Banyuwangi Sukses

Gambar peta BanyuwangiTokoh sejarah fiksi yang terkenal adalah Putri Sri Tanjung yang di bunuh oleh suaminya di pinggir sungai karena suaminya ragu akan janin dalam rahimnya bukan merupakan anaknya tetapi hasil perselingkuhan ketika dia ditinggal menuju medan perang. Dengan sumpah janjinya kepada sang suami sang putri berkata: “Jika darah yang mengalir di sungai ini amis memang janin ini bukan anakmu tetapi jika berbau harum (wangi) maka janin ini adalah anakmu”. Maka seketika itu darah yang mengalir ke dalam sungai tersebut berbau wangi, maka menyesalah sang suami yang dikenal sebagai Raden Banterang ini dan menamai daerah itu sebagai Banyuwangi.

Tokoh sejarah lain ialah Minak Djinggo, seorang Adipati dari Blambangan yang memberontak terhadap kerajaan Majapahit dan dapat ditumpas oleh utusan Majapahit, yaitu Damarwulan. Namun sesungguhnya nama Minak Djinggo bukanlah nama asli dari adipati Blambangan. Nama tersebut diberikan oleh sebagian kalangan istana Majapahit sebagai wujud olok-olok kepada Brhe Wirabumi yang memang putra prabu hayam wuruk dari selir.

foto Damarwulan Wesi Kuning di tangan Damarwulan, diberikan Wahita dan Puyengan dua istri Minakjinggo yg kasmaran dengan Damarwulan.

Bagi masyarakat Blambangan, cerita Damarwulan tidak berdasar. Cerita ini hanya bentuk propaganda Mataram yang tidak pernah berhasil menguasai wilayah Blambangan yang saat itu disokong oleh kerajaan hindu Mengwi di Bali.

Cerita  Damarwulan sangat populer sebelum tahun 60an. Jika ditinjau dari cerita yang menggambarkan keburukan raja Blambangan maka menjadi pertanyaan mengapa cerita ini begitu populer di Banyuwangi. Sebab biasanya tidak ada masyarakat yang dapat menerima jika pahlawannya digambarkan sebagai pecundang ( Orang Sri Langka menolak penggambaran Dasamuka dari kisah Ramayana )

Menurut DR ( Leiden) Sri Margana cerita Damarwulan dan Prabu Menakjinggo ini ditulis dalam buku Serat Kanda / Serat Damarwulan oleh sastrawan dari keraton Surakarta dan dipentaskan dalam bentuk Langendrian (Operate) oleh Mangkunegara IV (1853 sd 1881). Kemudian dipopulerkan di Banyuwangi oleh penguasa Banyuwangi yang masih berdarah Mataram pada masa penjajahan VOC. ( Tempo )

Sejarah Banyuwangi tidak lepas dari sejarah Kerajaan Blambangan. Pada pertengahan abad ke-17, Banyuwangi merupakan bagian dari Kerajaan Hindu Blambangan yang dipimpin oleh Pangeran Tawang Alun. Pada masa ini secara administratif VOC menganggap Blambangan sebagai wilayah kekuasannya, atas dasar penyerahan kekuasaan jawa bagian timur (termasuk blambangan) oleh Pakubuwono II kepada VOC. Padahal Mataram tidak pernah bisa menguasai daerah Blambangan yang saat itu merupakan kerajaan hindu terakhir di pulau Jawa

VOC segera bergerak untuk mengamankan kekuasaanya atas Blambangan pada akhir abad ke-18. Hal ini menyulut perang besar selama lima tahun (17671772). Dalam peperangan itu terdapat satu pertempuran dahsyat yang disebut Puputan Bayu sebagai merupakan usaha terakhir Kerajaan Blambangan untuk melepaskan diri dari belenggu VOC. Pertempuran Puputan Bayu terjadi pada tanggal 18 Desember 1771 yang akhirnya ditetapkan sebagai hari jadi Banyuwangi. Sayangnya, perang ini tidak dikenal luas dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia melawan kompeni Belanda. Namun pada akhirnya VOC-lah yang memperoleh kemenangan dengan diangkatnya R. Wiroguno I (Mas Alit) sebagai bupati Banyuwangi pertama dan tanda runtuhnya kerajaan Blambangan.

Banteng Jawa di alasBanteng Jawa di Alas Purwo

Banyuwangi memiliki beberapa julukan : The Sunrise of Java karena matahari terbit pertama di pulau Jawa, Bumi Blambangan karena dari sejarah kerajaan Blambangan, Kota Osing karena suku Osing adalah suku asli, Kota Santet karena terjadi tragedi pembunuhan 100 orang diduga tukang santet pada 1998, Kota Banteng karena di Taman Nasional Alas Purwo terdapat banyak banteng Jawa, Kota Gandrung karena tari Gandrung menjadi maskot kota.

Sunrise of JavaBanyuwangi, The sunrise of Java

Prestasi Ekonomi

Pemkab Banyuwangi, Jawa Timur menerima Government Award 2016. Penghargaan‎ sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi terbaik. Produk domestik regional bruto (PDRB), yang pada 2010, tembus Rp 32,46 triliun meningkat Rp 36,95 triliun di 2011. Naik Rp 42,10 triliun di 2012, Rp 47,23 triliun (2013) dan Rp 53,37 triliun (2014). Menurut BPS, pendapatan perkapita masyarakat menunjukkan lonjakan sekitar 62 persen dari Rp 20,8 juta di Tahun 2010 menjadi Rp 33,6 juta di 2014. Pada 2010, APBD Rp 1,29 triliun, maka tahun 2015 Rp 3 triliun.

Berdasarkan data resmi Bank Indonesia (BI), penyaluran kredit di Banyuwangi pada 2010 mencapai Rp 3,29 triliun dan terus tumbuh menjadi Rp 8,93 triliun di Tahun 2015. Maka secara kumulatif, penyaluran kredit di Banyuwangi tumbuh 171,43 persen atau rata-rata 34,82 persen per tahun. Kredit macet atau non performing loan (NPL), juga berhasil ditekan dari 4,1 persen menjadi 2,1 persen di Tahun 2014.

Pada tahun 2004  perairan Banyuwangi telah berkontribusi produsksi ikan sebesar 27.489.772 kg dengan nilai Rp 59,3 milyar, lalu pada tahun 2006 naik menjadi 62.294.281 kg dengan nilai 93,2 milyar (Martadi, 2009). Perairan Selatan Jawa dan Selat Bali memiliki potensi lestari sumber daya ikan sebesar 743,83 ribu ton per tahun (Anonymous 1998avideWijaya, 2002)

Pesona Wisata Banyuwangi

dari berbagai sumber oleh gandatmadi46@yahoo.com

Post navigation

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *