*Menentang Teori Klasik: Berbeda dengan anggapan lama bahwa pasar bisa menyembuhkan dirinya sendiri (self-correcting), Keynes membuktikan bahwa ekonomi bisa terjebak dalam krisis jangka panjang jika dibiarkan tanpa arah.
*Pentingnya Campur Tangan Pemerintah: Ia menegaskan bahwa pemerintah wajib turun tangan dengan menaikkan anggaran belanja demi memancing daya beli masyarakat.
*Teori Permintaan Uang: Buku ini mengupas secara tajam mengapa orang memegang uang tunai, yaitu untuk motif transaksi, berjaga-jaga, dan spekulasi.
Makroekonomi Keynesian mengenai kurs Rupiah dan nilai IHSG pada Juni 2026
Perspektif makroekonomi Keynesian mengenai ambruknya kurs rupiah pada Juni 2026 di level Rp17.900 – Rp18.200 per dolar AS serta rontoknya IHSG ke kisaran 5.400 – 5.800
1.Dampak Mekanis Aturan Baru Devisa Hasil Ekspor (DHE) terhadap Likuiditas Dolar
Guna meredam kepanikan pasar, pemerintah memberlakukan PP Nomor 21 Tahun 2026 per 1 Juni 2026. Regulasi ini mewajibkan eksportir Sumber Daya Alam (SDA) menempatkan DHE mereka di bank BUMN (Himbara) selama minimal 12 bulan untuk non-migas, serta membatasi batas maksimal konversi valas ke rupiah sebesar 50%.
Menurut teori Keynes, langkah ini beroperasi melalui dua mekanisme utama:
Memutus Speculative Motive (Motif Spekulasi): Sebelum aturan ini diperketat, eksportir cenderung menahan dolar AS di luar negeri karena ekspektasi rupiah akan terus melemah. Dengan memaksa DHE masuk ke sistem keuangan domestik, Bank Indonesia (BI) berhasil memotong rantai penimbunan valas secara spekulatif.
Injeksi Likuiditas Paksa: Masuknya pasokan dolar secara masif ke dalam negeri memaksa kurva penawaran valas (supply of foreign exchange) bergeser ke kanan. Hasilnya, eksportir mulai ramai-ramai mengonversi dolar ke rupiah untuk kebutuhan operasional, yang menjadi alasan utama mengapa pelemahan rupiah berhasil diredam dari puncaknya di Rp18.200 menuju level stabilisasi Rp17.700–Rp17.800 pada akhir Juni 2026.
2.Komparasi Krisis Juni 2026 vs Krisis Moneter (Krismon) 1998
Meskipun secara nominal kurs rupiah menyentuh angka psikologis yang mirip (merosot tajam melewati Rp16.000–Rp17.000), struktur krisis Juni 2026 secara fundamental berbeda dengan Krismon 1998 apabila dibedah menggunakan model Keynesian.
| Aspek analisis | Krisis Moneter 1998 | Krisis Juni 2026 |
| Trigger | Krisis solvabilitas perbankan, utang luar negeri swasta jangka pendek yang tidak terlindungi (unhedged), serta keruntuhan politik. | Sentimen eksternal (suku bunga The Fed tinggi, konflik minyak) dan ketidakpastian institusional terkait bobot indeks bursa oleh MSCI. |
| Kondisi Perbankan | Sistem perbankan hancur secara struktural (insolvent), memicu penarikan dana massal (bank run). | Sektor perbankan sangat sehat dengan modal kuat. Tekanan murni akibat preferensi likuiditas investor asing (capital flight). |
| Respon Intervensi BI | Menaikkan suku bunga ekstrem (SBI hingga 70%) yang justru mematikan sektor riil karena kegagalan fungsi intermediasi uang. | Kenaikan suku bunga BI Rate yang agresif dan terukur ke 5,75%, dikombinasikan dengan instrumen penarik modal seperti SRBI. |
| Daya Tahan Fiskal | APBN jeblok, cadangan devisa kritis, dan pemerintah terpaksa tunduk pada program bailout IMF. | Fiskal relatif solid meski tertekan harga minyak global. Cadangan devisa kuat di kisaran USD 148 miliar untuk melakukan intervensi pasar terukur. |
Keynes berargumen bahwa krisis 1998 adalah krisis kapasitas penawaran agregat struktural akibat rusaknya sektor keuangan. Sebaliknya, krisis Juni 2026 murni merupakan krisis kepercayaan (confidence crisis) jangka pendek yang memengaruhi permintaan aset keuangan domestik.
3.Rekomendasi Portofolio Investasi di Tengah Volatilitas Tinggi
Menghadapi pasar yang didominasi oleh ketakutan massal (animal spirits negatif), investor ritel maupun institusi disarankan menerapkan strategi portofolio defensif yang sejalan dengan teori preferensi likuiditas Keynes:
- Amankan Likuiditas Berbasis Valas (Kas & Deposito USD): Alokasikan 20-30% aset ke dalam bentuk tunai dolar AS atau reksa dana pasar uang berdenominasi USD untuk memanfaatkan tren flight to safety global.
- Manfaatkan Instrumen Suku Bunga Tinggi (SRBI & SBN): Langkah BI menaikkan suku bunga acuan membuat imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) meningkat tajam. Ini adalah instrumen paling aman untuk mengunci keuntungan jangka pendek tanpa risiko fluktuasi harga saham.
- Defensif di Saham Komoditas & Konsumer Primer: Di pasar modal (IHSG), hindari saham-saham perbankan sensitif suku bunga atau emiten dengan utang valas tinggi. Pilih saham-saham pengekspor komoditas (SDA) yang diuntungkan oleh lonjakan harga minyak global serta emiten barang konsumsi primer yang memiliki daya tahan kuat terhadap penurunan daya beli masyarakat.
posting oleh gandatmadi46@yahoo.com
