Inflasi & Kebijakan Otorita Moneter

Data Inflasi Mei 2022

Inflasi dapat diartikan sebagai kenaikan harga barang dan jasa secara umum dan terus menerus dalam jangka waktu tertentu. Deflasi merupakan kebalikan dari inflasi, yakni penurunan harga barang secara umum dan terus menerus.

Inflasi yang rendah dan stabil merupakan prasyarat bagi pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan yang pada akhirnya memberikan manfaat bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat. Pentingnya pengendalian inflasi didasarkan pada pertimbangan bahwa inflasi yang tinggi dan tidak stabil memberikan dampak negatif kepada kondisi sosial ekonomi masyarakat.

Pertama, inflasi yang tinggi akan menyebabkan pendapatan riil masyarakat akan terus turun sehingga standar hidup dari masyarakat turun dan akhirnya menjadikan semua orang, terutama orang miskin, bertambah miskin.

Kedua, inflasi yang tidak stabil akan menciptakan ketidakpastian (uncertainty) bagi pelaku ekonomi dalam mengambil keputusan. Pengalaman empiris menunjukkan bahwa inflasi yang tidak stabil akan menyulitkan keputusan masyarakat dalam melakukan konsumsi, investasi, dan produksi, yang pada akhirnya akan menurunkan pertumbuhan ekonomi.

Ketiga, tingkat inflasi domestik yang lebih tinggi dibanding dengan tingkat inflasi di negara tetangga menjadikan tingkat bunga domestik riil menjadi tidak kompetitif sehingga dapat memberikan tekanan pada nilai Rupiah.

Perhitungan inflasi dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS), link ke metadata SEKI-IHK. Kenaikan harga dari satu atau dua barang saja tidak dapat disebut inflasi kecuali bila kenaikan itu meluas (atau mengakibatkan kenaikan harga) pada barang lainnya.

Memerang Inflasi

Menaikan suku bunga acuan adalah cara efektif memerangi inflasi namun menaikan suku bunga yang agresif dan terlalu tinggi dapat memicu resesi.  Sejumlah kritik kepada The FED yang secara agresif akan menaikan suku bunga datanga dari para ekonom a.l peraih hadiah Nobel bidang ekonomi Joseph Stiglizt, menurutnya lebih banyak mudaratnya dari pada manfaatnya.

Interest Rate negara G20

EU 0,5. Japan -0,1%. UK 1,25, Australia 1,35%. US 1,75%. Saudi 2,25%. Indonesia 3,5%. Canada 3,75%. China 3,7%. India 4,9%. South Africa 5,5%. Mexico 7,75%. Russia 9,5%. Turkey 14%. Argentina 52 %.

Pengukuran Inflasi

Dalam mengukur inflasi, ada dua indikator yang paling umum digunakan, yaitu indeks harga konsumen (IHK) dan inflasi inti (core inflation).
Pengukuran IHK

Berdasarkan the Classification of Individual Consumption by Purpose (COICOP), IHK dikelompokkan ke dalam tujuh kelompok pengeluaran, yaitu:

1.Bahan Makanan. 2. Makanan Jadi, Minuman, dan Tembakau. 3.Perumahan. 4.Sa ndang. 5.Kesehatan. 6.Pendidikan dan Olahraga. 7.Transportasi dan Komunikasi.

Data pengelompokan tersebut didapatkan melalui Survei Biaya Hidup (SBH)

Pengukuran Inflasi Inti

Inflasi Inti masuk dalam Disagregasi Inflasi: *Interaksi permintaan-penawaran. *Lingkungan eksternal: nilai tukar, harga komoditi internasional, inflasi mitra dagang. *Ekspektasi inflasi dari pedagang dan konsumen.

Kebijakan Otorita Moneter BI.

Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 20-21 Juli 2022 memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan. BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) tetap sebesar 3,50 persen, suku bunga Deposit Facility tetap sebesar 2,75 persen, dan suku bunga Lending Facility tetap sebesar 4,25 persen.

Kebijakan Otorita Moneter BI berbasis menjaga pertumbuhan ekonomi al menstabilkan nilai tukar Rupiah. Menjaga jumlah uang beredar M1 dan M2  dengan menaikan GWM, membeli SBN sampai Rp 56,1 T. Kebijakan ini berbeda dengan kebijakan menaikan suku bunga untuk menekan inlasi yang dilakukan negara lain.

gandatmadi46@yahoo.com

Post navigation

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *