Is anemic growth the new normal?

By

George F. Will Opinion writer

July 8, 2016, St Louis

Perekonomian Amerika sekarang telah memasuki tahun pemulihan ekonomi ke delapan, mendemonstrasikan berapa banyak kita telah menurunkan definisi tentang  pemulihan. Idenya bahwa pada dasarnya suku bunga nol, setelah 7½ tahun, menstimulasi ” strains credulity ” ekonomi, kata James Bullard, presiden Federal Reserve Bank of St. Louis. Namun bulan lalu dia dan anggota Dewan Federal Reserve lainnya merasa dibatasi untuk memilih dengan suara bulat untuk melanjutkan suku bunga pada hari ini untuk sebuah ekonomi yang menciptakan hanya 38.000 pekerjaan di bulan Mei, dan tumbuh hanya 0,8 persen pada kuartal pertama, setelah hanya 1,4 persen di kuartal ke empat tahun sebelumnya.

Berita suram bukan karena ekonomi terus menolak untuk kembali normal. Sebaliknya, ini adalah “keseimbangan saat ini” adalah normal baru. Jika pertumbuhan 2 persen, seperti yang dia katakan, “the most likely scenario” for the foreseeable future, the nation faces a second consecutive lost decade — one without a year of 3 percent growth.

Note

“Obama is the first president in modern history not to have a single year of 3 percent growth, Donald Trump. Experts told us that presenting the stats the way Trump did doesn’t tell the whole story. And if we examine the data annually by quarters, Obama has presided over periods of growth topping 3 percent.

Gregory Mankiw, ekonom Harvard dan Chairman of the Economic Adviser ( CEA ) dari George W. Bush, menulis di New York Times bahwa dalam dekade terakhir tingkat pertumbuhan GDP riil per orang rata-rata 0,44 persen, turun dari norma historis yaitu 2 persen: Pada 2 persen, pendapatan dua kali lipat setiap 35 tahun;Pada 0,44 persen, sekitar setiap 160 tahun.

Dengan recovery aging ( ? ), Larry Summers, mantan Menkeu, menduga bahwa “probabilitas resesi tahunan adalah 25 sampai 30 persen. Jika di situasi suku bunga mendekati nol, kebijakan moneter Fed, biasanya melakukan countercyclical – seperti mengurangi suku bunga paling sedikit empat persen dalam resesi – ( tidak akan mampu menahan shocks ).

Note: IMF defines a global recession as “a decline in annual per‑capita real World GDP (Purchasing Power Parity-PPP weighted), backed up by a decline or worsening for one or more of the seven other global macroeconomic indicators: Industrial production, trade, capital flows, oil consumption, unemployment rate, per‑capita investment, and per‑capita consumption”

Bullard mengatakan “data pasar tenaga kerja memberikan informasi yg berbeda ” – berarti memberikan optimisme – daripada data GDP ( PDB ) .” Tapi yang pasti, tingkat pengangguran resmi turun menjadi 4,7 persen tetapi hal itu kurang penting sebab indikator yg justru penting yaitu: Tingkat partisipasi tenaga kerja telah turun, karena  jumlah populasi usai lanjut naik – baby boomers retiring. Jika partisipasi tenaga kerja setinggi ketika Barack Obama menjadi presiden ( +/- 8 tahun yg lalu ), tingkat pengangguran akan lebih dari 9 persen.

Selain itu, tidak jelas bagaimana menyaring pentingnya data tradisional untuk perekonomian  yang tidak tradisional. Sebagai contoh, perusahaan Uber berusia 7 tahun, dengan hanya 6.700 karyawan (tidak termasuk pengemudi), memiliki nilai  pasar ($ 68 miliar) atau $ 13,8 miliar lebih banyak daripada Ford Motor Co (201.000 karyawan di seluruh dunia).Tentu suku bunga sangat rendah, dengan mendorong likuiditas menjadi ekuitas dan aset untuk mengejar hasil yang lebih tinggi, memperburuk inequality ( kesenjangan ) yang mengganggu politik Amerika dengan  konflik pemerataan ( distributional conflicts )

Pemilik rumah, dan 10 persen orang Amerika yang memegang 81 persen saham yang dimiliki secara langsung dan tidak langsung (pasar saham 160 persen lebih tinggi dari tingkat terendah di tahun 2009), mereka makmur. Mereka yang kekayaannya berasal dari upah – sebelumnya, basis Partai Demokrat – kehilangan tanah. Tak heran Hillary Clinton bersumpah untuk memperluas social security, lupakan  arsitektur finansial yang reyot.

Persepsi masyarakat, dan mungkin kesombongan The Fed, adalah bahwa The Fed “mengelola” ekonomi. Bullard says, We are, “our own worst enemy. By taking credit when things go well, it acquires responsibility in the public’s mind “for everything that happens.

Bullard mengatakan ” yang paling mengganggu” tentang ekonomi adalah bahwa selama lima tahun produktivitas telah tumbuh hanya setengah persen per tahun. Namun, dia tidak termasuk orang-orang yang bersikap defensif terhadap imigrasi: “Kami memiliki banyak hal yang terjadi karena banyak orang ingin datang ke sini dan bekerja.”

Dia juga tidak menganut hipotesis Robert Gordon (dikembangkan dalam “The Rise and Fall of American Growth”) bahwa kita harus meninggalkan ekspektasi pertumbuhan yang tidak realistis yang kita dapatkan sebagai hasil dari abad transformasi yang luar biasa (1870-1970) (misalnya, elektrifikasi , internal combustion engine, sanitasi perkotaan), sehingga kita tidak memiliki analogi untuk meramalkan

Bullard membayangkan seseorang mengatakan satu milenium yang lalu: Api telah dimanfaatkan, roda dan pertanian telah ditemukan – kita sudah memiliki sebagian besar kemungkinan pertumbuhan dari teknologi baru.

Selain itu, Bullard mengatakan, dibutuhkan beberapa saat bagi teknologi untuk “menyebar melalui ekonomi.” Dan beberapa difusi – di waktu luang, pengalaman hidup yang lebih kaya (media sosial, smartphone dan aplikasinya) – tidak tertangkap dalam statistik PDB.

Mungkin itu membantu menjelaskan mengapa restu Obama telah mencapai 52 persen pada saat Hillary Clinton yang berusaha untuk menggantikannya mengakui bahwa ekonomi sangat menderita sehingga suaminya akan ditugaskan untuk “merevitalisasi “.

Perspektif Ekonomi Indoesia di dalam lingkungan New Normal

Semalam Desi Anwar dari CNN Indonesia mewancarai Prof Dr Chatib Basri ( visiting Professor at Australian National University, 2016 – 2017 ). Dr Khatib Basri menyinggung perspektif ekonomi Indonesia 2017, dan kedepan. Dilingkungan global ekonomi yang tidak mendukung, lingkungan tersebut populer dengan istilah New Normal. Pertumbuhan negara2 berkembang di era normal sebelumnya diatas 7%, bahkan RRC di satu digit juga India. Kini semua dibawah satu digit. Dengan demikian menurut Dr Khatib Basri pertumbuhan 5.1% adalah lumayan dan achievable.

Dalam acara perspektif Ekonomi Indonesia pada 12Januari 2017 menampilkan Menkeu Sri Mulyani dan Prof Dr Khatib Basri:

The FED berusaha menaikkan suku bunga diatas 1 %, inflasi diusahakan diangka 2 % tetapi belum berhasil. Sayang video wawancara Desi Anwar dengan Khatib Basri belum beredar, sebagai gantinya video berikut :

diterjemahkan oleh gandatmadi46@yahoo.com

Post navigation

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *