Kereta cepat Jakarta-Bandung Whoosh

Whoosh (singkatan dari Waktu Hemat, Operasi Optimal, Sistem Hebat; dikenal sebagai Kereta Cepat Jakarta – Bandung adalah sistem kereta api berkecepatan tinggi pertama di IndonesiaAsia Tenggara, Kereta api ini memiliki kecepatan operasional hingga 350 km/h, 

Presiden Joko Widodo mengesahkan Peraturan Presiden No. 3 Tahun 2016 sebagai sebuah Proyek Strategis Nasional. Estimasi pembiayaan proses konstruksi ini mencapai Rp70 triliun.

Pada tahun 2017, di Kota BeijingRepublik Rakyat Tiongkok, ditandatangani Facility Agreement Pembiayaan Prasarana dan Sarana Kereta Cepat, yang disaksikan langsung oleh Presiden Jokowi dan Presiden RRT Xi Jinping

Layanan kereta api berkecepatan tinggi ini dioperasikan oleh PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) yang 60% sahamnya dipegang oleh ke PT Kereta Api Indonesia (KAI) dan 40% Beijing Yawan yang terdiri dari 5 BUMN China yaitu CRIC, CREC, Sinohydro, CRRC, dan CRSC.

Note: Sebelum KAI  saham dipegang PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) / Wika

Trase yang ditetapkan adalah rute Jakarta–Bandung sejauh 142,3 km, dan didukung empat stasiun yakni HalimKarawang, Walini, dan Tegalluar. Setiap stasiun akan dilengkapi fasilitas untuk mendukung pembangunan berorientasi  Transit Oriened Development  (TOD) di sekitar stasiun.

Proyek ini diproyeksikan akan menyerap 39.000 tenaga kerja saat proses konstruksi, 20.000 tenaga kerja saat proses pembangunan TOD, dan 28.000 tenaga kerja setelah operasi. Untuk mendukung operasional, KCIC akan menghadirkan 11 set kereta cepat dengan 8 kereta per rangkaian

Transit Oriented Development atau lebih dikenal dengan sebutan TOD merupakan pengembangan yang mengintegrasikan desain ruang kota untuk menyatukan orang, kegiatan, bangunan, dan ruang publik melalui konektivitas yang mudah dengan berjalan kaki ataupun bersepeda serta dekat dengan pelayanan angkutan umum.

Estimasi biaya yang ditetapkan oleh KCIC semula berkisar US$6,1 miliar, tetapi pada November 2020, KCIC memperkirakan ada pembengkakan sehingga menjadi US$8,6 miliar, dan dari pihak manajemen mampu menekan biaya menjadi sebesar US$8 miliar dengan menggeser stasiun ke Padalarang dari Walini (kota baru).

Kementerian BUMN mengatakan bahwa pembengkakan biaya ini akan ditutup dengan pendanaan dari konsorsium pemegang saham serta pinjaman. Konsorsium tersebut akan menanggung 25% cost overrun yang berasal dari penyertaan modal negara yang masuk ke PT Kereta Api Indonesia sebesar Rp 4 triliun dan Tiongkok akan urun sebesar Rp3 triliun. Sebesar 75% sisanya berasal dari pinjaman.

Akibat dari pembengkakan biaya pada 2021, Jokowi mengesahkan Perpres No. 93 Tahun 2021. Untuk melaksanakan perpres tersebut, Jokowi membentuk Komite Kereta Cepat Jakarta–Bandung, yang dipimpin langsung oleh Menko Marinves Luhut Binsar Panjaitan. Selain itu kepemimpinan konsorsium di dalam PSBI dialihkan dari Wijaya Karya (Wika) ke KAI.

Pada 1 November 2021, pemerintah mengucurkan dana dari APBN sebesar Rp 3,4 Triliun untuk menutupi cost overrun yang dialami KCIC. Dana tsb berupa Penyertaan Modal Negara (PMN)

Begitu KCIC mendapat kucuran dana tersebut, tindakan pemerintah menuai kontroversi dan Jokowi dicap “ingkar janji” oleh masyarakat dan media massa. Pasalnya, KCIC adalah proyek business to business sehingga skema pembiayaannya tidak menggunakan APBN. Namun pemerintah beralasan pengucuran dana APBN tersebut dilakukan karena situasi yang masih berada dalam pandemi Covid-19, terganggunya arus kas para anggota konsorsium, perubahan desain dan kondisi geografi di proyek, serta melambungnya harga tanah per meter persegi.

Pada 18 Mei 2023, KCIC resmi memulai uji coba perdana jalur kereta cepat Jakarta–Bandung. Jalur KCIC dialiri listrik dengan tegangan 27,5 kV AC. Pada tanggal 16 September, KCIC mulai membuka uji coba perdana gratis bagi masyarakat umum hingga tanggal 30 September 2023.

Balik Modal

Direktur Utama PT KAI Didiek Hartantyo memperkirakan proyek Kereta Cepat Jakarta Bandung (KCJB) atau Whoosh baru balik modal setelah 38 tahun.

Direktur Utama KCICDwiyana Slamet Riyadi menargetkan sesuai hasil studi kelayakan, balik modal 40 tahun bisa dicapai bila dapat mengangkut sedikitnya 30 ribu penumpang per hari. Studi itu juga melihat dari pengalaman China Railway Design Corporation atau CRDC.

PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) mencatat kereta cepat Whoosh telah melayani 1.028.216 penumpang selama dua bulan beroperasi komersial yakni 17 Oktober-25 Desember 2023. 

Sementara jumlah penumpang tertinggi yang dilayani dalam satu hari mencapai 21.500 penumpang, termasuk pada periode Natal 2023 dan Tahun Baru 2024 (Nataru). Meski antusiasme di awal cukup tinggi di awal-awal operasi, jumlah penumpang tercatat tersebut masih di bawah target yang ditetapkan yakni 30.000 penumpang per hari.

Kereta Cepat di dunia:

1.Shanghai Maglev, China (460 km/jam) …

2.CR Harmony, China (350 km/jam) …

3.CR400 ‘Fuxing’, China (350 km/jam) …

4.DB ICE , Jerman (320 km/jam) …

5.SCNCF TGV, Prancis (320 km/jam) …

6.JR Shinkansen, Jepang (320 km/jam)

diposting oleh gandatmadi46@yahoo.com

Post navigation

Leave a Reply

Your email address will not be published.