Institute for Corporate Ethics: Bailouts and Bonuses on Wall Street

Bailouts and Bonuses on Wall Street

Kirsten and Michael Scotto

Institue for Corporate Ethics

Matt, top executive Goldman Sachs tidak membayangkan pembayaran kepada karyawannya menjadi isu yg sangat menusuk. Namum menjadi jelas pada 20 Januari 2010 ketika dia menangani kelompoknya sendiri yaitu kelompok trader. Kelompok ini dijanjikan kompensasi ( bonus dll ) karena berhasil membuat Goldman Sachs mencapai revenue  $ 1.5 – $ 3.0 Billion pada tahun 2008 dan 2009.

Dia tahu bahwa  industri jasa keuangan masih tersengat dari paket gaji yg tampak keterlaluan diberikan kepada individu pada Citigroup –  a Trader  yg populer dengan sebutan  $ 100 Million Dollar Man. Pedagang komoditas ini menerima $ 100 Million bonus hanya beberapa bulan berdasarkan kontrak dengan perusahaan:  dia membuat Citygroup revenu  $2 Billion dengan taruhan oil market dan kontrak terutang. Bagaimanapun Citygroup menerima $ 45 Billion dana pembayar pajak, dan ketika saatnya pembayaran bonus,  Citygroup baru melunasi kepada Pemerintah US. Berita ini kemudian bocor, tuntutan untuk melakukan reformasi penghasilan bergema ke seluruh industri .

Di tengah2 resesi tugas Matt menjadi ruwet, di satu sisi harus membayar delapan karyawan total $ 125 milion sesuai kontrak,  namun Goldman Sachs menerima lebih dari $ 10 billion dari pembayar pajak berupa  bantuan bailout.  Sebagai tambahan para grup trader di Citigroup  ini berperan ketika krisis keuangan karena hubungan dengan AIG Financial Products group yg dianggap menjadi episenter krisis.

Financial Crisis

 Keputusan pemberian kompensasi ( bonus )  dalam industri keuangan  menjadi debat publik terbangun dari krisis industri keuangan yg merusak Wall Street yg kemudian dikirim keseluruh dunia.  Beberapa faktor kombinasi seperti kekosongan likwiditas, overleveraged balance sheets ( terlalu banyak utang sehingga ga mampu bayar bunga cicilan ),  sangat tergantung  kepada instrumen keuangan  terkait dengan pasar perumahan yg terkenal dengan nama mortgage-backed securities, kemudian tercipta efek domino dalam industri keuangan.  Ketika harga perumahan turun serentak mortgage backed securities anjlok nilainya, perusahaan2 Wall Street tidak mampu menyerap kerugian harga aset2  mereka  serta sehingga menaikkan liabilitas jangka pendek.

Domino pertama yg jatuh adalah Bank Investasi, Bear Stearns,  hanya setahun ketika stock diperdagangan dengan harga $ 133 per saham dipaksa menjual sahamnya kepada JP Morgan Chase pada March 2008 dengan harga $ 2 per shama, disebabkan rendahnya kepercayaan investor atas kemampuan Bear mencukupi kebutuhan mitra bisnis nya. Pemerintah US, yaitu  The FED,  Departemen Keuangan dan akhirnya Congress memutuskan bailout kepada beberapa Bank dan beberapa perusahaan Securitas. Kepada Bear Stearns Pemerintah Federal menggaransi asetnya senilai $ 30 Billion. Beberapa Bank selamat karena bantuan Pemerintah, yg lainnya kolaps karena tidak dibantu.

Salah satu pelaku utama adalah perusahaan asuransi American International Group (AIG), yg memiliki product Credit Default Swap ( CDS ) – suatu kontrak asuransi ( atau taruhan ) terhadap nilai dari bond berbasis subprime mortgage.  Pasar CDS tampak menarik karena secara historis tidak ada yang bangkrut.  Perusahaan2 seperti AIG yg menjual CDS berhasil untung dari penjualan swaps dan mengkoleksi premi, dengan resiko kecil terhadap claim. Problem2 bermunculan ketika pemilik rumah gagal membayar cicilan ( defaulting )  serta seluruh Bond terkait mortgage backed securerity jatuh.  AIG yg menjual CDS yg meng-asuransikan lebih dari $ 440 Billion Bond, belum lagi AIG tidak punya aset  yg cukup utk mendukung resiko swap atau kebijakan asuransi. AIG FP bertanggung jawab untuk $ 20 Billion, mortgage bond menurut perjanjian dengan Goldman Sachs. Customers, mitra dagang dan credit rating agencies hilang kepercayaan   terhadap kemampuan AIG memenuhi janjinya. Kemudian Pemerintah Federal bailout AIG pada 17 September 2008, dengan memberikan credit line $ 85 Billion.

