MAKING THE TRANSITION FROM MIDDLE INCOME TO ADVANCED ECONOMIES ( 2 )

By : Alejandro Foxley and  Fernando Sossdorf

Five Case Studies: Countries  That Succeeded in Transitioning From Middle- Income to Advanced Economies

Untuk memahami peristiwa2 fundamental atau faktor yg menyulut percepatan fase growth dalam ekonomi dari  negara yg mengalami perlambatan, sangat berharga mengulas kembali lintasan kebijakan ekonomi yg diimplementasikan dalam tiga dekade terakhir.

Finland’s economic development continuity

Finlandia mengalami pertumbuhan ekonomi yg stabil  secara significant selama paska perang dunia ke dua sampai awal 1990an. Stabilitas ekonomi dibagi dalam dua periode ( tabel economic indicator of Finland ).

Periode pertama 1945 – 1970. Selama periode ini pemerintah berperam aktif mempromosikan pembangunan ekonomi. Dipakai sejumlah instrumen seperti kontrol terhadap interest rate dan memberikan peranan penting kepada, Bank of Finland – yg memberikan  pinjaman kepada perusahaan2, privat atau milik pemerintah, dengan mengambil proyek2 besar.  Bagian yg penting adalah diberikan hak prerogative kepada Bank of Finland termasuk kontrol terhadap foreign exchange serta memberikan  guidelines dan  rekomendasi kepada Bank Komersial. Karakteristik dari periode itu adalah low interest rate dan perimbangan administrasi ( administrative rationing of credit ) untuk beberapa wilayah investasi, yg ditanggung oleh depositor dan rumah tangga.

Economic Indicators of FinlandSelain itu dua reformasi yg ambisius dijalankan pada tingkat ini. Pertama ditujukan untuk meningkatkan cakupan dan kualitas dari sistem edukasi ( 1968 ) dan yang lain adalah pendekatan baru untuk men-stimulasi bidang science dan technology ( 1967 ). Sepabjang periode ini yg meyebabkan ekonomi Finlandia rentan ( vulnerability )  berkaitan dengan berfluktuasi harga produk2 kehutanan , produk utama untuk export. Periode ini juga di tandai oleh an incipient industrialization and a nascent social protection system ( memulai industralisasi dan lahirnya sistem proteksi sosial )

Periode ke dua ( 1970 – 1990 ), Finlandia mengalami oil shock. Sebagai respon maka  dijalankan countercyclical kebijakan ekonomi makro menyebabkan neraca fiskal kembali  balance. Pada saat yg sama negara mampu men-supply oil menurut harga yg ditentukan ( preferential price )  berasal dari trading partner, Uni Sovyet yg sedang dalam proses liberalisasi bertahap.

Liberalisasi keuangan dijalankan 1985 – 1992 yg pada akhirnya mengalami ekspansi kredit berlebihan. Hal ini menahan boom harga2aset, yg menyebabkan perekonomian overheated. Sebagai tambahan runtuhnya Uni Sovyet menyebabkan export Finlandia kolaps. Kedua peristiwa itu menciptakan deep recession 1992 – 1993.

Resesi mempercepat  secara significant kerusakan sosial dan ekonomi, pengangguran naik dari 3,2% di tahun 1990 menjadi 16,4 % di tahun 1993. Hutang oleh korporasi dan personal secara eksesif mendorong krisis di sektor Perbankan, sehingga butuhkan paket penyelamatan dari pemerintah yang mengakibatkan utang pemerintah naik dari 14 % terhadap GDP pada tahun 1990 menjadi 55 % di tahun 1993.

Hal yg diluar kebiasaan yaitu ketika menghadapi krisis 1990, pemerintah memadukan konsensus politik dan sosial yg luas  sehingga mampu membuat penyesuaian ekonomi makro secara significant dibarengi  dengan reorientasi produksi dan export menuju sektor high tech. Langkah ini menciptakan investasi pendidikan yg berkualitas serta menciptakan inovasi kebijakan kreatif  sebagai target,  sebenarnya usaha itu sudah dirintis  sejak tahun 1970an. Proses ini kemudian dibarengi dengan konsolidasi fiskal termasuk reformasi pensiun serta memperkuat regulasi keuangan sebagai usaha meminimalkan resiko perbankan jika menghadapi krisis dikemudian hari.

Dengan demikian ketika krisis keuangan yg sedang berjalan  meletup Finlandia relatif posisinya sehat seperti terlihat dalam sejumlah indikator ekonomi makro. Mengalami surplus  3,2 % GDP di sektor fiskal atau rata2  sebelum krisis 2004 – 2008, sementara itu dalam periode yang sama utang pemerintah turun dari 44 % GDP ke 35 %. GDP naik rata2 3,5% dan pengangguran turun dari 8,8 % di tahun 2004 ke 6,4 % di 2008.. Belajar dari kesalahan masa lalu, sektor fiskal tidak memiliki toxic assets dan well capitalized.

Ketika krisis keuangan global sedang berlangsung pemerintah tidak diminta untuk menyelamatkan satu Bank pun. Paska GDP growth negatif di tahun 2009 situasi ekonomi Fnlandia meningkat. GDP growth tahun 2010 2,4 % dan diramalkan positif pada tahun2 berikutnya.

South Korea’s successful model

Diantara negara2 Asia Timur, Korsel termasuk perkecualian dalam perubahan transisi menuju advanced economy. Korsel dengan income per capita $ 2000 di tahun 1960 menjadi $ 28 000 dalam PPP di tahun 2008, secara solid menempatkan dalam grup negara maju. (  periksa tabel 5 ).  Masa transisi Korsel dibagi dalam 3 tahapan. Pertama mulai 1962, dengan rencana 5 tahun sebagai guideline agar usaha2 pemerintah terkordinasi lebih baik menuju kinerja ekonomi. Berhasil mempercepat pembangunan sepanjang 1997, dengan growth 7 % GDP.

Fase pertama ditandai dengan level saving dan investment yg tinggi serta a determined industrial policy tersirat dalam upgrading secara kontinu technology untuk menyesuaikan  dengan export dengan mengembangkan keunggulan komperatif pada fase pembangunan. Dipasar tenaga kerja penguasa Korsel yg otoriter mengharamkan organisasi buruh serta  menciptakan kondisi repressive di pasar tenaga kerja dengan upah murah dan tenaga kerja berlimpah.

Fase  kedua, 1997 – 1998  terjadi krisis keuangan,  ekonomi melambat dan pengangguran meningkat.  Meskipun fundamental ekonomi agak solid seperti neraca fiskal dan neraca perdagangan yg seimbang, utang pemerintah hanya 8 % GDP  serta domistic saving  dan investasi 34% dan 38% GDP masing2 di tahun 1996, ketidakseimbangan  terkumpul di pasar  keuangan domistik.  Beberapa tanda2 krisis adalah rasio utang jangka pendek privat kepada dana internasional ( 207 % di kwartal kedua 1007 ),  overinvestment di sektor manufacturing ditunjukkan  dengan terjadi ekses kapasitas sebelum krisis ( debt ratio dari 30 perusahaan besar sebesar 510 % pada tahun 1997 );  serta proses non-regulasi dari strategi  liberalisasi keuangan mendorong overindebtness di sektor privat ( nonperforming loan naik dari 3,9 % dari total kredit dalam bulan Desember 1996 menjadi 6,1 % pada juni 1997 ).

South Korea Economic IndicatorsKrisis keuangan Korsel meliputi krisis solvency ( kemampuan melunasi hutang )  dari banyak Bank dan bisnis  serta bermetaformosis  krisis ekonomi keseluruhan.  Akibatnya pada tahun 1998 terjadi negative growth  dengan kenaikkan tajam pengangguran ( dari 2,4 % pada tahun 1997 menjadi 6,8 % di tahun 1998 ) serta tingginya angka kemiskinan ( dari 11,4 % di tahun 1997 menjadi 23,2 % di tahun 1998 ).

Fase ke tiga pembangunan ekonomi Korsel ditandai dengan  pemulihan yg cepat dari krisis. Growth dari GDP 10,7 %  ( tertinggi sejak 1988 dan tertinggi Asia Timur ). Export meningkat mendekati 9% di tahun 1999 dan 18,2 % di tahun 2000. Pengangguran turun dari 6,8 % di tahun 1998 ke  4,5 % pada akhir 1999.  Bagian rumah tangga miskin turun dari 23,2 % di tahun 1998 ke 18,0 % di 1999.  Kemudian ekonomi Korsel  mampu tumbuh berkelanjutan sebesar 5 % pertahun pada periode 1998 – 2008. Hal itu karena Korsel  melakukan recovery terpusat pada usaha secara agresif countercyclical di sektor moneter dan kebijakan fiskal; pertumbuhan secara significant di sektor export;  inflow yg deras dari PMA.  Sebagai tambahan negara tersebut menjalankan reformasi ekonomi termasuk langkah2 restrukturisasi sektor bisnis, perbankan, pemerintahan dan pasar tenaga kerja.

Bagaimanapun setelah satu dekade tumbuh cepat, Korsel ekonomi tidak imun terhadap  resisi global yg sedang berjalan. Pada November 2008 export turun 19,5 % pertahun, dan berlanjut sampai pertengahan 2009. Ekonomi hanya tumbuh mendekati 2,3 % di tahun 2008.  Namun pulih pada tahun 2010 dengan pertumbuhan 6,2 %,  menyamai yg pernah dicapai sebelum krisis. Recovery ini didorong oleh pertumbuhan cepat di sektor export karena depresiasi mata uang won;  demand yg tinggi dari China;  kebijakan  yg efektif dan membuat respon agresif  bidang moneter dan fiskal.

Ireland’s miracle and collapse

Evolusi GDP per capita di Irlandia antara 1970 dan 2007 menjadi saksi Irish miracle. Dampaknya  GDP per capita $ 10 297 pada tahun 1970 naik menjadi $ 45 735 di tahun 2007 ( see table 6 ).

Sebelum boom GDP  di tahun 1987 Irlandia mengalami  periode ekspansi moderat antara 1960 dan 1073. Pada periode ini pertumbuhan pertahun 4,4 %.  Sebagian dari hasil ini dimungkinkan oleh reformasi kebijakan perdagangan dan industri dengan refokus  pada pembangunan ekonomi . outward oriented .  Langkah2 penting menyertai liberalisasi perdagangan  adalah satu set insentif, yg utama adalah low corporate tax rate.  Sebagai tambahan dilakukan reformasi pendidikan yg mendalam berlangsung sejak 1965. Beberapa kendala pada periode ini adalah tingginya level imigrasi dan pengangguran diatas Uni Eropa ( EU ); kenaikan gaji melampaui level produktivitas.  Kendala ini berlangsung antara 1973 dan 1986, dimana pertumbuhan sedang turun ( rata2 3,6 % pertahun bahkan negatif pada awal  1980an ) dalam konteks harga oil tinggi serta inflasi yg tinggi ( 12,6 % per tahun ).

Sebagai konsekwensi program stabilisasi harus dijalankan di tahun 1987 dibawah pemerintahan baru.  Program  ini termasuk konsolidasi fiskal,  tripartite agreement  tentang kenaikan gaji yang moderat, reformasi Tax dengan menurunkan pajak personal. Hal itu menjadi basis Social Partnership Agreement.  Dana dari Uni Eropa ( EU )  memungkinkan public investment berlanjut meski pengeluaran pemerintah turun, sebagai hasil persetujuan rencana konsolidasi  dalam tripartite agreement.

Ireland Economic Indicators1987 – 2000 Irlandia mengalami fase pertumbuhan tinggi  tepatnya high growth incubated vulnerabilities.. Salah satu adalah overexpansion di sektor konstruksi, khususnya semasa real estate boom pada dekade paska 2000.  Ekspansi sektor konstruksi di danai sistem perbankan, yg mendapat dana dari  fasar finansial internasional  dan dalam  proses akumulasi external liabilities pada level yg tinggi. Sebagai tambahan inbalance didalam public finance diciptakan pada periode itu.  Ketika ekonomi kolaps di tahun 2008, defisit  anggaran struktural yg parah terdeteksi sebesar 7 %.  Kelanjutannya seperti sudah diketahui:  krisis keuangan memaksa otoritas menyelamatkan beberapa Bank dan membeli toxics assets. Sebagai konsekwensi pemerintah mengambil tanggung jawab utang   beberapa Bank ( bailout ), defisit nasional  mencapai 32 % GDP di tahun 2000 dan  utang negara lebih dari 90 % GDP.

Spain’s good and bad boom

Moderenisasi ekonomi Spanyol telah dilakukan lebih dari tiga dekade. Pada periode ini kebetulan hampir bertepatan dengan masa transisi menuju demokrasi  yg akses selanjutnya dengan Uni Eropa ( EU ) di tahun 1086. Keduanya menjadi faktor fundamental pertumbuhan positif yang berkelanjutan  dari tahun 1994 ke 2008, dengan pertumbuhan ( 3,5 % per tahun ) menyalip rata2 rekan2 negara Eropa lainnya.

Spain Economic IndicatorsPemerintahan Felipe Gonzales di tahun 1082 memberi signal dimulainya perubahan struktural yg mendorong sepuluh tahun periode pertumbuhan cepat.  Karakteristik utama dari reformasi adalah kebijakan countercyclical terutama reformasi pajak dengan tujuan meningkatkan pendapatan negara dan pengawasan pajak ( controlling tax evasion );  restrukturisasi dan rekonversi industri dibawah payung hukum 1984; reformasi perburuhan untuk melawan kekakuan akibat tingginya level pengangguran serta ongkos pemutusan hubungan kerja ( labor reform in 1984 to combat rigidity in a market characterized by high lev- els of unemployment and high layoff costs );  secara aktif melakukan promosi PMA; bergabung dengan EU, yg menambah dinamisme perdagangan luar negeri.

Fase berikutnya 1994 – 2008 dapat dipisah menjadi dua periode. Sampai dengan 1999 berbarengan dengan peluncuran euro sebagai single currency, mesin pertumbuhan adalah demand domistik yg dinamis.  Konsumsi privat berkembang pesat selama periode tersebut, karena penciptaan kerja yg kuat dan kondisi keuangan yg longgar, yg menciptakan harapan positif mereka yg berpenghasilan tingg. Penciptaan kerja sedemikian sehingga pengangguran turun dari 18 % di pertengahan tahun 1990an menjadi 11 % di tahun 2003.

Sejajar dengan itu sektor konstruksi nampaknya menikmati golden age, khususnya dari hasil strong demand investasi perumahan.  Pertumbuhannya tidak stabil sehingga menimbulkan housing bubble di tahun 1999 an. Produktivitas Spanyol relatif stagnan sejak 1999 dibandingkan rekan2 negara Eropa lainnya. Gaji naik secara konsisten melampaui produktivitas, menyebabkan kenaikan ongkos tenaga kerja. Hal ini menyebabkan Spanyol tidak kompetatif.

Portugal’s unstable course of growth

Portugal melewati jalan pembangunan yg tidak stabil lebih dari empat dekade. Episode pertumbuhan yg tinggi cuma sebentar selanjutnya periode stagnasi disebabkan terutama kurangnya reformasi struktural yg dibutuhkan ( dalam bidang edukasi, inovasi, kebijakan industri, kemampuan kompetisi di bidang barang dan jasa. Meskipun demikian terdapat dua contoh pertumbuhan yg significant berbarengan dengan bergabungnya Portugal ke dalam EU pada Januari 1986 sampai 1991. Yang lainnya dari 1995 ke 2001, yg overlapp dengan adopsi euro di tahun 1999

Portugal Economic IndocatorsPortugal mulai fase moderenisasi selama kediktatoran Salazar, dengan datangnya demokrasi di tahun 1974 secara bertahap muncul proses creative destruction yg menekan struktur produktivitas Portugal (Portugal’s productive structure) menuju industri labor intensive dengan level pertumbuhan produktivitas yg rendah. Imbalances ekonomi makro dan mismanagement politik dari tahun 1975 ke 1985 selama satu dekade mengalami political instability, berkembangnya pengangguran, external imbalances ( defisit neraca pembayaran sebesar 4,8 % ) dan  keuangan pemerintah yg memburuk ( defisit anggaran 4,4 % ).

Fase favorable kondisi internal dan external berlangsung antara 1986 – 1991. Program stabilisasi ekonomi yg baru dilaksanakan dari tahun 1983 ke tahun 1985.  Harga oil jatuh tajam di tahun 1986, privatisasi dimulai. Secara bersamaan ekonomi Portugal mendapat dana struktural yang besar dari EU. Sebagai tambahan, untuk pertama kali terjadi transisi menuju demokrasi, terpilihnya absolute majority di Parlemen di tahun 1987 dan kembali di tahun 1991. Di sektor external, akses ke EU di tahun 1986 membuka pasar bagi barang2 labor intensive yg menjadi keunggulan komperatif Portugal.  Growth rata2 pertahun selama 1986 – 1991 sebesar 5,6 %.

Sebagai tambahan, untuk pertama kali terjadi transisi menuju demokrasi, terpilihnya absolute majority di Parlemen di tahun 1987 dan kembali di tahun 1991. Di sektor external, akses ke EU di tahun 1986 membuka pasar bagi barang2 labor intensive yg menjadi keunggulan komperatif Portugal.  Growth rata2 pertahun selama 1986 – 1991 sebesar 5,6 %.

Paska resesi  tahun 1992 – 1994, GDP tumbuh kembali di tahun 1995 berlanjut sampai 2000. Kunci utama adalah ekspansi demand khususnya kenaikan utang rumah tangga karena rendahnya interest rate serta procyclical sektor pemerintahan. Mengakibatkan kenaikan utang pemerintahan dan defisit fiskal, meningkatnya pengangguran, serta massive levels of household indebtedness (  household debt bagian dari disposable income ( income yg dibelanjakan ) sebesar 120 % di tahun 2004 dibandingkan 80 % di kawasan Eropa.

Dari tahun 2002 ke 2008 pertumbuhan Portugal turun ke 0,8 % per tahun. Faktor utama karena imbalances makro ekonomi,  karena reformasi untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan inovasi tidak dilakukan sesuai jadwal.  Juga pencapaian akses ke new market.  Semua faktor tersebut merupakan syarat untuk kompetatif dan pertumbuhan yang tinggi.

Terjemahan bebas oleh gandatmadi46@yahoo.com

( to be continued )

Post navigation

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *