Kupat

Foto  Kupat umumMenurut Slamet Mulyono dalam Kamus Pepak Basa Jawa , kupat adalah singkatan dari laku sing papat atau empat keadaan yang dianugerahkan oleh Tuhan kepada orang yang berpuasa dengankeikhlasan dan kesungguhan. Yaitu: lebar, lebur, luber, dan labur.

Lebar berarti telah menyelesaikan puasanya dengan melegakan. Lebur berarti terhapus semua dosa yang dilakukan di masa lalu, Luber berarti melimpah ruah pahala amal-amalnya. Dan Labur berarti bersih dirinya dan cerah-bercahaya wajah dan hatinya.

Dan Janur, sebagai bungkus mempunyai makna atau simbol sebagai sejatinung nur. Cahaya yang sejati. Semua anugerah, bisa menjadi labur, bercahaya wajah dan hatinya, karena mendapat limpahan cahaya yang sejati dari Tuhan. Sebagai perwujudan sifat Maha Pengasih dan Penyayang. Menjadikan jiwa kita merasakan kebahagiaan yang hakiki. Sebuah kebahagiaan yang akan tercapai jika kita suka berbagi ke sesama manusia. Menjadi insan yang rahmatan lil alamin. Rahmat bagi semesta, memuliakan manusia tanpa memandang suku, agama, dan ras.

Karena dalam perintah ibadah apapun akan selalu ada 2 wajah Islam. Yaitu wajah Islam yang profetik ritual dan juga wajah Islam dengan dimensi kesalehan secara sosial. Ada dimensi mikro kosmos dan makrokosmos, vertikal dan horizontal. Dan ini tak bisa terpisahkan.

Seperti  ibadah puasa ini, mereka yang menjalankan dan mencapai ‘laku sing papat’ adalah mereka yang tawadhu’, jauh dari kesombongan, dan tidak mau bersikap sewenang-wenang atau melanggar hak orang lain seperti korupsi misalnya, baik korupsi materi maupun korupsi perilaku. Dan juga berani memperjuangkan keadilan, karena keberanian memperjuangkan keadilan adalah bagian dari iman.

Piwulang dari Sunan Bonang ini selalu menginspirasi kita dan dapat kita implementasikan dalam puasa-puasa kita yang tentunya tidak hanya dijalankan saat bulan Ramadan saja. Juga cara-cara berdakwah beliau yang mentoleransi bahkan mengakrabi budaya masyarakat, tidak di jalankan dengan cara-cara kekerasan seperti yang dipraktekkan beberapa ormas Islam .

Asal usul

Menurut H.J. de Graaf dalam Malay Annal, ketupat merupakan simbol perayaan hari raya Islam pada masa pemerintahan Demak yang dipimpin Raden Patah awal abad ke-15. De Graaf menduga kulit ketupat yang terbuat dari janur berfungsi untuk menunjukkan identitas budaya pesisiran yang ditumbuhi banyak pohon kelapa. Warna kuning pada janur dimaknai oleh de Graff sebagai upaya masyarakat pesisir Jawa untuk membedakan warna hijau dari Timur Tengah dan merah dari Asia Timur.

Ketika menyebarkan Islam ke pedalaman, Walisongo melakukan pendekatan budaya agraris, tempat unsur keramat dan berkah sangatlah penting untuk melanggengkan kehidupan. Di sinilah pentingnya akulturasi. Sunan Kalijaga, lalu memperkenalkan dan memasukkan ketupat, simbol yang sebelumnya sudah dikenal masyarakat, dalam perayaan lebaran ketupat, perayaan yang dilaksanakan pada tanggal 8 Syawal atau sepekan setelah hari raya Idul Fitri dan enam hari berpuasa Syawal

Lebaran ketupat diangkat dari tradisi pemujaan Dewi Sri, dewi pertanian dan kesuburan, pelindung kelahiran dan kehidupan, kekayaan dan kemakmuran. Ia dewi tertinggi dan terpenting bagi masyarakat agraris. Ia dimuliakan sejak masa kerajaan kuno seperti Majapahit dan Pajajaran. Dalam pengubahsuaian itu terjadi desakralisasi dan demitologisasi. Dewi Sri tak lagi dipuja sebagai dewa padi atau kesuburan tapi hanya dijadikan lambang yang direpresentasikan dalam bentuk ketupat yang bermakna ucapan syukur kepada Tuhan.

Dewi Sri tetap dihormati dan dimuliakan oleh masyarakat Jawa, Sunda, dan Bali. Beberapa keraton di Indonesia, seperti Cirebon, Ubud, Surakarta, dan Yogyakarta tetap melestarikan tradisi ini. Sebagai contoh upacara slametan atau syukuran panen di Jawa disebut Sekaten atau Grebeg Mulud yang juga berbarengan dengan perayaan Maulid Nabi Muhammad. Dalam upacara ritual semacam itu, ketupat menjadi bagian dari sesaji –hal sama juga terjadi dalam upacara adat di Bali. Di masyarakat Jawa, ketupat sering digantung di atas pintu masuk rumah sebagai semacam jimat atau penolak bala.

Tak heran jika kita melihat sejumlah tradisi di sejumlah daerah, yang berkaitan dengan agama Islam, Hindu, maupun kepercayaan lokal. Di sejumlah daerah ada tradisi unik yang dinamakan perang ketupat. Di Pulau Bangka perang ketupat dilakukan setiap memasuki Tahun Baru Islam (1 Muharam). Di Desa Kapal, Badung, Bali, perang ketupat dimaksudkan untuk memperoleh keselamatan dan kesejahteraan. Di Lombok, perang ketupat dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur atas keberhasilan panen dan menandai saat mulai menggarap sawah. Tradisi itu masih bertahan hingga kini.

Ketupat sudah lama dikenal di sejumlah daerah di Indonesia. Ini terlihat dari sejumlah makanan khas yang menggunakan ketupat sebagai pelengkap hidangan. Ada kupat tahu (Sunda), kupat glabet (kota Tegal), coto Makassar, ketupat sayur (Padang), laksa (kota Cibinong), doclang (kota Cirebon), juga gado-gado dan sate ayam. Tapi tetap saja, tanpa ketupat di hari lebaran, terasa kurang afdol.

Bentuk2 Kupat

  1. Kupat Luar, ini bentuknya seperti kodok, bagian bawah lebih besar. Paling mudah dibuat, sering  dipakai wadah jangkrik. Tangan kiri dua lingkaran, kanan tiga
  2. Kupat Sinta, ini empat sisinya sama, masing2 tiga lingkaran janur ditangan kiri dan kanan. Bentuknya sempurna, empat sisi sama, Dari sini , mungkin, ada pengertian bentuk belah ketupat, empat sisi sama tetapi miring.
  3. Kupat Jago, janurnya dua pasang, dinam kekiri dan kekanan, gantian. Bentuk akhir seperti jago, segitiga , ekornya dua. Kalau yg pinter, buntut yg sebelah bisa dinam lagi jadi kepala
  4. Kupat Gada, janurnya dua pasang, dinam keatas, setelah kira2 20 cm, dibalik, dinam turun. Bentuk akhir seperti gada, mirip lontong

Aneka Kupat menurut daerah

Kupat menurut dialekKetupek Katan Kapau

Katupek katan yang khas Kapau, yaitu ketupat ketan berukuran kecil yang dimasak dalam santan berbumbu. Ketupat ketan adalah versi rebus dari lemang. Santannya menjadi sampai kental sekali dan merasuk ke dalam ketupat. Ketupat kentan ini bisa dimakan sebagai dessert, tetapi juga bisa dimakan dengan lauk pedas, misalnya gulai itik cabe hijau atau rendang.

Ketupat/lontong Sayur

Lontong Sayur. Biasanya Lontong sayur itu artinya santan kental yang gurih, tapi kalo mau sehat (baca: engga mau makan santan) dikasih soun, telur rebus dan ditaburi bawang goreng

Kupat Kandangan

Foto Kupat KandanganBumbu yang di gunakan pada kuahnya berupa kunyit, garam, cabai merah kering, keminting, bawang merah, bawang putih, gula merah, dan terasi.  Selain itu untuk menu pelengkap biasanya menggunakan ikan haruan, karena mudah di dapatkan oleh masyarakat disana. Selain itu ikan haruan memiliki tekstur yang lembut dan mudah meyerap kuah, sehingga rasa kuah pun bercampur dalam daging ikan tersebut. Untuk pengolahan ikan ini biasanya tidak di goreng, namun di olah dengan cara di bakar atau di asapi. Setelah selesai di bakar, ikan tersebut di masukkan ke dalam kuah santan yang sudah di buat agar rasa pada kuah bisa terasa pada daging ikan

Ketupat Glabed

foto kupat glabed TegalAda lagi sajian rakyat lain di Tegal yang sangat populer, yaitu Kupat Glabed. Kali ini bukan ketupat dari desa Glabed. Kupat glabed adalah ketupat yang dimakan dengan kuah kuning kental. Glabed sendiri sebenarnya berasal dari ucapan orang Tegal bila mengekspresikan kuah yang kental ini. Glabed-glabed!

Ketupatnya dipotong-potong, dibubuhi tempe goreng, dan disiram dengan kuah glabed. Tambahkan sambal bila ingin citarasa pedas. Topping-nya adalah kerupuk mi yang terbuat dari tepung singkong dan taburan bawang goreng. Sebagai lauknya, Kupat Glabed selalu didampingi dengan sate ayam atau sate kerang

Ketupat Betawi (Bebanci)

Gmb Ketupat sayur Betawi

Masakan paling khas dan unik yang dimiliki masyarakat Betawi adalah ketupat bebanci. Saat ini nggak ada orang yang jual ketupat bebanci. Padahal sangat unik dan enak. Sesuai dengan namanya, ketupat bebanci adalah masakan dengan unsur utama ketupat. Ketupat ini disantap dengan kuah santan berisi daging sapi dan diberi aneka bumbu seperti kemiri, bawang merah, bawang putih, cabai, dan rempah-rempah

Ketupat cabuk rambak (Solo)

Foto Ketupat SoloCabuk rambak adalah ketupat nasi yang diiris tipis-tipis, dan disiram dengan sedikit sambal wijen (dicampur kemiri dan kelapa parut yang terlebih dulu digongseng). Ada yang menyukai sambal yang sangat pedas, ada yang menyukai rasa sambal yang gurih. Rasa sambalnya memang sangat khas. Hidangan ini disajikan dengan kerupuk nasi yang disebut karak.

Foto Kupat MakasarKetupat ( Katupa ) Makasar

dikumpulkan dari berbagai sumber oleh gandatmadi46@yahoo.com

2 Comments

  1. Wid0d0

    Benarkah informasi belakangan ini yang menyatakan bahwa kesemua Walisanga sebenarnya keturunan China yang sambil berdagang menyebarkan syiar Islam di Nusantara ?

    Reply
    • aspirasi

      Trims,
      Di era Orba buku karya Prof Slamet Muljana dilarang oleh karena menyebut Wali Songo keturunan China. Sejarawan Dr Asvi Warman memberikan keterangan bahwa Prof Slamet mendasarkan kesimpulannya pada buku MO Parlindungan dan diduga tidak memeriksa naskah2 yg berasal dari Klenteng Sam Po Kong Semarang.
      Pada 1928, Residen Poortman ditugaskan oleh pemerintah Belanda untuk menyelidikinya, lalu menggeledah Kelenteng Sam Po Kong dan menyita naskah berbahasa Tionghoa. Ia menemukan naskah kuno berusia ratusan tahun sebanyak tiga pedati. Pernyataan Rd Parah keturunan China tercantum dalam Serat Kanda yg menyebut Rd Patah bergelar Panembahan Jimbun, orang kuat dalam bahasa Hokian.
      Terdapat banyak tulisan a.l menulis bahwa Rd Fatah putra Sayid Abdullah atau Wan Abdullah yang dalam bahasa Champa di kenal Wan Bo Tri Tri bin Ali Nurul Alam bin Jamaluddin Hussein dst.
      Monggo kalau ingin mempelajari sejarah karena banyak sekali naskah2 yg belum sempat diteliti dengan seksama.
      Gandatmadi46@yahoo.com

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published.