Pada 3 Oktober 2008, Congress menyisihkan lebih dari $ 700 Billion untuk investasi di dalam perekonomian US melalui Troubled  Asset  Relief  Program  (TARP ).

CEOs  from  nine  banks—JP  Morgan  Chase, Goldman Sachs, Bank of America, Merrill Lynch, Morgan Stanley, Citigroup, Wells Fargo, State Street, and Bank of New York Mellon—were called to a meeting on Monday, October 13, 2008, and told they each would be taking between $10B and $25B in government assistance in the form of TARP funds

Proposal tertulis TARP sepanjang tiga halaman tanpa menyebutkan persyaratan Capital, leverage atau the ratio of a company’s loan capital (debt) to the value of its common stock (equity).  Kompensasi, Profit Sharing. Diharapkan semua Bank menerima bantuan tersebut tanpa mempertimbangkan solvabilitas  keuangan masing2.

TARP berhasil menstabilkan perekonomian, namun ketika tiba musim pemberian bonus di Wall Street dan hanya empat bulan kemudian di musim spring 2009, AIG siap untuk memberi bonus kepada karyawannya total $ 165 Million, termasuk di divisi Financial Products – penerima uang pembayar pajak terbesar serta divisi yang memperjualkan credit default swaps. Ketika aset2 tersebut  – subprime mortgages – jatuh nilainya pada 2008, AIG ini  yg memperdagangkan credit default swaps membenani perusahaan ( AIGgroup ),  AIG menawarkan kepada karyawan FP lebih dari $ 400 Million dalam pembayaran retensi,  dengan lump sums yg jatuh tempo di bulan Maret 2009 dan Maret 2019.

Ketika rencana AIG untuk membagikan bonus di bulan Maret 2009 bocor ke publik, President Obama bersumpah untuk mengejar secara hukum untuk menyetop dan dengan dukungan legeslative mengeluarkan UU atau bill yg akan mengenakan pajak 90%  terhadap karyawan yg menerima bonus terswebut.  New York Attorney mengancam untuk memplubikasikan nama2 dari para penerima, sehingga menekan  para excecutive dari AIG FP dengan berat hati mengembalikan sekitar $ 45 Million  bonus sebelum akhir 2009. Keputusan Matt untuk membayar karyawan makin rumit disebabkan dua skandal  yaitu 1. the $ 100 Million Man di Citigroup dan 2. AIG FP Bonuse

Compensation in Financial Services

Secara historis para excecutives dan karyawan memperoleh hadiah berupa mix, yaitu berupa stock dan cash sebgai persentasi dari revenue.  Sebelum krisis kebanyakan bonus berupa cash – kompensasi tidak dikaitkan dengan kinerja jangka panjang dari perusahaan, dan excecutives dengan gampang keluar dari perusahaan setiap waktu. Sejak krisis perusahaan mulai bergeser fokus kepada bonus dalam stock dengan ketentuan mencegah mereka memilih opsi yg dengan cepat menjual bagian mereka. Penekanan pada bonus dari pada gaji bukan sesuatu yg baru, dimana banyak gaji Banker dan trader dikaitkan dengan bonus akhir tahun.

Bantuan asistensi Pemerintah kepada industri keuangan memberi peluang pengawasan publik tentang praktek pemberian gaji yg selama bertahun tahun tidak diawasi. Tetapi peranan industri keuangan dalam skala ekonomi yg lebih luas  serta struktur institusi keuangan keduanya telah berubah.  Pertama, industri keuangan  karena menjadi bagian lebih besar dari ekonomi. Dari 1929 sampai 1988 industri keuangan memperoleh untung rata2 1.2 % dari GDP. Sejak 1990an, keuntungan naik dengan cepat dan puncaknya di tahun 2005 sebesar 3.3 % GDP. Sebagai tambahan, industri lebih berkonsentrasi:  10 besar institusi keuangan  memiliki 10 % aset keuangan US di tahun 1990, setelah itu 10 institusi tersebut memiliki 60 % US financial assets.

Akhirnya, struktur organisasi berubah, Sampai dengan tahun 1970an banyak perusahaan Wall Street merupakan private partnership, dimana kapital yg di miliki partner mendukung kegiatan perusahaan,  dan kompensasi dalam bentuk profit sharing.  Keuntungan dibagi pada akhir tahun diantara para partner sebagai persentasi dari revenue.  Kompensasi merupakan hasil negosiasi para partner dan umumnya berdasarkan besarnya kepemilikan di perusahaan dan kemampuan partner menambah nilai perusahaan. Ketika banyak perusahaan go public termasuk perusahaan yg menjadi pusat krisis keuangan, kompensasi tidak berubah. Excecutive tetap dibayar   seperti layaknya partner tanpa menanggung resiko.  Beberapa perihatin karena rewards tersebut tidak seimbang dengan resiko. Menurut Peter J Solomon, pendiri dan chairman perusahaan berpendapat jika securities trader dapat kehilangan kapital yg juga income, maka publik mungkin kurang marah  tentang perolehan ( bonus ) mereka.

Banks’ Post-Crisis Activities

Lanskap Wall Street benar2 berubah, dari keuntungan terbesar  pada 2007 menjadi terrendah pada Maret 2009. Lehman Brothers, Bear Stearns, dan  Merrill Lynch, semuanya elemen dari sektor yg berkembang,  di likwidasi atau dijual pada harga tekanan ( rendah ).  Pemaian di Wall Street yg tetap survive termasuk Goldman Sachs, Morgan Stanley, Bank of America, JP Morgan Chase dan Citigroup. Semua menerima bantuan dari Troubled Asset Relief Program (TARP) sejak Januari 2010, hanya Citigroup telah melunasi bailout funds.

Mereka yg survive menyaksikan kebangkita revenue dan keuntungan pada tahun 2009 . Selama sembilan bulan pertama tahun 2009 lima dari sembilan yg survive  menerima bantuan dari federal – Citigroup, Bank of America, Goldman Sachs, JPMorgan Chase, and Morgan Stanley—bersama sama menyisihkan $ 90 Billion untuk kompensasi. Jumlah itu termasuk salary,benefit dan bonus tetapi pada beberapa perusahaan, bonus tercipta separuh dari seluruh kompensasi.  Sementara bnus untuk industri diharapkan  sekitar setengah juta dollar pada tahun 2009, jumlah itu tidak dibagi secara merata.

Bond dan currency traders juga Banker Investasi menerima jumlah  bonus secara tidak proporsional.  Mengejutkan, traders yg membuat uang terbanyak  tidak di hedge fund dan di tempat2 tradisional yg dianggap untuk kegiatan dagang.

Public and Government Reaction to Bonuses

Pada 20 Mei 2009 President Obama menandatangani the Fraud Enforcement and Recovery Act of 2009,  membentuk  the  Financial  Crisis  Inquiry  Commission  (FCIC). Komisi  dibentuk untuk mempelajari pengyebab2 dari  krisis keuangan dan ekonomi domistik dan global serta melaporkan penemuan2 kepada President, kepada Congress dan kepada rakyat Amerika.  Sebagai tambahan Pay Czar‖ Ken Feinberg ditunjuk sebagai Special Master TARP berwenang yang menentukan  besarnya kompensasi yg diberikan kepada  para excecutive  dari perusahaan2 yg yg tidak melunasi TARP funds.

Meskipun dengan tambahan kontrol, jumlah reaksi publik yg menolak kultur bonus bertahan. Salah satu alur pikiran berpendapat bahwa bonus itu sendiri menyebabkan terjadinya krisis sistem keuangan global. Oleh karena pembayaran kepada excecutive terkait dengan sukses jangka pendek, nekad mengambil resiko secara berlebihan ( excessive risks ) dalam bentuk CDOs dan CDSs. Menurut alur pikiran ini, paket pemberian kepada excecutive di susun untuk mendorong get-rich-quick mentality dan untuk menuju   perilaku nekad mengambil resiko, yg membantu pasar keuangan crashing down serta menghapus keuntungan dari multiple companies. Ditambahkan, mendorong – self-referential speculation ( memilih spekulasi menurut selera para CEO ), untuk itu diusulkan menciptakan stabilitas jangka menengah serta mendorong Perbankan – away from being a service sector to being a self-serving sector.

Untuk menambah asupan terhadap argumen ini kebanyakan analisis tentang kompensasi mengabaikan terhadap para excecutive yg keluar dari perusahaan sebelum krisis keuangan. Sebagai contoh selama 11 tahun sebelum krisis Merrill membayar kepada tiga CEO nya leabih dari $ 240 million sesuai dengan performance based compensation.

Sebagai tambahan, US Treasury ( Depkeu ) meminta para Bank yg belum membayar TARP funds membayar para excecutive mereka dalam bentuk stock. Sebagai contoh Citigroup dapat memisahkan $ 113 million dalam stock untuk tahun 2009. Jika Citigroup mengembalikan 24 bulan sebelumnya maka bagian dari excecutive akan bernilai lebih dari $ 800 million.  Trend ke stock compensation tidak terbatas bagi yg menanggung  TARP KARENA PENGARUH Pay Czar yg bertanggung jawab membangun kembali sistem kompensasi Wall Street.

Penekanan kpd stock juga ruwet. Bankers di prediksi meraih stock untuk kompensasi yg besar disebabkan harga stock yg murah ketika di keluarkan. Sebagai contoh pada tahun 2008 kompensasi dianggap rendah waktu itu, atau belum naik ketika seluruh sistem keuangan mulai membaik dan stock milik Bank harganya naik.  Seperti dicatat oleh Jesse M. Brill, chairman of the CompensationStandards.com trade publication bahwa masyarakat mesti melihat kepada besarnya perolehan ( gain ) yg dibuat sejak stock dan opsi  yg diberikan tahun lalu dan secara fakta terjadi dan dalam berbagai jalan suatu windfall… Hal ini tidak ada kaitannya dengan perforfamnce para CEO.  Hal ini diberikan pada harga pasar yg rendah.  Trading group dari Matt di Goldman Sachs untung karena diperdagangkan ketika pasar rendah di tahun 2008 dan 2009.

Pada akhirnya beberapa makin frustasi karena tidak banyak yg meminjam dari paket TARP funds dan memilih berdagang memakai uang sendiri. Goldman Sachs dan JO Morgan Chase sangat profitable berbisnis proprietary trading  serta mengambil resiko tinggi – hal ini memperlemah pesaing yg tidak mau atau mampu mengambil resiko – benefit karena berkurangnya kompetisi sesudah kejautahan beberapa perusahaan investor tahun lalu. Kurangnya pinjaman kepada pebisnis besar dan kecil berdampak terhadap ekspansi serta perusahaan yg memulai – sebagai langkah yang tidak terpisahkan untuk pemulihan ekonomi.

Note:

Proprietary trading (also “prop trading”) occurs when a trader trades stocks, bonds, currencies, commodities, their derivatives, or other financial instruments with the firm’s own money, as opposed to depositors’ money, so as to make a profit for itself. Proprietary traders may use a variety of strategies such as index arbitrage, statistical arbitrage, merger arbitrage, fundamental analysis, volatility arbitrage or global macro trading, much like a hedge fund. Many reporters and analysts believe that large banks purposely leave ambiguous the proportion of proprietary versus non-proprietary trading, because it is felt that proprietary trading is riskier and results in more volatile profits.

The Financial Industry’s Response

Institusi keuangan di tengah2 badai krisis membuat argumen sendiri , mempertahankan bisnis mereka serta praktek memberikan kompensasi.

Strong versus weak institutions

Morgan Chase tidak disukai, lainnya melihat terjadi konsolidasi kekuatan secara alami didalam industri namun mengalami pergolakan yg luar biasa. Kolapsnya beberapa pesaing seperti Lehman Brothers, Bear Stearns, dan Merrill Lynch konsentrasi kekuatan berada di tangan beberapa perusahaan besar, yang mempunyai kemampuan memperkuat posisi mereka di pasar dengan lebih berresiko. Mereka mampu menyediakan berbagai macam pelayanan sebab perusahaan2 membutuhkan Bank dan terlebih kini  Bank investasi serta kini dengan kolapsnya Lehman Brothers, Bear Stearns, dan Merrill Lynch makin sedikit yg mampu membantu. Demikian pendapat Douglas J. Elliott of the Brookings Institution

Conforming to standards

 Menurut juru bicara Bank of America, – We‘re paying for results, and there were some areas of the company that had terrific results, and they will be compensated for that.  Dalam hal ini institusi keuangan menyesuaikan dengan standar yang diletakkan Pay Czar dan Congress suatu konstruksi pembayaran kompensasi. Fakta menunjukkan, $100 Million-Dollar-Man di Citigroup  sesuai dengan standar yg disusun Pay Czar dan para Lawmakers ( Congress ).

