 2018 RoA BNI diperkirakan 2,7%-2,8%. Proyeksi rasio profitabilitas ini hanya naik 10 bps secara tahunan atau year on year

BRI

PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) mencatat jumlah aset terbesar yakni mencapai Rp 1.076,43 triliun per akhir 2017. Angka tersebut mengalami peningkatan di kisaran 11,7%. BRI juga mengambil porsi sebanyak 35,57% dari total aset bank BUMN sampai dengan akhir tahun lalu.

Laba bersih BRI untuk tahun 2017 sebesar Rp 28,4 triliun

BRI menargetkan outstanding kredit di infrastruktur hingga akhir tahun ini Rp 58,6 triliun. Porsi ini melonjak sekitar 30% dibandingkan kredit infrastruktur BRI tahun lalu yang hanya sekitar Rp 45,11 triliun.  Portofolio kredit BRI yang mencapai Rp 635 triliun didominasi pembiayaan ke sektor UMKM dengan porsi 73%. Sisanya mengucur ke kredit korporasi.

Dana Pihak Ketiga (DPK) BRI pada 2016 mencapai Rp 723,8 triliun atau tumbuh 12,6% dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp 642,8 triliun. Pertumbuhan pertumbuhan dana murah atau Current Account Saving Account (CASA) BRI, baik tabungan maupun giro, mencapai 60,6% dari total DPK.

Dana US$ 1 miliar yg diterima dari China Development Bank (CDB) dan telah diserap semuanya oleh sembilan nasabahnya yang terdiri dari PT Poso Energy Satu Pamona, PT Bosowa Energi, PT Kertanegara Energi Perkasa, , PT Indah Kiat, PT Semen Bosowa, PT Tangki Merak, dan PT Sugar Labinta. Dari seluruh perusahaan tersebut, PT Pindo Deli menerima pinjaman terbesar senilai US$221 juta, disusul kemudian oleh Krakatau Steel sebesar US$110 juta.

Bank Mandiri

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk yang memiliki aset individual bank sebanyak Rp 978,32 triliun per 2017 merujuk pada laporan keuangan bulanan unaudited. Aset tersebut hanya naik 6,55% yoy dibandingkan posisi akhir tahun 2016 sebesar Rp 918,18 triliun.

Laba bersih Bank Mandiri untuk tahun 2017 sebesar  Rp 20,6 triliun

Total komitmen kredit infrastruktur yang diberikan Bank Mandiri mencapai Rp 104,6 triliun. Kredit tersebut untuk pembiayaan  proyek tol sebesar Rp 14,5 triliun, pembangkit listrik Rp 39,3 triliun, transportasi sebesar Rp 38,2 triliun, dan telekomunikasi sebesar Rp 12,6 triliun. Namun baru sekitar Rp 57,3 triliun yang telah ditarik oleh debitur.

Bank Mandiri telah menyalurkan dana pinjaman China Development Bank (CDB) kepada 12 nasabah yang kebanyakan disalurkan bagi sektor minyak dan gas dengan total pinjaman sebesar US$495 juta atau 49,5 persen dari dana suntikan CDB. Pinjaman tersebut diberikan bagi tiga perusahaan, yaitu Saka Energy Indonesia (US$ 100 juta), PT Medco E&P Tomori Sulawesi (US$ 50 juta), dan PT Medco Energy International Tbk (US$ 345 juta).

Note:

Bank swasta BCA juga menyalurkan kredit untuk jalan tol, juga menyalurankan  kredit infrastruktur secara sindikasi dengan bank lain. Misalnya saja untuk membiayai proyek milik PT Perusahaan Listrik Negara (PLN). Pembiayaan yang jadi bagian dari mega proyek 30.000 MW ini diperkirakan bernilai Rp 12 triliun.

 

 

Post navigation

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *