Membedakan Keynes ekonomi dengan Neo Liberal ekonomi

Oleh: Jayarava Attwood Independent scholar based in Cambridge, UK (originally from New Zealand).

Republished 11 bln yg lalu

Keynes menyadari, untuk pertama kalinya, bahwa akuntansi nasional (national accounting ) memiliki dua sektor utama publik dan swasta. Dan bahwa mereka bekerja secara paralel satu sama lain. Dan dia menyadari bahwa dengan menyesuaikan tindakan negara berjalan paralel dengan ritme sektor swasta, sebuah negara dapat memuluskan siklus boom dan bust.

Note: Selama boom, ekonomi tumbuh, pekerjaan berlimpah dan pasar memberikan high return bagi investor. Sebaliknya ketika ekonomi drop bahkan resesi sampai sepresi banyak orang kehilangan pekerjaan, investor rugi bahkan banyak yang bangkrut.

Ketika sektor swasta mengurangi investasi, sektor publik dapat meningkatkan dan berinvestasi dalam perekonomian untuk mencegah resesi. Dan kemudian, ketika sektor swasta mulai berinvestasi lagi, sektor publik bisa mundur.

Negara dapat meminjam dengan suku bunga yang sangat rendah, dan hampir tidak ada risiko gagal bayar, dan berinvestasi dalam proyek infrastruktur yang menyediakan lapangan kerja. Program stimulus ekonomi menciptakan permintaan yang mendorong sektor swasta untuk aktif kembali. Ketika sektor swasta sudah aktif dan tumbuh, sektor publik mengurangi pengeluaran dan membayar utang.

Hasil dari ekonomi Sekutu pascaperang dari tahun 1945 hingga 1971 tidak ada resesi ekonomi. Itu juga merupakan masa peningkatan pesat kemakmuran di Eropa dan penciptaan negara kesejahteraan (welfare state)  di Inggris yang menyediakan perumahan yang terjangkau, obat-obatan yang disosialisasikan, dan pendidikan universitas. untuk semua di luar pajak.

Namun pada akhir 1960-an, Amerika Serikat berperang dalam Perang Vietnam yang mahal. Mata uang mereka dipatok dengan harga emas. AS perlu memperluas suplai uang mereka tetapi tidak bisa. Pada saat yang sama Prancis mulai menimbun emas yang membatasi pasokan di seluruh dunia. AS memisahkan diri dari perjanjian internasional yang mengendalikan nilai uang pada tahun 1971 dan pada akhir dekade mengadopsi bentuk ekstrim neoliberalisme.

Pemerintahan Neoliberal memulai program penjualan aset dan perusahaan milik negara. Namun, meskipun pasar bebas, pemerintah neoliberal juga memprioritaskan untuk menghapus serikat pekerja sehingga mereka tidak dapat lagi menjalankan kekuasaan di luar tempat kerja individu. Kapital dibebaskan dari peraturan dan tenaga kerja semakin diatur, dan dipaksa untuk menerima upah dan kondisi kerja yang menurun. Pekerjaan mulai diekspor ke dunia ketiga di mana serikat pekerja tidak dikenal dan upah berada pada atau di bawah tingkat subsistem.

Pemerintahan neoliberal tidak dapat berinvestasi ketika sektor swasta sedang struggling. Sejak akhir 1970-an, resesi menjadi ciri umum perekonomian. Ketika IMF dan Bank Dunia memilih neoliberalisme, kita melihat krisis ekonomi melanda Afrika pada 1970-an, Amerika Selatan pada 1980-an, Asia Tenggara dan Jepang pada 1990-an, dan kemudian Krisis Keuangan Global 2008 yang benar-benar memukul seluruh dunia.

Global Finance Crisis (GFC) tahun 2008 memaksa pemerintah untuk campur tangan dengan cara yang dilarang oleh neoliberalisme. Selama beberapa dekade mereka telah mengatakan “tidak ada pohon uang ajaib” tetapi kemudian mereka menemukan triliunan USD untuk membeli dan menstabilkan bank yang gagal. Baru-baru ini krisis covid19 juga telah melihat bank sentral “mencetak uang” sebagian besar dalam bentuk membeli kredit macet dari bank..

  • Prof Joseph Sriglitz  dalam artikel Development and Macroeconomic policy post Neoliberal World  lebih gamblang menjelaskan kegagalan doktrin ekonomi Neoliberal

terjemahan bebas gandatmadi46@yahoo.com

 

Post navigation

Leave a Reply

Your email address will not be published.