James Forese, Citigroup‘s co-head of global markets indicated that the $100 Million-Dollar-Man‘s pay-for-performance contract was one of which the Pay Czar would approve. ―We‘re confident in the value these types of profit-sharing arrangements bring to the company and its shareholders,‖ Mr. Forese wrote in a statement, ―as they directly align compensation with performance.‖ 40   In Matt‘s case, his trading group had made money for Goldman Sachs the past two years. Paying his people for their performance was in-line with industry standards.

Unintended consequences

 Di rubrik op-ed  Washington Post,  staff writer Brady Dennis mencatat  bahwa sweeping dakwaan sebenarnya menghukum Bank2 yg sehat – mereka yg survive dan  utuh dalam krisis kini berkembang – karena mismanagement Bank2 yg gagal. Menurut argumen ini,  kita boleh secara fakta mengikat tangan Bank2 yg sehat ketika membutuhkan mereka untuk memberikan financial resources kepada konsumen dan kalangan bisnis. Vilifying all bankers creates a climate where excessive regulations are more likely. Bank akan bertindak lebih konservatif dan mengurangi pinjaman. Dengan demikian membatasi  ekspansi dengan usaha kecil dan menutup strat up. Memperlambat pemulihan ekonomi.

We’re getting better

Sebagaimana catatan CEO dari Bank of America Merrill Lynch dalam cogressional testimony didepan FCIC bahwa institusinya telah melunasi seluruh TARP funds plus dividents; karyawan bekerja dengan keras dan berhak di gaji dengan bagus ( competitively paid ). Dia tidak sendirian,  dari laporan para excecutive Bank bahwa mereka telah cukup membuat konsesi terhadap berkembangnya sentimen anti Wall Street. Secara kolektif  Goldman Sachs, Morgan Stanley, J.P. Morgan Chase, Citigroup, and Bank of America mengumumkan menurunkan kompensasi lebih rendah dari yg diharapkan secara total $ 114 Billion untuk tahun 2009, atau naik 4 % lebih dari $ 109 Billion pada tahun 2008. Kompensasi ini berdasarkan reveneu  yg melonjak 63 % yg menghasilkan keuntungan kombinasi $ 31 Billion. Sebagai tambahan kinerja dari Bank2 ini sesuai harapan – melunasi TARP funds dengan interst,  merubah praktek penggajian, mengurangi pinjaman uang, serta mengeluarkan  aset2 yg jelek dari balance sheets.   As noted by John Mack, CEO of Morgan Stanley, ―I think in the past…we‘ve taken it too far…[However, ] I think the structure of compensation has changed.‖

Recent Events

Throughout the country, the anger at bankers is palpable. This isn‘t a narrow populist phenomenon; rather, it reflects widespread mistrust in the nation‘s financial institutions. A ‗Bank Anger‘ tour has percolated across the blogosphere.

I Hate Banks‘ yields 70,000 Google Index results.‖

Sementara itu US Treasury Secretary Timothy Geithner menyerukan untuk mengakhiri era irresponsibly high bonuses.  President Bank Sentral Eropa, Trichet menganjurkan adar Bank2 yg menguntungkan memakai Cash mereka untuk memperkuat posisi kapital, dari pada mendsitribusikan bagian terbesar keuntungan mereka  atau untuk membayar  unwarranted levels of compensation or bonuses.

Eropa mengatasi kasus kompensasi dengan cara berbeda yaitu menjalankan windfall tax terhadap bonus excecutives. Tax seperti itu bukan tidak pernah ada di US sekalipun.  Windfall tax diberlakukan selama perang ketika beberapa perusahaan memperoleh benefit ekonomi makro shock yg tidak biasa .  Regulasi lainnya juga dipertimbangkan di US seperti menekan Bank untuk memegang lebih banyak kapital atau membagi peran Bank menurut resiko: satu sisi akan terdiri atas pinjaman konvensional dan relationship oriented business, sisi lain berorientasi ke yang lebih ber resiko serta transaction-oriented  capital  markets activities.

Januari 2010 John Mack CEO dari Goldman Sachs membuat statement, selama tingkat pengangguran di US pada level 10 %… saya marah jika melihat kompensasi diterima para Bankers. Memang menyedihkan unemployment 10.2 % dan underemployment 17.5 %. Perumahan belum pulih serta gelombang kedua dari  Mortgage diharapkan memasuki tahap penyitaan. Dalam upaya membendung berkembangnya sentimen terhadap para Banker secara umum Goldman Sachs memilih kerja sama dengan nirlaba konsultan ( philanthropy consultant ) menyusun program sosial, membayar dividend khusus kepada shareholders, reinvestasi bonus atau membayar bonus menurut rencana tahun 2009. Dua dana pensiun menuntut Golden Sachs terhadap rencana kompensasi tahun 2009, yg mereka bebankan – vastly overcompensated management and constituted corporate waste.  Sebagai tambahan, tuntutan diajukan supaya program sosial Goldman menjadi tanggung jawab CEO serta management team bukan kepada shareholders.

FCIC  mengisi dengan identifikasi beberapa faktor yg mengakibatkan krisis keuangan dan kemungkinan mengobatinya untuk mencegah berulang – hearing dilakukan pada 13 Februari 2010 dimana para CEO dari JP Morgan Chase, Goldman Sachs, Morgan Stanley, and Bank of America Merrill Lynch diminta bersaksi. Selama hearing Phil Angelides, chairman of the FCIC meringkas  sentimen terhadap Banker dengan mengajukan pertanyaan  kepada  Goldman Sachs‘ CEO Lloyd Blankfein:

At your firm, you tripled your assets, almost, from about 403 billion to 1.1 trillion from 2003 to 2007. That‘s an annual compounded growth rate of 29 percent when GDP was growing at 1 to 3 percent. Your leverage ratio, when measured against tangible equity, was 26 to 1. By some analysts‘ measures, I against common—tangible common equity.

 In the end of the day—and I‘m going to press you on this—it seems to me that you survived with extraordinary government assistance. There was $10 billion in TARP funds, $13.9 billion as a counterparty via the AIG bailout.

 By your own Form 10-K, you said that you issued $28 billion in debt guaranteed by the FDIC, which you could not have done in the market but for that. You were given access to the Fed window and the ability to borrow at next to nothing. You became a bankholding company over the weekend. You had access to TALF. You benefited from a ban on short selling, which you initially opposed, which Mr. Mack had advocated. And you got relief—some relief from mark-to-market rules even though I understand you were assiduous about marking to market.

… do you really believe that your risk management in the big picture was sufficient to have allowed you to survive but for that government assistance which I laid out?‖57

Matt’s Dilemma

Mengingat iklim sedang memusuhi industrinya, Matt paham sesuatu harus dilakukan untuk merubah. Bicara reformasi kompensasi telah tersebar di forum publik. Bahkan sports columnist yg menjadi favoritnya mengangkat penyebabnya di tengah tengah membedah National Football League playoffs. Fakta bahwa seseorang yg mempelajari dan menulis mengenai NFL  meratapi pembayaran yg tidak proprsional setiap industri yg terindikasi dengan Matt bahwa the $100-Million-Problem sudah diluar kendali.  Setiap hari muncul congressional hearing dan artikel2 di halaman depan surat kabar mengenai kompensasi, pengangguran dan resesi di mana2.

Perubahan sedang dibutuhkan, apakah berdampak kepada perusahaan Matt beserta karyawan? Meski $100-Million-Dollar-Man telah membuat Citigroup untung – keuntungan seperti apa yang ingin di lihat para pembayar pajak didalam perusahaan dimana mereka ikut memiliki – seperti dikatakan akan memindahkan ke kompetator jika Citigroup tidak mampu membayar uang nya. Bagaimana jika karyawan top ( star employees ) meninggalkan perusahaan ? Meskipun perusahaannya telah membayar kembali bagiannya di TRA, Matt tidak yakin bahwa individu sendiri atau sekalipun traders tidak akan diberikan $ 125 Million bonus ketika angka pengangguran diatas 10 %.  Setiap keputusan membutuhkan melewati COOO, CEO dan Public Relation Deparment dalam pertemuan besok. Matt tidak melihat opsi yg bagus saat ini.

terjemahan: gandatmadi46@yahoo.com

=======****=======

Post navigation

2 thoughts on “Institute for Corporate Ethics: Bailouts and Bonuses on Wall Street

  1. Hello! I could have sworn I’ve visited this website before but after going through a few of the posts I realized it’s new to me.
    Anyways, I’m definitely happy I stumbled upon it and I’ll be book-marking it and checking back often!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *